
***
Kita sampai di rumah nia sekitar pukul sembilan malam, kita langsung naik dan terkapar di kamar nia karena kelelahan.
"Udah pada makan belum", tanya tante rosa saat masuk ke kamar nia untuk menawarkan kami makan.
"Udah tante, tadi di ajak kak alan makan di jalan", ujar rani.
"Tante kita pulang besok ya", ujar mia pada tante rosa.
"Udah minta ijin ke orangtua kalian kalau mau nginep", tanya tante rosa.
"Udah tante", jawab kami serempak.
"Tentu saja boleh", ujar tante rosa dengan suara lembutnya.
"Makasih ya udah nemenin nia hari ini", ujar tante rosa menambahi.
"Sama-sama tante, kita juga seneng kok main sama nia", jawabku, dan berusaha untuk tetap membuka mataku.
"Nia masih di bawah tante", tanya mia pada tante rosa.
"Masih, nia lagi ngobrol sama ayahnya", ujar tante rosa.
"Ya udah kalian istirahat ya, kelihatannya kalian capek banget", ujar tante rosa.
Tante rosa kemudian keluar dari kamar nia dan langsung menutup pintu.
Mataku sangat berat, aku sudah hampir tidak bisa menahannya lagi.
Rani, kiki, dan mia juga sudah tertidur, aku kemudian menyusul mereka.
*
Esoknya aku langsung terbangun saat aku merasakan panas matahari menyentuh kulitku.
"Aduh siapa sih yang buka tirainya", ujarku masih dengan mata terpejam.
"Udah hampir siang ini, ayo bangun", ujar tante rosa yang sudah ada di kamar nia dan bersiap-siap untuk membuka jendela kamar nia.
Aku lalu menarik selimut dan menutupi kepalaku.
"Masih ngantuk bun", ujar nia dengan suaranya yang masih setengah tidur.
Aku bangun karena terkejut mendengar ucapan nia.
Aku kemudian memeriksa dan memastikan bahwa yang menjawab tante rosa adalah suara nia.
Bukan hanya aku, kiki yang tidur di sampingku juga terbangun.
Dan benar, memang suara nia yang baru kita dengar, aku langsung merasa lega, karena akhirnya nia kembali seperti biasa.
Tante rosa lalu memeluk nia dan mencoba membangunkan nia.
Setelah hampir lima belas menit, akhirnya tante rosa berhasil membangunkan kami, dan meminta kami untuk turun dan sarapan.
Saat aku turun, aku melihat om rusman sedang duduk santai sambil membaca koran di ujung meja makan.
"Pagi om", sapa kami ke om rusman.
Om rusman lalu melihat jam di tangannya.
"Udah siang ini", ujarnya.
"Anak sekarang kok pada bangunnya siang ya bun", tanya om rusman ke tante rosa.
"Ya maklum yah, kemaren kan mereka main seharian", ujar tante rosa, tersenyum pada om rusman.
Kita lalu duduk di meja makan, tante rosa sudah menyiapkan aneka jajanan pasar dan memasak makanan cukup banyak untuk kami.
Hanya saja, kita masih sangat mengantuk, jadi kurang fokus dengan banyaknya makanan di meja makan.
"Waktu om masih seusia kalian nih ya, om jam lima pagi sudah harus bangun, berolah raga pagi, lalu menyapu halaman", ujar om rusman mulai bercerita.
Hanya hening tanpa sanggahan atau jawaban, karena tidak ada satupun dari kami yang menjawab.
Kami masih berjuang untuk sepenuhnya membuka mata.
"Udah yah biarin mereka makan dulu", ujar tante rosa, lalu mengusap punggung ayah nia yang sedang melihat kami dengan tatapan tidak percaya.
Setelah selesai sarapan, nia meminta kami untuk duduk di dekat nia.
__ADS_1
Akhirnya nia buka suara mengenai penyebab pertengkarannya dengan tante rosa, bundanya.
Jadi sekitar tiga minggu yang lalu, ada dua perempuan, yang satu usianya jauh lebih tua dari nia, dan satunya lagi, kira-kira masih duduk dibangku SMP.
Saat nia pulang dari kampus, nia melihat perempuan yang lebih tua sedang menarik kerah baju bundanya.
Nia langsung berlari dan berusaha melepaskan tangan perempuan tersebut dari kerah baju bundanya.
Perempuan yang lebih tua langsung menatap nia dengan tatapan yang semua orang bisa menyadari, kalau dia sedang murka.
Perempuan tersebut langsung berteriak pada nia, dan mengatakan "Anak haram", dengan intonasi yang sangat tinggi.
Sampai nia merasa seluruh tetangga nia, bisa mendengarkan ucapan tersebut.
Kemudian mereka berdua pergi setelah teriakannya pada nia, tante rosa langsung duduk tersimpuh, dan mulai menangis.
