Namaku Maira

Namaku Maira
- Date night -


__ADS_3

***


Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya dimas pulang ke kosnya.


Aku langsung mengikuti dimas yang membawa motornya menuju parkiran.


"Darimana", tanyaku saat aku sudah berdiri di samping dimas.


Dimas tidak menjawab, dia hanya melepaskan helmnya, lalu menarik kunci dari motornya dan berjalan mengacuhkanku.


Aku tetap mengikuti dimas sambil terus menanyakan dia darimana.


"Kalau orang nanya di jawab dong", ujarku mulai emosi karena dimas terus mengacuhkanku.


Dimas masih tidak menjawab, dia membuka kunci pintu kamarnya, lalu masuk dan mencuci kaki dan tangannya di kamar mandi.


Aku mengikuti yang dimas lakukan, setelah aku selesai dari kamar mandi, dimas sudah berdiri di depan rak buku sambil menungguku.


"Aku tuh tunggu kamu hampir satu jam kepanasan di depan", ujarku merasa kesal.


"Kamu darimana sampai nggak bawa handphone", tanyaku lagi.


Dimas hanya melihat ke arahku, dan menatapku dengan tatapan marahnya, yang akhirnya membuatku terdiam.


"Kamu yang dari mana", ujar dimas dengan nada rendah tapi penuh amarah.


"Kamu yang dari mana seharian kemaren", ujar dimas menambahi.


"Maaf", ujarku sambil menunduk.


"Aku di rumah nia kemaren seharian, terus kecapean karena hari jumatnya ke solo, terus jadi lupa ngabarin", ujarku menatap dimas, dengan tatapan anak kucing.


"Kemaren kamu tolak saat aku ajak kamu ke solo, tapi kamu malah kesana sama temen kamu", ujar dimas lagi.


"Tapi jumat kemaren nggak di rencanain, kita juga kesana mendadak, kita cuma mau ngehibur nia karena dia lagi ada masalah", ujarku membela diri.


Aku lalu meraih tangan dimas, dan menatap dimas dengan muka penuh penyesalan.


"Apa susahnya sih ngabarin, aku pasti ngerti kok kalau kamu jujur", ujar dimas terdengar mulai reda dari amarahnya.


"Kamu juga seharian nggak angkat telvonku", ujar dimas.


"Iya, telvonnya aku silent", ujarku pada dimas.


"Maaf", ujarku lagi sambil memasang wajah anak kucing kembali.


Dimas tidak menjawab, dia lalu menciumku dan memelukku erat.


Dimas kemudian menarik tanganku, untuk mengikuti dimas berbaring di tempat tidur dimas.


Dimas langsung menciumiku tanpa henti sambil memelukku yang ada di atas tubuhnya.


"Aku tuh khawatir kalau kamu nggak ada kabar", ujar dimas disela-sela ciumannya.


Dimas tidak memberiku kesempatan untuk menjawab, karena dia tidak berhenti menciumiku.


Dimas lalu memelukku dan membelai rambutku, setelah dia menyudahi ciumannya.

__ADS_1


"Nia memang lagi ada masalah apa", tanya dimas.


"Nia minta supaya kita menyimpannya, dan tidak membocorkan", ujarku sambil mencium tangan dimas.


"Aku ingin cerita ke kamu juga, tapi aku juga ingin menghargai permintaan nia", ujarku lagi.


Aku harap dimas mengerti dan tidak merasa kalau aku menyimpan rahasia darinya, tapi dimas tidak menjawab dan hanya membelai rambutku.


"Minggu depan kita ke solo ya", pinta dimas.


"Mami udah pengen ketemu kamu", ujar dimas lagi.


Aku lalu mengangkat kepalaku dan menatap dimas.


"Katanya hari libur mau di jogja aja", tanyaku pada dimas.


"Iya, tapi mami telvon terus minta ajak kamu ke solo", jawab dimas.


"Oke deh", ujarku menyetujui dimas.


Dimas lalu mencium keningku, dan mengucapkan terimakasih.


"Tadi dimas dari mana", tanyaku, saat aku ingat kalau aku menunggu dimas di depan kos selama satu jam.


"Tadi mampir ke warnet soalnya paket Internet habis", jawab dimas.


"Kenapa nggak bawa handphone", tanyaku pada dimas.


"Tadi rencananya cuma mau ngirim laporan, tapi malah jadi keterusan browsing", ujar dimas sambil tersenyum.


