Namaku Maira

Namaku Maira
- Ketemu Mami Mita -


__ADS_3

***


Kita sampai di solo sekitar pukul sepuluh pagi.


Rumah dimas letaknya persis di belakang solo paragon, rumahnya juga terletak di pinggir jalan raya besar.


Rumah dimas, seperti rumah pada umumnya, hanya saja pagar rumahnya sangat tinggi.


Saat memasuki area parkiran, aku bisa langsung melihat taman kecil di depan rumah yang tertata sangat rapi.


Rumah dimas, merupakan bangunan dua lantai, dan memiliki parkiran mobil yang luas.


Dimas langsung mengajakku untuk masuk ke dalam rumah.


Begitu kita masuk ke ruang tamu, sosok ibu parah baya langsung memeluk dimas, yang ternyata adalah ibu dimas, namanya sasmita, atau biasa di panggil mami mita.


Usiannya memasuki lima puluh tahun, tapi wajahnya masih sangat cantik dan terlihat ningrat.


"Ini yang namanya maira", ujarnya begitu melihatku.


"Iya tante", jawabku lalu mencium tangan ibu dimas.


Mencium tangan adalah salah satu etika kesopanan kepada orang tua, dalam budaya jawa.


"Panggil mami aja, jangan tante, kalau kamu spesial buat dimas, kamu juga spesial buat mami", ujarnya ramah.


Kemudian aku menyerahkan buah tangan yang ibu titipan padaku, aku juga menyampaikan salam ibu untuk mami mita.


"Aduh terimakasih sekali", jawabnya ramah, saat menerima buah tangan dariku.


"Dina, ini loh pacar barunya dimas", panggil mami mita pada sosok yang baru masuk ke ruang tamu.


Dina adalah kakak perempuan dimas, usiannya terpaut sepuluh tahun dengan dimas.


Dimas memang menceritakan sedikit tentang keluarganya.


Dina, kakak dimas tinggal agak jauh dari rumah orang tua dimas, tapi karena dia membantu mami mita untuk mengelola toko, jadi setiap pukul sembilan pagi, dia sudah ada di rumah yang dimas tinggali untuk menjemput mami mita.


"Hallo", ujarnya ramah, kemudian dia mencium kedua pipiku.


"Ayo duduk maira", ujar mami mita mempersilahkan aku untuk duduk di sofa ruang tamunya.


Aku hanya bisa mengobrol dengan mami mita dan mbak dina sebentar, karena mereka sudah harus pergi ke toko yang di kelola oleh keluarga dimas.


"Aduh maaf banget ya maira, mami ini sibuk di toko, jadi di tinggal nggak papa ya", ujar mami lembut.


Mami mengatakan kalau sebenernya dia sudah harus jalan dari satu jam yang lalu, tapi dia menunggu dimas datang, karena penasaran denganku.


"Papa masih diluar kota mi", tanya dimas.


"Masih, besok siang baru pulang", jawab mami mita, sambil merapikan diri di kaca yang ada di ruang tamu.


"Maira mami tinggal ya, nanti nginep kan di rumah", tanya mami mita padaku.


"Belum tau mi, soalnya dimas mau ajak maira jalan", jawab dimas.


Aku melihat ke arah dimas dengan tatapan bingung, tapi dimas hanya memintaku untuk mendukungnya dengan mengedipkan matanya padaku, aku akhirnya tersenyum pada dimas.


"Ya udah nanti kalau nginep kabarin ya, dimas jangan lupa ajak maira main ke toko", ujar mami, mengambil tas, mencium pipi dimas lalu memelukku dan mencium pipiku, kemudian pergi dengan mbak dina.


Aku dan dimas mengantarkan mereka sampai depan, lalu menutup pintu pagar rumah.


"Sibuk banget ya orang tua dimas", tanyaku.


"Iya, aku juga seringnya dirumah sendirian", jawab dimas sambil menuntunku masuk.

__ADS_1


"Aku ambilin minum ya", ujar dimas, dan dia langsung menuju dapur.


Dimas kembali membawa dua botol minuman, dan membukakan tutupnya untukku.


"Emang kita mau kemana", tanyaku pada dimas.


"Rahasia", jawab dimas.


"Kejutan", ujarnya lagi.


Aku hanya menatap dimas dan tersenyum.


"Mau ke atas nggak, liat kamarku", ajak dimas.


"Mau dong", jawabku senang.


Lantai dua hanya ada dua kamar, satu kamar mandi, dan ruang santai.


Kamar dimas letaknya di sebelah tangga.


Ruang kamar dimas lumayan luas, ada tempat tidur ukuran sedang di tengah ruangan, meja belajar di samping tempat tidur, berdampingan dengan jendela, dan lemari dengan ukuran besar di samping pintu masuk.


Ada sofa yang ukurannya cukup untuk duduk dua orang, letaknya di sebelah kanan tempat tidur dimas, dan mengarah lurus ke meja televisi.


Ada jam dinding berbentuk gitar yang menggantung di dinding di atas televisi.


