Namaku Maira

Namaku Maira
- Terlalu Cepat -


__ADS_3

***


Dimas sesuai janji, pukul sepuluh pagi sudah ada di rumah.


Ibu menawarkan dimas untuk sarapan terlebih dulu sebelum berangkat.


Aku hanya tersenyum saat melihat ibu menjadi akrab dengan dimas.


Dimas juga tidak canggung dengan ibu, dia terlihat santai saat menjawab setiap pertanyaan ibu.


"Jangan ke prambanan ya", pintaku pada dimas, saat kita sudah masuk ke dalam mobil.


"Terus mau kemana", tanya dimas lagi.


"Entahlah, panas banget soalnya", jawabku.


"Ke bukit garuda gimana", tanya dimas lagi.


"Panas dimas", jawabku manja.


Dimas lalu melajukan mobilnya, karena melihat ibu masih berdiri di pagar menunggu kita pergi.


"Biasanya kalau libur gini, emang sayang kemana", tanya dimas sambil nyetir.


"Nggak kemana-mana sih, paling kerumah uti", jawabku.


"Kan lusa ke rumah uti", ujar dimas.


"Selain itu kemana", tanya dimas lagi.


"Nggak kemana-mana, di rumah aja rebahan, rental film, baca komik atau nggak, bantuin ibu di rumah", jawabku dengan santai, sambil mengingat masa santaiku saat liburan.


Dimas lalu memutar mobilnya dan menuju ke arah sebaliknya.


Di mobil aku cerita pada dimas soal kiki, yang semalam cerita, kalau dia ribut dengan wawan karena sudah hampir seminggu nggak ketemu.


Sementara kiki masih berencana ada di kalimantan, selama sebulan kedepan.


"Sayang di rumah uti berapa lama", tanya dimas.


"Tiga minggu lebih dikit", jawabku.


"Kalau aku kangen gimana", tanya dimas lagi.


"Kumpulin rasa kangennya, biar kalau ketemu rasanya seneng", jawabku ceria.


"Dimas nggak pergi main sama temen", tanyaku ke dimas.


Dimas lalu mengatakan, kalau temannya tidak banyak, yang terdekat paling rumi teman kampusnya.


Sementara teman SMA, hanya bisa dimas temui, saat dia pulang ke solo, itupun jarang kumpul, karena kesibukan masing-masing.


"Loh ini arah ke kos dimas", tanyaku saat mobil dimas berbelok ke arah seturan.


"Biar sayang bisa rebahan di kos aku", jawab dimas sambil tersenyum nakal.


"Besok kan nggak ketemu, karena sayang harus packing, jadi kita puas-puasin pelukan hari ini", pinta dimas.


"Malamnya mau ke bosche nggak", tanyaku ke dimas sambil tersenyum.


"Enggak, aku nggak suka sayang, lagi pula aku kan nggak suka kalau kamu ke club lagi, nurut dong", pinta dimas yang mulai posesif, tapi aku suka.


"Ya udah kalau aku kesana, aku diem-diem aja", ujarku menggoda dimas.


"Bohong dong namanya", ujar dimas camberut.


Saat mobil dimas sudah terparkir di depan kos, aku langsung turun dan naik ke kamar dimas.

__ADS_1


Dimas mengikutiku dari belakang, lalu dia membukakan pintu kamarnya untukku.


"Aku nggak suka kalau sayang bohong", ujar dimas masih merajuk.


Aku hanya tersenyum dan tidak menjawabnya, lalu aku masuk kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakiku.


"Ini aku nurut", jawabku sambil mengangkat tanganku, saat melihat dimas yang masih berdiri di depan kamar mandi.


Dimas tetap cemberut, lalu aku mencium pipinya dan mencari kenyamanan di tempat tidur dimas.


Setelah dimas keluar dari kamar mandi, dia langsung memelukku.


"Emang kamu jadi sedih gitu kalau nggak ke bosche lagi", tanya dimas tanpa melihatku, dan hanya memelukku.


"Sedih sih enggak, cuma seru aja kesana, lagian aku kan kesana pasti sama kiki atau nia atau rani", ujarku, menjelaskan pada dimas.


Aku kemudian menanyakan alasan sebenarnya, kenapa dimas tidak suka aku pergi ke club malam.


Dia bilang kalau dia merasa khawatir, kalau aku akan tertarik dengan cowok lain.


Menurut dimas, terakhir aku ke bosche dengan dimas, dimas melihat aku sangat ramah dan dansa dengan laki-laki asing.


Aku hanya tersenyum, tapi dimas masih menekuk wajahnya di pelukanku.


Aku mengelus rambutnya dan bertanya sekali lagi.


Akhirnya dimas mulai bercerita, kalau sekitar dua tahun lalu dia baru putus dengan pacarnya dari SMA.


Namanya ratih, dan menurut dimas, dia menduakan dimas dengan teman mainnya, yang menurut ratih lebih bisa mengerti ratih, dan satu frekuensi dengan ratih.


Ada rasa dingin di hatiku ketika aku mendengar hal tersebut.


Tapi karena dimas terlihat sedih, aku jadi merasa ingin melindunginya, membuatnya bahagia, dan membantunya sembuh dari lukanya.


Aku tidak menyadari bahwa itu, merupakan kesalahan besar, karena itu bukan tugasku.


