Namaku Maira

Namaku Maira
- Manisnya sebuah impian -


__ADS_3

***


Dimas memintaku untuk duduk di sampingnya, saat melihatku hanya berdiri dan melihat ke arahnya.


Dimas kemudian mengecup pipiku saat aku sudah di sampingnya, tangannya juga langsung melingkar di pundakku.


"Kamu mau aku minta maaf dulu, atau mau denger pengakuanku dulu", ujar dimas, sambil membenarkan rambut yang terjuntai di pipiku.


"Pengakuan apa", tanyaku pada dimas sambil tersenyum.


"Pengakuan kalau aku masih cinta banget sama kamu, meski kamu jauhin aku selama lebih dari lima bulan", jawab dimas.


Ucapan dimas mengubah posisiku, yang semula aku melihat gitar di atas televisi, kini aku melihat dimas yang duduk di sampingku.


Dimas ternyata masih belum berhenti menatapku dengan binar di matanya, sejak dia turun dari mobilnya.


"Aku nggak jauhin kok, tapi dimas yang susah dihubungi", jawabku.


"Aku nggak susah dihubungi, malah aku selalu datang ke jogja setiap kamu telvon tapi aku nggak jawab", ujar dimas membela diri.


Dimas kemudian memaksaku untuk menatapnya, karena aku berpaling.


"Nggak selalu, cuma sekali aja pas seto meninggal", jawabku.


"Itu karena aku tunggu kamu selesai marah, terus datang ke aku", ujar dimas.


"Sekarang aku datang", jawabku pada dimas.


"Iya, makasih ya udah datang", jawab dimas tersenyum.


Dimas kemudian meraih tanganku, dan menggenggamnya, kemudian dimas menciumku.


Ciuman lembut dimas yang sudah hampir aku lupakan, kini aku bisa merasakannya lagi.


"Terus minta maaf untuk", tanyaku pada dimas, begitu dia melepaskan ciumannya.


"Untuk nggak pernah ada di samping kamu", ujar dimas.


"Untuk nggak ada di samping kamu saat kamu lagi sedih, untuk semua moment penting di hidup kamu yang aku lewatin", ujar dimas lagi.


"Nggak papa", jawabku dengan senyum yang kupaksakan.


"Untuk nggak disisi kamu saat kamu berjuang menulis skripsi kamu", ujar dimas.


"Untuk ngelewatin moment saat kamu lulus sidang skripsi", ujar dimas mulai meneteskan airmata.


"Aku memang kurang tau diri, kamu selalu ada di sampingku saat aku berjuang, tapi aku malah absen saat itu giliran kamu berjuang", ujar dimas menatapku dengan airmatanya.


Aku lalu mengusap airmata dimas, dan tersenyum, kemudian aku mengecup pipi dimas.


"Kamu nggak marah", tanya dimas padaku.


"Marah, tapi ya terima aja", jawabku.


"Kamu harusnya marah setiap kamu telvon tapi aku nggak jawab", ujar dimas.


"Aku marah kok, tapi setiap aku marah dimas ngejauhin aku", jawabku.


"Maaf, habis aku takut setiap kamu marah, aku takut kehilangan kamu", ujar dimas, dengan raut muka sedih.


"Tadi katanya minta aku marah, sekarang bilangnya takut", ujarku menggoda dimas.


Dimas hanya melihat ke arahku dengan tatapan bingung.


"Marahnya kamu soalnya selalu hal yang sama", ujar dimas.


"Kadang malah soal remeh yang kamu kait-kaitin", ujar dimas menambahi.


Aku kemudian teringat pemandangan di toko tadi, dan raut muka cerahku langsung berubah.


"Tadi aku juga liat zahra peluk kamu", ujarku pada dimas.


"Dia nggak peluk aku ra, dia cuma lingkarin tangannya di pundak aku", ujar dimas, berusaha meyakinkan aku.


"Bedanya apa", tanyaku.

__ADS_1


"Ya beda dong", jawab dimas menggerutu.


