
***
Libur natal dan tahun baru sudah di depan mata, aku sudah memberitahu ibu semalam, saat aku menelvon ibu, kalau aku akan pulang ke jogja akhir tahun nanti.
Semakin dekat dengan liburan, suasana kantor juga berubah, suasana menjadi lebih santai.
Pembahasan kita saat makan siang juga berubah.
Miss alice membicarakan liburannya ke singapore, dan abi yang akan ikut bersama miss alice ke singapore.
Sementara ningsih, lebih memilih tinggal di jakarta, dia memilih untuk mengirimkan uang ke orang tuanya. Diah juga, dia hanya akan tinggal di bogor.
Di kantor tempatku bekerja, total ada tujuh tim.
Setiap tim memiliki ruangan masing-masing.
Seringnya kita hanya bertemu satu sama lain, saat jam istirahat.
Aku hanya mengenal beberapa dari mereka, dan tidak terlalu mengenal secara dekat, meski kita beberapa kali pergi bersama.
Aku bukan orang yang mudah bergaul, jadi aku hanya sering menghabiskan waktu dengan anggota dari tim miss alice.
Aku juga bukanlah gadis cantik, yang bisa dengan mudahnya menjadi primadona di kantor.
Rasa tidak percaya diriku juga yang membuat pergaulanku di kantor cukup terbatas.
Selama setengah tahun aku di kantor ini, tidak ada satu pria pun di kantor yang mendekatiku, atau aku punya keinginan untuk mendekatinya.
Hubungan kita sebatas professionalitas kerja.
Hanya saling bertukar pikiran, atau mendengar lelucon yang mereka ceritakan, saat jam istirahat.
Hatiku juga sampai saat in masih dipenuhi oleh dimas.
Aku memegang janjiku untuk tidak berpindah ke lain hati.
Meski sudah cukup lama komunikasiku dengan dimas terputus, aku masih sesekali melihat aktifitas dimas, dari halaman sosial media milik dimas.
Aku senang karena dimas cukup aktif di sosial media.
Meski aku tidak bisa berkomunikasi langsung dengannya, tapi setidaknya, dengan melihat sosial media dimas, aku bisa mengobati rinduku pada dimas, yang terkadang muncul dengan sendirinya.
Aku berencana, untuk menggapai salah satu mimpiku terlebih dahulu, hanya mimpi kecil untuk menjadi mandiri secara finansial.
Aku ingin mencari uang sebanyak yang aku mau, lalu aku akan habiskan bersama dimas.
Itu merupakan impian yang selalu aku bicarakan pada diriku sendiri.
__ADS_1
Aku hanya ingin dimas bangga padaku, karena aku bisa mencari uang untuk membuat dimas senang.
Aku ingin menabung, dan mengumpulkan uang yang cukup, kemudian mengajak dimas liburan ke eropa.
Aku punya harapan untuk punya tabungan yang cukup, supaya aku juga bisa membeli rumah di solo, jadi aku dan dimas tidak perlu tinggal satu rumah dengan mami dan papa.
Aku juga tidak perlu merasa tidak enak hati, ketika aku bangun kesiangan di rumah milikku sendiri.
"Liburan belum mulai, kerja dulu", ujar miss alice sambil menepuk pundakku, karena aku hanya melamun sambil tersenyum.
Aku kemudian menenggakkan badanku, dan kembali sibuk dan fokus dengan komputer yang ada di depanku.
"Udah kasih tau dimas belum, kalau kamu tahun baru balik", tanya diah sambil berbisik, ketika dia mengintip dari bilik meja kerjanya, ke bilik meja kerja milikku, yang kebetulan memang bersebelahan.
"Belum", jawabku sambil berbisik pada diah.
Aku memang menceritakan sedikit tentang dimas pada diah, saat diah menanyakan padaku, kalau aku sudah memiliki keluarga, atau aku masih sendiri.
Karena aku senang saat aku menceritakan tentang dimas, aku selalu menjawab pertanyaan yang muncul untukku tentang siapa pemilik hatiku, pada siapapun yang bertanya.
Malam ini rencanya aku akan memberitahu dimas, kalau aku akan pulang ke jogja.
Memang sudah cukup lama juga aku tidak melihat halaman sosial media milik dimas.
Aku akan memberitahu dimas soal kepulanganku, melalui pesan facebook atau twitter milik dimas.
