Namaku Maira

Namaku Maira
- Pertengkaran Pertama -


__ADS_3

***


Tiga minggu setelah perkuliahan dimulai, aku memutuskan untuk ikut organisasi kampus.


Karena menurutku, itu bisa menambah pengalamanku dalam berorganisasi, yang nantinya akan memudahkanku untuk bersosialisasi di lingkungan pekerjaan.


Aku memilih organisasi theater, kami latihan setiap hari jumat dari jam enam sore sampai jam delapan malam.


Aku memilih untuk belajar menjadi kru pementasan, dibanding menjadi tokoh pemeran.


Kegiatanku sendiri selama semester tiga sangat padat.


Hari senin sampai kamis, jadwal kuliah dari pagi sampai sore, aku selalu langsung pulang setelahnya.


Hari jumat, setelah kuliah pagi, aku memberikan waktu luangku untuk dimas, tapi ternyata jumat siang dimas kuliah, dan dilanjut bimbingan skripsi


Dimas baru pulang ke kos sekitar jam lima sore, jadi kadang aku menunggu dimas sepanjang siang, dan berangkat ke latihan teater dari kos dimas.


Sabtunya aku berkumpul dengan ayu, dita dan bowo setelah kuliah pagi. Biasanya kita kumpul untuk mengerjakan tugas, atau hanya sekedar bepergian bersama.


Minggunya aku santai di rumah, tapi terkadang sorenya aku main ke rumah kiki atau nia.


Bulan pertama di semester tiga, dimas memahami kegiatanku dan berusaha mengalah.


Kami seringnya hanya berciuman saat bertemu.


Aku makan siang dengan dimas setiap hari kamis, lalu menemui dimas di hari jumat setelah kuliah pagi.


Hari jumat memang hanya ada satu mata kuliahku, jadi aku sangat luang di hari jumat.


Sayangnya dimas sering pulang sangat sore di hari jumat, jadi aku lebih memilih untuk pulang kerumah setelah kuliah selesai.


Masuk bulan ketiga, dimas mulai komplain secara halus, karena aku jarang menemuinya.


Puncaknya di hari jumat saat dimas pulang lebih awal, dan aku tidak ada di kamar kosnya.


Dimas marah, dan mulai jarang membalas pesanku, atau menerima telvonku.


Aku memilih untuk membiarkan dimas marah, dan tidak begitu memperhatikan.


Sampai akhirnya dimas datang tanpa mengabari di hari minggu pagi, dan meminta ijin pada ibu untuk mengajakku ke bukit bintang.


Sepanjang jalan dimas hanya terdiam, dia tidak menjawab pertanyaanku.


Aku berusaha untuk ceria, dan bercerita tentang hal-hal lucu pada dimas, tapi dimas sepenuhnya mengabaikanku, dia malah menambah kecepatan motornya.


Aku meminta dimas untuk mengurangi kecepatan motornya, tapi diabaikan.


Begitu sampai di bukit bintang, dimas langsung berjalan setelah memarkirkan motornya.


Dia meninggalkanku yang masih di duduk atas motor, aku langsung melepaskan helmku dan mengejar dimas.


"Dimas tunggu", ujarku sambil meraih lengan dimas.


"Dimas kamu kenapa, marah sama aku", tanyaku pada dimas.

__ADS_1


Dimas tidak menjawab dan lebih memilih untuk tetap berjalan meninggalkanku.


"Dimas ngomong dong", pintaku mulai berteriak, sambil mengikutinya.


Dimas kemudian berhenti dan menatapku, aku langsung tercekat saat melihat mata dimas yang di penuhi kemarahan.


"Ra, kamu ini masih anggep aku ada atau nggak sih", tanya dimas berusaha berbicara dengan nada serendah mungkin, dan dengan penuh tekanan.


"Maksudnya gimana sih", tanyaku bingung.


"Dimas kalau aku ada salah, harusnya aku dikasih tau, jangan tiba-tiba marah gini", ujarku berusaha terdengar selunak mungkin.


Dimas tidak menjawab dan hanya memalingkan mukanya.


Aku memilih diam, dan menunggu dimas untuk berkomunikasi denganku secara baik-baik.


"Kalau kamu udah siap ngomong, aku ada disini untuk dengerin", ujarku sedikit ketus pada dimas, karena dimas tetap diam.


Aku memutuskan untuk duduk di bawah pohon, sambil menunggu dimas meredakan emosinya.


Sepuluh menit setelah aku duduk di bawah pohon yang jaraknya seratus meter dari lokasi dimas berdiri, dimas akhirnya menghampiriku dan duduk di sampingku.


"Kamu sadar nggak sih, kalau kita udah seminggu ini nggak ada interaksi, bahkan aku terakhir lihat kamu itu dua minggu yang lalu", ujar dimas.


