Namaku Maira

Namaku Maira
- Petaka pagi hari -


__ADS_3

***


Menghilang, adalah kata yang paling tepat yang aku bisa jelaskan soal dimas.


Genap satu bulan setelah aku meminta dimas memilih, dimas tidak pernah lagi menghubungiku.


Merespon pesanku, atau menerima telvonku juga tidak dimas lakukan.


Dimas juga tidak aktif di sosial media, pesan yang ku kirim secara pribadi di sosial medianya tidak pernah ada jawaban.


Aku tidak punya pilihan lain selain tetap menjalani kehidupanku.


Aku kembali ke rutinitasku biasanya, memulai pagi dengan melihat deretan mobil lamborghini memasuki gedung sebelah, dan setelahnya, aku berbalik untuk masuk ke gedung kantorku dengan senyum mengembang di pipiku.


Baru dua langkah aku berjalan memasuki gedung, aku melihat ningsih berlari keluar dari dalam gedung.


Aku berusaha memanggil namanya, tapi ningsih mengabaikan panggilanku, dan langsung naik angkutan umum yang kebetulan lewat di depan gedung.


Ada perasaan aneh yang menyelimutiku, tapi aku tetap berjalan ke dalam gedung tanpa berpikir lebih jauh.


Begitu aku sampai lantai delapan belas, aku langsung keluar dari lift.


Aku menyapa karin yang terlihat pucat dan khawatir.


Aku mendengar bisik-bisik di setiap langkah menuju ruanganku.


Begitu aku masuk, lexi terlihat pucat, dan terpaku pada layar komputernya.


Abi juga, dia terus meremas rambutnya dengan kaki yang gemetar.


Abi langsung berdiri saat melihatku sudah di dalam ruangan, dia langsung memelukku.


"Ra kita tamat", ujar abi dengan nada yang sangat menakutkan.


Saat aku melepaskan pelukan abi, aku merasakan tangan abi sangat dingin.


Aku kemudian menyalakan komputer di meja kerjaku, dan langsung memasukkan password milikku.


Aku terpaku begitu melihat account milik investor bertuliskan zero.


Aku sangat yakin, kemaren sore aku melihat masih ada delapan ratus juta di account investor yang aku pegang.


Nyawaku seperti melayang saat melihat itu semua, pikiranku kosong dan jiwaku sangat terkejut.


Miss alice dengan wajah pucat masuk ke dalam ruangan, abi kemudian kembali ke mejanya.


Aku hanya menatap kosong ke arah komputer kerjaku, aku berharap bahwa ini mimpi.


Lexi menangis, dan aku langsung dibawa kembali oleh kesadaranku, ini adalah kenyataan bukan mimpi.


Aku berusaha meyakinkan miss alice kalau ini bukan kesalahan kita, kita tidak melakukan kesalahan apapun.


Miss alice hanya terdiam, sambil mencoba melakukan sesuatu untuk mengembalikan dana investor, tapi itu semua sia-sia.


Miss alice kemudian berteriak, teriakan miss alice membawa air mata menuruni pipiku.


Aku melihat ke meja abi, dan mengatakan pada abi kalau aku tidak melakukan apapun kemaren, dan aku sudah mengakhiri transaksiku pukul lima sore.


Abi kemudian memelukku yang tak bisa lagi menahan tangis.

__ADS_1


Dua jam kemudian, dua orang dari department IT masuk ke ruangan kami.


Kami semua menunggu diluar, lexi masih sangat shock dan abi membiarkan lexi bersandar di pundaknya.


Miss alice dan tim IT berdebat selama dua jam di dalam ruangan.


Kemudian aku melihat dito keluar dari ruangannya, yang juga memasang wajah pucat pasi.


Dia melewatiku tanpa berbicara padaku, dito berjalan seperti mayat hidup.


Salah satu dari orang IT kemudian meminta kami untuk masuk ke ruangan.


Aku, lexi, dito mendengar penjelasan mereka dengan diam, karena mereka seperti membawa petir masuk ke ruang kerja kami.


Nando, salah satu orang IT menjelaskan, bahwa ada malware yang menyusupi komputer kami.


Malware tersebut bekerja sebagai mirror di komputer kami, kemudian dia mencuri seluruh uang di setiap akun, yang kode aksesnya bisa di copy oleh malware tersebut.


Aku tidak mengerti keseluruhan penjelasan yang nando ucapkan.


Begitu aku mendengar kata malware, maka itu sudah pasti merupakan kesalahan karena kecerobohan kami.


Aku tidak mendengar ucapan nando selanjutnya, karena bagiku itu seperti kabar kematian orang yang aku cintai.


"Ra, ra", ujar abi yang memanggilku berulang kali.


Aku kemudian melihat abi dengan tatapan linglung.


Abi mengatakan bahwa kita harus ke ruang meeting, abi lalu menuntunku berjalan ke arah ruang meeting.


Sampai di ruangan, ternyata bukan hanya kami berempat, tapi ada sepuluh orang lainnya.


Suasana ruang meeting seperti rumah duka, semua terdiam dan menunduk.


Salah satu pimpinan perusahaan masuk kedalam ruangan.


Aku tidak mengatakan kalau dia ceria seperti terakhir kali aku bertemu dengannya, saat perayaan imlek.


