
***
Perjalananku ke jakarta malam ini, bukanlah keputusan yang aku ambil kemaren sore.
Tapi ini sudah menjadi bahan pertimbanganku selama dua bulan terakhir.
Butuh waktu satu bulan, untuk akhirnya orang tuaku mengijinkan aku pergi ke jakarta.
Aku juga berusaha meyakinkan kak alan kalau keputusanku sudah bulat, tapi sampai tadi pagi, kak alan masih enggan untuk melepasku.
Dimas keberatan, begitu aku mengutarakan keinginanku.
Dimas memintaku untuk bekerja di solo, tapi aku menjelaskan pada dimas, kalau aku penasaran dengan kota jakarta, dan ingin merasakan bagaimana rasanya bekerja di ibukota.
Aku juga meyakinkan dimas, kalau aku tidak akan mengubah hatiku untuknya.
Aku berjanji pada dimas, begitu rasa penasaranku sudah terpenuhi, aku akan langsung kembali pada dimas.
Kepergianku ini, juga karena aku masih memiliki keraguan pada dimas, aku masih belum bisa menerima keberadaan zahra di sekitar dimas.
Aku butuh waktu untuk menerima zahra di sekitar dimas.
Hanya nia yang paling senang, saat aku menyampaikan kalau aku akan mengikuti nia ke jakarta.
Rani dan mia merasa di khianati saat aku menyampaikan kalau aku akan pergi, sementara kiki mendukungku, karena dia juga akan pulang ke kalimantan.
Rencananya, aku akan tinggal dengan nia dan keluarganya selama satu bulan, sampai akhirnya aku bisa mencari tempat tinggalku sendiri.
Tante rosa keberatan dengan rencanaku, tante rosa memintaku untuk tinggal di rumah mereka selama aku di jakarta.
Ibu juga sudah menitipkanku ke tante rosa selama aku di jakarta, karena ibu cukup khawatir.
Menurut ibu, pergaulan di jakarta sangat bebas, ibu tidak ingin aku terjerumus ke hal-hal yang buruk, jadi ibu memintaku untuk tinggal dengan nia, karena ada orang tua nia yang akan menjaga dan mengawasiku.
Sebulan yang lalu, aku juga sudah melamar pekerjaan di beberapa kantor di jakarta, dan minggu depan aku ada undangan untuk interview dari tiga perusahaan.
Aku mulai merasakan lelah karena terlalu banyak menangis.
Kemudian aku memilih untuk istirahat, karena kereta baru akan sampai di jakarta sekitar pukul lima pagi.
Nia sudah menelvonku sejak sore, kalau dia yang akan menjemputku di stasiun.
Baru saja aku ingin memejamkan mata, kru kereta datang untuk menawariku makan, tapi aku menolak, mereka kemudian memberiku bantal dan selimut untuk istirahat.
Selama delapan jam perjalanan dari jogja menuju jakarta, aku hanya tidur.
Aku baru terbangun setelah salah satu kru kereta membangunkanku, karena sebentar lagi kereta akan tiba di stasiun gambir.
Kemudian aku melihat blackberry milikku, dan ada lima panggilan tidak terjawab dari dimas, serta tiga panggilan dari nia.
Aku memilih untuk menelvon nia terlebih dulu, nia menanyakan aku sudah dimana saat dia menjawab telvonku.
Aku lalu memberi tahu nia kalau sepuluh menit lagi kereta akan masuk ke stasiun gambir.
Nia kemudian mengatakan kalau dia sudah menungguku di tangga bersama ayahnya.
Setelah telvon untuk nia kututup, aku menelvon dimas, tapi dimas tidak menjawab.
__ADS_1
Akhirnya aku hanya meninggalkan pesan untuk dimas, mengatakan kalau aku sudah sampai di jakarta.
Aku lalu memilih untuk menaruh kembali blackberryku di dalam tas ranselku.
Kereta berhenti di stasiun gambir bersamaan dengan adzan subuh yang berkumandang.
Aku keluar dari kereta setelah memastikan tidak ada barang milikku yang tertinggal.
Kakiku baru satu langkah menuruni kereta, tapi aku langsung terpukau, lalu aku berjalan menuju tempat duduk.
Tugu yang menjulang tinggi dengan hiasan api emas di puncaknya, menjadi pemandangan pertamaku saat aku turun dari kereta.
Jakarta menyambutku dengan suara adzan dan juga tugu monas yang bersinar begitu terang.
Pantulan lampu-lampu berwarna kuning di sekitar tugu monas, dan jakarta yang masih gelap, membuat tugu monas terlihat seperti cahaya lilin ditengah kegelapan.
Aku kemudian ingat kalau nia menungguku.
Setelah melihat tugu monas dengan sekilas sekali lagi, aku lalu menyeret koperku turun menuju pintu keluar.
"Raa", teriak nia, begitu dia melihatku turun dari tangga.
Nia dan om rusman langsung menghampiriku.
Aku meletakkan koperku, lalu aku mencium tangan om rusman, dan memeluk nia.
Nia kemudian membantuku, membawa koper milikku, dan om rusman membantuku membawa sisa barang yang kubawa.