Dimas kemudian mencontohkan perbedaan pelukan dengan rangkulan padaku.


Kenyataan kembali menyadarkan aku, kalau zahra mungkin akan terus membayangi hubungan kami.


Pertanyaan yang sering ku ulangi pada diriku sendiri ialah, apa aku siap, apa aku mampu untuk terus menekan perasaan cemburuku, setiap kali aku melihat kedekatan zahra dengan dimas.


Aku kemudian mengabaikan seluruh pertanyaan dibenakku, dan memilih meraih dimas dan memeluknya.


Aku datang ke solo untuk memperbaiki hubunganku dengan dimas, bukan untuk berdebat dengan dimas, pikirku dalam hati.


"Makan yuk, aku laper", ujarku pada dimas.


"Tadi pagi cuma sarapan roti, soalnya kesiangan, habis itu malah dimarahin kak alan, jadi rotinya nggak ketelen", ujarku berusaha membujuk dimas yang hanya diam.


Dimas kemudian membalas pelukanku, dan mencium rambutku.


"Emang tadi naik dari stasiun mana", tanya dimas lembut.


"Dari lempuyangan", jawabku.


"Kereta jam berapa", tanya dimas lagi.


"Jam sembilan", jawabku.


"Kamu pasti bangunnya jam delapan ya, makannya kak alan marah", tanya dimas padaku.


"Iya", jawabku, kemudian tersenyum untuk dimas.


"Mau tinggal disini aja nggak, pasti jam enam pagi udah bangun", ujar dimas.


"Enggak", jawabku sambil tertawa.


Dimas kemudian menelvon tempat makan langganan dimas, untuk memesan makan siang kami.


Selama tiga puluh menit menunggu, dimas berulang kali mengatakan, betapa senangnya dia melihat aku masih menggunakan kalung pemberian darinya.


Dimas juga mengatakan kalau gurauan mami saat di toko tidak lucu sama sekali.


"Coba kalau kamu dibercandain dapet undangan nikah dari aku, gimana perasaan kamu", ujar dimas sambil menggerutu.


"Tapikan itu bukan undangan aku, itu punya kak alan", jawabku membela diri.


"Tapi tadi mami bilangnya undangan dari kamu", ujar dimas bersikukuh.


"Kalau dari aku gimana", tanyaku pada dimas.


"Aku bakar di depan kamu", ujar dimas dengan memasang wajah marah.


Aku hanya tertawa melihat raut muka dimas, kemudian aku mengecup pipi dimas.


"Yaudah nanti kalau aku kasih undangan, aku cantumin nama Dimas Prasetya di samping namaku", ujarku pada dimas memberi harapan.


Dimas langsung tersenyum lalu memelukku, dan mulai menciumiku.


"Kayaknya ada yang manggil tuh di pagar", ujarku, setelah melepaskan ciumanku dari dimas.


"Perasaan kamu aja", ujar dimas, sambil berusaha menciumku kembali.


"Coba deh liat", ujarku, mendorong tubuh dimas.


Dimas kemudian beranjak dari sofa, dan berjalan ke arah jendela.


"Yang anter makanan", ujar dimas sambil tersenyum.


Aku dan dimas lalu turun ke lantai satu.


Aku berjalan ke arah dapur, untuk mengambil piring dan menyiapkan meja, sementara dimas, ke arah luar untuk mengambil makanan.


Begitu dimas kembali ke dapur, dimas langsung menata makanan yang dia pesan di piring.


Dia kemudian mengambil botol air dingin dari kulkas, dan mengambil dua buah gelas dari lemari kabinet.


Aku sebenarnya bukan tipe yang suka berbicara saat makan, aku lebih suka menghabiskan makananku terlebih dulu, baru mulai mengobrol.

__ADS_1


Makan satu meja dengan keluarga dimas juga begitu, terkadang hening sepanjang kita makan, dan baru mulai ramai dengan tawa dan pembicaraan setelah usai makan.


