Namaku Maira

Namaku Maira
- Badai Pertama -


__ADS_3

***


Aku langsung menghapus air mataku saat melihat dimas, kemudian aku berdiri dan berjalan ke arah dimas.


Aku memberikan buku kecil tersebut pada dimas.


"Aku mau pulang, sekarang", ujarku pada dimas tanpa melihat ke arah dimas.


Aku mengambil ransel milikku, dan membawa koper pakaianku dari lantai kamar dimas.


Dimas lalu mengambil koper dari tanganku, dan berusaha memelukku.


"Aku tunggu di bawah", ujarku pada dimas dengan nada yang cukup dingin, lalu melepaskan diri dari pelukan dimas.


"Ra", panggil dimas, saat aku keluar dari kamar tanpa melihatnya lagi.


"Ra aku bisa jelasin", ujar dimas, mengejarku, dan berusaha meraih tanganku.


"Aku mau pulang sekarang", ujarku pada dimas, sambil melepaskan tanganku dari genggamannya.


Aku lalu turun, dan langsung masuk ke mobil dimas, begitu aku sampai di garasi rumah.


"Aku nggak akan jalan sebelum kamu kasih aku kesempatan untuk jelasin", ujar dimas, saat dia sudah ada di sampingku.


Aku kemudian turun dari mobil dimas, lalu keluar dari rumah dimas, dan langsung melambaikan tangan ke arah taksi yang kulihat parkir tidak jauh dari rumah dimas.


Saat taksi sudah ada di depan rumah, dimas langsung menarik tanganku, ketika aku baru mau membuka pintu taksi.


Dimas langsung meminta maaf pada bapak sopir taksi, karena tidak jadi mengambil taksinya.


"Oke, aku anter kamu pulang sekarang", ujar dimas yang terdengar mulai kehilangan kesabaran.


Di perjalanan, aku sekuat mungkin menahan diri untuk tidak menangis, rasa marah yang meluap di hati dan pikiranku, membuatku diam sepanjang perjalanan.


"Ra dengerin aku dong", pinta dimas sambil meraih tanganku.


Aku langsung menarik tanganku dari dimas, tanpa melihat ke arah dimas.


Dimas akhirnya memilih untuk tetap melajukan mobilnya, dan tidak mengajakku berbicara lagi.


Begitu sampai di depan rumah, aku langsung turun dari mobil, dan masuk ke dalam rumah tanpa mengucap sepatah katapun untuk dimas.


Aku juga mengacuhkan ibu yang memanggil namaku, dan aku langsung masuk ke dalam kamarku, lalu mengunci pintu kamar.


Tangis yang selama dua jam aku tahan, akhirnya pecah.


Kata yang dimas tuliskan untuk zahra kembali menari dipikiranku.


Aku tidak keluar kamar selama sisa hari, aku memilih untuk mengurung diri di kamar, dan mengelus luka di hatiku.


*


Paginya saat aku keluar kamar, ibu memberiku kompres untuk mengompres mataku yang bengkak.


"Ada apa sih ra, cerita dong sama ibu", ujar ibu saat menemaniku duduk di meja makan, sambil membantuku mengompres mataku.


"Nggak papa bu, lagi pingin nangis aja", jawabku pada ibu.


"Dimas itu semalam tunggu kamu keluar kamar sampai jam sepuluh malam loh, dia bilang terpaksa harus pulang karena hari ini dia kerja", ujar ibu.


"Dimas juga bilang, kalau rara itu salah paham aja", ujar ibu lagi.


Aku hanya tersenyum sinis, dan tidak menjawab ibu.


Ibu lalu membiarkanku sendiri di dapur setelah memintaku untuk makan sarapanku.


Sekitar pukul sepuluh pagi, kami berangkat ke rumah uti.


Kak alan dibalik kemudi dan ayah di sampingnya, ibu dan aku duduk di kursi tengah.


