
***
Dinding yang selalu kubangun untuk mengabaikan semua perasaanku untuk dimas, serta menutupi luka di hatiku karena keputusan dimas, hancur dalam sekejab hanya dengan sosok dimas di depan mataku, dan memanggil namaku.
Aku menggigit bibirku cukup kencang untuk menahan tangis, aku tidak tahu, aku akan serapuh ini hanya dengan satu kalimat dari mulut dimas.
Rasa yang selama ini ku abaikan kembali muncul kepermukan dengan sangat jelas, luka yang belum sempat aku sembuhkan, kembali terbuka.
Jantungku masih berdebar, dan kakiku juga masih enggan melangkah.
Aku memastikan bahwa orang yang ada di depanku adalah dimas, bukan ilusi yang kuciptakan dikepalaku.
Aku menelan ludahku, karena rasa sakit yang dulu kurasakan, kembali nyata menyelimuti seluruh hatiku.
"Hai", sapaku ramah pada dimas, setelah aku kembali mengontrol diriku sendiri, dan yakin bahwa sosok dimas di depanku bukan ilusi.
Dimas yang masih berdiri dari sofa yang ada di lobby, hanya tersenyum.
Saat aku baru saja mau melangkah mendekati dimas, aku mendengar bunyi klakson mobil, dan pak satpam yang membuka pintu lobby, mengatakan kalau jemputanku sudah di depan.
Aku kemudian memberi tanda ke dimas untuk menunggu.
Begitu aku keluar, mobil abi sudah di depan lobby, dan abi komplain karena aku lelet.
Aku menjelaskan pada abi, kalau ada kenalanku datang dari jogja, dan meminta abi untuk pulang duluan.
Aku masuk kembali ke dalam gedung, dan menemui dimas di lobby, setelah mobil abi jalan.
Aku bertekad membungkus semua amarahku, dan rasa rinduku pada dimas.
Aku meyakinkan diriku, kalau aku tidak serapuh yang aku bayangkan.
"Apa kabar", tanyaku pada dimas, sambil mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengan dimas.
Dimas memilih untuk membiarkan tanganku di udara, tanpa berniat untuk menjabat tanganku.
"Aku tunggu kamu disini dari jam lima sore", ujar dimas padaku.
Aku langsung melihat jam di tanganku, dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 08.15 malam.
"Kenapa nggak ke atas aja tadi", tanyaku pada dimas.
"Aku nggak tau kamu kerja di lantai berapa, aku cuma tau kamu kerja di gedung ini", jawab dimas padaku.
"Sorry, tadi soalnya makan malam dulu di atas, kamu udah makan", tanyaku pada dimas, setelah aku meminta maaf karena dimas menungguku sangat lama.
Dimas hanya menggelengkan kepala.
"Kamu kesini sama siapa", tanyaku pada dimas.
"Sendiri", jawab dimas singkat.
Aku kemudian menawarkan untuk mengantar dimas makan malam.
"Mau makan di mall atau mau di pinggir jalan aja", tanyaku pada dimas.
"Bebas aja, aku kan nggak tau mana yang enak", jawab dimas padaku.
__ADS_1
Karena aku khawatir resto di mall masih rame, serta saat kita keluar dari gedung, tenda-tenda juga masih penuh, akhirnya aku membawa dimas untuk makan di grand lucky.
Aku membiarkan dimas makan menu pilihannya dengan tenang, dan tidak mengganggunya dengan basa basi standar.
Aku menahan diri untuk tidak terus menerus menatap dimas, dan berusaha mengalihkan pikiranku, dengan melihat isi ponselku.
"Kamu kenapa ganti nomer", tanya dimas padaku, saat dia sudah selesai makan.
"Oh, waktu itu aku kecopetan di stasiun sudirman, blackberryku juga ikut lenyap, jadi ya mau nggak mau ganti", jawabku, menjelaskan secara singkat pada dimas, alasanku mengganti nomer handphone.
"Kan nomernya bisa diurus di graphari", ujar dimas padaku.
"Nggak sempet, aku juga nggak tau lokasi graphari terdekat", jawabku.
"Kamu sering belanja disini", tanya dimas lagi.
"Jarang kok, aku lebih seneng ke Blok M kalau belanja", jawabku.
"Kamu kenapa nunggu aku di lobby tadi, dari jam lima pula", ujarku, menanyakan inti pokok kehadiran dimas.
"Ini supermarketnya tutup jam berapa", tanya dimas mengalihkan pertanyaanku.
"Bentar lagi kayaknya", jawabku setelah melihat jam ditanganku.
"Kita bisa ngobrol di tempat lain nggak", tanya dimas.
Kemudian aku berfikir, tapi aku tidak bisa mengingat tempat yang buka dua puluh empat jam di sekitar kantorku.
