Namaku Maira

Namaku Maira
- Hati Dimas -


__ADS_3

***


Setelah peristiwa di hari kamis, aku tidak kembali ke toko esoknya.


Tidak saja hanya karena aku masih terkejut, tapi mami juga memintaku untuk istirahat di rumah.


Aku di rumah sendirian sepanjang hari jumat, karena bosan, aku memilih untuk menelvon ibu dan menceritakan soal sikap zahra padaku.


Ibu menawarkanku untuk pulang, dan ibu akan meminta kak alan untuk menjemputku.


Aku lalu berfikir, kalau aku langsung pulang, maka mami pasti akan merasa tidak enak hati pada ibu.


Aku menolak tawaran ibu, dan memilih untuk pulang ke jogja sesuai jadwal.


Aku baru kembali ke toko di hari senin.


Susananya seperti biasa, tidak ada yang berubah, tetap tenang dan ramai oleh pembeli.


Selama lima hari, aku menjalani sisa minggu di toko dengan perasaan ringan, tanpa khawatir zahra akan memarahiku.


Zahra sendiri tidak terlihat hingga hari terakhirku di toko.


Saat aku menanyakan hal itu pada susi, menurut susi, zahra ijin karena sakit.


Aku hanya tersenyum sinis mendengar jawaban susi, dan merasa geli mendengar sikap zahra yang berlagak seperti korban.


Hari jumat adalah hari terakhirku di toko, aku lalu pamit pada karyawan mami sore harinya, karena harus kembali ke jogja di hari minggu.


Aku juga memeluk satu persatu karyawan wanita, dan menjabat tangan karyawan laki-laki.


Aku berterimakasih pada mereka karena sudah menerimaku, dan meminta maaf karena sudah merepotkan kinerja mereka.


Dimas menjemputku pukul empat sore di toko, dan langsung mengajakku untuk nonton di bioskop.


*


Hari sabtu pagi, mami menanyakan apa aku sudah punya rekening di bank, aku mengiyakan, lalu mami meminta nomer rekeningku.


Siangnya mami menelvonku, memintaku untuk melihat apakah uangnya sudah masuk ke rekeningku.


Aku lalu meminjam motor dimas, dan pergi ke atm terdekat.


Aku terkejut saat melihat nominal yang mami berikan.


Aku tau mami memberikan itu bukan karena aku pekerja yang baik, tapi lebih karena mami sayang padaku.


"Mi itu nggak terlalu banyak", tanyaku pada mami saat aku menelvon mami.


"Maira berhak menerima itu, itu hasil kerjanya maira dan hadiah dari mami, gunakan dengan baik ya sayang", ujar mami di telvon.


Aku lalu berterima kasih pada mami, kemudian menutup telvon, dan langsung kembali kerumah dimas.


Saat aku sampai rumah, dimas sedang menata piring dan lauk untuk kita makan siang.


"Bahagia banget", tanya dimas saat melihatku tidak berhenti tersenyum.


"Hasilnya memuaskan", tanya dimas lagi.

__ADS_1


"Iya puas banget", jawabku.


Dimas tertawa mendengar jawabanku, mengusap rambutku, lalu dia memintaku untuk duduk dan makan.


Seusai makan siang, kami langsung naik ke kamar dimas, bersantai sambil menonton siaran televisi.


"Tumben nggak tidur", tanyaku pada dimas.


"Nggak ngantuk, pingin puas-puasin peluk kamu", jawab dimas.


"Berangkat ke rumah uti hari apa", tanya dimas padaku.


"Hari senin pagi langsung jalan, soalnya uti udah nanyain", jawabku pada dimas.


"Emang ibu nggak kangen sama kamu, udah nggak ketemu lama, terus langsung ke rumah uti", ujar dimas.


"Ibu ikut kok, ayah kan dapet cuti, jadi kita kerumah uti bareng-bareng", jawabku.


Malamnya aku mengajak dimas jalan, makan malam dengan dimas, berbelanja, dan membelikan kemeja baru untuk dimas.


*


Hari minggu pagi seperti biasa, aku bangun sangat pagi menurutku.


Pukul enam pagi, bukan hanya hari minggu ini, tapi selama di rumah dimas aku memang selalu bangun pagi.


Setelah mandi aku langsung turun membantu mami yang sibuk didapur.


Pagi ini kami berempat sarapan bersama, termasuk papa dan dimas.


"Aduh hari ini maira pulang ya, baru juga bertemu udah langsung berpisah" ujar papa seno.


Memang selama hampir lima minggu aku disini, papa seno di tugaskan untuk ke luar kota selama empat minggu, jadi aku hanya bertemu papa seno sebentar.


Sepanjang sarapan, papa bercerita tentang kota-kota yang dia kunjungi selama satu bulan.