Setidaknya sekali dalam seminggu, kami makan di kopitiam fx plaza, itu merupakan restaurant favorit miss alice.
Miss alice selalu mentraktir kami untuk makan di restaurant tersebut.
Kadang kita berganti restaurant, jika meja sudah penuh saat kami datang, tapi hampir setiap saat, kopitiam selalu menjadi tujuan utama.
Meski hampir semua menu yang ada di kopitiam sudah kucoba, tapi aku sendiri tidak merasa bosan, karena rasa masakan yang mereka hidangkan, cocok dengan lidahku.
Aku paling menyukai minuman yang bernama barley, aku selalu memesannya setiap kali kita makan di kopitiam.
Karena kita cukup lama mengobrol sambil makan di kopitiam, aku baru sampai di rumah kos sekitar pukul sembilan malam.
Begitu tiba di kamar kosku, aku memilih untuk langsung berbaring di tempat tidurku, dan berfikir untuk membersihkan makeupku nanti saat mau tidur.
Aku lalu mengambil handphone milikku dari dalam tas.
Dengan perasaan senang, aku mulai membuka sosial media milik dimas.
Aku begitu larut dengan akun sosial media milik dimas.
Semakin dalam aku melihat akun sosial media dimas, rasa terkejutku berubah menjadi linangan airmata yang mulai jatuh ke pipi.
__ADS_1
Dimas ternyata sudah memiliki kekasih baru, bahkan dimas tidak memberitahuku, atau setidaknya mengakhiri terlebih dahulu hubunganku dengannya.
Dimas dan kekasih barunya, baru menjalin hubungan sekitar dua minggu yang lalu.
Menurut info dari balasan tweet milik dimas dengan teman-temannya, nama kekasih dimas adalah mila, dia merupakan junior dimas saat mereka masih duduk dibangku SMA.
Hatiku luar biasa sakit, saat aku melihat kemesraan dimas dan mila di twitter.
Kemesraan yang dulu dimas berikan padaku, kini juga dia berikan pada mila.
Aku marah, karena dimas dengan sangat bangga memamerkan hubungan barunya di sosial media, kemudian aku menangis karena sadar, kalau dimas sudah melupakanku.
Mimpi yang kubangun, dan kuharapkan bisa kujalani bersama dimas, langsung hancur berserakan.
Rasa sesak menyelimuti hatiku, aku berusaha sekuat mungkin untuk bernafas, meski beban berat menggantung di dadaku.
Ini adalah patah hati pertamaku, aku tidak menyangka, mengetahui dimas sudah meninggalkanku, membuat hatiku sesakit ini.
Aku kemudian membiarkan diriku jatuh dalam tangis, dan merasakan pahit yang kurasakan di hatiku.
Aku menangisi setiap memori yang aku bagi dengan dimas.
Pelukan terakhir yang dimas berikan padaku juga kembali kurasakan.
Janji-janji yang kita ucapkan dulu, menjadi tanpa arti, semua itu berubah menjadi mimpi kosong.
Aku bisa merasakan bahwa ini adalah akhir yang harus aku terima, dari konsekuensi keputusan yang aku ambil.
Harapan yang aku pupuk selama tiga bulan terakhir, harus aku sadari, bahwa itu sudah berakhir sia-sia.
Dimas sudah memilih perempuan lain untuk menjadi kekasihnya.
Bahkan bukan zahra, yang aku kira bisa menggantikanku, tapi perempuan asing yang tidak kukenal.
Perempuan yang menggantikan aku di hati dimas dengan mudahnya, saat aku memilih untuk meraih mimipiku.
Aku kemudian menggenggam kalung yang dimas berikan padaku, yang sampai saat ini masih melingkar di leherku.
Aku berpegang pada kalung tersebut, dan berharap bahwa ini adalah bagian dari mimpi buruk yang terjadi padaku.
Rasa sakit yang begitu kuat kurasakan, menjadi arti bahwa cintaku untuk dimas memang nyata, dan bukan ilusi.
Atau mungkin, selama ini aku berilusi bahwa dimas akan selamanya ada disisiku.
Mimpi buruk yang aku tidak pernah bayangkan, kini jadi penutup mimpi yang selalu aku warnai dengan nama dimas disetiap ujungnya.
***
__ADS_1