Namaku Maira

Namaku Maira
- Harapan -


__ADS_3

***


Sepanjang perjalanan kereta yang kurang dari dua jam menuju solo, aku memikirkan kata pertama yang akan aku ucapkan ke dimas.


Harapanku datang ke solo kali ini, selain mengantar undangan untuk keluarga dimas, aku juga ingin memperbaiki hubunganku dengan dimas.


Aku ingin mencairkan hubunganku dengan dimas yang membeku.


Aku dengan sadar harus memilih untuk menahan semua rasa cemburuku, dan meredamkan kekecawaanku pada dimas.


Setelah hampir dua bulan aku berfikir, aku pada kesimpulan kalau dimas hanya siap dengan semua sikap manisku yang penuh cinta untuk dimas.


Dimas tidak pernah siap dengan amarah dan kecemburuanku.


Mungkin aku harus menerima sosok zahra di sekitar dimas.


Dimas juga sudah memilih untuk bersamaku, jadi aku harus mengurangi rasa khawatirku.


Aku ingin kembali membawa dimas kepelukanku, jadi harus rela kalau ada perasaan yang harus aku korbankan.


Aku tidak memberitahu dimas kalau aku akan datang ke solo, aku ingin memberikan kejutan untuk dimas.


Pagi ini aku melihat sosial media dimas sebelum aku berangkat, dan dimas menuliskan di twitter kalau dia ingin menghabiskan waktu dengan maminya hari ini.


Aku mengambil kesimpulan kalau dimas hari ini akan ada di toko milik mami mita.


Keretaku berangkat dari jogja sekitar pukul 09.30 pagi dari stasiun lempuyangan, dan kurang dari tiga puluh menit lagi, aku akan tiba di solo.


Saat aku turun dari kereta dan berjalan keluar dari stasiun, aku langsung merasa harapanku untuk bisa memeluk dimas kembali, bisa langsung terwujud.


Aku memilih untuk ke toko mami mita menggunakan taksi dari stasiun balapan solo.


Jarak dari stasiun balapan ke toko mami, kurang dari dua puluh menit.


Semakin dekat taksi melaju ke toko mami mita, debar jantungku semakin tak beraturan.


Aku kembali berdebar seperti saat pertama kali dimas memciumku.


Aku berusaha menenangkan diri, dan mengatur nafas secara perlahan.


Usahaku mengatur nafas, tidak membuat debaran jantungku kembali normal, tapi setidaknya aku bisa menguasai diriku.


Begitu taksi berhenti di depan toko mami, mukaku langsung memerah.


Aku kemudian turun dari taksi setelah membayar argo.


Setapak demi setapak aku berjalan ke arah toko mami dengan senyum yang terpasang di wajahkku.


Tumpukan kardus kuning berisi bakpia dengan aneka rasa, menyambutku saat kakiku menyentuh lantai di toko mami.


Aku langsung melihat sekeliling, karyawan mami masih tetap sama, hilir mudik melayani pembeli.


Senyumku perlahan pudar saat aku melihat dimas sedang tertawa bersama zahra di dekat pintu menuju gudang.


Perasaan yang kumiliki, yang aku pikir, aku bisa menerima keberadaan zahra di sekitar dimas, langsung terbakar, dan berubah menjadi asap.


Senyum yang belum lepas dari wajahku sejak aku naik taksi dari stasiun, kini harus berakhir saat aku melihat tangan zahra mulai melingkar dipundak dimas.


"Maira", teriak sebuah suara yang tidak jauh dari tempatku berdiri.

__ADS_1


Aku langsung melihat ke arah suara tersebut, ternyata mbak dina yang baru turun dari lantai dua.


Aku langsung kembali memasang senyum di wajahku.


"Maira, ya ampun, apa kabar kamu", ujar mbak dina, dengan sedikit berlari ke arahku, kemudian langsung memelukku begitu dia di dekatku.


"Kamu kemana aja, kok nggak pernah main lagi", tanya mbak dina.


"Di jogja aja mbak", jawabku.


"Mbak dina sehat", tanyaku.


"Sehat dong", jawab mbak dina.


"Mami tuh nanyain kamu terus tau, kangen katanya", ujar mbak dina padaku, sambil melepaskan pelukannya.


"Mami dimana", tanyaku.


"Diatas, ada papa juga, ayo ke atas", ajak mbak dina, yang kemudian langsung menarik tanganku untuk naik ke lantai dua.


"Mi coba tebak siapa yang datang", ujar mbak dina, setelah dia mengetuk pintu kantor mami, dan hanya masuk dengan setengah badannya ke kantor mami.


"Siapa din", tanya mami tanpa melihat ke arah mbak dina di pintu.


"Maira", teriak mbak dina, sambil membuka pintu kantor mami secara penuh untuk aku masuk.


Mami mita hanya membuka mulutnya, kemudian berdiri, dan berjalan ke arahku, lalu memelukku.


