
***
Sekitar pukul sepuluh pagi, mobil yang dimas kemudikan, sampai di jalan utama solo raya.
Dimas lalu menghentikan mobilnya di depan sebuah ruko besar yang berderet.
Mami, mbak dina dan aku langsung turun dari mobil.
Saat aku turun, aku langsung bisa melihat sebuah toko yang sangat luas, ditutupi oleh barisan mobil di depannya.
Toko tersebut berlantai dua, dan ada baliho yang cukup besar, disisi tembok sebelah kanan.
Baliho tersebut bertuliskan "OLEH-OLEH KHAS SOLO MANGKUNEGARAN", dan ada huruf kapital kecil dibawahnya, bertuliskan "since 1965".
Tulisan dari baliho tersebut di latari oleh toko kecil tua dan seorang kakek, yang berdiri dengan tersenyum di depan toko kecil tersebut.
Saat kutanya pada mami, mami menjawab bahwa itu almarhum kakek buyut mami.
Aku langsung mengambil kesimpulan, kalau toko ini, adalah toko oleh-oleh yang memang sudah di kelola secara turun temurun oleh keluarga dimas.
Mami mita lalu menggandengku untuk mengajakku masuk ke dalam.
Begitu masuk aku bisa melihat tumpukkan jajanan yang biasa aku temui dengan mudah di toko oleh-oleh di area jogja dan solo, hanya saja di toko mami, jumlahnya lebih banyak.
Berbagai merk bakpia berjajar dan bertumpuk di depan pintu masuk, menyambut setiap tamu yang mampir.
Toko sangat ramai dengan pengunjung di hari sabtu ini.
Kebetulan minggu ini, anak-anak sedang libur sekolah, jadi wisatawan dari berbagai daerah yang datang ke jogja, umumnya juga mampir ke solo.
Di tengah ruangan terdapat rak kaca berisi aneka makanan dan manisan.
Di sekeliling tembok terdapat rak susun lima, berisi anek kripik, dan oleh-oleh khas solo lainya.
Karyawan mami dengan pakaian hijau, hilir mudik melayani pembeli di setiap sudut toko.
Meski sudah ada dua meja kasir untuk pengunjung melakukan pembayaran, tapi tetap terlihat antrian di meja kasir.
Dimas dan mbak dina langsung bergabung dengan karyawan mami, untuk membantu mereka.
Mami lalu mengajakku ke lantai dua.
Di lantai dua, aku di sambut dengan kain batik yang sudah berjejer di patung.
Aku langsung bisa merasakan kualitas batik tulis asli, saat aku menyentuh kain batik tersebut.
"Ini asli batik tulis semua mi", tanyaku pada mami.
"Ada sebagian yang batik cetak, tapi mami taruh di gantungan belakang", jawab mami sambil menunjuk ke arah sudut kanan di lantai dua.
Lantai dua tidak seramai lantai bawah, tapi masih bisa terlihat beberapa pengunjung sedang memilah dan memilih batik.
"Mi udah sampai", tanya gadis cantik yang menghampiri kami dan langsung berdiri di samping mami, kemudian dia mencium tangan mami.
"Dimas katanya hari ini ikut ya mi", tanyanya dengan mata berbinar.
"Iya, dia lagi di bawah bantuin mbak dina", jawab mami ke gadis tersebut.
"Maira, kenalin ini zahra, zahra ini bekerja sama mami sudah cukup lama", ujar mami memperkenalkan gadis yang berdiri di samping mami.
"Zahra, ini maira, pacar dimas", ujar mami mita pada zahra.
"Hai, panggil rara aja", ujarku.
Zahra lalu menjabat tanganku dengan raut muka yang tidak lagi riang.
Meski zahra tersenyum, tapi aku bisa merasakan dari sirat matanya, kalau dia tidak menyukaiku.
Aku tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena mami langsung mengajakku ke kantornya.
"Pantas aja mami selalu sibuk, tokonya seramai ini", ujarku pada mami saat kami sudah di dalam kantor, yang sekaligus merupakan ruang istirahat untuk mami dan keluarganya.
