Namaku Maira

Namaku Maira
- Sikap manjanya -


__ADS_3

***


Udara dingin kaliurang meniup rambutku, sudah hampir lima belas menit aku mengetuk pintu villa tapi tak kunjung dibuka oleh dimas.


Aku berusaha menghubungi nomer dimas, tapi tidak aktif.


Kemudian aku berjalan ke arah rumah yang di huni oleh pak mugi.


Setelah mengetuk pintu rumahnya, pak mugi keluar.


"Loh mbak maira, udah lama nggak kelihatan", tanya pak mugi padaku.


Aku tersenyum dan menanyakan kabar pak mugi, pak mugi menjawab kalau dia luar biasa sehat.


Pak mugi menanyakan aku di depan dari jam berapa.


"Lumayan pak", jawabku.


"Dimas sudah pulang kesini belum ya", tanyaku pada pak mugi.


"Sudah mbak, mungkin di atas jadi nggak kedengeran kalau ada yang ketok", jawab pak mugi.


Pak mugi kemudian masuk kedalam rumahnya, dan keluar sambil membawa kunci.


Aku berjalan mengikuti pak mugi yang membukakan pintu samping untukku.


Pak mugi bilang kalau di pintu utama ada kunci yang menggantung di dalam, jadi tidak bisa dibuka.


Pak mugi kemudian pamit untuk kembali ke rumahnya setelah aku masuk kedalam villa.


Aku lalu menaruh tasku di meja makan, dan menyalakan kompor di dapur untuk membuat teh panas.


Setelahnya, aku berjalan ke arah ruang tamu sambil membawa cangkir berisi teh untuk menghangatkan tanganku.


Senyum kurasakan di sudut bibirku saat aku mengingat kembali memoriku di villa ini.


Begitu aku kembali ke meja makan, dimas menuruni tangga sambil bersiul.


Dimas terlihat kaget melihatku yang sedang duduk di meja makan.


Dimas mengira kalau aku akan membohongi dimas, karena sudah jam sembilan malam aku belum sampai villa.


"Kamu lewat mana, kan pintu depan aku kunci", tanya dimas yang sudah duduk di depanku.


"Aku tembus dari pintu", jawabku.


Dimas terkekeh mendengar ucapanku.


Aku mengatakan kalau pak mugi yang membukakan pintu untukku, dan berbohong kalau aku sudah satu jam membeku diluar.


Dimas langsung mendekat, dan memelukku sambil mengusap punggungku.


"Aku telvon kamu malah handphone kamu mati", ujarku menggerutu.


"Iya maaf", jawab dimas singkat.


Dimas kemudian merangkulku dan mengajakku ke atas.


"Dapet cuti berapa hari", tanya dimas padaku.


"Kamis pagi harus udah balik ke kantor", jawabku.


Miss alice memang memintaku kembali di hari kamis, saat aku meminta ijin tidak masuk ke kantor karena ada urusan keluarga.


"Kesini udah ijin ibu", tanya dimas lagi.


Aku kemudian menceritakan, kalau aku keluar dari rumah sakit sekitar pukul enam sore, karena hanya boleh ada satu tamu yang menunggu pasien.


Aku tidak mungkin meminta kak alan untuk pergi dari sisi rani, karena kak alan pasti tidak akan mau.


Aku lalu pulang kerumah, tapi rumah kosong.


Saat aku pergi kerumah nenek, nenek dan kakek juga tidak di rumah.

__ADS_1


Akhirnya aku menelvon ibu dan mengatakan kalau aku sudah di rumah.


Ibu menyampaikan, kalau ibu dan ayah sedang ke kulonprogo untuk menjemput uti, karena uti juga ingin bertemu cicitnya.


Ayah dan ibu baru akan pulang besok pagi, dan langsung pergi kerumah sakit dari rumah uti.


"Kenapa nggak langsung kesini", tanya dimas padaku.


"Kan mandi dulu, terus ganti baju", jawabku.


"Terus", tanya dimas lagi.


"Terus rebahan dulu, makan dulu, nonton tv dulu, baru pesen taksi kesini", jawabku sambil tersenyum.


Dimas hanya mencium pipiku, lalu mengajakku untuk menghangatkan diri di balik selimut.


"Dimas nggak pulang ke solo", tanyaku pada dimas.


"Enggak, aku mau disini sampai kamu balik ke jakarta", jawab dimas.


"Terus kerjaan gimana", tanyaku lagi.


"Bisa ijin pura-pura sakit", jawab dimas.


Aku hanya mengerutkan dahiku sambil menatap wajah dimas.


"Kamu bisa telvonin mami nggak, bilang kalau aku sakit", pinta dimas lagi.


"Enggak ah, masa bohong, kalau sakit beneran gimana", tanyaku pada dimas.


Aku kemudian kembali ke pelukan dimas.


"Ayolah, mami tuh kalau kamu yang ngomong pasti percaya", ujar dimas memaksaku.


"Belum tentu dimas", jawabku.


"Pasti, mami tuh sayang banget lagi sama kamu", ujar dimas lagi.


"Masa sih", jawabku kurang percaya.


"Kenapa dimas harus depresi", tanyaku lembut.


"Ya karena aku fikir hubungan kita berakhir, terus nggak lama nomer kamu mati", jawab dimas, mulai meninggikan suaranya.


"Itukan yang dimas fikir, tapi mami bener dimas udah nyakitin aku", ujarku sambil menyipitkan mata.


"Makannya aku sekarang mau nebus kesalahanku sama kamu", ujar dimas.


