
***
Ucapan janji suci pernikahan kak alan untuk rani, baru saja dinyatakan sah.
Ibu yang duduk di sampingku, langsung meneteskan air mata bahagiannya.
Wajar jika ibu merasa terharu, bagaimanapun kak alan adalah anak pertama ibu.
Meski kak alan selalu protes, dan merasa kalau aku adalah anak kesayangan ayah dan ibu, tapi aku tahu dengan pasti, kalau ibu mencintai kami berdua sama rata.
Susunan acara yang sudah dimulai dari kemaren, dan baru akan berakhir besok, membuatku bernafas lega saat acara utama sudah selesai.
Kemaren pagi, di acara pengajian, kak alan memberikan surat untuk ibu, yang membuatku dan ibu menangis sepanjang acara.
Sorenya, ibu meneteskan air mata lagi, saat membasuh kak alan dalam acara siraman.
Setiap kali aku melihat ibu menangis, aku menjadi tertular dan ikut menangis.
Pagi ini di acara akad nikah, ibu juga kembali meneteskan air matanya, dan langsung menular padaku.
Untungnya pembawa acara meminta pembawa cincin untuk maju ke depan, dan itu aku.
Aku terselamatkan dari derai airmata yang sudah mulai jatuh di pipiku.
Aku langsung maju dan berdiri di tengah-tengah rani dan kak alan, lalu aku membuka kotak kayu dengan penutup mika yang berisi cincin untuk mereka berdua.
Kak alan melihatku dengan muka yang sangat serius, saat aku menyodorkan cincin padanya.
"Maskara kamu luntur", ujar kak alan padaku, yang membuat rani yang semula terlihat gugup langsung tersenyum lebar.
"Bohong, enggak kok", ujar rani berbisik padaku.
Aku yang semula terharu, berubah menjadi kesal karena kak alan meledekku.
Begitu aku kembali ke tempat duduk setelah memastikan semua cincin terpasang di jari pengantin, aku langsung meraih tas tanganku, dan mengambil kaca.
Aku merasa lega, begitu melihat makeupku baik-baik saja.
Ibu memang sudah meminta kami untuk memakai jasa makeup waterproof, karena ibu yakin acaranya akan dipenuhi oleh tangis haru, dan ibu benar.
Pembawa acara akhirnya mempersilahkan tamu yang hadir untuk menyantap hidangan, setelah rangkaian acara tukar cincin, penandatanganan buku nikah, dan doa penutup sudah dibacakan.
Kami bisa menyaksikan ritual acara selanjutnya sambil makan.
Aku yang sudah kelaparan semenjak pagi, langsung ikut antri di meja prasmanan.
"Ra liat wawan nggak", tanya kiki, yang baru datang, kemudian berdiri di belakangku untuk ikut antri mengambil makanan.
Aku dan sahabat rani yang lain memang mengenakan seragam pernikahan.
Seragamku kebaya berwarna hijau tosca dengan jarit coklat yang senada dengan yang ibu kenakan.
Kiki dan yang lain memakai kebaya kutubaru berwarna coklat dan jarit corak putih untuk bawahnya.
"Tadi kayaknya lagi ngobrol sama mia deh diluar", jawabku pada kiki.
"Itu dimas ya", tanya kiki padaku, sambil melihat ke arah pintu masuk tempat acara.
"Mana", tanyaku pada kiki.
Aku lalu mengikuti arah yang ditunjuk kiki.
Aku bisa merasakan senyumku saat aku melihat dimas dengan batik birunya masuk ke gedung acara, aku langsung melambaikan tangan saat dimas melihat ke arahku.
"Kok dimas tambah cakep ya", ujar kiki padaku.
"Emang dulu jelek ya ki", tanyaku pada kiki dengan muka manyun.
"Ya enggak jelek sih, tapi nggak secakep sekarang", jawab kiki.
__ADS_1
"Sekarang udah ada duitnya ki, jadi tambah cakep", ujar nia yang baru datang antri, dan langsung bergabung dengan obrolanku dan kiki.
Kita hanya tertawa, mendengar jawaban nia.
"Ngetawain apa", tanya dimas, saat dia sudah di dekat kami.
"Mau makan nggak", tanyaku pada dimas, mengalihkan pertanyaan dimas.
"Enggak, masih kenyang", jawab dimas.
"Sama siapa", tanyaku pada dimas, sambil melangkah maju mendekat meja prasmanan.
"Sama papa, sama mami, tuh mereka lagi ngobrol sama ibu dan ayah", jawab dimas, sambil menunjuk ke arah orang tua kami yang terlihat mengobrol sambil melihat ke arah pengantin.
"Kacang-kacang", ujar nia dari belakang.
"Ra maju tuh, malah ngobrol", ujar kiki.
Aku kemudian maju, dan mulai mengambil makanan yang ingin ku makan.
"Mau duduk dimana", tanya dimas padaku, begitu aku keluar dari meja prasmanan.
"Di luar aja", jawabku.
Dimas lalu membawakan piringku, dan menggandengku yang hanya bisa berjalan perlahan, karena memakai kain jarit yang cukup ketat dan mengerucut ke bawah.
"Wan kamu di cari kiki tuh", ujarku pada wawan, saat aku sampai diluar gedung dan melihat wawan yang ternyata masih mengobrol dengan mia.
