
***
Birunya langit terlihat membentang tanpa titik akhir.
Mataku yang dengan sayup perlahan terbuka, bisa langsung melihat bentangan langit yang membuat bumi seolah-olah di bungkus oleh luasnya atap berwarna biru tersebut.
Dedaunan pohon yang bisa kulihat dari balik jendela, juga terlihat seperti sedang menari bersama tiupan angin.
Aku benar, waktu berjalan dan terus berjalan tanpa punya angan untuk sekedar melambat, atau berhenti sejenak.
Pernikahan kak alan seperti baru usai kemaren, tapi ini udah dua bulan berlalu.
Seminggu yang lalu aku juga baru selesai merayakan upacara wisudaku.
Upacara wisuda, yang juga menjadi tanda sebagai penutup rentetan pesta yang tiada akhir selama hampir dua bulan ini.
Semua sahabatku juga sudah merayakan wisuda.
Begitu pesta wisudaku usai, di susul dengan kepergian nia, yang mulai menetap di jakarta, dan kiki yang pulang ke kalimantan tiga hari yang lalu.
Perayaan wisudaku, menjadi penutup pesta, sekaligus acara perpisahan.
Malam setelah upacara wisudaku di pagi hari, aku mengundang seluruh teman-teman terdekatku untuk makan malam bersama.
Makan malam sebagai rasa syukur, karena akhirnya aku bisa mulai masuk ke dunia dewasa yang aku sendiri masih baru.
Juga malam dimana ayu, dita dan bowo pamit untuk kembali ke kampung halamannya.
Malam dimana kita sadar, entah kapan kita bisa bertemu untuk berbagi tawa kembali.
Aku masih bisa menemui dita di semarang, atau bertemu bowo di klaten, tapi untuk ayu, mungkin malam pestaku adalah malam terakhir aku bisa merangkul pundak ayu.
Kiki dan nia juga sudah terbang ke kota tujuan mereka, tinggalah rani, dan mia di jogja yang masih menemani aku.
Rani dan kak alan memilih untuk tinggal bersama keluargaku, jadi rani juga sudah mulai sibuk dengan aktifitasnya sebagai istri kak alan.
Setiap kali aku bangun, aku sudah melihat ibu dan rani yang sibuk di dapur.
Dimas tidak bisa hadir di wisudaku karena ada rapat penting yang tidak bisa dia tinggalkan.
Dimas kemudian meminta ijin pada ayah dan ibu untuk mengajakku pergi selama tiga hari.
Hari ini adalah hari keduaku bersama dimas.
Kita tidak pergi jauh, kita hanya bersantai di villa.
Dimas juga masih sambil bekerja, karena dia ada deadline pekerjaan yang sudah harus selesai minggu depan.
"Udah bangun", tanya dimas, yang baru saja masuk ke dalam kamar, dan melihatku masih di tempat tidur, sambil melihat ke arah jendela.
"Belum", jawabku, lalu menarik selimutku kembali.
Dimas kemudian mendekat, dan memelukku yang masih terbungkus selimut.
"Mau tidur sampai jam berapa sih, ini udah jam delapan loh", ujar dimas padaku.
"Jam sembilan masih satu jam lagi", ujarku pada dimas.
"Bangun, ayo sarapan, nanti kalau kamu jadi istri aku, jam enam pagi harus udah bangun loh", ujar dimas.
"Kan masih nanti, nanti juga pasti aku belajar bangun pagi kok", ujarku santai pada dimas.
"Aku juga bangun jam enam pagi, setiap ada kelas pagi dulu", ujarku lagi.
"Waktu di rumah dimas sebulan, aku juga bangun jam enam pagi, setiap hari", ujarku menambahi.
"Iya deh percaya", jawab dimas.
"Tapikan sekarang aku masih masa-masa liburan, jadi dimas harus ngerti dong kalau aku juga pingin bangun siang", jawabku protes pada dimas.
Dimas hanya menarik nafas dan menghembuskannya, kemudian dia memelukku lebih erat.
"Ra kamu harus inget ya, kalau aku nggak cuma sayang sama kamu, tapi aku juga udah cinta banget sama kamu", ujar dimas.
"Iya, dimas juga, dimas tau kan kalau dimas punya tempat yang spesial di hatiku, dan isinya cuma dimas, nggak ada yang lain", ujarku sambil tersenyum menggoda dimas.
"Udahlah, nanti malah jadi ribut lagi", ujar dimas.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum dan terkikik.
"Jangan lama-lama ya perginya", ujar dimas padaku.