Bunda nia tidak mengatakan apa-apa, sampai akhirnya ayah nia pulang saat akhir minggu.
Begitu pulang, ayah nia langsung melihat keadaan tante rosa dan mengajak nia berbicara setelahnya.
"Nia, ayah rasa sudah waktunya kamu tau, karena kamu sudah dewasa, ayah tidak ingin menyembunyikan hal ini lagi dari nia", ujar ayah nia, dengan nada selembut mungkin, menurut nia.
Ayah nia mulai bercerita kalau bundanya, atau tante rosa merupakan istri kedua ayahnya.
Mereka menikah secara sah di mata agama, tapi di mata negara memang tidak diakui.
Dua perempuan yang datang dan marah pada nia dan bundanya, adalah siska dan fina, anak perempuan ayah nia, dari istri pertama.
Mendengar ucapan ayah nia, nia langsung menarik tangannya, yang dari awal di genggam oleh ayahnya.
Nia tidak mengatakan apa-apa dan langsung naik ke kamarnya kemudian mengunci pintu.
Nia lalu menangis, nia merasa kalau dia tidak seharusnya lahir.
Buat apa dia lahir karena hidupnya hanya akan menjadi noda sebagai anak dari istri kedua.
Nia marah karena merasa malu, kemarahan nia di dasari karena masyarakat sering melabeli istri kedua, dengan sebutan perebut suami orang.
Nia merasa malu kalau orang lain tahu, nia takut mereka akan menghakimi nia, dan mencemooh nia.
"Nia itu bukan salah kamu, kamu nggak ada andil dalam keputusan mereka, kamu hanya kebetulan lahir dan melengkapi kebahagiaan mereka", ujar kiki sambil menarik tangan nia dan menggenggamnya.
Nia lalu melanjutkan ceritanya, nia tidak keluar kamar selama dua hari.
Dia hanya keluar kamar untuk berangkat kuliah.
Setiap nia melihat bundanya di bawah, nia menjadi sangat marah, dan memilih untuk tidak berbicara pada bundanya.
Bunda nia selalu bilang pada nia, kalau bundanya tidak punya pilihan lain, tapi nia memilih untuk mengabaikan setiap bundanya berusaha memberi nia penjelasan.
Selama dua minggu, nia selalu berangkat pagi ke kampus dan pulang cukup larut.
Tante rosa yang awalnya mencoba untuk mengerti nia, akhirnya menjadi marah besar dan memarahi nia, tapi hal itu bukannya membuat nia takut, malah membuat nia semakin marah.
Salah satunya adalah teriakan nia pada tante rosa dua hari yang lalu.
Kita kemudian memeluk nia setelah mendengar cerita nia.
Kita masih muda, jadi kita hanya mengatakan kalau itu bukan salah siapapun.
Sampai akhirnya, semalam ayah nia mengajak nia untuk lebih terbuka lagi dengan nia.
Menurut ayah nia, tante rosa adalah pacar pertama ayahnya nia saat SMA.
Sayangnya, setelah lulus tante rosa tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja di pabrik.
Hal itu membuat orang tua ayah nia tidak menyetujui hubungan ayah nia dan tante rosa.
Sampai akhirnya orang tua ayah nia menjodohkan ayah nia dengan perempuan lain.
Ayah nia menurut, dan meninggalkan tante rosa.
Pernikahan itu ternyata tidak membuat ayah nia berhenti mencintai tante rosa, malah membuat rasa bersalah muncul setiap ayah nia ingat akan tante rosa.
Ayah nia kemudian berusaha mencari tante rosa kembali, untuk meminta maaf, karena sudah menikahi perempuan lain.
Mereka kembali bertemu tiga tahun setelah ayah nia hampir putus asa, dan berusaha untuk menerima kenyataan.
Mereka bertemu kembali di jakarta timur, saat ayah nia sedang berkunjung ke salah satu pabrik di jakarta timur sebagai perwakilan dari kantornya.
Saat itu tante rosa bekerja di pabrik garment yang ada di jakarta timur.
__ADS_1
Harapan yang menurut ayah nia sudah pupus, kembali menyala.
Butuh dua tahun penuh ayah nia membujuk tante rosa untuk kembali ke sisinya.
Meski tante rosa selalu menolak dengan tawaran ayah nia, tapi ayah nia tidak pernah sekalipun menyerah.
Setiap hari ayah nia menemui tante rosa di pabrik, memohon dengan berlutut pada tante rosa, juga puluhan kali ayah nia lakukan.
Tante rosa kemudian luluh dan menerima tawaran dari ayah nia, bagaimanapun, tante rosa masih sangat mencintai ayah nia, dan dia butuh sosok yang cukup mencintainya untuk bersandar.
Kondisi tante rosa dan keluarganya memang sangat buruk saat itu, tawaran dari om rusman yang akhirnya membuat keluarga tante rosa selamat dari jeratan hutang.