"Dimana", tanya wawan.
"Di dalam", jawabku.
Aku kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah mia, setelah wawan beranjak masuk ke dalam ruangan untuk mencari kiki.
"Apa kabar dimas", ujar mia.
"Baik mi", jawab dimas.
"Jangan dong mi, kan masih sayang", jawab dimas.
"Cieeee", ujar mia sambil menusukkan jarinya di pundakku.
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab mia, dan mulai menyendok makanan di piringku.
"Aku ambil makan dulu ya", ujar mia lagi, setelah melihat isi piringku.
Mia kemudian masuk ke ruangan, dan datanglah nia, dengan kostum yang sama denganku hanya berbeda warna, berjalan perlahan sepertiku, menuju ke arah meja kami.
"Mia udah nggak papa", tanya dimas padaku.
"Kelihatannya gimana", jawabku santai.
"Mia udah baik kok, meski masih sering sedih", ujar nia pada dimas, sambil menggeser kursi untuk dia duduk.
Kami lalu melanjutkan makan, sambil melihat rani dan kak alan berebut ayam goreng, dari proyektor yang di pasang oleh event organizer di luar ruangan.
"Acaranya selesai hari ini", tanya dimas padaku.
"Besok malam terakhir, acara resepsi", jawabku pada dimas.
"Aduh capek banget deh, besok ke salon jam berapa ra", tanya nia mengeluh karena memang mendampingi pengantin cukup melelahkan.
"Jam duaan lah ia", jawabku sambil menunjukkan jariku.
"Kita aja capek, apalagi rani, yang dari subuh udah makeup", ujarku ke nia.
"Nanti kalau kamu nikah, yang simple aja ya ra, jangan ribet gini", ujar rani padaku.
"Ih, enggak ah, aku juga mau ribet kayak gini, nikahan adat kan seru", jawabku ke rani, sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sama siapa", tanya dimas padaku.
"Sama yang mau sama aku", jawabku ke dimas.
Dimas kemudian tersenyum, dan merangkul pundakku.
Rangkaian acara akhirnya berakhir di jam sebelas siang.
Dmas ingin mengantarku pulang, setelah dia mengantar mami dan papa ke villa.
Aku menolak karena sudah luar biasa lelah, aku memilih untuk pulang dengan ayah dan ibu, karena aku sudah nggak sabar untuk ganti baju dan tidur siang.
Mia juga ikut aku pulang, karena dia memang sudah menginap di rumahku semenjak dua hari yang lalu.
Kak alan menyetir sendiri, membawa rani ke hotel yang bersebelahan dengan tempat acara, untuk istirahat.
Pihak event organizer memang menfasilitasi pengantin untuk menginap di hotel selama acara masih berlangsung.
Nia dan tante rosa juga tinggal di hotel yang sama dengan rani.
Rumah mereka cukup jauh dari tempat acara, jadi mereka lebih memilih untuk menginap di hotel.
Sementara ayah dan ibu, memilih untuk pulang ke rumah, karena jarak dari gedung tidak terlalu jauh dari rumah.
*
Resepsi pernikahan kak alan di adakan di tempat yang sama, dengan tempat acara akad nikah.
Tapi kali ini, sebagai salah satu bridesmaid rani, aku menggunakan midi dress yang membuat aku bisa leluasa berjalan untuk menyalami setiap tamu yang aku kenal.
Acara resepsi merupakan acara penutup rangkaian pernikahan kak alan.
Tamu-tamu yang hadir juga kebanyakan dari keluarga besar ayah dan ibu, serta keluarga besar rani.
Kolega kak alan dari kantor juga hadir, begitu juga teman-teman kak alan dari sekolah dasar sampai kuliah, yang dekat dengan kak alan, hadir malam ini di resepsi pernikahan kak alan.
Untuk undangan teman-teman dari rani, tidak banyak, hanya teman-teman SMA dan teman kuliah yang beberapa aku kenal.
"Ra itu siapa", tanya dita padaku, sambil menunjuk ke arah dani, teman SMA kak alan.
Aku memang mengundang, dita, ayu dan bowo untuk hadir di resepsi pernikahan kak alan.
Ayu dan bowo sedang mengambil makanan, dan dita masih di sebelahku, melihat tamu-tamu yang menurut dita layak untuk dipandang oleh mata dita.
"Kenalin dong ra", pinta dita padaku.
"Dani udah punya pacar dit", ujarku pada dita.
"Kan janur kuning belum melengkung", jawab dita dengan senyum lebarnya.
Aku lalu membawa dita ke arah dani, yang masih mengobrol dengan teman-temannya.
Aku memperkenalkan dita ke dani, sesuai keinginan dita, dan meninggalkan mereka berdua untuk mengobrol.
"Siapa", tanya dimas, yang tiba-tiba saja sudah di sampingku.
"Temen SMA kak alan", jawabku ke dimas.
"Ada yang dulu kamu taksir nggak", tanya dimas sambil mengikutiku berjalan.
"Baru dateng", tanyaku pada dimas, mengalihkan pembicaraan.
"Nggak dijawab, berarti ada", ujar dimas.
"Nggak ada ", jawabku lembut.
"Bohong, yang mana yang kamu suka", ujar dimas lagi.
Aku hanya memutar bola mataku, dan menarik tangan dimas untuk mencari tempat duduk.
__ADS_1
***