
***
Rasa cemburu yang aku kira akan padam seiring berjalannya waktu, ternyata tetap menyala di setiap sudut hatiku.
Pertemuanku dengan dimas, selalu aku mulai dengan melihat isi handphone dimas terlebih dahulu, saat dimas datang menjemputku di rumah.
Kemudian aku baru setuju untuk jalan dengan dimas, saat aku sudah selesai melihat isi handphone dimas.
Aku masih membiarkan dimas menyentuhku, tapi sentuhan dimas yang dulu selalu kurasakan begitu istimewa, kini aku tidak merasakan hal yang sama lagi.
Dimas masih tetap sama, riang dan penuh hasrat saat menyentuhku.
Hanya saja aku selalu merasakan rasa hampa yang tiba-tiba hadir, setelah dimas menyelesaikan sentuhannya.
Aku menyadari kalau aku tak sebahagia seperti dulu.
Pertengkaran aku mulai, jika dimas datang, dan aku melihat pesan yang aku tidak sukai, terutama pesan dari zahra, meski pesan itu hanya pesan standar.
Aku juga marah saat melihat pesan yang masih tersimpan di handphone dimas, yang datang dari rekan kerja perempuan dimas.
Tanpa sadar, aku menjadi maira yang sangat pencemburu.
Aku selalu cemburu dan marah akan hal-hal kecil yang dimas lakukan.
Seperti berfoto hanya berdua dengan teman perempuan dimas, atau saat aku menelvon dimas dan aku mendengar suara perempuan lain.
Dulu aku selalu merasa biasa saja saat melihat foto dimas merangkul teman kerja perempuannya, tapi sekarang aku menjadi lebih mudah marah dan cemburu akan hal sepele.
Aku juga langsung meminta dimas untuk pulang saat dimas datang menemuiku, tapi aku masih memiliki rasa marah dengannya.
Tak jarang aku juga langsung mematikan telvon dimas, saat dimas hanya diam saja, dan tidak menjawab rasa cemburuku.
Kecemburuan dan kemarahanku yang sering muncul di saat-saat pertemuanku dengan dimas, membuat dimas mengganti seluruh password sosial medianya.
Dimas juga tidak membawa handphonenya lagi saat dia datang menemuiku di jogja.
Dimas selalu beralasan kalau dia lupa membawa handphonenya, karena dia terburu-buru, dan khawatir telat untuk menemuiku.
Dimas juga langsung mengalihkan perhatianku, saat aku mulai membicarakan kecemburuanku.
Secara perlahan, dimas mulai menarik diri dariku.
Dimas mulai jarang menelvonku, dan sering tidak menjawab telvonku.
Dimas hanya meninggalkan pesan untukku setelah aku mulai marah.
Pertemuanku dengan dimas juga mulai berkurang.
Dalam satu bulan, dimas hanya menemuiku dua kali, itupun kita hanya menghabiskan waktu di kamar hotel.
Dimas tidak lagi memberiku ruang untuk aku merasa cemburu.
Dimas juga mengabaikan semua amarahku, dia langsung menghindar setiap aku mulai marah karena cemburu.
Dimas sepenuhnya mengabaikan rasa cemburuku, saat dia dengan terang-terangan kembali berbalas tweet dengan rekan kerja perempuannya.
Dimas sepenuhnha mengacuhkan amarahku, saat dia lebih memilih untuk berkumpul dengan rekan kerjanya di hari libur, dan tidak menemuiku.
__ADS_1
Hubungan yang mulai dingin berjalan selama tiga bulan terakhir.
Puncak bekunya hubunganku dengan dimas, adalah saat aku ingin mengabari dimas, kalau untuk liburan pertengahan semester, aku akan pergi ke kebumen dengan teman kampusku, untuk melakukan praktek kerja lapangan.
"Dimas masih di kamar mandi, nanti aku kasih tau dimas kalau kamu telvon", ujar suara yang selalu membuatku cemburu, saat aku menelvon dimas.