Dimas menarikku untuk lebih menempel padanya.


"Tapi nggak mau ah kalau bohong sama mami, nanti kualat", jawabku.


"Oke deh aku bilang sendiri, aku bilang kalau kamu culik aku, jadi aku nggak bisa pulang", ujar dimas dengan mimik muka yang membuatku tertawa.


Dimas kemudian meminjam handphone milikku.


Saat ku tanyakan handphone miliknya kemana, dia hanya menjawabnya kalau handphonenya ketinggalan di rumah.


"Kenapa setiap ketemu aku, kamu nggak bawa handphone, kalau ada yang penting gimana", tanyaku dengan sedikit marah.


"Kan yang aku datengin orang yang paling penting", jawab dimas santai.


Aku tidak bisa bohong, kalau perkataan dimas membuatku tersipu.


Aku mengambil handphoneku dari dalam tas, dan memberikan pada dimas.


Dimas langsung turun dari tempat tidur untuk menelvon mami.


Baru dua kalimat dimas bicara, dimas menyerahkan telvonnya padaku.


"Hallo mi", sapaku pada mami.


Aku kemudian turun dari tempat tidur, dan berdiri di dekat jendela.

__ADS_1


"Rara di jogja nak", tanya mami padaku.


"Iya mi, tadi subuh bayi kak alan lahir, jadi aku langsung pulang", jawabku.


Mami langsung memintaku dengan suara riang untuk menyampaikan selamat pada kak alan, mami kemudian bertanya soal bayi kak alan.


Setelah menceritakan sedikit tentang bayi milik kak alan, aku berjanji untuk mengirimkan foto rasya ke mami, karena mami penasaran ingin lihat wajah baru keluargaku.


"Dimas beneran sakit ra", tanya mami padaku setelah kita selesai berbicara soal rasya.


"Bohong mi", jawabku sambil tersenyum ke arah dimas.


Dimas yang sudah kembali ketempat tidur, menatapku tidak percaya, karena aku sudah membongkar kebohongannya dengan mudahnya.


"Haduh anak itu, benar-benar seneng banget kalau bikin maminya khawatir", ujar mami terdengar kesal.


"Rara di jogja sampai hari apa", tanya mami.


"Sampai rabu mi", jawabku.


Mami selanjutnya hanya mengatakan padaku untuk bilang pada dimas, kalau hari rabu dimas suruh segera pulang ke solo, setelah mengantarku ke bandara.


"Aku pulangnya diantar ke stasiun aja ya", pintaku pada dimas.


"Kenapa", tanya dimas.


"Boros kalau naik pesawat, nanti akhir bulan aku bisa defisit", jawabku, sambil kembali masuk kedalam selimut.


"Naik pesawat aja, aku bayarin tiketnya", jawab dimas.


Dimas tidak ingin mendengar penolakanku, jadi aku hanya tersenyum dan mencium dimas.


Detik selanjutnya, dimas mulai menyentuhku, dan menghangatkan dirinya dipelukanku.


"Mami tuh pasti ngertiin kamu dimas, jadi kamu nggak perlu bohong", ujarku pada dimas yang ada dipelukanku.


"Mami kasih kamu ijin untuk pulang hari rabu", ujarku lagi.


"Tuh kan bener, mami tuh kalau sama kamu selalu luluh", ujar dimas sambil melihat ke arahku.


"Makasih ya, udah bikin keluarga kamu sayang sama aku", ujarku sambil menciumi kening dimas.


Dimas mengatakan kalau dia sendiri juga bingung, kenapa keluarganya sangat menyayangiku.


"Soalnya aku cinta sama dimas, ya karena dimas, bukan karena dimas anak ibu sasmita", jawabku pada dimas.


Dimas tersenyum dan mencium pipiku.


Dia kemudian mengerti kenapa maminya menuruti kemauanku untuk membiarkannya di jogja lebih lama.


"Itu keinginan kamu dimas", ujarku pada dimas mendengar dimas membalikkan fakta.


Dimas hanya memelukku sambil tertawa, kemudian dimas memintaku untuk memperlihatkan foto keponakan baruku.


"Pas liat rasya, aku tuh langsung sayang gitu", ujarku menjelaskan perasaanku pada dimas dengan riang.


"Aku nggak sabar untuk besok bisa ketemu rasya lagi", ujarku pada dimas.


Dimas meminta untuk ikut melihat rasya besok, tapi aku masih keberatan.


Aku berusaha meminta dimas untuk mengerti, tapi dimas tidak mau mengerti.


"Kamu nginep di hotel deket rumah sakit aja ya, biar aku langsung ke kamu kalau waktu jenguk udah habis", ujarku lagi pada dimas.


"Aku maunya sama kamu seharian", ujar dimas protes.


"Kenapa kamu harus bingung jelasin soal aku ke keluarga kamu" tanya dimas masih merajuk.


"Entahlah, semua orang tahu gimana Sedihnya aku, pas aku denger kamu punya pacar baru, aku aja sampai nangis selama tiga hari", jawabku.


Dimas mendekatkan wajahnya padaku, dan mencium keningku.


"Kalau kamu ngomong ke aku, kamu nangis, pasti aku langsung lari ke kamu", ujar dimas merasa senang mendengar aku sedih karena keputusannya.

__ADS_1


Aku menarik wajah dimas untuk menciumnya, kemudian aku mematikan lampu dan membawa dimas kepelukanku untuk mengakhiri hari.


***


__ADS_2