
***
Kehidupanku sebagai mahasiswa akan menemui titik akhir sebentar lagi.
Perasaan campur aduk sudah memenuhi setiap sudut hatiku.
Perasaan senang karena sebentar lagi aku bisa lulus kuliah, juga perasaan sedih karena harus berpisah dengan teman-teman kampus, yang sudah menjadi sisi kenyamanan di hidupku, selama aku menjadi mahasiswa di kampus ini.
Empat tahun bukanlah waktu yang singkat, ada cerita yang biasa kami bagikan di setiap sudut kampus.
Rasa senang, rasa sedih, dan rasa haru yang hampir empat tahun terakhir menyelimuti kehidupan kami, mungkin akan segera pudar seiring berjalan waktu, dan meninggalkan semua cerita itu menjadi sebuah memori yang hanya bisa dikenang.
Tugas akhir yang menjadi kewajibanku sebagai mahasiswa, juga sudah hampir ada di tahap akhir.
Aku sudah menyelesaikan lima bab yang sudah disetujui oleh dosen, dan hanya tersisa dua bab lagi, maka aku bisa segera mengajukan jadwal sidang.
Semester delapan yang menjadi ujung kehidupanku sebagai mahasiswa, akan berakhir dalam dua bulan.
Selama empat bulan terakhir, aku hanya mengubur diriku dengan menyusun skripsi, dan menghadiri sisa kuliah empat kredit semester terakhir.
Di sela kepenatanku mengerjakan skripsi, biasanya aku datang ke rumah nia.
Meski lebih seringnya, aku hanya mengobrol dengan nia, atau membaca komik di kamar nia, tapi tak jarang juga kita pergi keluar, untuk sekedar berjalan-jalan di mall.
Kadang saat aku sampai di rumah nia, sudah ada mia, atau kiki, atau rani yang sedang bersantai di kamar tidur nia.
Kita juga sudah tidak pernah membuat janji untuk bertemu di rumah nia lagi.
Kita selalu datang hampir setiap waktu, saat kita butuh suasana tenang.
Kita juga tak pernah mengabari nia terlebih dahulu saat kita ingin kerumahnya.
Basecamp rumah kiki yang biasanya kita pakai untuk berkumpul, berpindah ke rumah nia.
Di antara kami, hanya nia yang masih belum memiliki pacar, nia juga tidak punya banyak teman di kampus, jadi hampir setiap saat, jika tidak ada jadwal kuliah, nia pasti di rumah.
Hanya nia diantara sahabatku yang lain, yang paling mudah di temui.
Kadang aku juga membawa laptopku ke rumah nia, dan mengerjakan skripsi di rumah nia.
Seperti siang ini, aku tidak ada jadwal kuliah, jadi aku pergi kerumah nia, dan untungnya nia ada di rumah.
Aku tidak sendiri, mia sudah datang lebih dulu, dia sudah di rumah nia dari jam sembilan pagi, menurut tante rosa.
"Nia, kamu udah cerita ke yang lain soal yang ayah bicarakan minggu lalu", tanya tante rosa pada nia, saat dia membawakan cemilan untuk kami ke kamar nia.
"Belum bun, soalnya belum pada kumpul", jawab nia.
__ADS_1
"Yaudah, tapi kamu jangan tunda terlalu lama ya, biar mereka juga nggak kaget", jawab tante rosa.
Tante rosa lalu keluar dari kamar nia, setelah meminta kita untuk makan cemilan yang dia bawa.
Aku yang masih mengetik di meja belajar nia, langsung menghentikan kegiatanku, dan duduk di karpet untuk mengambil cemilan yang dibawa tante rosa, kemudian aku melihat ke arah nia, yang sedang santai membaca di tempat tidurnya.
"Cerita apa", tanyaku pada nia, sambil memakan cokies coklat buatan tante rosa.
"Coba kalian telvon kiki sama rani deh, bisa kesini nggak nanti sore, ada yang mau aku omongin", ujar nia.
Mia yang terlihat sedang serius menyusun skripsinya, akhirnya berhenti.
Mia kemudian mengambil handphonenya, dan langsung menelvon rani untuk meminta dia datang sore ini.
Aku juga langsung menelvon kiki, meminta kiki untuk ke rumah nia sekitar jam lima sore.
Baik rani atau kiki, setuju untuk ke rumah nia jam lima sore.
"Kenapa ia", tanyaku pada nia.
"Kita diceritain duluan dong", pinta mia, sambil mengambil cokies coklat di piring.