"Aduh akhirnya bisa lihat gadis cantik mami lagi", ujar mami.


Mami kemudian memintaku untuk duduk, dan menanyaiku kenapa tidak pernah datang ke solo lagi.


Aku lalu menjelaskan, kalau selama enam bulan terakhir, aku fokus dengan skripsiku, dan bulan lalu baru lulus sidang skripsi.


"Iya mi, wisudanya dua bulan lagi, terus rara juga mau kasih undangan", ujarku pada mami.


Aku kemudian mengeluarkan undangan pernikahan kak alan dari dalam tasku.


Saat aku menyerahkan pada mami, raut muka mami terlihat serius.


"Oh nikahannya alan", ujar mami terdengar lega, setelah membaca nama pemilik undangan yang aku berikan.


"Mami pasti dateng", ujar mami padaku sambil tersenyum.


"Kapan itu", tanya papa, yang selama sepuluh menit terakhir tidak terdengar suaranya.


"Dua minggu lagi pa", jawabku.


Aku kemudian menceritakan sedikit ke mami, papa dan mbak dina, kalau orang yang akan kak alan nikahin, adalah salah satu dari sahabatku.


Pintu kantor mami terbuka, sebelum aku selesai bercerita, dan ternyata dimas yang muncul dari baliknya.


"Hai", sapaku pada dimas sambil tersenyum.


"Maira kesini, mau anter undangan, nih", ujar mami dengan muka serius, dan sambil menunjukkan undangan di tangannya ke dimas.


"Undangan apa", tanya dimas pada mami.


"Nikahan", jawab mami santai.

__ADS_1


Dimas terlihat kaget dengan ucapan mami, kemudian dimas melihat ke arahku, dan dia langsung mengambil undangan dari tangan mami.


"Oh, alan", ujar dimas terdengar lega, meski dia berusaha menutupinya .


"Mami nih ngagetin aja", ujar dimas lagi, kali ini terdengar sedikit marah.


Mami, mbak dina dan papa hanya tertawa melihat reaksi dimas.


"Maira boleh dimas pinjam sebentar nggak", pinta dimas pada mami.


"Nggak boleh", ujar mbak dina.


"Mbak kamu dicariin tante tiwi tuh di bawah, mau bikin parcel katanya", ujar dimas ke mbak dina.


Mendengar ucapan dimas, mbak dina langsung keluar dari kantor mami.


"Boleh, tapi nanti dibalikin ya", jawab mami, setelah dimas kembali melihat ke arah mami begitu mbak dina keluar dari kantor.


"Sama dimas keluar dulu ya, mau ajak maira makan siang", ujar dimas pada mami.


Dimas lalu mengulurkan tangannya padaku, setelah mami menyetujui untuk dimas membawaku keluar.


Dimas merangkul pundakku, saat aku turun ke lantai satu, sampai dengan tempat mobil dimas terparkir.


Satu yang tidak pernah berubah dari dimas, dia selalu membukakan pintu mobilnya untukku.


Dimas juga tersenyum sepanjang jalan.


Dimas ternyata membawa mobilnya pulang ke rumahnya.


"Makan siang di rumah", tanyaku pada dimas, saat dimas menghentikan mobilnya di depan rumah.


"Iya, nanti pesen makan dari restonya aja ya", jawab dimas.


"Aku butuh ngobrol sama kamu soalnya, jadi aku butuh tempat dengan suasana tenang", ujar dimas lagi.


Dimas langsung mengajakku ke kamarnya, setelah dia menutup kembali pintu pagar rumahnya, dan pintu depan.


"Aku ambilin minum dulu ya", ujar dimas, begitu melihatku duduk di sofa kamarnya.


Aku kemudian melihat sekeliling kamar dimas, dan kamar dimas masih belum berubah, susunan kamarnya juga masih sama.


Fotoku, dan foto kami berdua saat ada di semarang juga masih terpajang di samping televisi dan dinding kamar dimas.


Aku kembali teringat semua momen manisku dengan dimas di kamar ini.


Kamar dimas selalu menjadi saksi bisu saat aku dan dimas berbagi cinta kita di tempat tidurnya.


Melihat meja belajar dimas kembali, ada rasa penasaran yang membuatku berjalan ke arahnya, kemudian aku membuka setiap lacinya.


Kali ini semua laci bisa ku buka, dan tidak ada yang terkunci.


"Udah ku bakar", ujar dimas yang baru saja masuk ke dalam kamar, dan melihatku sedang duduk membuka laci meja belajar miliknya.


"Apanya", tanyaku, pura-pura tidak tahu, dan hanya tersenyum.


"Kalau kamu cari hal yang sama, udah nggak ada", jawab dimas.


Aku hanya tersenyum, dan menutup kembali laci meja belajar dimas.

__ADS_1


Kemudian aku berjalan ke arah sofa, dan mengambil minuman dari tangan dimas.


***


__ADS_2