
***
Selamat menempuh hidup baru, semoga bahagia selalu.
Sepenggal kalimat yang aku tuliskan di komentar postingan foto pernikahan dimas dan mila.
Ada dua puluh sembilan komentar dibawah foto tersebut, salah satunya milikku.
Sayangnya, satu menit setelah aku menulis komentar tersebut, foto itu langsung dihapus.
Aku kemudian melihat halaman facebook milik dimas, baru saja aku melihat dua foto pernikahan dimas, aku tidak bisa melihat foto lainnya.
Dimas memblokirku dari halaman facebooknya.
Aku tidak bisa mengerti kenapa dimas memblokirku, mungkin dimas membenciku, dan tidak ingin melihat namaku lagi.
Aku kemudian pergi ke halaman twitter milik dimas, dan masih bisa ku akses.
Setelah aku membaca isi twitter dimas, aku bisa simpulkan kalau dimas menikahi mila seminggu yang lalu, pernikahan mereka di adakan di solo, dia juga mengucapkan terimakasih pada rumi yang sudah datang ke pernikahannya.
Tidak banyak hal yang bisa aku lihat di twitter, tidak ada satupun foto pernikahan dimas di twitter.
Dimas juga sudah kembali sangat aktif di twitter, dia selalu menceritakan kesehariannya melalui twitter.
Melihat kabar pernikahan dimas, hatiku langsung kosong, aku tidak bisa memproses apapun, selain sesak nafas yang kurasakan.
Aku pulang ke jogja sesuai jadwal yang aku rencanakan.
Aku pulang menggunakan kereta api, karena harga tiket pesawat naik dua kali lipat.
Selama dua hari, aku masih mencerna kabar yang aku terima.
Aku juga tidak mengatakan apapun pada nia, dan tante rosa.
Pagi ini saat aku pamit, aku juga memasang wajah biasa dan aku mengatakan pada diriku sendiri kalau aku tidak sedih.
Aku juga bingung pada diri diriku sendiri, aku seperti tidak terkejut, atau langsung menangis seperti dulu saat dimas memulai hubungannya dengan mila.
Anehnya, beban di hatiku seperti terangkat, dan tinggalah kekosongan yang kurasa.
Kekosongan itu, ternyata membuat air mataku mulai jatuh perlahan, bersamaan dengan kereta yang mulai meninggalkan stasiun.
Suara kereta yang berjalan, membuat pikiranku mulai terisi dengan sosok dimas.
Rumah yang dimas bangun di hatiku, secara perlahan, mulai mengelupas.
Ruang sunyi bisa kurasakan di hatiku, dimas sudah pergi dengan pilihan hidupnya.
Pernikahan dimas adalah titik akhir dari perasaan cintaku untuk dimas.
Aku mulai menangisi setiap kenangan yang aku miliki dengan dimas.
Aku juga menangisi setiap mimpi untuk dimas yang harus aku lupakan.
Aku memilih untuk melihat semua foto kebersamaanku dan dimas yang ada di handphoneku.
Setiap foto terisi dengan air mata yang jatuh dari wajahku.
Dimas memilih perempuan lain, adalah hal yang aku tidak pernah kira.
Semua janji dimas, dan semua ungkapan cinta dimas masih begitu lekat di pikiranku.
Hatiku luar biasa sakit mengingat semua kebersamaanku dengan dimas.
Rasa sakit itu bertambah setiap aku mengingat janji dimas, kalau aku adalah satu-satunya perempuan yang akan dia cintai.
Hanya senyum getir yang bisa kuukir, mendapati betapa bodohnya aku, mengira dimas akan setia dengan ucapannya.
Aku memilih menaruh handphoneku kembali di dalam tas.
Aku mulai menghapus airmata yang jatuh di pipiku.
Untungnya kereta tidak terlalu ramai, dan aku duduk sendiri.
Aku kemudian memejamkan mataku dan berfikir, kali ini aku harus melakukannya dengan benar.
__ADS_1
Aku harus membakar semua perasaan cintaku untuk dimas, aku harus menyelesaikan semuanya.
Aku hanya tidak ingin bimbang, jika suara saat nanti aku tanpa sengaja bertemu dimas, atau kembali menjalin komunikasi dengan dimas
Aku harus memastikan kalau saat itu, aku sudah menyelesaikan perasaanku dengan dimas.
