
***
Detik, menit, dan waktu berjalan melompat tanpa pernah sekalipun melihat kebelakang.
Waktu terus berjalan menuju masa depan, meninggalkan masa lalu yang penuh kenangan.
Libur sepuluh hariku, kututup dengan reuni bersama bowo dan dita di semarang.
Aku pergi ke semarang dengan bowo, satu hari sebelum aku berangkat kembali ke jakarta.
Aku dan bowo memutuskan untuk tidak menginap, kami berangkat pagi, dan malamnya aku diantar bowo kembali ke rumah.
Selesai wisuda, karena tidak kunjung ada panggilan kerja, bowo memilih membuka dan mengelola toko dengan modal yang orang tuanya berikan di klaten.
Dita, selain sudah bekerja di bank, dia juga sudah punya pacar, dan dia membawa serta pacarnya saat menemui kami di cafe, di simpang lima.
Rencananya dita dan pacarnya akan menikah di akhir tahun.
Tidak ada kata yang tepat untuk aku ucapkan, selain kata, kalau aku turut bahagia dengan rencana dita.
Dita satu langkah lebih maju untuk bisa menggapai keinginan yang dulu ia sampaikan.
Pernikahan tak lama setelah wisuda, memang banyak dilakukan oleh para mahasiswa.
Aku tidak kaget dengan hal itu, karena setiap kali aku membuka facebook, sudah banyak teman kampus yang aku kenal, mengirimkan undangan pernikahan mereka.
Terbersit keinginan untuk aku menikah juga, tapi orang yang ingin kunikahi, sudah memilih perempuan lain.
Mungkin suatu saat nanti, hari itu juga akan datang padaku, tentu saja dengan orang yang aku cintai.
Mengunjungi uti di kulonprogo juga menjadi agenda yang kujadwalkan disela-sela libur sepuluh hariku.
Wina sudah lebih dewasa, bintang juga sudah jelas mengucapkan setiap kata.
Tante wulan mengatakan padaku, kalau aku sudah mulai terlihat seperti orang jakarta.
Aku hanya menjawab, fisik boleh kelihatan seperti anak jakarta, tapi hatiku tetap selalu tertinggal di jogja.
Meski hanya tiga hari di rumah uti, tapi aku bisa mengobati sedikit luka yang tertancap di hatiku.
Sisanya, aku lebih memilih untuk di rumah bersama keluargaku.
Mia juga sudah mulai bekerja di hotel di pusat kota jogja.
Baik aku dan yang lainnya, masih belum berani menanyakan orang yang mungkin bisa menggantikan seto di hati mia.
Kami tahu, seto selalu akan ada di hati mia, tapi kami juga berharap, bahwa mia bisa bahagia dengan orang yang bisa mencintainya, seperti seto mencintai mia.
Rasanya tidak adil jika mia harus terus berpegang pada kenangan akan seto.
Sepuluh hari berakhir, aku bahagia tanpa harus menangisi dimas.
Aku juga sudah kembali ke rutinitasku sebagai pekerja ibukota.
Begitu kita masuk ke kantor, kita langsung mendapat pemberitahuan, kalau kantor akan mengadakan outing karyawan di akhir pekan.
Outing rencananya akan di adakan di bogor selama dua hari.
List kegiatannya lebih banyak games, dan tentu saja pembekalan.
__ADS_1
Miss alice menyampaikan, bahwa outing yang di selenggarakan, bertujuan untuk membuat karyawan lebih bersemangat dalam bekerja.
Aku merasa sangat bersemangat, dan senang mendengar kabar itu.
Baru saja aku bersenang-senang di liburanku, kini ada kesengan baru yang akan menungguku di akhir minggu.
*
Total ada tiga puluh karyawan yang akan ikut outing ke bogor.
Sebenernya kegiatan outing wajib untuk semua karyawan, tapi ada kunjungan dari pimpinan perusahaan di singapore, jadi supervisor setiap tim, termasuk miss alice, harus melewatkan kegiatan outing.
Kami semua diminta untuk sampai di depan gedung kantor pukul enam pagi.
Outing ini seperti karyawisata yang aku ikuti saat aku masih SMA.
Bedanya, kalau karyawisata, kita pergi untuk belajar, kalau outing kita pergi untuk bermain.
Bis yang membawa kami ke bogor, sampai di bogor sekitar pukul delapan pagi.
Panitia outing langsung membagikan kamar, untuk kami menaruh barang-barang milik kami.
Setiap satu kamar hanya boleh diisi oleh dua karyawan.
Diah menjadi rebutan aku dan ningsih, karena kami berdua ingin satu kamar dengan diah.