Kantor mami berukuran sekitar tiga puluh meter persegi.
Begitu masuk ke dalam, ada sofa dan meja kaca di tengah ruangan, kemudian meja kerja mami yang terletak di dekat jendela.
__ADS_1
"Emang dimas cerita kalau maminya selalu sibuk", tanya mami padaku.
"Iya dimas selalu bilang kalau pulang ke solo, mami jarang di rumah", jawabku sambil tersenyum pada mami.
"Dimas harus ke toko dan bantu mami untuk bisa habisin waktu sama mami", ujarku menambahi.
Mami tersenyum padaku dan mulai membuka dokumen-dokumen yang sudah menumpuk di meja kerja mami.
"Mi, rara boleh liat-liat toko nggak", tanyaku pada mami yang sudah mulai duduk dan siap bekerja.
"Boleh, maira nanti kalau butuh apa-apa minta tolong zahra ya", pinta mami padaku.
Aku lalu mencium pipi mami, dan keluar dari ruangan mami.
Aku berkeliling melihat lantai dua dari depan sampai belakang.
Aku melihat beberapa dress batik yang menarik mataku.
Mataku langsung berbinar begitu aku melihat ada batik berwarna merah bata, dengan corak putih yang menggantung di rak dengan manisnya.
Aku langsung mencobanya di fitting room, dan ternyata muat untukku.
Aku langsung merasa cantik saat aku melihat ke arah cermin.
Begitu aku keluar dari fitting room, aku melihat dimas baru naik ke lantai dua.
Aku langsung melambaikan tangan ke arah dimas, tapi dimas tidak melihatku.
Aku lalu melihat zahra berjalan ke arah dimas, zahra langsung berbicara dengan dimas, dan dia terlihat cukup serius.
Aku kemudian mendatangi mereka, dan zahra langsung berhenti bicara begitu melihatku mendekat.
Lalu aku melingkarkan tanganku di lengan dimas, saat aku sudah di samping dimas.
"Sayang, kamu nggak liat aku lambain tangan di ujung sana", ujarku sambil menunjuk sudut yang aku maksud.
Dimas lalu pamit ke zahra, saat aku meminta dimas untuk melihatku mencoba batik berwarna merah bata yang aku suka.
"Gimana", tanyaku pada dimas saat aku keluar dari fitting room.
"Sayang suka", tanya dimas padaku.
"Suka sih, tapi mau lihat yang lainnya juga", ujarku menatap gantungan yang berisi dress, dengan motif serta design yang memang di tujukan untuk remaja.
"Ya udah sayang pilih-pilih dulu, nanti kalau udah kasih tau aku ya", ujar dimas sambil mencubit pipiku dengan kedua tangannya.
"Aku mau nemuin mami dulu, terus balik ke bawah", ujar dimas padaku.
Dimas lalu berjalan meninggalkanku dan masuk ke kantor mami.
Satu jam sudah aku memilah dan memilih batik-batik di lantai dua.
Aku bingung memilih satu dari dua dress yang aku suka.
Pandanganku tidak bisa beralih dari mereka berdua.
Yang satu berwarna merah bata yang aku lihat pertama, dan yang satu berwarna hijau tosca yang sangat cantik.
Harga satuan dari dress tersebut cukup mahal untuk kantongku.
Memang sih kualitasnya sangat bagus, tapi uangku tidak cukup untuk membeli keduanya.
Akhirnya Aku memutuskan untuk mengembalikan dress berwarna tosca tersebut ke gantungan, dan merapihkannya.
"Goodbye, mudah-mudahan kalau aku kesini lagi kita masih ketemu, aku akan menabung sebanyak mungkin sampai akhirnya aku bisa membawamu pulang", ujarku pada dress berwarna tosca tersebut.
Aku merasa dress tersebut seperti enggan untuk membuatku melepasnya, tapi tentu saja aku yang enggan untuk melepaskan dress tersebut, karena aku ingin serakah untuk memiliki keduanya.
Dengan berat hati, akhirnya aku berjalan ke kasir dengan membawa dress berwarna merah bata yang kupilih, lalu membayarnya.