"Iya, kan cuma mau cari pengalaman aja", jawabku ke dimas.
Dimas kemudian memelukku lagi, dan mulai menciumiku.
Aku berusaha memberikan memori yang manis untuk dimas selama tiga hari ini.
Aku menyalurkan seluruh cinta yang kumiliki untuk dimas, dan disambut dengan sangat baik oleh dimas.
Meski hanya dua malam bersama dimas, tapi aku ingin, ini menjadi kesan yang manis untukku dan dimas.
*
"Ra, bajunya satu koper aja", tanya ibu saat mengeluarkan barang-barang yang akan kubawa dari dalam kamarku.
"Iya bu", jawabku.
"Kamu nggak mau berubah pikiran", tanya ibu lagi.
Aku hanya memeluk ibu sambil tersenyum.
"Di rumah ada rani sama kak alan bu, siapa tau sebentar lagi ibu punya cucu", jawabku sambil menggoda ibu.
"Ran ibu mau cucu", bisikku pada rani, yang ada di sampingku.
"Aku belum siap", jawab rani membalas bisikkanku.
Kita kemudian tertawa bersama, sambil aku masih tetap memeluk ibu.
Lalu aku memeluk kak alan yang hanya diam berdiri di depan kamarku.
Sejak pagi kak alan hanya memilih untuk melihatku sibuk berkemas, tanpa ada niatan ingin membantu.
"Kamu nggak takut nanti ada yang culik kamu disana", tanya kak alan padaku.
"Enggak", jawabku santai.
"Dimas, nggak mau kamu nikahin aja nih anak biar nggak pergi", tanya kak alan pada dimas yang memilih untuk duduk di ruang makan, sambil melihat kesibukan ibu dan rani yang hilir mudik dari satu ruangan ke ruangan lain.
"Tenang aja, aku pasti survive kok", ujarku pada kak alan dan dimas.
"Bu, ibu nggak takut rara pulangnya bawa bayi", tanya kak alan pada ibu yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Alan nih, harusnya kamu doain adik kamu baik-baik, bukan malah ngomong yang jelek terus", ujar ibu pada kak alan.
"Iya nih kak alan, di dukung dong adiknya", ujarku pada kak alan.
Ayah, ibu, rani, kak alan, dan dimas akan mengantarku sampai ke stasiun kereta tugu.
Melihat semua barang yang akan aku bawa sudah ada di ruang tamu, aku meminta ijin pada ibu pergi ke rumah nenek untuk pamit.
Setelah ibu mengiyakan, aku kemudian berjalan keluar.
Rumah nenek hanya di ujung jalan, tapi berjalan kembali ke arah rumah nenek di detik-detik terakhir, membuat kenangan yang aku miliki di perumahan ini muncul tanpa komando.
Kak alan yang biasa mencuci mobil di hari minggu, pak ahmad yang selalu menyapa ayah setiap pagi, sebelum ayah berangkat kerja.
Bu tiwi dan anak sulungnya, yang tidak pernah absen bergosip di teras.
Dan rumah kiki, yang terlihat sepi tanpa suara tawa kami dari dalam rumah.
Tawa rani saat mia menceritakan hal yang lucu, kegiatan kami yang ngumpul sambil baca komik, atau novel di kamar kiki setiap hari libur, juga nia yang selalu masak indomie setiap kali datang ke rumah kiki.
Semua kenangan itu kembali muncul kepermukaan.
Kenangan manisnya masa-masa kami sebagai remaja, akan aku simpan dengan rapi di hatiku.
Aku kemudian menghelai nafasku dan masuk ke dalam rumah nenek.
"Nenek", teriakku saat aku membuka pintu rumah nenek.
"Nek rara berangkat ya", pamitku pada nenek, sambil memeluk nenek yang sedang duduk di sofa.
"Nenek sedih loh, harus pisah sama rara, biasanya rara selalu ke rumah nenek setiap hari, tapi sekarang pasti masih lama lagi nenek ketemu rara", ujar nenek sambil mengelus tanganku.
__ADS_1
"Nggak lama nek, bentar lagi juga pasti nggak berasa, tau-tau rara udah pulang", ujarku pada nenek, sambil tersenyum.
"Yaudah, kamu hati-hati, dan jaga diri ya, meski nenek sedih, tapi nenek dukung keputusan kamu", ujar nenek, kemudian nenek mencium pipiku.
Aku juga membalas, mencium pipi nenek, dan mencium tangannya.