"Sadar kok, tapikan itu bukan sepenuhnya salah aku, kamu yang nggak pernah balas pesanku", jawabku berusaha untuk tidak emosi.


"Soal kamu yang terakhir melihatku dua minggu lalu, kamu kan tau aku di kos kamu dari jam berapa, jam satu siang, kamu juga tau aku ada kegiatan jam enam sore, tapi kamu selalu pulang lewat dari jam enam sore dimas", ujarku membela diri.


"Kamu sendiri juga tau jadwal kuliahku, dan kapan aku ada waktu luang", ujarku masih dengan nada sebal.


Dimas hanya terdiam mendengarku berbicara.


"Jadi sekarang mau kamu gimana", tanyaku pada dimas mencoba untuk tidak emosi.


"Aku mau kamu berhenti main teater", jawab dimas ketus.


"Sebelum aku daftar, aku kan udah tanya kamu dulu, dan kamu bilang kalau aku boleh ikut kegiatan itu", ujarku mulai emosi.


"Kampus kita itu deket ra, tapi setiap aku ajak ketemu, pasti alasan kamu ada kelas, atau mau ngerjain tugas", ujar dimas protes.


"Memang itu kenyataanya dimas", jawabku menekankan setiap kalimat yang ku ucap.


"Kamu sendiri bilangnya hari jumat jam lima sore udah di kos, tapi kenyataannya, aku selalu yang jadi penghuni tunggal di kamar kos kamu setiap hari jumat siang", ujarku dengan nada kesal.


"Aku tuh kangen sama kamu ra, aku pengen kita bisa pelukan lama kayak sebelumnya, tapi ini udah dua bulan, aku cuma bisa ketemu kamu kurang dari tiga puluh menit setiap minggunya", ujar dimas lirih.


"Jadi aku harus gimana, aku nggak bisa mengubah jadwalku untuk tiga bulan kedepan", ujarku pada dimas.


"Emang kamu nggak bisa hari sabtu seharian sama aku", tanya dimas mulai terdengar normal.


"Seharian mungkin nggak bisa, tapi aku usahain untuk sama kamu paling nggak dari sore sampai malam", ujarku pada dimas.


"Kamu sendiri hari jumat kemana kok selalu pulang sore", tanyaku pada dimas.


"Aku bimbingan, kadang antri, jadi kesorean", ujar dimas menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Terus kenapa hari ini tiba-tiba marah", tanyaku pada dimas.


"Aku kesel karena kamu sibuk di twitter, tapi nggak sadar kalau aku udah cuekin kamu", jawab dimas.


"Kamu juga semalam bukannya ikut kumpul di GSP, malah main sama temen kampus kamu", ujar dimas dengan nada sebal.


Aku hanya tertawa mendengar ucapan dimas, dan raut wajahnya yang terlihat lucu saat komplain.


"Terus dimas setiap hari minggu kemana, kok nggak pernah minta aku untuk main sama dimas", tanyaku.


"Aku khawatir kamu kecapean, karena kegiatan kamu padat, jadi aku di kos aja main game", jawab dimas mulai reda dari emosinya.


"Udah lega sekarang karena udah marah-marah", tanyaku ke dimas.


Dimas hanya mengangguk dan tersenyum manis.


"Yaudah pulang yuk di sini panas", pintaku pada dimas.


"Aku belum puas ketemu kamu", jawab dimas merajuk.


"Kita lanjut ngobrol di kos dimas ya", ujarku pada dimas, dimas pun langsung tersenyum.


"Peluk dulu dong raranya, katanya kangen", ujarku lembut.


Dimas memelukku lalu membantuku berdiri.


Dimas mulai santai membawa motornya saat jalan pulang ke kosnya.


kita juga mampir untuk makan siang di jalan imogiri.


Dimas sudah tidak emosi dan mulai kembali bersikap manis padaku.


Ketika kita sampai di kos, aku melihat rumi dan adit yang bersiap untuk pergi.


Mereka langsung menyapaku, saat melihatku masuk bersama dimas.


"Ra apa kabar", tanya adit.


"Baik, mau kemana", tanyaku ke mereka.


"Biasa, mau main ke rumah temen", ujar rumi.


"Masih", bisik rumi ke dimas.


"Masih gimana", tanyaku ke rumi, karena mendengar ucapan rumi, meski rumi sudah berbisik.


Rumi tak menjawab pertanyaanku, dan langsung pamit untuk pergi.


Dia hanya bilang kalau dia sudah telat.


"Masih gimana maksud rumi", tanyaku pada dimas.


"Soal kamu yang masih mau sama aku, mereka jarang liat kamu dateng lagi, jadi mereka kira kamu udah bosen sama aku", jawab dimas sambil meraih tanganku untuk mengajakku naik ke lantai dua.


***

__ADS_1


__ADS_2