Aku menelvon dimas untuk mengabari kalau dua minggu lagi aku akan berangkat ke kebumen, tapi zahra yang mengangkat telvon dimas, aku langsung mematikan telvon tersebut.
Setelah telvon tersebut, selama dua minggu aku menunggu telvon dimas untuk memberiku penjelasan, tapi dimas bahkan tidak menelvonku, atau mengunjungiku, untuk meredam rasa cemburuku, atau menenangkan amarahku.
Aku berangkat ke kebumen dengan perasaan marahku pada dimas, karena dimas mengabaikanku sepenuhnya.
Keputusan untuk praktek kerja lapangan di kebumen, memang sudah aku, dita, ayu, dan bowo bicarakan mulai dari awal semester tujuh.
Ayu, akhirnya memutuskan untuk mengajak kami praktek kerja di kebumen.
Menurut ayu, ada sebuah wilayah pedesaan di kebumen, yang semua areanya sudah terkoneksi dengan jaringan internet.
Bahkan setiap rumah juga sudah di pasang jaringan Internet.
Hal itu membuat aku dan bowo tertarik untuk mengenalkan ekonomi digital pada mereka.
Kita lalu membuat proposal program kerja untuk praktek kerja di lokasi tersebut.
Pihak kampus langsung menyetujui, begitupun pihak desa yang akan kami tuju.
Kami memilih menggunakan perjalanan dengan kereta ke kebumen, begitu kami selesai ujian semester.
Paman ayu yang kebetulan memang tinggal di kebumen, akan menjemput kami di stasiun, dan dia akan mengantar kami sampai ke desa tujuan kami.
Kami di sambut oleh sosok pria yang memiliki lesung pipi, yang membuat senyumnya sangat manis, saat kita sampai di pintu desa.
Kami memanggilnya pak wisnu, untuk menjaga sopan santun kami.
Kami juga memperkenalkan diri padanya.
Paman ayu pamit untuk pulang dan meninggalkan kami, setelah dia menitipkan kami pada pak wisnu.
Pak wisnu kemudian mengajak kami untuk melihat rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami, selama kami praktek kerja di desanya.
Pak wisnu meminta kami untuk istirahat dan berkemas, dan dia juga meminta kami menghubunginya, jika kami membutuhkan sesuatu.
Setelahnya, dia meninggalkan rumah tempat kami menginap.
Sekitar pukul tujuh malam, pak wisnu meminta kami untuk berkumpul di balai desa, yang letaknya sekitar tiga ratus meter dari rumah tempat kami menginap.
Sudah ada lima pria lanjut usia, serta dua ibu paruh baya yang sudah hadir saat kami tiba di balai desa.
Pak wisnu langsung memperkenalkan sosok yang sudah menyambut kami, mereka merupakan pejabat desa dan juga beberapa tokoh desa.
Pak wisnu kemudian mulai menceritakan mimpinya untuk desa yang dia tinggali, yang juga merupakan kampung halamannya.
Pak wisnu juga mengatakan, selain bekerja di toko bangunan milik ayahnya, dia juga yang menjadi pencetus ide untuk membuat desanya terkoneksi dengan internet.
Rasa kagum akan sosok pak wisnu, tidak bisa kami sembunyikan dari ekspresi wajah kami.
Dia bilang, dia sangat senang dengan proposal yang ayu bawa ke desanya dua bulan yang lalu.
__ADS_1
Setelah berdiskusi dengan aparat desa, pak wisnu langsung menyetujui proposal kami.
"Pak wisnu, memang semua penduduk desa sudah paham cara menggunakan internet dengan benar", tanyaku padanya, setelah dia selesai menjelaskan pada kami tentang jaringan internet di desanya, dan menanyakan apakah kami punya pertanyaan.
"Panggil mas aja, aku masih single, dan umurku juga masih dua puluh tujuh tahun", ujarnya tersenyum padaku.