Di perjalanan ke rumah nia, om rusman menanyakan apakah perjalananku melelahkan, aku hanya menjawab lebih lelah nangis sebelum kereta berangkat.
Om rusman hanya tertawa mendengar jawabanku.
"Nggak di appartement", tanyaku pada nia.
"Nggak ra, rumah biasa", jawab nia.
"Yah, padahal aku pingin ngerasain tinggal di appartement", jawabku.
Om rusman kemudian meminta nia untuk mengajakku menginap di appartement, saat appartement tidak dalam masa sewa.
Jakarta masih terlihat kosong, sepanjang jalan dari gambir ke tebet, mungkin karena masih petang.
Jalanan juga cukup lenggang, tapi mungkin akan berubah saat matahari mulai naik, dan kemacetan akan kembali menghiasi seluruh jalanan.
Tante rosa langsung keluar dari dalam rumahnya, begitu mendengar mobil ayah nia masuk ke dalam garasi.
"Selamat datang di jakarta ra", ujar tante rosa sambil memelukku.
Tante rosa kemudian mengajakku masuk ke dalam rumah, dan menunjukkan kamar yang akan aku tempati.
Kamar yang aku tempati, ternyata juga memiliki kamar mandi di dalam kamar.
"Kamar kamu juga ada kamar mandi dalam ia", tanyaku pada nia.
"Iya semua kamar ada kamar mandi dalamnya", jawab nia.
Setelah aku mandi dan mengganti pakaianku, aku masih melihat nia duduk di tempat tidurku sambil memainkan handphonenya.
__ADS_1
"Kamu ganti blackberry ia", tanyaku lagi pada nia, dengan nada girang.
"Iya, sekarang aku pakai android", jawab nia dengan riang.
Nia lalu memperlihatkan handphone touchscreen baru miliknya padaku.
*
Selama satu minggu di rumah nia, hampir setiap hari aku hanya berdua dengan tante rosa, karena om rusman bekerja di pagi hari, dan juga nia berangkat pagi karena sudah mulai bekerja.
Rumah nia, merupakan rumah dua lantai dengan lima kamar.
Tiga kamar di atas, dan dua kamar ada dibawah.
Di kamar bawah, ada kamar tamu, dan juga satu kamar yang letaknya di belakang dapur.
Kamar tersebut di gunakan asisten rumah tangga keluarga nia untuk istirahat.
Namanya bi minah, usiannya sekitar lima puluh tahun, dia sudah bekerja dengan ayah nia, sejak tiga puluh tahun yang lalu.
Dia mulai bekerja semenjak ayah nia masih bujang, dia awalnya bekerja untuk orangtua om rusman, tapi orangtua om rusman meminta bibi minah untuk ikut dengan om rusman, begitu om rusman menikah.
Menurut nia, rumah yang nia tempati sekarang, merupakan rumah yang dulu di tinggali oleh om rusman dan istri pertamanya.
Kamar yang aku dan nia tempati, juga merupakan kamar anak-anak om rusman dari istri pertamanya dulu.
Meski bi minah dulu melayani istri pertama om rusman dan anak-anaknya, tapi itu tidak membuat bi minah menjadi angkuh pada tante rosa dan nia.
Bi minah tetap ramah, bahkan sangat perhatian pada nia.
Aku juga sudah hadir untuk interview di tiga perusahaan yang sudah mengundangku.
Dua dari tiga perusahaan tersebut menerimaku, aku menjadi bingung harus memilih yang mana.
Aku kemudian meminta pendapat nia di hari sabtu, saat nia libur dari kerjanya.
Aku menjelaskan kalau perusahaan provider memintaku sebagai admin marketing, dan perusahaan finance memintaku untuk menjadi adviser.
Gaji yang ditawarkan perusahaan finance lebih besar, dan juga benefits yang bisa aku terima lebih menarik.
Sementara di perusahaan provider, aku bisa menerima take homepay kurang dari dua juta.
Nia menyarankanku untuk ambil di perusahaan provider, karena meski gaji kecil tapi resiko tidak besar.
Sementara di perusahaan finance, resikonya besar, jika aku melakukan kesalahan.
Setelah berfikir selama dua hari, dan mencari tahu tentang masing-masing perusahaan, aku memilih untuk mengambil pekerjaan di perusahaan finance, karena bagaimanapun, aku sudah datang jauh ke jakarta, tentu saja aku ingin uang yang lebih banyak.
Nia kemudian mengajakku pergi ke monas di minggu sebelum aku mulai bekerja.
Sayang sekali, kita sampai monas sudah cukup siang, jadi kita tidak bisa masuk ke dalam untuk melihat jakarta dari ujung monas.
Kita kemudian hanya berfoto, dan makan bakso di luar pagar monas.
Ayah pernah mengajakku dan kak alan ke monas, tapi saat usiaku masih tiga tahun.
Tidak ada satupun kenangan yang bisa kuingat dari perjalananku ke jakarta dulu.
__ADS_1
Aku hanya bisa tau bahwa aku pernah kejakarta, dari album foto yang ibu simpan dengan baik.
***