Namaku Maira

Namaku Maira
- Keputusan -


__ADS_3

***


Manisnya sebuah cinta memang menjadi candu bagi siapa saja yang tanpa sengaja bersapa dengannya.


Candu itu akan berbuah sempurna apabila kita bisa melewati titik konflik yang bisa kita selesaikan tanpa menghancurkan siapapun.


Kembalinya dimas kepelukanku, menjadi kado manis yang aku ingin miliki untuk selamanya.


Hasrat cinta yang membara, serta saling berpegang pada satu sama lain saat gejolak mulai mengikis setiap sudut impian, adalah harapan akan hubungan yang kumiliki dengan dimas.


Tepat tiga bulan dimas bersamaku, semua sempurna, tentu saja kesempurnaan ini bisa menjadi kado indah apabila dimas menjadi milikku seutuhnya, dan aku menjadi satu-satunya untuk dimas.


Dimas masih belum menyelesaikan hubungannya dengan mila.


Dimas memang sudah tidak pernah sekalipun aktif di sosial media sejak kembali padaku, tapi mila masih memanggil dimas dengan sebutan sayang di sosial medianya.


Rani yang mengetahui bahwa aku masih bersama dimas, marah dan memberitahu kak alan mengenai dimas yang kembali padaku.


Sudah hampir sebulan setelah aku pulang liburan dengan dimas dari lombok.


Semua sempurna, semua manis, dimas juga selalu meyakinkanku atas hati dimas untukku, setiap aku menyinggung hubungannya dengan mila.


Kak alan menguliahiku setiap hari untuk mengakhiri hubunganku dengan dimas.


Ibu juga sama, ibu marah dan mengatakan, kalau ibu tidak pernah mengajarkanku untuk menyakiti hati perempuan lain.


Kiki juga mengatakan, apa gunanya bahagia kalau ada orang lain yang sakit di atas kebahagiaan yang aku miliki.


Masifnya orang-orang disekelilingku memintaku untuk segera mengakhiri hubungan dengan dimas, membuat aku menghindari setiap telvon mereka.


Apa salahnya dengan aku yang bahagia, pikirku dalam hati.


Dimas selalu datang ke jakarta, dan menunjukkan cintanya padaku.


Dia meyakinkanku kalau aku adalah orang yang sangat dia cintai.


Aku hanya perlu memberi dimas waktu untuk menyelesaikan masalahnya dengan mila.


Saat aku berkunjung kerumah nia di hari minggu, nia memintaku untuk berfikir dan memposisikan diriku di sepatunya mila.


Nia memang tidak menghakimi keputusanku, tapi nia memintaku untuk melihat tante rosa, bundanya.


Menurut nia, bundanya memang bahagia karena dicintai papanya, tapi kebahagian itu tidak pernah sempurna, karena bundanya bukan istri sahnya.


Semua memang manis jika kita dicintai, tapi buat apa kalau cinta itu di bangun dari luka orang lain, ujar nia.


Tante rosa hanya memintaku untuk bicara pada dimas supaya memilih.


Tante rosa tidak ingin aku menjadi sepertinya dulu, menjadi kedua.


Tante rosa ingin aku menjadi satu-satunya di hidup pria yang aku cintai.


Mia, dia percaya kalau aku akan mengambil keputusan yang terbaik. Apapun itu, mia mengatakan kalau mia akan selalu mendukungku.


Dimas juga tak kunjung menyelesaikan hubungannya dengan mila meski sudah satu bulan aku menunggu.


Aku pada satu kesimpulan untuk memberi dimas kejutan di akhir minggu ini.


Aku akan ke solo dan meminta dimas memilih.


Aku harus siap dengan segala apapun yang mungkin bisa membuatku kehilangan orang yang aku cintai, tapi aku yakin dimas memang milikku.


Dimas pasti akan memilihku dan memintaku untuk tetap ada disisinya.


*


Aku pergi ke solo dengan jadwal penerbangan pagi, ini semua karena tiket diskon yang diberikan oleh pemesanan tiket online yang sedang ramai di bicarakan di forum internet.


Aku tiba di solo sekitar pukul sebelas siang.


Aku langsung mengaktifkan handphoneku dan menelvon dimas.


"Hallo ra", jawab dimas dengan suaranya yang selalu membuat aku senang.


Aku mendengar suara di belakang dimas cukup ramai, aku berkesimpulan bahwa dimas sedang ada di toko mami.


"Dimas dimana", tanyaku lembut.


Kemudian aku mendapat jawaban teriakan yang membuatku sangat kaget, sampai aku mengecek ulang layar handphoneku, memastikan yang aku telvon adalah dimas.


"Maira ngapain kamu telvon dimas, kalau kamu deketin dimas cuma buat hancurin hatinya lagi, mending kamu pergi dari hidupnya", ujar suara yang sudah lama tak kudengar, suara zahra.