"Nia kalau kamu mau marah, marah ke ayah, hukum ayah, jangan bunda kamu", ujar ayah nia semalam.
"Ayah sakit nia, melihat perlakukan kamu ke bunda", ujar ayah nia dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah itu cuma mau bahagia di hidup ini dengan punya bunda kamu di sisi ayah, jadi ayah mohon sekali nia, jangan sakiti bunda kamu karena menikahi ayah", ujar ayah nia yang akhirnya meneteskan air mata.
"Meski bunda kamu itu istri kedua ayah, tapi ayah berusaha sebaik mungkin untuk memberikan cinta yang lebih dari cukup untuk kamu dan bunda kamu", ujar ayah nia lagi yang membuat nia mulai berurai dengan air mata.
"Apa pernah ayah meninggalkan kalian, tidak tanggung jawab pada kalian", tanya ayah nia sambil menghapus air mata nia.
"Cinta ayah ke bunda kamu itu sangat besar nia, jadi ayah mohon dengan sangat, jangan salahkan bunda dan tolong perlakukan bunda kamu dengan baik", ujar ayah nia, yang membuat air mata nia semakin deras.
Tante rosa yang mendengar mereka menangis, langsung menghampiri mereka.
Kemudian nia memeluk tante rosa.
"Bunda maafin nia karena sudah egois dan hanya memikirkan perasaan nia, maaf juga udah merasa malu, karena udah lahir menjadi anak bunda", ujar nia sambil menangis.
"Nia tidak salah, bunda mengerti, bunda juga minta maaf karena merahasiakan ini dari nia, bunda cuma ingin melindungi nia", ujar tante rosa yang kemudian ikut meneteskan air mata.
"Nia janji untuk tidak mengulanginya lagi", ujar nia.
"Nia juga janji kalau nia akan selalu sayang sama bunda sampai kapanpun", ujar nia masih dengan berurai air mata.
"Nia juga harus janji untuk selalu menjaga bunda untuk ayah", ujar ayah nia.
Mereka lalu saling meminta maaf dan berpelukan.
Kami yang mendengar cerita nia tak terasa ikut meneteskan air mata.
"Iya nia ayah kamu benar itu bukan salah kamu", ujar rani.
"Nia kenapa kamu nggak coba hubungin kita, dan cerita sama kita", ujar kiki sambil mengusap air matanya.
"Jujur aku malu, aku takut kalian nggak mau temenan lagi sama aku", ujar nia tersenyum sambil menunduk.
Rani dan kiki langsung memukul punggung nia.
"Kamu salah nia, kamu fikir pertemanan kita sedangkal itu", ujar rani sedikit marah dan masih sambil menangis.
"Nia kita kan udah janji untuk menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing", ujar kiki.
"Iya nia, kamu nggak inget waktu orang tua rani cerai saat kita kelas dua, kita selalu support rani, bukan tinggalin rani karena jadi anak broken home", ujar mia.
"Hal itu juga berlaku untuk kita semua nia, kita berusaha untuk selalu ada untuk support satu sama lain", ujarku pada nia.
"Tapi aku masih marah karena kamu nggak hubungi kita saat kamu butuh dukungan kita", ujar rani menggerutu.
"Ran aku tau kalian lagi sibuk menghadapi ujian tengah semester, selain itu juga, kamu sibuk banget sama organisasi kampus, dan kamu ki, aku nggak mau ganggu waktu kamu sama wawan", ujar nia menjelaskan.
"Kamu kenapa nggak telvon aku nia", sautku setelah nia selesai berbicara.
"Aku telvon kok, tapi saat aku tanya kamu mau kemana, dan tanya kegiatanmu setelah selesai kuliah apa, kamu selalu bilang mau ngabisin waktu sama dimas, kamu juga mia, pagi, siang, sore bahkan malam pun selalu ketemu seto, kamu nggak bosen", tanya nia sambil melihat ke arah mia setelah memberiku penjelasan.
"Hehe he enggak", ujar mia cengengesan.
"Maafin kita ya nia, karena udah sibuk, tapi kalau kamu bilang kamu ada masalah, kami pasti langsung datang", ujarku merasa bersalah.
"Iya nia, kita pasti akan selalu ada untuk kamu", ujar kiki.
Kami kemudian memeluk nia, dan kembali memenuhi kamar nia dengan tawa dan canda kami sampai sore hari.
kami pamit pulang begitu hari mulai gelap.
Om rusman memberikan kami coklat dari jakarta, untuk kami bawa pulang.
Di perjalanan pulang aku merasa marah, kenapa orang harus selalu menyalahkan perempuan seperti tante rosa, tapi hal itu kurasakan, tentu saja karena aku merasa simpati pada nia yang merupakan sahabatku, dan tante rosa yang selalu baik padaku.
***
__ADS_1