Kemudian aku menaruh dress tersebut di dalam tasku, dan kembali ke ruangan mami untuk menitipkan tasku.
Saat aku turun ke lantai satu, dimas terlihat sangat sibuk, dia sibuk mengambil barang yang ada di rak atas yang di tunjuk oleh pembeli, sampai dimas tidak sadar kalau aku sudah di sampingnya.
Dimas langsung tersenyum saat dia berbalik, dan melihatku sudah ada didekatnya.
__ADS_1
Setelah istirahat makan siang, dimas dan mbak dina kembali sibuk, karena toko semakin ramai.
Karena aku ingin dekat dengan dimas, aku ikut membantu dan memilih menjadi asisten dimas.
Langit sore berubah menjadi gelap dengan cepat, kesibukan di toko membuat waktu berlalu tanpa ingin melambat.
Mami memanggil kami untuk makan malam tepat pukul tujuh.
Kami makan di kantor mami, di meja sudah ada sate ayam dan kambing serta minuman untuk kami.
Favorit keluarga dimas adalah sate kambing, jadi hanya aku yang memakan sate ayam.
"Aduh mami senang ada maira disini", ujar mami, disela-sela makan malamnya.
"Sering-sering main ya ra", pinta mbak dina sambil tersenyum ramah.
Aku hanya tersenyum ke arah mereka.
"Maira capek nggak", tanya mami.
"Kalau maira capek, maira istirahat aja di kantor mami, nanti kita pulang jam sembilan ya", ujar mami.
"Enggak kok, rara malah seneng bisa main-main di sini sambil bantuin dimas", jawabku riang.
Aku lalu menatap dimas dan tersenyum, dimas langsung meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Dina jadi pingin umur dua puluhan lagi mi", ujar mbak dina ke mami setelah melihat tingkahku dan dimas.
"Masa kamu sudah lewat din", ujar mami sambil tertawa.
"Mi besok dimas mau ajak rara main ya sebelum balik ke jogja", ujar dimas meminta ijin pada mami.
"Cuma mau ajak rara keliling kota solo mi", ujar dimas, saat melihat mami mengerutkan kening.
"Pulangnya jangan malam-malam ya", pinta mami.
"Cuma sampai sore kok mi, jam lima kita udah langsung jalan ke jogja", jawab dimas.
Mami menyetujui dan kembali melanjutkan makan.
"Besok kamu jadi ajak cucu-cucu mami ke waterpark din", tanya mami ke mbak dina.
"Jadi mi, udah di tagih terus soalnya sama rania", jawab mbak dina.
Rania itu anak sulung mbak dina, rania juga punya adik namanya arya.
Aku belum pernah bertemu mereka, tapi dimas suka membicarakan mereka dan memperlihatkan foto-foto mereka padaku.
Kami kemudian melanjutkan makan malam, sambil mendengar mami bercerita soal permasalahan di toko.
Meski toko tutup pukul 9.30 malam, tapi mami sama mbak dina selalu pulang jam sembilan malam, dan menyerahkan ke karyawan mami untuk menutup toko.
Papa seno sedang mengobrol dengan mas zaki, suami mbak dina di teras, saat kita sampai di rumah.
Mbak dina kemudian pamit pulang ke mami dan papa.
Aku dan dimas memutuskan untuk naik ke kamar setelah menyapa mas zaki.
Begitu aku sampai di kamar dimas, aku kembali mencoba dress batik yang aku pilih.
Dimas mengetuk pintu dan kemudian masuk ke kamar untuk mengambil baju ganti.
"Gimana, bagus nggak", tanyaku pada dimas sambil berputar di depan dimas.
Dimas lalu mendekat padaku dan menciumku.
"Kok nggak bilang kalau jadi ambil", tanya dimas.
"Dimas tadi sibuk, jadi aku ambil keputusan sendiri", jawabku.
"Mami pasti marah deh ke aku, kalau tau kamu bayar untuk dress ini", ujar dimas.
Aku hanya tersenyum ke arah dimas dan mengecup bibir dimas.
***
__ADS_1