Namaku Maira

Namaku Maira
- Pulang ke jogja -


__ADS_3

***


Tiga hari sudah kurasa cukup, untuk merasa sedih akan hubungan baru yang dimiliki oleh dimas.


Aku membiarkan lukaku terbuka, tanpa ada niat untuk merenung atau mengobati.


Aku membiarkan diriku menerima semua tawa yang ditawarkan oleh sahabatku, dan juga teman kantorku.


Selama seminggu, aku menginap di rumah nia, dan memilih kembali merasakan lelahnya berangkat kerja dari rumah nia.


Itu semua kulakukan, supaya aku langsung tertidur karena lelah, begitu aku pulang kerja.


Aku menutup rapat pikiranku tentang dimas.


Aku yakin dengan mengabaikan luka di hatiku, cepat atau lambat, aku bisa melupakan dimas.


Aku ingin secepat mungkin bisa menghapus bayangan dimas dari benakku.


Kepulanganku ke jogja untuk bertemu keluargaku, aku harapkan bisa membuatku merasa lebih baik lagi.


Pulang ke jogja juga merupakan moment yang sudah lama aku tunggu.


Akhirnya aku bisa bertemu orang-orang yang aku sayangi, setelah enam bulan terpisah.


Nia dan tante rosa mengantarku ke bandara pagi tadi, dan kurang dari dua jam, pesawat akan mendarat di bandara adisucipto jogja.


Aku sudah mengatakan pada ibu, untuk tidak usah menjemputku, dan meminta keluargaku untuk menungguku di rumah.


Aku juga memotong rambutku sampai atas bahu.


Aku ingin melupakan cintaku untuk dimas, dan menjadi aku yang baru.


Terakhir kali aku memiliki rambut pendek, saat aku masih berumur lima tahun, setelah itu, ibu lebih memilih untuk membiarkan rambutku tergerai memanjang.


Rambut pendekku membuatku merasa lebih percaya diri lagi.


Aku menyukai bepergian dengan pesawat, karena aku suka pemandangan dari atas.


Aku bisa melihat setiap daerah yang terlewati terlihat begitu kecil.


Pemandangan dari jendela pesawat, selalu membuat aku terbuai, sampai aku tidak sadar kalau pilot sudah mengumumkan, sebentar lagi pesawat akan mendarat di jogja.


Begitu turun dari pesawat, senyumku mulai terukir.


Akhirnya aku bisa kembali menghirup udara jogja lagi, pikirku dalam hati.


Saat aku baru keluar, dan baru saja ingin memanggil taksi, ibu meneriakkan namaku, dan langsung memelukku.


Aku terkejut karena semua keluargaku datang menjemputku, padahal sudah kubilang untuk menungguku di rumah.


Kak alan juga hanya memelukku, tanpa mencoba bergurau atau mencelaku.


Rani menangis saat memelukku, aku bisa merasakan perut rani yang sedikit menyembul saat aku memeluknya.


"Tuh kan bu, rara bilang apa, ibu sebentar lagi punya cucu", ujarku pada ibu.


Aku kembali memeluk rani dan menghapus airmatanya.


Ayah meminta kita untuk segera jalan, karena kita mengganggu orang lain yang ingin lewat.


Di mobil, rani menceritakan, kalau mia sedang ada urusan di salatiga, dan baru pulang ke jogja besok.

__ADS_1


Menurut rani, mia sudah tidak sabar untuk bertemu denganku.


Rani juga bilang, usia kandungannya sudah memasuki bulan kelima.


Aku sangat bahagia saat mendengar rani hamil, karena rani awalnya ingin menunda selama satu tahun.


Rani memberitahuku dan yang lain, saat kita berkumpul di panggilan video.


Aku, rani, mia, kiki dan nia memang sepakat untuk mempunyai jadwal panggilan video setiap dua minggu sekali.


Dan selama enam bulan ini, tidak pernah sekalipun kami melewati jadwal panggilan video kami.


"Kak, kamu harus lebih sabar lagi dan tahan emosi, apalagi marah nggak jelas sama aku, itu big no, karena bentar lagi udah mau punya bayi", ujarku pada kak alan yang sibuk menyetir.


Kak alan hanya tersenyum sinis, dan mengatakan kalau dia sudah luar biasa sabar menghadapi aku yang kepala batu.


Begitu mobil ayah masuk ke dalam lingkungan rumah, aku melihat kakek dan nenek sudah menungguku di luar rumah mereka, sambil mengobrol dengan tetangga.


Nenek langsung berjalan ke arah kami, begitu kak alan memarkirkan mobilnya di depan rumah.


Aku langsung turun dari mobil, dan berlari ke arah nenek, lalu memeluk nenek.


"Maira, kenapa lama sekali baru pulang", ujar nenek di pelukanku.


"Maaf nek", jawabku.


Kemudian aku melepas pelukan nenek, dan memeluk kakek yang sudah berdiri di samping nenek.


Kakek lalu memintaku untuk pergi ke rumahnya, dan istirahat di rumah kakek dan nenek.


Kak alan, rani, ayah dan ibu juga ikut pergi ke rumah nenek.