*
Begitu kereta masuk ke stasiun tugu jogja, aku langsung menelvon ibu dan mengabari ibu, kalau aku akan menghabiskan liburku di rumah uti.
Aku kemudian menelvon jasa sewa mobil, dan menyewa jasa mereka untuk mengantarku ke kulonprogo.
Untungnya aku tidak perlu menunggu mereka terlalu lama di stasiun, kurang dari satu jam, pihak penyewaan mobil menghubungiku, mereka mengatakan kalau sopirnya sudah menungguku di depan stasiun.
Begitu aku masuk ke dalam mobil, aku langsung memberikan alamat rumah uti ke pengemudinya.
"Maira", teriak si pengemudi.
Aku kemudian melihat ke arahnya, dan ternyata sigit, mantanku saat SMA.
Aku langsung tertawa melihat sigit yang sudah mulai berubah.
Dia bukan lagi sigit yang aku kenal dulu, dia sudah berubah, dia terlihat seperti orang yang sudah menikah pada umumnya.
Terlihat lelah dan badanya juga mulai melebar, tidak ada garis ketampanan yang tersisa, hanya lelah yang aku bisa lihat di wajahnya.
Sigit menanyakan kabarku, dia juga bercerita kalau sebentar lagi anak keduanya akan lahir.
Setidaknya perjalananku ke rumah uti di temani oleh teman dari masa lalu, yang mungkin bisa membuatku sedikit melupakan luka di hatiku.
Aku menceritakan pada sigit, kalau aku baru saja ditinggal menikah oleh orang yang ku sayangi, sigit menghiburku dengan mengatakan kalau laki-laki tersebut, suatu saat nanti pasti akan menyesal
Luka hatiku seperti tertiup oleh angin kecil saat aku mendengar perkataan sigit.
Sigit memintaku untuk istirahat saat melihat mataku masih bengkak, dia mengatakan kalau dia akan membangunkanku saat kita sudah sampai di kulonprogo.
Aku terbangun dari hujan deras yang mengguyurku saat aku mendengar suara sigit memanggilku
Ternyata hujan deras itu cuma mimpi, aku bermimpi aku duduk di ayunan dibawah hujan yang sangat deras, hanya sendiri, tapi aku terbangun saat aku baru saja melihat sosok lain datang kepadaku dari kejauhan.
Wina sepupuku menyambutku, begitupun dengan bintang yang langsung senang melihatku datang.
Tante wulan senang karena aku memilih untuk menghabiskan liburan di rumah uti.
Aku mengatakan pada tante wulan, kalau aku sedang patah hati, karena dimas menikahi perempuan lain.
Wina yang mendengar ucapanku hanya memelukku, begitupun tante wulan.
Tante wulan mengatakan, kalau aku pasti akan bisa melalui semua itu, dan memintaku untuk tidak terlalu sedih.
*
Lima hari pertama di rumah uti, aku dengan sepenuh hati menikmati setiap proses patah hatiku.
Aku mengurung diri di kamar, dan meminjam akun facebook milik wina untuk melihat halaman facebook dimas.
Aku menangisi setiap foto pernikahan dimas, aku juga menangisi setiap kenangan yang aku dan dimas miliki di halaman facebookku.
Mulanya aku marah dan berusaha membandingkan diriku dengan mila.
Kemudian aku menghapus setiap postingan yang kutulis, yang menyiratkan kecemburuanku pada mila.
Aku mulai menghapus setiap kenangan yang aku miliki dengan dimas di halaman sosial mediaku.
Aku juga menghapus setiap foto dimas yang kumiliki di handphoneku.
Baik tante wulan atau uti, mereka memberiku ruang untuk menangis, mereka tidak menggangguku atau berusaha memintaku berhenti menangis.
Mereka hanya selalu mengingatkanku saat waktu makan tiba.
Tante wulan juga lebih sering memasak soup, supaya aku ternutrisi dengan baik.
Mereka lebih sering menguatkanku, tanpa berkata apapun, hanya lebih sering memelukku.
Mereka tahu, aku sedang membakar setiap rasa cinta yang kumiliki untuk dimas.
__ADS_1
Mereka tahu, kalau aku sangat mencintai dimas.
Membakar semua perasaan cinta yang kumiliki untuk dimas, adalah hal yang sangat sulit kulakukan.