Setelah suit selama tiga kali, aku yang menang, untuk satu kamar dengan diah.
Mungkin karena outing ini tanpa supervisor, jadi kita lebih santai untuk mengekspresikan diri.
Panitia outing sudah disediakan oleh villa yang kita tinggali.
Setelah kita istirahat dan memilih kamar, mereka meminta kami untuk sarapan terlebih dahulu, sebelum senam pagi di halaman villa.
Jadwal permainan dimulai sekitar pukul sepuluh pagi.
Permainan yang kami ikuti merupakan lomba antar tim.
Hadiah juga sudah menunggu untuk tim yang menang.
Total hadiah setiap game yang dimenangkan, senilai satu juta.
Satu kelompok terdiri dari tiga orang, dan itu undian, kami tidak boleh memilih tim kami sendiri.
Aku satu kelompok dengan abi dan dito dari tim lain.
Dito terlihat kecewa begitu melihat aku masuk ke dalam kelompoknya.
"Yah maira, alamat nggak bawa pulang hadiah deh pasti", ujar dito begitu aku sudah berdiri di sampingnya.
"Jangan pesimis gitu dong, kita pasti juara", ujarku memberi semangat pada dito.
Permainan pertama adalah permainan adu kecepatan, sesuai omongan dito, kita kalah.
Begitu permainan pertama usai, kita diminta break untuk makan siang.
Aku, abi dan dito memilih untuk makan siang di balai-balai dekat dengan villa.
Ningsih dan diah kemudian menyusul kami, untuk makan siang di tempat yang sama dengan kami.
__ADS_1
"Kalian tau nggak kalau bos dari singapore datang karena pak firman salah bikin keputusan, dan bikin investor rugi dua milyar", ujar dito mulai bergosip.
Pak firman adalah salah satu supervisor di kantor kami.
Aku sendiri belum pernah berbincang dengannya secara langsung, hanya pernah menyapa dia, saat kita berpapasan di kantor.
"Masa sih to, jangan gosip deh", ujar diah menanggapi omongan dito.
"Ya ampun, itu udah jadi rahasia umum lagi, semua orang kantor udah tau, rame banget di group", ujar dito, menanggapi ketidakpercayaan diah.
"Group yang mana ya", tanyaku pada dito sambil mengeluarkan handphone untuk mencari imformasi.
"Groupnya pak firman, sama groupku juga", jawab dito.
"Oh pantes kita nggak tau ya", ujarku pada diah.
"Iya group kita mah sepi, isinya cuma abi doang yang pamer jalan-jalan", ujar diah padaku.
Kita kemudian melanjutkan makan, dan berhenti untuk membicarakan pak firman dan timnya.
Ada tiga lagi permainan yang harus kita ikuti, dan akan selesai di penghujung hari.
Permainan keseimbangan, kekuatan dan permainan pikiran.
Kita hanya menang juara ketiga di permainan keseimbangan.
Meski juara ketiga, tapi hadiahnya lumayan, lima ratus ribu.
Dito mengajak kita menghabiskan uang itu untuk karaoke di minggu berikutnya.
Meski aku keberatan, aku tidak punya pilihan, aku kalah voting, karena abi juga menginginkan untuk pergi karaoke.
Dito juga mengatakan, dia akan mentraktir aku dan abi nonton dan makan sebelum karaoke.
Tawaran dito sangat sulit untuk aku tolak, karena dia mengajak aku dan abi makan di sunda kelapa marina, yang merupakan salah satu restaurant favoritku di jakarta.
Hari di tutup dengan acara barbeque, dan api unggun.
Talent-talent di kantor langsung unjuk gigi, dan memamerkan bakat mereka.
Aku baru sadar kalau ningsih punya suara yang sangat bagus.
Ningsih memang sering pergi kekaraoke, meski dia selalu menawariku untuk ikut, tapi aku selalu menolak.
Aku tahu betul suaraku seperti apa saat karaoke, jadi aku memilih untuk tidak mempermalukan diriku sendiri.
Setelah selesai ajang unjuk bakat, kami istirahat karena lelah tertawa dan bermain sepanjang hari.
*
Esoknya pihak panitia mengajak kita ke peternakan sapi perah yang letaknya tidak jauh dari villa.
Mereka memperbolehkan kami untuk meminum susu sepuas kami selama di area peternakan.
Setelah dari peternakan, kita punya acara bebas sampai makan siang.
Aku dan abi memilih untuk duduk di balai-balai sambil melihat pemandangan di sekitar villa.
Kami kemudian pulang kembali ke jakarta setelah makan siang.
__ADS_1
***