"Dimas punya selingkuhan ya ra di solo", tanya kak alan dengan nada bergurau, saat kami dalam perjalanan ke rumah uti.

__ADS_1


"Iya kan", tanya kak alan lagi dengan senyumnya yang menyebalkan.


Aku tidak menjawab pertanyaan kak alan dan hanya memalingkan wajah keluar jendela.


"Segala sesuatunya itu bisa dibicarakan baik-baik ra, kalau ada masalah harus diselesaikan", ujar ayah padaku.


Aku hanya terdiam, dan tidak menjawab ayah, atau menanggapi gurauan kak alan.


"Udah lan, kamu fokus nyetir aja, ayah juga, istirahat yah", ujar ibu pada ayah dan kak alan.


Ibu lalu menarik pundakku dan memelukku tanpa mengatakan apapun.


Angin yang cukup kencang menyambut kami saat kami sampai di rumah uti.


Aku langsung merasa sedikit tenang, saat melihat halaman rumah uti.


Jiwaku yang rapuh, terasa ada yang menyambut dengan pelukan hangat begitu aku membuka jendela mobil.


Uti langsung keluar dari rumah, begitu mobil ayah masuk ke halaman rumah uti, dan uti langsung memelukku, begitu aku turun dari mobil.


Untuk sesaat aku bisa melupakan luka di hatiku.


Bintang yang lucu juga langsung turun dari pelukan ibunya, dan lari dengan kaki kecilnya ke arah kami.


Aku langsung tersenyum dan membuka tanganku untuk menangkap bintang ke pelukanku.


"Yaya", celoteh bintang, dengan suaranya yang belum terlalu jelas, sambil menyentuh hidungku.


"Yayan", ujar bintang, lalu menunjuk ke kak alan yang sudah berdiri di sampingku.


"Ayam", ujarku pada bintang, membenarkan ucapan bintang.


"Apaan sih, jangan di dengerin", ujar kak alan, sambil menutup telinga bintang.


Kak alan lalu mengambil bintang dari tanganku.


"Alan", ujar kak alan pada bintang sambil membawa bintang masuk ke dalam rumah.


*


Ada di rumah uti, membuat hatiku sedikit tenang, celotehan bintang juga selalu menghiburku.


Selama seminggu di rumah uti, aku mulai melupakan amarahku pada dimas, karena bintang mengambil semua perhatianku untuknya.


Aku memilih untuk mamatikan blackberryku, dan mengacuhkan semua pesan dan telvon dari dimas.


Ayah dan kak alan hanya mendapat cuti selama tiga hari, jadi hari rabu malam mereka langsung pulang ke rumah.


Sabtunya, setelah aku membantu tante wulan bersih-bersih, aku memutuskan untuk bersantai di ayunan jaring milik bintang di teras rumah uti.


Aku lalu memejamkan mataku, dan menikmati angin sepoi-sepoi yang mampir ke wajahku.


"Ra", ujar sebuah suara yang sayup-sayup kudengar.


Aku lalu membuka mataku, dan kulihat dimas sudah berdiri di depanku, dengan kaos biru dan celana pendek coklat.


Amarah yang kulupakan langsung kembali mengisi hatiku.


Aku bangun dari ayunan, dan langsung masuk ke rumah.


"Maira", teriak dimas sambil menarik tanganku.


Aku langsung melihat ke sekitar, karena khawatir orang lain akan mendengar.


Aku lalu menarik tangan dimas dan meminta dimas untuk membuka pintu mobilnya, saat kita sudah di dekat mobil dimas.


Dimas memarkirkan mobilnya di samping rumah tante wulan, jadi aku tidak melihatnya saat pagi ini keluar rumah.


Lingkungan rumah uti merupakan lingkungan pedesaan, jadi aku khawatir akan menarik perhatian tetangga, dan membuat malu uti, kalau sampai membuat gaduh di depan rumah uti, karena itulah aku lebih memilih membawa dimas ke tempat yang lebih tenang.