Aku sendiri jarang pulang lewat jam delapan malam, kalau pun lewat jam delapan, biasanya hari jumat dan kalau ada janjian nonton film baru, atau saat aku pergi dengan arman sepulang kerja.
"Jauh nggak", tanya dimas padaku.
"Enggak kok, kalau naik angkot cuma sekali", jawabku.
"Kalau ngobrol di lobby hotel, tempat aku nginep gimana", tanya dimas padaku.
"Dimana", tanyaku balik.
"Di century", jawab dimas.
Aku merasa bahwa hubunganku dengan dimas sudah berakhir, jadi tidak ada salahnya kalau kita hanya sekedar mengobrol.
Mungkin ada hal yang ingin dimas sampaikan.
Aku bisa anggap ini sebagai pertemanan.
Aku hanya perlu mengontrol diriku untuk tidak berusaha memeluk dimas.
Hotel century letaknya di dekat pintu enam gelora bung karno, jaraknya sekitar lima belas menit berjalan kaki dari grand lucky.
Aku berjalan di belakang dimas, dengan perlahan.
Berulang kali dimas berusaha menyamakan kecepatan jalannya denganku, tapi aku selalu memilih untuk berjalan di belakang.
Aku lebih nyaman saat aku hanya melihat punggung dimas.
Kami berdua hanya terdiam sepanjang jalan, aku sendiri tidak tahu, harus mengucapkan apa, atau menanyakan apa pada dimas.
__ADS_1
Dimas kemudian mengeluarkan kotak dari dalam tas ranselnya, dan mendorongnya ke arahku, saat kita sudah duduk di lobby hotel tempat dimas menginap.
Aku meraih dan membukanya, ternyata kalung yang dulu dimas berikan padaku.
Aku kemudian menutup kembali kotaknya, dan mendorong kearah dimas.
"Kamu kan tau maksud dari kalung ini apa, aku udah nggak berhak untuk simpan ini", ujarku pada dimas.
Dimas hanya melihatku dengan mata berkaca-kaca.
"Aku kasih bukan untuk kamu kembalikan ra", ujar dimas tenang.
"Aku kembalikan karena aku sudah nggak berhak untuk simpan", ujarku tegas pada dimas.
"Aku baik-baik saja sebelum aku lihat kalung ini ra", ujar dimas padaku dengan nada lembut.
"Aku juga baik-baik saja sebelum aku akhirnya harus balikin kalung ini", jawabku pada dimas, dengan tekanan dari setiap kata yang aku ucapkan.
Dimas hanya melihatku dengan tatapan marah.
"Kamu sudah ambil keputusan untuk tinggalin aku, jadi kayaknya ini udah nggak perlu dibahas lagi", ujarku pada dimas, berusaha untuk kembali tenang.
"Kamu yang pergi, kamu yang menghilang, kamu yang paksa aku untuk ambil keputusan ini", ujar dimas berusaha menahan amarahnya.
"Aku ada, aku nggak pernah mengubah hatiku sesuai janji yang aku berikan ke kamu, aku juga nggak paksa kamu untuk tinggalin aku, itu keputusan kamu sendiri", jawabku, berusaha menahan emosiku, karena mendengar ucapan dimas yang menyalahkanku.
Dimas hanya terdiam, tidak berusaha membalas ucapanku, dia hanya melihatku sambil menahan tangis dimatanya, kemudian memalingkan pandangannya.
Aku sendiri merasakan hawa dingin menjalar ke hatiku.
Aku marah melihat dimas dengan emosinya, tapi aku hanya ingin menahannya.
Aku hanya ingin segera pergi dari tempat ini.
Kemudian aku berusaha menenangkan diriku.
"Ini aja", tanyaku pada dimas.
Dimas tidak menjawab, dan hanya diam sambil menundukkan wajahnya.
"Kalau udah nggak ada yang mau di omongin, aku pulang dulu, udah malam", ujarku pada dimas.
Dimas hanya mengangkat kepalanya, dan melihatku dengan amarah yang masih terlihat jelas dimatanya.
Aku berdiri dari sofa, dan berjalan ke arah keluar, meninggalkan dimas yang hanya melihat punggungku berlalu.
Begitu aku berjalan menjauh dari hotel century, aku merasakan ada yang menarik tanganku.
Saat aku berbalik aku melihat dimas dengan airmata yang memenuhi wajahnya.
Dimas hanya menarikku ke pelukannya, lalu menciumku.
Aku tidak berusaha untuk melepaskan diriku dari dimas, aku hanya larut dalam emosi yang dimas ciptakan.
Aku marah pada diriku sendiri karena sangat rapuh di pelukan dimas.
***
__ADS_1