Sepanjang sisa hari, beberapa tetangga datang untuk melihatku, dan menanyakan kabarku.


Mereka mengatakan kalau aku sangat berani, karena sudah memutuskan untuk merantau dan tinggal sendiri.


Mereka juga mengatakan kalau lingkungan jadi sepi, karena aku dan kiki yang biasanya membuat suasana lingkungan ramai, sudah pergi.


Kak alan masih berharap kalau aku akan memilih untuk kembali ke jogja, dan meninggalkan gemerlap kota jakarta.


Tetangga kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing begitu adzan maghrib berkumandang.


Kak alan dan rani pulang kerumah setelah makan malam.


Ibu memilih untuk menginap di rumah nenek dan tidur bersamaku.


"Masih muat nggak kalau nenek ikut tidur sama rara", tanya nenek, saat nenek masuk ke kamar yang dulu dipakai ibu saat masih gadis.


"Muat mi, kan kasurnya lebar", jawab ibu.


Nenek kemudian meminta ibu untuk pindah ke sisi dekat tembok.


Aku tidur di tengah-tengah ibu dan nenek.


"Rara seneng di jakarta", tanya ibu sambil membelai rambutku.


"Ya seneng, ya sedih", jawabku pada ibu.


"Sedihnya karena jauh dari keluarga, senengnya, karena bisa cari uang", ujarku lagi sambil tersenyum lebar.


Ibu dan nenek kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Ibu yakin kok, rara nanti juga bisa ketemu lagi sama orang yang bisa sayang sama rara tanpa syarat", ujar ibu padaku.


Aku kemudian menggigit bibirku untuk menahan tangis, ibu pasti sudah tahu kalau dimas punya pacar baru dari rani.


"Iya, rara tenang aja, tumbang satu, nanti juga tumbuh seribu", ujar nenek berusaha mengubah suasana.


Nenek kemudian menceritakan peristiwa yang lucu saat dia pertama kali bertemu kakek.


"Emang nenek masih inget", tanyaku memotong cerita nenek.


"Ya masih dong, badan boleh mulai mengerucut, tapi memori nenek masih tajam", ujar nenek padaku.


"Nenek juga dulu masih inget, waktu kamu lahir", ujar nenek.


Nenek memilih untuk menceritakan peristiwa kelahiranku, daripada kisahnya dengan kakek.


Menurut nenek, aku lahir di malam hari.


Waktu itu dokter yang menangani ibu sedang keluar kota, jadi mau tidak mau kakek harus mencari dokter lain.


Ayah juga saat itu sedang dinas ke bogor, jadi hanya om raka, kakek, nenek dan kak alan yang menemani ibu.


Kak alan menangis sepanjang menunggu persalinan ibu di rumah sakit, dan itu cukup merepotkan om raka.


"Kak alan emang terlahir merepotkan", ujarku memotong cerita nenek.


Nenek dan ibu hanya tertawa mendengar ucapanku.


Kemudian nenek melanjutkan ceritanya.


Setelah aku lahir, kak alan tidak mau pulang dari rumah sakit, dia memilih untuk menungguku dan ibu di rumah sakit.


Aku lahir dengan keadaan kurang baik, sehingga ibu dan aku harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu.


Nenek juga bilang, kalau kak alan selalu mengikuti kemanapun kereta bayi yang membawaku di pindahkan.


Setiap kali kak alan tidak terlihat di kamar rawat inap ibu, om raka tinggal mencari kemana aku dibawa, karena kak alan pasti akan ada di depan ruangan, dimana aku berada.


Aku meneteskan airmata mendengar cerita nenek.


Aku kemudian teringat kalau aku selalu tidak menyukai setiap kali kak alan memarahiku ditelvon, ketika aku di jakarta.


Kini aku tau, itu semua karena kak alan khawatir, dia tidak bisa melihat keberadaanku lagi dengan mudahnya, karena kita sudah tinggal di kota yang berbeda.


"Makanya kalau kak alan marah, rara dengerin aja dan ngertiin", ujar ibu padaku.


"Iya, seminggu pertama waktu kamu baru di jakarta, alan selalu datang kerumah nenek, untuk ngeluh setiap kali kamu tidak angkat telvon", ujar nenek.


"Hampir dua bulan, setiap pulang kerja, pasti langsung telvon kamu, kalau kamu nggak angkat, pasti langsung telvon ayah, marah-marah, minta supaya kamu di jemput pulang ke jogja", ujar ibu menambahi cerita nenek.


Aku hanya bisa tertawa mendengar hal itu.


"Bahkan rani sampai bilang pada ibu, kalau itu bukan suami rani, udah rani tinggalin", ujar ibu, sambil meniru cara rani berbicara.


Ibu dan nenek kemudian tertawa, mengingat kembali tingkah kak alan selama tiga bulan setelah aku berangkat ke jakarta.


Perasaan haru yang kumiliki di hatiku, berubah menjadi lega saat aku mengetahui betapa sayangnya kak alan padaku.


Aku tidak perlu khawatir untuk kehilangan satu orang yang aku cintai, karena aku punya seribu orang yang akan selalu memberiku kasih sayang dan cinta tanpa batas.


***

__ADS_1


__ADS_2