Namaku Maira

Namaku Maira
- Sosok Baru -


__ADS_3

***


Semakin tua usia kehamilan rani, rani semakin sering menelvonku.


Usia kandungan rani sudah memasuki bulan kedelapan.


Hampir setiap hari rani menelvonku, untuk menangis, dan mengeluhkan soal kak alan yang kadang lupa jadwal cek kandungan, jarang di rumah, bahkan rani juga menelvonku dan menangis saat kak alan melupakan pesanan rani.


Aku hanya bisa menghibur rani, dengan memberitahu rani, kalau aku akan menasehati kak alan, supaya lebih perhatian pada rani.


Tapi setiap kali aku menelvon kak alan, untuk meminta kak alan bisa lebih ngertiin rani, dan lebih perhatian pada rani, kak alan marah balik padaku.


"Aku tuh cuma lupa beliin martabak ra, dia langsung nangis", ujar kak alan, saat aku menelvon kak alan, karena kak alan lupa membelikan pesanan rani.


"Yang rani mau itu, aku dua puluh empat jam di sampingnya, tapikan nggak bisa, aku harus kerja, kadang juga lembur, aku sampai hampir gila tau ngadepin sahabatmu yang lagi hamil itu", ujar kak alan dengan nada emosi.


"Ya cuti lah kak, kan bentar lagi juga lahiran", ujarku pada kak alan.


"Masih satu bulan lagi ra kata dokter, kalau aku cuti sekarang, nanti malah aku nggak bisa nemenin rani habis lahiran", jawab kak alan padaku dengan nada yang masih emosi.


"Kamu kasih tau rani dong, kasih pengertian", pinta kak alan padaku.


"Kok aku, nggak ah, nanti rani malah marah lagi sama aku, coba kak alan bilang aja sama ibu", ujarku pada kak alan.


"Ibu lagi, ibu tuh kerjaannya manjain rani ra, setiap rani nangis atau marah, aku pasti langsung di marahin sama ibu", ujar kak alan.


"Aku jadi kayak anak tiri tau nggak di rumah", ujar kak alan menambahi.


Aku hanya tertawa mendengar ucapan kak alan.


Kemudian aku mengiyakan kak alan untuk memberitahu rani supaya lebih pengertian dengan kak alan.


Tentu saja aku bohong, aku tidak berani mengatakannya pada rani, aku memilih untuk tidak memihak, dan hidup damai di tengah konflik mereka.


Aku sendiri tinggal di antara konflik yang ada di kantor.


Setelah kejadian yang menimpa tim pak firman lima bulan lalu, kondisi kantor menjadi cukup tegang.


Pak firman memilih untuk keluar dari kantor, setelah menandatangani surat pernyataan, kalau pak firman juga akan ikut bertanggung jawab.


Semua tim pak firman juga harus menandatangi surat yang sama.


Miss alice meminta kami tetap fokus bekerja, setiap mendengar teriakan dari kantor direktur.


Kondisi tersebut cukup membuat mentalku down.


Bukan hanya aku, saat kami makan siang diluar bersama teman kantor yang lain, mereka juga merasakan situasi kantor sudah tidak sehat lagi.


Diah memilih untuk tidak memperpanjang masa kerja, dia memilih untuk keluar dari kantor.


Dua minggu setelah diah keluar, ada training baru mulai masuk, namanya lexi.


Lexi merupakan anak dari direktur keuangan di kantorku.


Dia baru saja lulus kuliah, dan langsung diminta untuk bekerja di kantor kami, sebagai titipan direktur.


Aku kurang suka dengan sikap lexi, dia selalu melangkahi kebijakan miss alice.


Lexi juga protes kalau harus mengikuti masa percobaan selama tiga bulan seperti karyawan lain.

__ADS_1


Dia merasa kalau dia sudah siap untuk memegang account milik investor, karena dia lulusan dari kampus ternama, dan ibunya selaku direktur keuangan di kantor kami, sudah mengajari lexi cara kerja di kantor kami sebelumnya.


Miss alice kemudian meminta lexi untuk di pindahkan ke tim lain, karena lexi selalu merasa lebih baik, dan tidak mau mengikuti peraturan yang miss alice terapkan di timnya.


Keinginan miss alice ditolak, jadi kita hanya bisa menerima keberadaannya di ruangan kami, sambil mencoba memahami lexi.


Semenjak diah resign, aku menjadi semakin dekat dengan ningsih dan abi.


Kita juga sering pergi untuk makan siang bersama di rumah makan di belakang kantor.


"Tempat biasa ya nanti", ujar abi padaku dan ningsih, saat waktu makan siang hampir mendekat.


Begitu jam istirahat dimulai, kami langsung berjalan ke arah supermarket grand lucky, kemudian masuk ke perkampungan belakang, melalui pintu kecil yang ada di parkiran grand lucky.