Karena hanya ada kami berdua, aku memutuskan untuk langsung membersihkan meja, dan mencuci piring begitu kita selesai makan.


Dimas memang membantuku membersihkan meja, tapi dimas hanya memelukku dari belakang, saat aku sedang mencuci piring.


Kita langsung kembali ke kamar dimas, dan bersantai di tempat tidur dimas sambil menonton televisi, setelah selesai membersihkan diri.


"Nginep ya", pinta dimas yang masih melingkarkan tangannya dipinggangku.


"Nggak bisa, nanti malam udah harus di rumah", jawabku pada dimas.


"Besok aja pulangnya, aku anter", pinta dimas sambil merekatkan pelukannya padaku.


"Besok kan dimas juga kerja, jadi percuma aja kalau aku disini tapi dimas nggak di rumah", jawabku pada dimas.


"Aku bolos kerja deh, biar bisa seharian peluk kamu", ujar dimas sambil mencium pipiku.


"Nanti dimas kena marah dong kalau bolos", ujarku.


"Nggak papa", jawab dimas santai.


"Nggak mau ah, nanti kita ketemu lagi aja di nikahan kak alan", ujarku pada dimas.


"Tapi aku masih kangen, kita udah hampir dua bulan nggak ketemu", ujar dimas protes.


"Kan salah dimas sendiri nggak pernah ke jogja", jawabku menggoda dimas.


"Habis kalau di datengin pasti marah-marah", jawab dimas dengan muka manyun.


"Terus dimas jauhin gitu kalau aku marah-marah", tanyaku pada dimas.


"Aku kan takut kalau kamu marah, jadi aku mending tunggu kamu udah nggak marah, baru berani dateng lagi", ujar dimas sambil tersenyum.


"Kalau sekarang aku masih marah gimana", tanyaku pada dimas.


"Jangan, marahnya nanti aja kalau udah pulang ke jogja, sekarang kamu harus pelukin aku, sampai aku puas", jawab dimas sambil tersenyum.


"Nginep ya", pinta dimas lagi.


"Nggak bisa, aku jam lima harus udah balik ke jogja biar nggak kemalaman", jawabku.


"Coba dong bilang dulu sama ibu, siapa tau boleh", ujar dimas berusaha membujukku.


Dimas akhirnya mengalah, setelah aku meyakinkan dan menjelaskan pada dimas, kalau besok aku harus menemani rani ke tempat dia memesan gaunnya untuk akad nikah.


"Yaudah nanti aku anter pulang, tapi malam ya", ujar dimas dengan tatapan nakalnya.


"Aku naik kereta aja, biar kamu besok nggak capek", jawabku pada dimas.


"Udah dong, aku jangan dibantah mulu, kan aku udah ngalah, jadi kamu harus nurut sama aku", ujar dimas.


"Aku cuma nggak mau kamu capek dimas", ujarku lembut.


Dimas langsung membungkamku dengan ciumannya.


Dimas menciumku, sambil perlahan melepaskan semua baju yang menempel dikulitku.


Kemudian dimas melepaskan kaosnya, dan melemparkannya ke ujung ruangan.


Dimas masih sama, selalu penuh hasrat saat menyentuhku.


Tatapan matanya pun masih sama, tatapan mata yang sangat liar begitu melihat tubuhku tanpa busana.


"Kamu masih milikku kan", tanya dimas padaku disela-sela sentuhannya.


"Iya", jawabku lembut.


Dimas menyentuhku tanpa memperdulikan setiap teriakan lirih yang keluar dari mulutku.


Semakin aku memohon, dimas semakin menyentuhku dengan sangat liar.


Dan ketika aku meminta dimas untuk berhenti, dimas hanya memberiku senyuman di ujung bibirnya, kemudian dimas menyatukkan dirinya denganku.


Dimas seperti memberitahuku, kalau ini adalah balasan karena aku sudah mengabaikannya.

__ADS_1


***


__ADS_2