"Udah nanti aja kalau udah pada dateng, biar aku nggak perlu ngulang", jawab nia santai.
Nia kembali melanjutkan membaca buku yang ada di tangannya, buku yang sedang nia baca, berjudul Gie.
Aku sendiri belum membacanya, jadi tidak tahu secara pasti isi buku tersebut.
Nia hanya menceritakan bahwa itu semacam jurnal harian milik Soe Hok Gie yang di bukukan.
Karena nia enggan bercerita tentang hal yang di maksud tante rosa padaku dan mia terlebih dulu, akhirnya kita memilih untuk kembali melanjutkan aktifitas kami, mengerjakan skripsi kami.
*
Rani dan kiki baru sampai di rumah nia sekitar pukul enam sore, saat adzan maghrib berkumandang.
"Lama banget sih", ujarku pada rani yang datang terakhir.
"Jangan salahin aku dong, salahin kakak kamu tuh yang minta dijemput", jawab rani padaku.
"Udah-udah, aku mulai nih ceritanya", ujar nia padaku dan rani.
Nia lalu mulai berbicara, saat kita sudah berkumpul mengelilingi nia di tempat tidurnya.
"Aku bakalan pindah ke jakarta setelah wisuda", ujar nia, tanpa intro.
"Pindah, maksudnya kamu nggak di jogja lagi", tanya rani dengan nada terkejut.
__ADS_1
Kita sangat kaget mendengar ucapan nia, karena itu berarti kita masih dengan mudah bisa bertemu dengan nia, kurang dari satu tahun.
Karena nia juga sama seperti aku,mia, dan yang lainnya, kalau kita berencana untuk wisuda di pertengahan tahun depan.
"Katanya kamu mau kerja di jogja aja", tanya kiki pada nia.
Nia kemudian memulai cerita lengkapnya pada kami.
Sekitar tiga bulan yang lalu, ayah nia resmi bercerai dengan istri pertamanya.
Setelah hidup bersama selama lebih dari dua puluh tahun, istri pertama ayah nia meminta untuk bercerai dari ayah nia, dan memutuskan untuk pindah ke California Amerika Serikat.
Tentu saja biaya hidup disana di tanggung sepenuhnya oleh ayah nia, karena bagaimanapun, ayah nia masih punya tanggung jawab terhadap kedua putri hasil pernikahannya dengan istri pertama tersebut.
"Terus saudara tiri kamu gimana", tanya mia pada nia.
"Ikut mamanya ke california, mereka mutusin untuk tinggal disana", jawab nia.
Nia melanjutkan ceritanya kembali, jadi tiga minggu yang lalu istri pertama ayah nia dan anak-anaknya sudah berangkat ke california.
Ayah nia kemudian menikahi bunda nia secara resmi di mata negara, tidak ada perayaan apapun.
Saat kami datang karena di undang oleh nia, juga hanya ada makan bersama biasa.
Mereka tidak mengundang siapapun, hanya tetangga dan kami sahabat nia, serta orang tua kami.
Kami ikut berbahagia untuk nia saat itu, tapi kami tidak pernah mengira, kalau kebahagiaan itu juga akan membawa nia pindah ke jakarta.
Nia akan pindah begitu dia selesai wisuda, dan meninggalkan kami di jogja.
"Terus kalau kita kangen kamu gimana ia", ujar mia, dengan suara sedihnya.
"Nanti aku sering main deh ke jogja, kalian juga, main ya nanti ke jakarta, jenguk aku", ujar nia berusaha untuk terlihat riang.
Aku langsung sedih ketika mia mulai menangis.
Aku tau, kami masih punya waktu yang cukup, yang bisa kami habiskan sepuasnya bersama nia, tapi tetap saja rasa sedih menyelimuti kami, karena kami harus berpisah kota dengan sahabat yang biasa dengan mudah kita kunjungi, dan sudah terbiasa hadir di antara kita.
Rani lalu memutar lagu kisah klasik dari Sheila On Seven, untuk menemani tangis kita karena harus berpisah kota dari nia.
Kota yang akan menjadi tempat tujuan nia juga bukan kota yang bisa mudah kita kunjungi, kota jakarta terasa sangat jauh bagi kami yang masih muda ini.
Kami kemudian mulai mengenang semua kebersaman, yang sudah kami lalui selama tujuh tahun terakhir.
Aku cuma bisa berharap, kalau persahabatan kami tetap terikat dan tak lekang oleh waktu.
***
__ADS_1