Area tersebut selalu ramai saat makan siang, banyak pegawai kantor yang makan siang di area tersebut.


Makananya enak, tapi harganya tidak membuat kantong bolong, seperti kalau kita makan di cafeteria gedung.


Dengan harga dua puluh ribu, kita sudah kenyang, berikut es teh manis.


"Bi", sapa pria dengan kemeja biru pada abi, saat kita baru muncul dari pintu kecil yang ada di parkiran grand lucky.


"Oh, man", ujar abi.


Abi memperkenalkan pria yang bernama arman padaku dan ningsih.


Arman bekerja di equity tower sebagai Web developer.


Abi mengenalnya, karena dia satu kos dengan abi.


"Akhirnya ketemu juga sama yang namanya maira", ujar arman padaku.


"Emang ini bukan yang pertama ya, denger nama maira", tanyaku pada arman.


"Abi kadang cerita soal temen timnya", jawab arman sambil tersenyum.


"Udah terusin nanti, ayo makan dulu", pinta abi pada kami.


Kami lalu menuju rumah makan yang sudah menjadi langganan kami.


Setelah memilih menu yang aku suka, aku langsung makan, sambil mendengarkan abi dan ningsih ngobrol.


"Kamu kok diem aja ra", tanya arman padaku.


"Aku kayak burungnya nanti kalau udah selesai makan", jawabku pada arman.


Selesai makan siang, dan membayar, kami berjalan kembali ke kantor, tapi kami berhenti di grand lucky untuk membeli jus yang ada di depan pintu masuk grand lucky.


"Ra nanti mau makan malam bareng nggak", tanya arman padaku.


"Boleh", jawabku.


Setelah aku memberikan nomer handphoneku pada arman, arman kemudian pamit untuk kembali ke kantornya.


"Orangnya baik loh ra", ujar abi padaku.


"Terus", ujarku pada abi.


"Ya ngasih tau aja, dia kan naksir kamu udah lama", ujar abi lagi.

__ADS_1


"Masa sih, kok aku nggak tau ya", jawabku.


"Kamu kan emang nggak peka", ujar abi dengan menekankan kalimat terakhirnya.


Kita kembali melangkah menuju kantor dengan perut kenyang.


Malamnya, arman sudah menunggu di depan lobby untuk mengajak aku makan malam bersama.


Kita hanya makan siomay yang ada di dekat halte polda, karena menurutku siomay disitu sangat enak.


*


Selama seminggu, arman selalu menungguku pulang di depan lobby kantor, untuk makan malam denganku, dan mengantarku pulang ke kos.


Aku sering memposting kebersamaanku dengan arman di twitter.


Menghabiskan waktu dengan arman, membuatku lupa akan sosok dimas sepenuhnya.


Arman seperti menyihirku, dan membuatku berhenti memikirkan dimas.


Aku juga mulai merasa nyaman dengan perhatian dari arman.


Hari ini, arman ingin mengajakku untuk pergi ke Blok M, tapi aku tidak bisa, karena miss alice mengajak kami untuk makan malam bersama di kantor setelah evaluasi.


"Ra tolong besok kamu print laporan transaksi bulan ini ya", ujar miss alice padaku.


"Semua account", tanyaku pada miss alice.


"Iya", jawab miss alice.


miss alice kemudian meminta abi untuk mengganti kode password semua account, karena sudah dua bulan kita pakai kode yang sama.


Begitu meeting selesai, makanan yang kami pesan langsung datang.


Miss alice dan lexi langsung pamit pulang setelah makan, di susul ningsih, karena ningsih ada janji untuk karaoke dengan teman kosnya.


Tinggalah aku dan abi membereskan sisa makanan kami.


Aku kemudian mengganti heels kerjaku, dengan flat shoes yang memang aku pakai untuk berangkat dan pulang dari kantor.


Setelah merapikan meja, dan memakai jaket, kami kemudian berterimakasih pada ob kantor, karena sudah menunggu kami sampai selesai makan.


"Di jemput arman nggak", tanya abi padaku, saat kita menunggu lift.


"Enggak", jawabku singkat.


"Yaudah aku anter pulang, kamu tunggu di depan lobby ya", pinta abi padaku.


Begitu pintu lift terbuka, kita masuk, kemudian aku menekan tombol lantai dasar, dan tombol basement dua untuk abi.


Begitu tiba di lantai dasar, aku langsung keluar dari lift, dan jalan menuju depan pintu masuk lobby untuk menunggu abi.


"Maira", panggil suara dari arah kanan lobby.


Aku kemudian melihat ke sumber suara tersebut.


Nafasku terhenti, dan kakiku seperti terpaku di lantai, tanganku juga langsung terasa dingin.


Aku kembali bernafas setelah dua detik, tapi jantungku langsung berdebar kencang.

__ADS_1


***


__ADS_2