Aku meminta dimas untuk membawaku ke pantai terdekat.

__ADS_1


Aku langsung turun dari mobil begitu kita sampai, dan melihat sekitar.


Aku bernafas lega saat aku tidak melihat satu orang pun di sekitar pantai.


"Ngapain kesini", tanyaku pada dimas, begitu aku melihat dimas turun dari mobil.


"Kejar sana zahra kamu", ujarku lagi dengan nada sengit.


"Ra kamu tuh salah paham", ujar dimas berusaha menenangkanku.


"Itu bukan buku kamu", tanyaku pada dimas.


Dimas hanya diam dan membiarkan amarahku keluar.


"Bukan tulisan tangan kamu", tanyaku lagi.


"Aku bisa jelasin, kamu denger dulu dong", ujar dimas sambil meraih tanganku.


Aku tidak menjawab ucapan dimas.


"Aku tidak punya perasaan apapun untuk zahra, hanya sebatas sayang sebagai teman", ujar dimas.


"Sayang", ujarku sinis.


"Perasaan kamu tuh bukan cuma sayang sebagai teman, lebih dari itu dimas, bahkan sampai saat ini", ujarku mulai merasa emosi.


Dimas kembali terdiam.


"Kalau kamu sayang sama dia, ngapain kamu deketin aku", ujarku lagi pada dimas sambil menunjuk dadanya.


"Kalau kamu sayang sama perempuan lain, ngapain kamu sentuh aku", ujarku sambil menatap dimas dengan mataku yang mulai berkabut.


"Kenapa", tanyaku pada dimas.


Aku mulai meluapkan semua amarahku.


"Karena aku gampangan", ujarku, akhirnya pada dimas dengan nada rendah, sambil melihat dimas dengan penuh luka.


Dimas langsung menampar wajahku, karena sudah mengucapkan hal yang aku sendiri merasa sangat sakit, saat kata itu keluar dari mulutku.


Dimas kemudian sadar karena sudah menamparku, dia langsung memelukku.


"Ra, tolong dong jangan sakitin aku dengan ucapan itu", ujar dimas dengan lirih dan mulai menangis.


Aku melepaskan diriku dari pelukan dimas dan berjalan ke arah bibir pantai.


Saat aku sudah sampai di bibir pantai, aku duduk dan menangis sambil memeluk diriku sendiri.


Dimas menghampiriku, lalu duduk di sampingku.


"Aku tau aku salah, aku minta maaf, seharusnya udah kubuang buku itu begitu kamu temuin dulu, tapi malah aku simpan", ujar dimas sambil mengusap air matanya.


"Iya aku menyukai zahra, tapi itu dulu, perasaanku sudah berakhir untuknya, aku pilih kamu ra", ujar dimas lagi dengan nada sangat lembut.


"Aku nggak pernah belain zahra seperti yang kamu fikir, aku cuma simpati aja sama dia, nggak lebih", ujar dimas masih terus menjelaskan.


"Aku sentuh kamu karena aku cinta sama kamu, bukan karena apa yang kamu omongin tadi", ujar dimas, dengan menekan kalimat terakhir.


"Aku aja lupa kalau aku punya buku itu, aku bahkan nggak inget kalau aku taruh dilaci", ujar dimas.


"Aku cinta banget sama kamu ra", ujar dimas lirih.


"Kalau kamu mau bukti apapun, supaya kamu yakin kalau aku cinta banget sama kamu, aku akan lakuin", ujar dimas sambil menatapku.


"Aku nggak mau kehilangan kamu cuma gara-gara salah paham ra", ujar dimas dengan suara parau.


Dimas akhirnya memelukku yang terus terdiam, dan aku membiarkan dimas memelukku tanla ada keinginan untuk melepaskan diri dari dimas.


Bagaimanapun, perasaanku untuk dimas masih sangat kuat, tapi aku sadar, aku sudah tidak bisa mempercayai dimas sepenuhnya.


***

__ADS_1


__ADS_2