Namaku Maira

Namaku Maira
- Menghibur Nia -


__ADS_3

***


Aku dan kiki sampai di rumah nia sekitar pukul 10.30 pagi.


Aku lalu memarkirkan motorku di garasi rumah nia.


Tante rosa sedang duduk di teras, sambil melihat pot bunga di depannya, saat kami sampai.


Kami langsung menghampiri tante rosa, dan mencium tangan tante rosa, serta menanyakan nia.


"Tante", ujar kiki.


"Nia gimana tante", tanyaku pada tante rosa.


"Nia belum keluar kamar dari kemaren, makannya tante khawatir", ujar tante rosa dengan wajah cemas.


Tak lama, aku mendengar ada suara motor lain masuk ke garasi rumah nia.


Ternyata mia dan rani yang baru datang, aku lalu menghampiri mereka.


"Katanya nggak bisa dateng hari ini", tanyaku pada mia dan rani.


"Kepikiran aku, jadinya aku nggak ikut kumpul di kampus", ujar rani sambil melepas helmnya.


"Aku juga", ujar mia.


"Udah kalian kenapa ngobrol diluar, ayo masuk", ujar tante rosa.


Mia dan rani langsung turun dari motor, dan berjalan ke arah tante rosa, kemudian mencium tangan tante rosa, lalu masuk ke rumah bersama aku dan kiki.


Sebelum naik ke kamar nia, kita sepakat untuk tidak membuat nia sedih, atau menanyakan penyebab nia sedih.


Kita akhirnya berencana untuk mengajak nia pergi keluar.


"Niaa", teriak kiki sambil mengetuk pintu kamar nia.


Nia lalu membuka pintu kamarnya, dan menyuruh kita untuk masuk.


"Kalian nggak ada kegiatan pagi-pagi udah disini", tanya nia pada kita.


"Ada kok kegiatan kita, ajak kamu ke waterpark di solo yang baru buka itu loh", ujar mia.


Aku dan kiki bingung karena kita belum diskusi soal lokasi, dan tujuan kita mengajak jalan nia hari ini.


"Siapa yang bilang kita mau ke solo", ujar rani lirih, sambil mencubit paha mia.


"Auw, sakit ran", ujar mia sambil mengusap bekas cubitan rani.


"Boleh, naik apa kita", tanya nia.


Kita langsung tersenyum pada nia, merangkul mia dan menyetujui ide mia.


"Naik motor aja gimana", ujar rani.


"Capek ah", jawab mia.


"Dimas bisa anter ra", tanya kiki.


"Enggak, dimas magang hari ini, besok baru libur", jawabku.


"Kan ada kak alan ra", ujar mia santai.


"Kamu yang telvon kak alan ya", pintaku pada mia.


"Ayolah ra, coba aja tanya kak alan dulu", ujar kiki membujukku.

__ADS_1


Aku lalu mengambil Blackberry dari tasku dan menelvon kak alan.


Aku meminta kak alan dengan bahasa sehalus mungkin untuk mengantar kita ke solo.


Sesuai dugaanku, kak alan berteriak di telingaku.


"Kamu fikir aku sopir kalian", teriak kak alan di telvon.


Rani lalu merebut telvonnya dari tanganku, dan dia beranjak untuk keluar dari kamar nia.


"Kak alan dateng tiga puluh menit lagi", ujar rani begitu dia kembali ke kamar.


"Kok bisa", teriakku.


"Tadi aja dia teriak di telingaku, nih dengungnya masih ada", ujarku sambil memperlihatkan telingaku pada rani.


"Udahlah yang penting dia mau datang untuk anter kita, oke", ujar rani.


"Tadi aku juga bilang untuk bawain kamu baju ganti ra", ujar rani.


"Terus kita gimana ran", ujar mia.


"Tuh pinjem aja dari situ", ujar rani santai sambil menunjuk ke arah lemari baju nia.


Kiki dan mia lalu memandang nia dengan tatapan penuh harap.


"Udah kalian pilih aja, yang mana yang kalian suka", ujar nia tersenyum.


"Yes", teriak kiki dan mia.


"Aku pinjem baju kamu aja ya nia", pintaku pada nia.


"Kamu kan dibawain baju ganti ra", ujar mia protes.


"Iya sih", ujar mia.


"Pakai aja ra, mana yang kamu suka", ujar nia.


Aku lalu menjulurkan lidahku pada mia.


Kak alan datang menjemput kami, tepat tiga puluh menit setelah rani menutup telvon kak alan.