Ada juga poster Albert Einstein di tembok di atas tempat tidur dimas.


Aku memilih untuk duduk di sofa, lalu dimas menyalakan televisi untukku.


"Dimas kamarnya rapi dan bersih banget", ujarku.


"Yang bersihin siapa", tanyaku pada dimas.


Aku melihat ada sebuah buku kecil seperti diary yang mencuri perhatianku.


Letaknya persis di dalam lemari dimas, di depan tumpukan kaos dimas.


Aku bangun dari sofa, dan mengambil buku tersebut, ternyata benar, buku note kecil seperti diary.


Dimas berusaha mengambilnya dariku, tapi aku lebih gesit.


Aku lari ke sebrang tempat tidur, dan dimas langsung mengejarku dan merebutnya dariku.


Dimas berhasil mengambilnya dari tanganku lalu melemparkannya ke atas lemari pakaian dimas.


"Kenapa aku nggak boleh baca", ujarku pada dimas yang ada didepanku.


Dimas hanya terdiam, kemudian berjalan ke arah lemarinya, mengganti kaosnya, dan tiduran di atas tempat tidurnya.


"Aku jadi makin penasaran", gumamku pada diriku sendiri.


Kemudian aku melihat ke sekaliling kamar untuk mencari pijakan.


Hanya ada kursi belajar dimas yang bisa kujadikan pijakan.


Sebenernya sih berbahaya karena ada rodanya, tapi aku tetap mendorongnya ke arah lemari.


Aku kemudian naik ke kursi belajar dimas, dan tanganku berusaha meraih buku kecil milik dimas, tapi masih terlalu jauh.


Aku melihat sekeliling lagi, dan mataku terpaku pada penggaris panjang yang ada di rak meja belajar dimas.


Dimas hanya melihatku, dan mengawasi tingkahku.


Aku kemudian berjalan kembali ke arah meja belajar dimas, dan mengambil penggaris yang aku lihat.

__ADS_1


Aku tersenyum licik ke arah dimas sambil memainkan penggaris yang ada di tanganku.


Aku berusaha kembali menjangkau buku milik dimas, dan kegirangan saat penggaris tersebut bisa membantuku menjangkaunya.


Kesenanganku berakhir, saat aku merasakan tangan dimas di pinggangku, membopongku, lalu menaruhku di tempat tidur, kemudian dimas mengunciku dengan tubuhnya.


"Bahaya", ujar dimas sambil mencium pipiku.


"Tapi aku penasaran", jawabku berusaha melepaskan diri.


"Lagian ada apa sih di buku itu", tanyaku pada dimas.


Lagi-lagi dimas tidak menjawab, dan hanya menciumku.


"Dimas aku haus", ujarku.


Dimas lalu berdiri, membawa penggaris, serta mendorong kursi keluar dari kamar, kemudian mengunci pintu dari luar.


Aku kecewa saat dimas melakukan hal itu, seolah-olah dimas membaca apa yang yang ada di pikiranku, dan apa yang akan aku lakukan.


Tak lama dimas kembali dengan membawa minuman ditangannya.


"Boleh marah nggak", tanyaku pada dimas, setelah dimas memberikan botol minumannya padaku.


"Alasan marahnya apa", jawab dimas sambil menopang dagu ditangannya.


"Karena nggak boleh baca buku milik kamu", ujarku, sambil menunjuk ke atas lemari dimas.


"Itukan barang aku, dan terserah aku mau tunjukkin atau nggak", jawab dimas santai dan tersenyum.


"Tapikan aku pacar dimas, aku berhak untuk tau", ujarku mulai ngambek.


Aku menaruh minuman di meja belajar dimas, lalu menarik selimut, dan bersembunyi dibaliknya.


"Sayang nggak percaya sama aku", tanya dimas menghampiriku, dan memelukku.


Aku hanya terdiam tidak menjawab dimas.


Dimas lalu membuka selimut yang menutupi wajahku, dan dimas menatapku.


"Curiga", tanyanya.


"Nggak percaya", ujarnya menambahi saat aku tidak kunjung menjawabnya.


Dimas langsung menciumku, dan aku tak kuasa menolak bibir lembut dimas.


"Kamu nggak percaya sama aku", tanya dimas lagi setelah melepas ciumannya.


"Percaya, cuma penasaran aja", jawabku menggerutu.


Dimas lalu menciumku lagi, dimas menciumku seperti ingin memiliki seluruh bibirku, kemudian dia menciumi leherku, dan mencium bibirku berulang kali sambil memainkan lidahnya.


Aku kadang bingung, darimana dia belajar mencium sebaik ini.


"Aku ini milik kamu maira", ujar dimas sambil menatapku.


"Iya tau", jawabku sambil memegang pipi dimas.


Dimas lalu memelukku, dan mengatakan kalau satu jam lagi kita harus berangkat.


Aku mengiyakannya, tapi aku masih sangat penasaran dengan buku kecil milik dimas.


Reaksi yang dimas berikan, sangat mengganggu pikiranku.


***

__ADS_1


__ADS_2