Dia mengatakan dengan singkat, hal yang membuat kakiku terpaku di lantai.


Ketakutan yang dulu pernah aku miliki saat mendengar skandal di tim pak firman, kini terjadi pada timku.


Menurut perusahaan, itu bukanlah kesalahan investor, itu murni kecerobohan karyawan karena tidak menjaga keamanan komputer yang kita gunakan untuk bekerja.


Pihak perusahaan akan mengganti kerugian investor, tapi tentu saja itu di bebankan pada si penanggung jawab account milik investor.


Setelahnya, aku sudah tidak bisa mendengar apapun yang di ucapkan olehnya, dan aku langsung tenggelam dengan ketakutanku.


Begitu meeting selesai, lexi langsung kembali ke ruangan untuk mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kantor.


Miss alice masih terpaku dengan meja kerjanya dan meremas rambutnya.


Abi menarik tanganku, membawakan tasku dan mengajakku untuk keluar dari kantor.


"Ra mau aku anter pulang kekos", tanya abi menawariku tumpangan untuk pulang.


Aku tidak menjawabnya karena aku sendiri masih dilanda shock berat.


Abi kemudian memilih membawa mobilnya ke arah jakarta utara, dan masuk ke kawasan ancol

__ADS_1


Begitu mendengar suara pantai, aku langsung turun dari mobil abi, dan berjalan ke tepian pantai marina.


Aku merasa seperti laut memanggilku, suara merdu yang aku dengar dari laut, membuatku berjalan dan terus berjalan ke arah laut, sampai akhirnya ada yang menarik tanganku.


Begitu berbalik, kulihat wajah abi, dia menepuk pipiku dan memintaku untuk sadar.


Abi kemudian memelukku dan menangis kencang, dan aku, akhirnya melepaskan seluruh emosiku dipelukan abi.


Aku dan abi memilih untuk duduk di pinggir pantai sampai matahari turun.


Abi mengatakan kalau kita bisa melalui ini semua.


Abi memintaku untuk tidak khawatir karena kita pasti punya jalan keluar dari semua petaka ini.


*


Setelah tiga hari hanya mengurung diri di kamar kos, akhirnya aku memaksakan diri untuk datang ke kantor.


Pihak personalia terus menghubungiku selama tiga hari dan menanyakan keberadaanku.


Abi menjemputku di depan kos, tapi dia tidak membawa mobilnya, dia menggunakan motor baru miliknya.


Sesampainya di kantor, pihak legal langsung memangilku untuk keruangannya.


Begitu aku duduk di ruangan pak siregar, salah satu legal di kantorku, dia langsung menyodorkan berkas ke depanku, untuk ditanda tangani olehku.


Pak siregar memintaku untuk membacanya terlebih dahulu sebelum aku menandatangani berkas tersebut.


Beliau juga menawarkan untuk menjelaskan padaku jika ada yang tidak aku mengerti.


Aku meminta pak siregar untuk menjelaskan segalanya padaku.


Pak siregar kemudian menjelaskan dari awal.


Dia mulai dari kontrak kerja yang aku tanda tangani terlebih dahulu.


Di kontrak dengan jelas tercantum, bahwa apabila ada kelalaian yang dilakukan karyawan, yang menyebabkan hilangnya atau berkurangnya uang investor, maka perusahaan berhak untuk membebankan hal itu kepada karyawan yang bertanggung jawab atas kelalaian tersebut.


Aku kemudian ingat dengan jelas, aku sangat percaya diri saat aku menandatangani kontrak kerjaku, kalau aku tidak akan melakukan kesalahan itu.


Aku memang tidak melakukannya, orang lain yang melakukannya dan itu membuatku harus bertanggung jawab.


Hal kedua, pak siregar menjelaskan, bahwa saat ini pihak legal kantor sudah menyerahkan masalah tersebut kepada kepolisian, tapi itu akan makan waktu sampai tak ditentukan untuk bisa menangkap pelaku yang memasang malware di komputer kami.


Terakhir, pihak perusahaan dengan terpaksa membebankan kerugian tersebut kepada karyawan.


Investor akan langsung mendapatkan uangnya kembali setelah aku tanda tangan berkas yang ada di depanku.


Pihak perusahaan memberikan pilihan pada kami si penerima petaka.


Pertama, kami tetap bekerja di perusahaan, dan perusahaan akan memotong lima puluh persen gaji setiap bulannya, sampai kerugian tersebut lunas, atau yang kedua, kita mengundurkan diri dan langsung mengalihkan kerugian tersebut kepada pihak bank, sehingga pihak bank yang akan menagih kami sampai kerugian yang kami timbulkan lunas.


Pak siregar juga mengatakan, apabila nanti pelakunya ketemu, dan uangnya bisa dikembalikan, maka pihak perusahaan akan langsung mengakumulasikan, dan mengembalikan uang yang sudah kita bayarkan ke perusahaan.


Pak siregar menjelaskan bahwa itu semua tertuang di surat pernyataan, dan sah di mata hukum, jadi aku tidak perlu khawatir.


Aku kemudian membaca ulang pernyataan yang ada di depanku, dan menandatangani untuk pilihan pertama, dan langsung keluar dari kantor pak siregar.


***

__ADS_1


__ADS_2