Kemudian aku berdiri dan langsung memeluk kakek, yang hanya berdiri di pintu pembatas dapur, dan ruang keluarga.
"Kalau rara butuh uang disana, rara langsung telvon kakek ya, nanti langsung kakek transfer", ujar kakek dengan nada tegas.
Aku hanya mengangguk, kemudian menangis dipelukan kakek.
Ucapan kakek hanyalah kata sederhana, tapi aku bisa merasakan kalau kakek ingin memastikan, aku tidak akan kesulitan di tanah rantau.
Kakek lalu menghapus air mataku dan mengatakan, kalau aku akan selalu menjadi cucu kakek, yang kakek akan selalu banggakan.
Kakek dan nenek lalu mengantarku sampai depan pintu pagar.
Dimas terlihat sudah menungguku di depan rumah nenek, kemudian dimas mencium tangan nenek dan kakek, begitu dimas melihat kami keluar dari dalam rumah.
Ayah, kak alan, rani, aku dan ibu pergi satu mobil dengan menggunakan mobil ayah, sementara dimas, dia membawa mobilnya mengikuti mobil ayah dari belakang.
Sepanjang jalan, ibu terus menerus menangis sambil memelukku.
Rani dan aku berusaha menghibur ibu, aku juga berjanji pada ibu, aku akan sering pulang ke jogja.
Kita sampai stasiun persis pukul 08.30 malam, karena aku mengambil jadwal kereta pukul 08.45 malam.
Kurang lebih lima belas menit lagi keretaku akan berangkat.
Ibu bertanya lagi padaku, apa ada yang ketinggalan di rumah, aku hanya menggeleng kemudian memeluk ibu lagi.
Baru saja mengobrol, pihak stasiun sudah mengumumkan kalau kereta yang akan membawaku pergi, akan berangkat dalam sepuluh menit, mereka meminta penumpang untuk segera masuk ke dalam kereta.
Pengumuman itu membuat hatiku mulai gentar, berat rasanya untuk pergi.
Aku ingin sekali mengatakan kalau aku ingin tinggal, tapi aku juga ingin memberi kesempatan untuk jiwaku meraih mimpi.
Kak alan kemudian memberiku satu kantong plastik berisi McDonald's, dan memintaku untuk aku makan di perjalanan.
"Pokoknya, kalau rara nggak betah, rara langsung telvon ayah, nanti ayah langsung jemput rara", ujar ayah, saat aku memeluk ayah.
"Rumah sepi nggak ada kamu nanti", ujar kak alan yang akhirnya meneteskan air mata.
Aku langsung mengusap airmata kak alan, dan memeluk kak alan, lalu aku mengatakan, kalau aku akan sering menelvon kak alan.
Rani yang di samping kak alan, langsung mengulurkan tangannya untuk memelukku, saat aku baru saja melepaskan pelukan dari kak alan.
"Titip ibu ya ran", ujarku pada rani.
"Iya, kamu baik-baik ya disana", ujar rani.
Aku melepas pelukanku dari rani, dan tangisku langsung pecah saat aku melihat ibu, aku kemudian memeluk ibu dengan erat.
Dimas juga langsung menarikku ke pelukannya, saat aku sudah ada di depan dimas untuk mengucapkan sampai ketemu lagi.
Dimas kemudian mencium keningku, dan memintaku berjanji untuk segera pulang.
"Iya", jawabku lembut di pelukan dimas.
Setelah aku memeluk semua orang yang aku sayangi, aku menyeret koperku dan berjalan menuju peron.
Aku hanya melihat sekali lagi ke arah mereka, kemudian aku melambaikan tanganku, dan kembali berjalan ke arah pintu masuk kereta.
Aku berusaha menghapus tangisku, saat aku sudah di dalam kereta.
Aku lalu menaruh koper dan barang bawaanku dibagasi atas, kemudian duduk sambil melihat ke arah luar jendela.
Dari tempat dudukku, aku masih bisa melihat sekilas suasana di dalam stasiun.
Aku bisa melihat rani dan ayah yang berusaha menenangkan ibu, juga kak alan dan dimas yang sedang mengobrol.
Mereka seperti menungguku berubah pikiran.
Peluit kereta kemudian berbunyi, dan mereka semua langsung melihat ke arah kereta.
Aku melambaikan tanganku pada mereka, dengan tangis yang kembali membingkai wajahku.
__ADS_1
Aku tau mereka tidak bisa melihatku dari luar, tapi aku hanya ingin menyampaikan kalau kita akan segera bertemu kembali.
***