Kak alan menelvonku dengan nada kesal saat dia sudah ada dibawah.


Kami lalu turun ke bawah, dan pamit pada tante rosa, untuk mengajak nia main ke waterpark di solo.


Nia turun ke lantai bawah, tanpa melihat tante rosa dan langsung masuk ke mobil kak alan.


Kita langsung memandang sedih ke arah tante rosa.


"Udah nggak papa", ujar tante rosa pada kita.


"Tante titip nia ya", ujar tante rosa lagi.


Tante rosa lalu menyerahkan kartu kreditnya ke kak alan, untuk membayar keperluan kami.


Kemudian kami pamit untuk berangkat ke tante rosa.


Saat aku membuka pintu mobil untuk masuk kedalamnya, kak alan menghentikan aku.


"Eits mau kemana", ujar kak alan sambil menutup kembali pintu mobilnya.


"Duduk didepan", ujarku.


"Kursi kamu itu di belakang", ujar kak alan padaku dengan nada memerintah.

__ADS_1


"Masuk ran", ujar kak alan tersenyum ke rani, lalu meminta rani untuk duduk didepan.


Setelah memberikan lirikan protesku pada kak alan, aku langsung masuk ke dalam mobil.


Aku, kiki, mia dan nia berdesakan duduk di kursi belakang.


Kak alan mulai mengemudikan mobilnya menuju solo.


"Nanti ulang tahun, kamu juga dapet mobil dong ra", ujar rani saat kita memasuki wilayah klaten.


"Nggak akan", ujar kak alan dengan tatapan mengejek.


"Kenapa gitu", tanya rani.


"Anaknya boros, nggak punya tabungan, udah gitu kerjannya main mulu bukan belajar", ujar kak alan melihatku dari kaca mobil dan mengejekku.


Aku hanya menatap kak alan dengan tatapan sebal, tapi enggan membalas ejekannya.


"Aku dapet mobil ini, bukan seratus persen dari uang kakek dan nenek ran", ujar kak alan ke rani.


"Maksudnya", tanya rani.


"Aku bayar sepuluh persennya dari tabunganku sejak SMP", ujar kak alan.


"Ohh", ujar rani menatap kagum ke kak alan yang tersenyum pada rani.


"Tapi kalau kak alan mau pinjem duit emang ke siapa", ujarku karena sudah merasa cukup sebal dengan tingkah kak alan.


"Ke aku, mana nggak pernah di ganti lagi", ujarku lagi, kemudian menjulurkan lidahku, saat kak alan memintaku untuk diam dengan tatapannya.


"Apa sih kamu, jangan mengada-ngada deh", ujar kak alan, memberiku peringatan dengan tatapannya melalui kaca mobil.


"Kamu juga nia, kamu ini kan udah dewasa, kemana sopan santun kamu, mau pergi itu pamit ke orangtua bukan main masuk mobil aja", ujar kak alan.


Rani dengan sigap memasukkan roti ke mulut kak alan, supaya kak alan diam, dan diikuti oleh pelototan aku, kiki dan mia.


Nia tidak menjawab dan hanya membuang muka ke arah jendela mobil di sampingnya.


Rani memberikan isyarat supaya kak alan diam dan meminta kak alan untuk fokus membawa mobilnya.


Setelah dua jam perjalanan, akhirnya sampailah ditujuan kita.


Kita langsung berlari ke arah pintu masuk dengan riang, sambil menunggu kak alan membayar tiket untuk kita.


Begitu kita masuk ke dalam, aku, mia, dan kiki, langsung menarik tangan nia untuk berlari dari satu wahana ke wahana lainnya.


Sementara kak alan dan rani, memilih untuk duduk di kafetaria sambil melihat kami bermain.


Meski matahari sangat terik, tapi tak menghentikan kami untuk tetap bermain di area waterpark.


Nia yang sepanjang perjalanan hanya diam dan melihat ke arah luar jendela, akhirnya ikut tertawa bersama kami.


Kita mencoba water slide dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.


Setelah hampir tiga jam mencoba setiap wahana, kita menuju kafetaria karena merasa lapar.


Dan bermain kembali setelah selesai makan siang.


Kak alan mengajak kita untuk pulang begitu hari mulai sore.


Meski masih belum puas bermain dengan water slide, kita menyetujui kak alan, karena takut kak alan akan marah lagi.


Kak alan mengajak kami untuk makan malam, sebelum mengantar kami kembali ke rumah nia.


***

__ADS_1


__ADS_2