Menyembuhkan luka patah hati, hanya bisa dilakukan oleh orang yang merasakannya.


Aku memilih untuk mengabaikan pemikiran itu, aku hanya ingin fokus untuk mencintai dimas.


"Dimas emang ngapain aja sama ratih, kok sampai sekarang masih belum lupa", tanyaku dengan nada bercanda.


Dimas bangun dari pelukanku, lalu duduk, dan langsung menarikku kepelukannya.


"Sumpah sayang, aku dan dia hanya pacaran biasa", ujarnya berusaha meyakinkanku.


"Iya aku percaya kok", jawabku pada dimas, sambil menenangkan dimas yang langsung panik dengan pertanyaanku.


"Kamu yang pertama aku sentuh sayang, aku belum pernah cinta sedalam ini sama perempuan lain, selain sama kamu", ujar dimas yang masih memelukku.


"Kamu percayakan sama aku", ujar dimas berusaha meyakinkanku.


"Iya percaya, asal dimas terbuka dan jangan pernah bohong", jawabku, kemudian aku mengecup bibir dimas.


"Tapi dimas masih ada rasa nggak buat ratih", tanyaku lagi setalah melepas kecupanku untuk dimas.


Dimas dengan tegas mengatakan tidak, dan mengalihkan ke pembicaraan lain.


"Mau nonton film nggak", tanya dimas.


"Enggak ah mau gini aja", jawabku.


"Kalau aku jadi nakal kayak kemaren gimana", tanya dimas.


Aku terdiam, tidak menjawab dan memilih memandang ke arah langit-langit kamar dimas.


Dimas lalu membelai pipiku dengan jemarinya sambil menunggu jawabanku.

__ADS_1


"Itu bukan salah dimas sepenuhnya, karena aku juga ternyata berharap hal itu dari kamu, mungkin cintaku buat kamu juga semakin dalam", ujarku, mengalihkan tatapanku ke arah dimas.


"Perasaan dimas buat maira jauh lebih dalam dari yang maira tau", ujar dimas sambil menatapku.


Aku dan dimas bertatapan cukup lama, dimas dengan mata jernihnya berusaha mencari dirinya di jiwaku.


"Aku nggak akan maksa sayang kalau sayang keberatan", ujar dimas.


"Aku cuma mau nunjukkin kalau aku cinta sama kamu sepenuh hati", ujar dimas lagi sambil mengecup tanganku.


"Aku nggak bisa selalu ucapin hal-hal yang ada di hatiku untuk kamu", ujar dimas dengan menatapku.


"Aku sentuh kamu dengan cinta ra, aku cuma ingin ungkapin kalau kamu itu berarti banget buatku", ujar dimas, sambil meraih tanganku dan menempelkan di wajahnya.


Ucapan dimas membuat hatiku meluap, aku tidak punya pilihan lain, selain mencintainya lebih dalam.


"Aku juga", jawabku.


"Tapi aku takut dan bingung", ujarku sambil mendekatkan diri kepelukan dimas.


"Aku juga, tapi kali ini aku cuma ingin mengikuti apa yang hatiku mau", ujar dimas memelukku.


Dimas lalu meraih tanganku dan meletakkannya di celah antara kedua kakinya.


"Ini semua karena kamu sayang, aku mau kamu", ujar dimas.


Aku langsung menarik tanganku, saat aku merasakan bagian lain dari dimas yang sangat keras.


"Kita baru seminggu saling mengenal dimas", ujarku.


"Aku akan tunggu", ujar dimas meraih tanganku dan mengecupnya.


"Ini yang pertama untukku ra, aku akan serahkan untukmu", ujar dimas dengan mata menyala.


"Kita pelan-pelan aja ya", pintaku pada dimas.


"Tapi aku boleh sentuh ini kan", ujar dimas meletakkan tangannya di payudaraku dan meremasnya.


Aku hanya berteriak lirih, dimas menatapku dan mencari jawaban.


Aku hanya diam, dimas kemudian menciumku, dan semakin keras menyentuhku.


"Tolong dijawab sayang", pinta dimas di telingaku.


"Boleh dimas", jawabku parau.


Dimas membuka kaosnya, lalu kembali padaku, memelukku, kemudian memasukkan tanganya kedalam kaosku.


"Kalau gini gimana", tanya dimas.


Aku hanya menarik dimas dan menjawabnya dengan ciuman.


Dimas lalu melepaskan kaitan braku dan melepaskan bra dari dalam kaosku.


Tangannya dengan leluasa menyentuhku, membelainya, dan menjelajahi bagian sensitive tubuhku.


"Makasih sayang", ujar dimas, lalu mencium pipiku.


Dimas bangun untuk menyalakan musik, lalu kembali padaku.


Dimas tersenyum padaku dan memasukkan tanganya kembali kebalik kaosku, kemudian menjelajahi setiap sudutnya.


"Ini milikku", ujar dimas, dengan ketegasan setiap kata yang dia ucap, sambil menatapku.


Akupun mengangguk dan mencium dimas.


"Makasih sudah mau ijin dan mengerti kekhawatiranku", ujarku pada dimas.

__ADS_1


Dimas tersenyum dan terlihat sangat bahagia, lalu menciumku dengan sangat lembut.


***


__ADS_2