"Dimas udah bahagia sekarang sama mila, ngapain kamu dateng lagi", ujar zahra lagi, masih dengan nada tinggi.

__ADS_1


Aku mendengar suara dimas diantara suara zahra.


Dimas meminta zahra untuk mengembalikan handphonenya.


Aku menjadi sangat marah dengan semua ucapan zahra, dan aku langsung mematikan telvon.


Dimas berusaha menghubungiku lagi, tapi aku masih enggan untuk menerimanya.


Hampir sepuluh menit dimas masih terus menghubungiku, disertai dengan puluhan pesan yang memintaku untuk menerima telvonnya


Aku kemudian menenangkan diriku, dan menerima telvon dari dimas.


"Ra", ujar dimas dengan suara sedih saat aku menerima telvonnya.


"Ra, maafin aku", ujar dimas lagi saat aku hanya diam tak menjawab.


"Kamu dimana", tanyaku pada dimas dengan suara dingin.


"Aku di mobil, di depan toko mami", jawab dimas.


"Bisa ketemu, atau aku perlu izin zahra dulu untuk temuin kamu", tanyaku ketus pada dimas.


"Iya ra, minggu depan aku langsung ke jakarta hari jumat", jawab dimas masih dengan suara sedihnya.


"Aku baru sampai solo, kita bisa ketemu dimana", tanyaku, masih dengan nada ketus.


"Kamu dimana, aku jemput sekarang", ujar dimas.


Aku kemudian memberitahu dimas kalau aku masih di bandara, dan dimas memintaku untuk menunggu, karena dimas akan langsung jalan untuk menjemputku.


Setelah menutup telvon dari dimas, aku langsung tersenyum sinis pada diriku sendiri, karena sudah membiarkan zahra berteriak memakiku sekali lagi.


Dimas menghentikan mobilnya di depanku setelah dua puluh menit aku menunggu.


Aku tidak bisa menyembunyikan amarahku saat melihat dimas turun dari mobil.


Dimas kemudian membukakan pintu mobil untukku, dan memintaku untuk segera masuk ke dalam mobil.


Saat dimas ingin membantuku memasang seatbelt, aku langsung menepis tangannya.


Aku melihat kesedihan dan ketakutan dimata dimas saat aku bertemu tatap dengan dimas.


Dimas kemudian menutup pintu mobil, dan langsung berjalan ke arah kursi kemudi.


Dimas seperti sudah mengerti tabiatku, jadi dimas tidak mengatakan apapun sepanjang perjalanan.


Dimas membawaku ke rumahnya, karena aku tidak mengatakan sepatah katapun sejak di bandara.


Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, dimas langsung keluar dari mobil, dan menutup pagar rumahnya.


Dimas kemudian kembali, dan mematikan mesin mobil, lalu duduk di sampingku, menungguku berbicara.


Sepuluh menit duduk diam di mobil dimas tanpa ac, membuat keringat mulai menetes di punggungku.


Aku kemudian turun dari mobil untuk mencari angin, tapi cuaca sangat panas.


Aku bahkan tidak bisa duduk di teras karena sinar matahari masih terik memantul di setiap sudut teras.


Dimas hanya tersenyum melihat gerak gerikku, dia tahu kalau aku mencari semilir angin.


Dimas menatapku sambil berdiri di samping mobilnya.


Dia hanya diam, menungguku untuk mengajaknya bicara.


Egoku masih tinggi, hal itu membuatku enggan untuk berbicara pada dimas.


Kemudian aku berdiri di depan pintu masuk rumah, berharap dimas mengerti dan membuka pintu rumahnya untukku.


Tidak butuh lama aku berdiri di depan pintu, dimas langsung membukakan pintu rumahnya.


Aku langsung masuk ke dalam rumah, dan naik ke kamar dimas, lalu menyalakan ac di kamar dimas.


Aku memilih duduk di sofa, perasaan lega langsung kurasakan, saat semilir angin ac menyelamatkanku dari panasnya udara di luar rumah.


Aku membuka mata setelah merasakan dinginnya ac mulai memenuhi kamar dimas.


Tatapanku langsung terpaku, saat aku melihat foto liburanku bersama dimas, dalam ukuran poster, terpajang di dinding, menggantikan jam dinding dengan bentuk gitar, yang dulu terpasang di atas televisi.


Tak lama dimas masuk ke dalam kamar, dan memberikan minuman favoritku untuk kupegang.


Aku menurunkan egoku dengan membuka botolnya, dan langsung meminumnya.


Aku tidak akan membuat egoku menghalangiku melegakkan tenggorokanku yang kering karena menahan amarah.

__ADS_1


Dimas memilih duduk di bawah sofa, dia meraih tanganku lalu menciumnya, kemudian dimas meletakkan kepalanya di pangkuanku sambil mengucapkan kata maaf.