Setelah sarapan, aku langsung berkemas di bantu oleh dimas, kemudian mami mengajak dimas untuk ke toko mengambil oleh-oleh untuk ibu, karena mami lupa membawa pulang semalam.


Aku mengantar papa dan mami sampai depan pintu, sekaligus pamit pada mereka, lalu masuk kembali ke dalam.


Saat aku kembali ke atas, aku melihat masih ada label di tas baruku.


Aku kemudian mencari gunting, tapi aku tidak melihat disekelilingku.


"Oh mungkin di taruh dilaci", ujarku dalam hati.


Aku membuka satu persatu laci di meja belajar dimas, saat aku ingin membuka laci terakhir, ternyata laci tersebut terkunci.


Aku lalu mencari kunci laci tersebut di sekitar meja belajar dimas, dan menemukannya di dalam gelas berisi bolpoint dan aneka warna spidol.


Saat aku berhasil membuka laci yang terkunci, aku senang, karena bukan gunting yang kutemukan, melainkan buku kecil milik dimas yang dulu membuatku luar biasa penasaran.


Buku kecil tersebut berukuran setengah dari buku komik yang biasa aku baca, meski kecil tapi sangat tebal.


Aku sendiri tidak menyangka, kalau aku sudah melupakan buku tersebut.


Aku mengambilnya dari laci sambil tersenyum, lalu duduk di kursi, kemudian aku membuka kancing buku kecil tersebut, dan mulai membuka halamannya.

__ADS_1


Saat aku membuka halaman pertama, tertulis 'Catatan milik dimas', aku langsung melihat tanggal yang tertulis di bawahnya, February 2003.


"Oh saat dimas masih SMA", gumamku lirih, sambil tersenyum.


Aku lalu membuka halaman selanjutnya, dan tenggelam dengan setiap kata yang dimas tuliskan untuk ratih.


Hampir setengah isi buku kecil ini, menceritakan tentang ratih, hal-hal yang ratih sukai, makanan favorit ratih, bahkan ukuran sepatu ratih juga dimas tuliskan.


Dimas juga menulis bulan saat akhirnya ratih menerimanya, waktu saat dimas mencium ratih pertama kali, dan sisa halaman berisi tentang cara mempertahankan ratih disisinya.


Hatiku seperti tertimpa bongkahan es, saat aku membaca lembaran-lembaran untuk ratih.


Terbersit di pikiranku, kalau masih ada kemungkinan dimas memiliki ruang di hatinya untuk ratih.


Memikirkan hal itu, membuatku meneteskan air mata.


Ternyata catatan tersebut tidak hanya berisi tentang ratih, tapi juga ada tentang teman kampus dimas bernama karin, tapi tidak secara mendetail, hanya informasi standar mengenai karin.


Aku sendiri tidak mengenalnya, jadi aku langsung melanjutkan ke halaman berikutnya.


Halaman berikutnya, tertulis seperti sebuah ungkapan.


Ungkapan yang akhirnya membuatku mendapat jawaban atas perilaku zahra padaku.


Isi catatan di buku kecil milik dimas untuk zahra seperti sebuah surat.


"Untuk zahra,


Terimakasih karena sudah ada di sampingku di saat-saat terburukku.


Terimakasih karena selalu membuatku tertawa, dan mengisi hari-hariku dengan tawamu.


Kehadiranmu membuatku selalu ingin pulang ke solo untuk menemuimu.


Aku bisa kembali ceria setelah ratih mematahkan hatiku, itu semua karena kamu.


Tapi maaf, meski aku menyayangimu dan ingin ada di sampingmu sebagai kekasih, tapi aku tidak bisa.


Mbak dina melarangku, karena menurut mbak dina, itu bisa berdampak negatif dengan suasana di toko.


Mami juga tidak menyetujui, karena jika hubungan kita memburuk, mami tidak mau harus kehilangan kamu sebagai orang kepercayaan mami.


Aku hanya bisa menawarkan pelukanku untukmu, sebagai sahabat yang menyayangimu.


Aku tau kamu marah dan kecewa, saat aku mengatakan kalau aku punya kekasih baru di jogja.


Aku tau kamu sedih dan sakit hati, tapi aku juga menyayangi dia.


Maaf sudah memilih untuk bersama dia.


Tapi satu hal yang pasti, kamu akan selalu punya tempat yang spesial di hatiku."


Tanggal tertulis dua minggu setelah dimas menciumku di parangtritis.


Begitu aku selesai membacanya, aku menutup buku tersebut dan mulai menangis.


Aku kemudian mendengar bunyi pintu kamar dimas di buka.

__ADS_1


Aku langsung melihat ke arah pintu, dan dimas berdiri di depan pintu, dengan wajah pucat dan terkejut, karena melihat buku kecil yang selama ini dia sembunyikan, ada di tanganku.


***


__ADS_2