"Makasih ya sudah tunggu aku pulang", ujar dimas lembut.


"Kan aku kasih kunci cadangan kamar ke kamu, kenapa nggak di bawa", tanya dimas.


"Lupa, aku taruh di tas satunya", ucapku, masih dengan rasa kesal yang tersisa karena harus kepanasan di teras.


Dimas lalu mencubitku dengan gemas, dan memelukku lagi.


Aku turun dari tubuh dimas, lalu berpindah ke samping dimas, dan kembali memeluk dimas.


"Betah nggak di kantor tata kota", tanyaku pada dimas.


"Yah, lumayanlah", ujar dimas.


"Nanti kalau lulus dimas rencannya mau kerja dimana", tanyaku lagi.


"Di solo aja, supaya kalau ketemu kamu nggak jauh", jawab dimas.


Dimas lalu menarik daguku dan menciumku lagi.


"Nggak mau di jogja aja", tanyaku pada dimas.


"Kesempatannya susah sayang, soalnya mahasiswa luar yang sudah lulus juga pada berat untuk tinggalin jogja", ujar dimas.


"Dimas capek nanti kalau bolak balik", ujarku khawatir.


"Udah resiko punya pacar cantik", jawab dimas.

__ADS_1


"Nanti kalau aku tinggalin pasti banyak yang rebutan", ujar dimas menggodaku.


"Emang aku barang obral", jawabku protes.


Dimas hanya tertawa mendengar jawabanku, dan memelukku semakin erat.


"Hati aku tuh cuma milik dimas, jadi aku akan duduk manis di rumah sampai dimas datang", ujarku.


Dimas tersenyum dengan wajahnya yang memerah dan menciumku lagi.


"Maaf ya sudah bikin dimas khawatir", ujarku.


"Iya, jangan di ulangi lagi ya", pinta dimas, dimas lalu mengecup keningku.


Kita menghabiskan waktu sesorean dengan bercanda sambil mendengarkan musik.


Sheila on 7 adalah band lokal favorit dimas.


Menurut dimas, dia koleksi semua album Sheila on 7 dari saat dia masih SMP.


Dimas juga menyukai lagu-lagu barat, seperti milik Greenday, Avenged Sevenfold serta Avril Lavigne.


Aku juga menyukai Sheila on 7, mereka adalah band favoritku saat SD sampai SMP.


Dulu aku sampai memaksa ayah untuk membelikanku walkman, supaya aku bisa mendengarkan lagu Sheila on 7 saat di sekolah.


Tapi mulai SMA, aku lebih menyukai lagu-lagu yang di bawakan Melly Goeslaw dan lagu- lagu barat dari James blunt, Lenka, dan Maroon Five.


Aku bahkan memasang ring tones lagu Lenka yang berjudul Everything at once di BlackBerryku.


Malamnya dimas mengajakku untuk makan malam di gejayan, dia mengajakku makan di bebek goreng yang sedang hits di jogja.


Setelah makan malam dimas mengajakku untuk pergi ke malioboro.


Dimas memarkirkan motornya di malioboro mall, lalu mengajakku jalan menyusuri jalanan malioboro.


Suasana hari minggu di malioboro sangat ramai, ada banyak anak sekolah dan mahasiswa yang berkumpul di perempatan, tapi kita memilih untuk duduk di taman budaya dan mendengarkan live music.


"Cita-cita kamu apa sayang", tanya dimas.


"Hmmm, aku mau jadi ibu yang baik untuk anak-anakku, tapi juga mau punya karir", jawabku sambil tersenyum ke arah dimas.


"Jadi ibu untuk anak-anaknya dimas mau", tanya dimas sambil menatapku.


Pertanyaan dimas seperti janji yang siapapun pasti ingin itu terwujud.


Aku menjawab dengan kedipan mataku, lalu tersenyum pada dimas dan memeluk dimas.


Saat ini aku hanya ingin dimas, dan cintanya dimas, dua hal itu bagiku sudah sangat cukup untuk aku bisa bahagia.


Bagiku keberadaan dimas saat ini sangatlah penting.


Aku berharap, aku bisa tumbuh dan menua bersama dimas.


Aku berharap semua akan selalu seperti ini, bahagia dan penuh cinta.


Aku tidak tahu akan punya masa depan seperti apa, tapi yang jelas asal itu dengan dimas, aku pasti akan baik-baik aja.

__ADS_1


***


__ADS_2