Aku tidak bisa menahan diri untuk mengusap rambut dimas, dimas kemudian menenggakkan kepalanya dan menatapku.


"Aku langsung pulang ke jakarta nanti malam", ujarku pada dimas.


Perasanku sudah tenang, melihat dimas dengan ekspresi sedih, membuat hatiku luluh dari amarah.


"Besok nggak libur, kirain libur, makannya ke solo", ujar dimas dengan nada sedih.


"Dateng cuma mau kasih kejutan, tapi malah aku yang terkejut", ujarku pada dimas, mengingatkan dimas apa yang zahra lakukan padaku.


Dimas kemudian mengatakan, kalau dia sendiri tidak menyangka, zahra akan merebut handphone dari tangannya, dan mengatakan hal sekasar itu padaku.


Menurut dimas, zahra memang ada di dekat dimas, saat dimas menerima telvonku, dimas juga menekankan kalau dia dan zahra sedang bersama karena berhubungan dengan pekerjaan di toko mami.


"Zahra masih suka sama kamu, sampai segitu bencinya aku telvon kamu", tanyaku pada dimas dengan senyum sinis.


"Bagiku, aku dan zahra itu cuma temen, dulu ataupun sekarang, kalau soal perasaan zahra ke aku, itu bukan tanggung jawab aku ra", jawab dimas berusaha membuat amarahku reda.


"Dulu kamu sering belain zahra", ujarku.


"Aku nggak pernah belain zahra, itu cuma perasaan kamu aja", jawab dimas masih dengan nada yang sama.


"Aku dekat sama zahra, karena zahra pegawai mami, nggak lebih", ujar dimas menambahi.


"Dulu waktu aku lagi skripsi, kamu jauhin aku setiap aku tanya soal zahra", ujarku, membawa permasalahan masa lalu dengan orang yang sama.


"Aku nggak jauhin, aku tungguin kamu selesai marah, kamu tau kan kalau aku takut saat kamu marah", ujar dimas mulai membela dirinya.


Aku sendiri bingung, kenapa dimas selalu takut berkonflik denganku.


Dimas selalu memilih menjauh dariku jika ada masalah yang timbul diantar kami.


Dimas seperti tidak pernah suka menghadapi konflik, dia memilih untuk menjauh, daripada harus menyelesaikannya.


"Kenapa dia lebih dukung mila jadi pacar kamu dibanding aku", tanyaku pada dimas.


"Karena mami sayang banget sama kamu, itu ngelukaian ego dia sebagai karyawan kesayangan mami, kalau sama mila, mami biasa aja", ujar dimas menjelaskan dengan sedikit emosi.


"Kamu marah, kalau mami lebih sayang sama aku", tanyaku pada dimas.


"Aku nggak marah, aku cuma jawab pertanyaan kamu", jawab dimas, putus asa karena aku selalu menyalah artikan nada suaranya.


Melihat dimas yang terlihat putus asa, dan sedih, aku melunak dan memeluk dimas.


Apa yang zahra lakukan padaku, bukan sepenuhnya salah dimas, jadi tidak adil kalau aku melampiaskan seluruh amarahku pada dimas.


Aku kemudian mencium dimas, dan memeluknya.


Meski dimas selalu takut setiap aku marah, tapi dia selalu menyambut setiap ciumanku dengan sentuhan panasnya.


"Itu foto nggak bikin orang kaget kalau liat", tanyaku pada dimas sambil menunjuk dinding di atas televisi.


Dimas yang ada di pelukanku langsung melihat arah yang ditunjuk oleh jari tanganku.


Dimas hanya menjawab, kalau yang masuk ke kamarnya, hanya keluarganya, atau bibi untuk bersih-bersih kamar.


Dan semua orang yang dimas maksud, tahu dengan jelas mengenai hubunganku dengan dimas.


"Kalau mila liat gimana", tanyaku pada dimas.


Dimas menjelaskan dengan tegas, kalau hanya aku satu-satunya perempuan yang pernah dimas bawa ke kamarnya.


Bukan hanya kamar, tapi aku juga satu-satunya perempuan yang pernah dimas bawa ke villa.


Mendengar semua ucapan dimas, membuatku yakin kalau aku satu-satunya perempuan yang dimas inginkan.


Jam delapan malam, dimas mengantarku ke bandara, aku kemudian menyampaikan maksud utamaku datang ke solo.


Sebelum pesawatku take off, aku berbincang sebentar dengan dimas.


Aku menceritakan lelucon pada dimas, dan dimas tertawa.


Lalu aku melepaskan kalung yang dimas berikan dari leherku, dan menyerahkan pada dimas.


Aku meminta dimas untuk memilih, antara aku atau mila.


Dimas hanya terdiam.


Aku kemudian mencium dimas, dan berjalan ke arah boarding pass.


***

__ADS_1


__ADS_2