"Cieee", ujar dita padaku.
"Kalian semua juga jangan sungkan memanggilku mas wisnu, karena kita nanti akan ketemu setiap hari, selain itu, aku juga akan memastikan program kalian berjalan dengan maksimal", ujar mas wisnu mengacuhkan candaan dita.
"Penduduk desa memang sudah paham cara menggunakan internet, tapi mereka hanya menggunakannya untuk sosial media, atau hanya sekedar browsing di internet", ujar mas wisnu menjawab pertanyaanku.
"Aku sangat tertarik dengan proposal yang kalian tawarkan mengenai ekonomi digital, aku punya harapan bahwa program kerja kalian, nantinya akan membantu penduduk desa kedepannya", ujar mas wisnu menambahi.
Acara ditutup setelah makan malam bersama, dan kami menyerahkan jadwal kerja kami, serta program kami, selama sebulan pada mas wisnu.
Mas wisnu kemudian memberi kami arahan, dan map wilayah desanya.
Dia juga menyampaikan, akomodasi dan konsumsi untuk kami, akan di support secara full oleh mas wisnu dan pejabat desa, jadi dia meminta kami untuk fokus pada program kerja kami.
Seminggu pertama praktek kerja lapangan kami, atau PKL kami, di desa mas wisnu, kami isi dengan menjelaskan mengenai dampak dari ekonomi digital dengan di bukanya perdagangan bebas di tahun 2020 nanti.
Kami memilih untuk memberikan penjelasan awal pada penduduk desa yang rentang usiannya masih di awal tiga puluh tahunan.
Kami memilih kelompok usia tersebut, karena menurut analisa mas wisnu, mereka yang akan menjadi leader bagi perekonomian desa di tahun tersebut.
Kami mengajari mereka satu persatu, dan memperkenalkan pada mereka kanal-kanal toko online yang sudah mulai ramai di internet.
Kami mengajarkan peserta, mulai hal dasar, seperti cara berjualan di internet, serta cara membuat akun di market place yang sudah ada.
Kami mulai membuat penyuluhan dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore.
Umumnya yang dateng adalah ibu-ibu rumah tangga, atau perempuan di akhir usia dua puluh yang belum menikah.
Kami maklumi, karena pria di desa mas wisnu, mencari nafkah dengan berladang dari pagi, atau memiliki toko yang buka dari pagi sampai malam hari.
Meski penyuluhan dari kami, umumnya hanya diisi oleh kelompok wanita, tapi kami sangat puas dengan respon mereka.
Mas wisnu juga terus mensupport kami untuk tidak menyerah, saat kami menghadapi kesulitan.
Malamnya, biasanya kami langsung membuat laporan, sekaligus mulai berdiskusi tentang judul dan topik skripsi yang akan kita ambil.
Di hari libur, hari minggu, kami bergabung dengan penduduk desa untuk bekerja bakti membersihkan lingkungan, di pagi hari.
Sorenya, kami juga punya kesempatan untuk memberikan penyuluhan tentang ekonomi digital pada anak-anak muda di desa mas wisnu, karena mereka libur sekolah.
Generasi muda di desa tersebut ternyata sangat antusias dengan penjelasan kami, karena umumnya mereka juga ingin menjadi perdagangan di kemudian hari, mengikuti jejak orang tua mereka.
selama dua minggu aku di desa mas wisnu, aku mulai melupakan tentang kesedihanku akan hubunganku dengan dimas.
Aku tak pernah lupa memposting kegiatanku di facebook, tapi selama dua minggu ini, aku tidak pernah menjawab telvon dari dimas.
Rasa rindu untuk dimas terkadang muncul, tapi perasaan itu terhapus oleh padatnya kegiatanku di desa mas wisnu.
__ADS_1
Selain itu, aku juga biasanya sangat lelah di malam hari, jadi aku langsung memutuskan untuk tidur begitu aku selesai membuat laporan.
***