Setiap malam aku selalu tertidur dalam tangis, aku juga bangun di pagi hari dengan rasa sesak di hatiku.
Ibu mengunjungiku di malam tahun baru, dan begitu ibu melihatku, dia hanya memelukku.
Kak alan merasa patah hati melihat mataku yang bengkak setiap hari.
Rani bingung karena tidak tahu harus melakukan apa.
Semua tawa yang sahabatku bagi untukku, tidak bisa membuatku tersenyum.
Begitu air mataku kering dan aku merasa lelah karena menangis tanpa henti, ibu mengajakku pergi ke pantai.
Ibu mendampingiku di rumah uti sampai jadwal liburanku selesai.
Di rumah uti, aku mulai pagi dengan sesak di hatiku, kemudian aku melihat foto pernikahan dimas, dan kemesraan dimas dan istrinya di sosial media.
Siangnya, aku memilih untuk mengompres mataku sambil mengingat semua kenangan yang aku dan dimas bagikan.
Sorenya aku pergi ke pantai, kadang dengan ibu, tapi lebih seringnya aku sendiri.
Di pantai aku hanya merenung, dan menangis lagi dengan sisa air mata yang kupunya.
Aku ingin membakar semua perasaanku untuk dimas, dan membuatnya menjadi abu, lalu akan kutabur dilautan.
Aku ingin perasaanku menjadi abu yang nantinya tidak bisa dimas pertanyakan lagi saat dia kembali.
Wina pernah bertanya padaku saat dia menemaniku ke pantai, dia menanyakan, apakah aku menyesali hubunganku dengan dimas.
Aku dengan tegas mengatakan kepada wina, aku tidak menyesali kisahku dengan dimas.
Aku juga mengatakan pada diriku sendiri kalau aku tidak menyesali, segala hal yang sudah aku berikan untuk dimas.
Aku tidak menyesali sentuhan dimas untukku, aku tidak menyesali sudah memberikan diriku seutuhnya untuk dimas.
Aku juga tidak menyesali kalau aku sepenuh hati mencintai dimas.
Satu hal yang kusesali, adalah harapan yang kubiarkan terlalu tinggi, harapan bahwa dimas akan selalu memilihku, dan mencintaiku.
Harapan kalau dimas akan selalu bersamaku.
Harapan kalau dimas akan menua bersamaku.
Setiap aku mulai duduk di pinggir pantai, dan ada orang yang lewat dan menyapaku, karena melihatku menangis.
Aku selalu menceritakan pada mereka, kalau orang yang kucintai baru saja menikah dengan perempuan lain.
Mereka langsung mengusap punggungku, begitu mendengar ucapanku, kemudian mengatakan kalau semua pasti berlalu, dan cepat atau lambat, semua pasti akan kulupakan.
Beberapa memintaku untuk memakai waktuku dengan baik, supaya tidak ada penyesalan yang tersisa nantinya.
Beberapa menggodaku, dan ingin memperkenalkanku dengan pria lain.
Mereka juga mendoakanku, kalau suatu saat nanti, aku pasti akan menemukan orang yang lebih baik dan mencintaiku dengan benar.
Semua ucapan yang orang sampaikan padaku, tanpa terasa mulai menyembuhkan lukaku.
Aku tahu kalau aku harus memakai waktuku dengan benar untuk menyembuhkan lukaku.
Aku harus yakin kalau perasaanku untuk dimas sudah berakhir, sebelum aku memulai untuk membuka hati untuk orang lain.
Entah berapa lama waktu yang aku harus lalui untuk merelakan dimas, tapi aku akan menggunakannya dengan penuh tanpa terlewat satu detikpun.
Aku akan memastikan kalau aku tidak lagi merasa sakit saat melihat foto dimas, atau tanganku gemetar setiap mendapat pesan dari dimas, atau hatiku berdebar saat aku bertemu dengan dimas.
Aku tidak akan kembali membawa diriku terjatuh kedalam pelukan dimas, atau tenggelam dalam bujuk rayu dimas.
Aku akan menghapus semua perasaanku untuk dimas.
Aku tahu melupakan dimas mungkin akan sulit, tapi aku yakin kalau aku bisa menghapus semua perasaan cinta di hatiku untuk dimas.
***
__ADS_1