
***
Taksi berhenti di depan hotel century setelah memutari gelora bung karno. Dimas kemudian membayar argo taksi, dan keluar dari taksi.
"Mau di gendong atau jalan sendiri", tanya dimas padaku saat aku tak kunjung turun dari taksi.
Aku langsung turun, karena aku tidak ingin menciptakan situasi yang membuat orang lain tidak nyaman.
Dimas meraih tanganku, dan membawaku ke kamar hotelnya.
"Aku udah pesen makan, buat makan malam, kamu tunggu sebentar ya", ujar dimas padaku.
Aku tidak menjawabnya, dan memilih untuk duduk di sofa yang ada di dekat jendela.
Setelah sepuluh menit, pintu kamar di ketuk, dimas kemudian beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.
Dimas mendorong troli berisi makan malam yang dimas pesan untuk kami, setelah dia mengucapkan terimakasih kepada petugas hotel.
Aku masih belum mengatakan apapun sejak turun dari taksi, aku juga hanya diam saat kami makan.
Aku masih berusaha mencerna semua yang ada dipikiranku dan hatiku.
Hatiku tak ingin menolak dimas, tapi perasaan bersalah mulai memenuhi benakku.
Dimas dengan mudahnya, selalu membuatku tunduk atas apapun yang dia inginkan.
Hati dan pikiranku berperang antara aku menyerah dan menerima dimas kembali, atau pergi dan meninggalkan semua hal yang selalu aku rindukan.
Selesai makan, aku hanya duduk kembali di sofa sambil melihat pemandangan gedung-gedung yang mengelilingi gelora bung karno dari lantai delapan belas hotel century.
Aku mendengar handphoneku berbunyi, aku meraihnya, dan melihat siapa yang menelvonku, ternyata arman.
"Hai man", sapaku saat menjawab telvon arman.
"Waalaikumsalam ra", jawab arman di telvon
Aku langsung tertawa mendengar sapaan arman.
"Lagi dimana", tanya arman padaku.
"Masih diluar", jawabku.
Dimas kemudian mematikan lampu kamar hotelnya.
"Pulangnya jangan malam-malam ya", pinta arman dengan lembut ditelvon.
"Iya nanti kalau udah selesai langsung pulang kok", jawabku sambil tersenyum.
Dimas mengambil handphone dari tanganku dan mematikan telvon dari arman.
"Dimas apa apaan sih, aku kan belum selesai ngobrol", ujarku marah pada dimas.
"Kamu yang apa-apaan, dari tadi diem aja, ngomong sama aku juga enggak, tapi malah seneng banget ditelvon orang lain", ujar dimas dengan nada tinggi.
"Kamu mau aku gimana", tanyaku berusaha membuat situasi tenang, tapi dimas hanya terdiam.
"Balikin handphoneku", pintaku pada dimas.
Dimas menyelipkan handphoneku di saku celananya, kemudian menarikku dengan kasar dan berusaha menciumku.
Tidak peduli dengan penolakanku, dimas tetap terus menciumku, dia juga meremas payudaraku dengan sangat kasar.
Aku kalah dan menciut dipelukan dimas, aku kalah karena tubuhku menghianatiku.
Aku kalah karena aku menyukai setiap hal yang dimas tunjukkan padaku.
Setelah aku tidak berusaha melepaskan ciuman dimas lagi, dimas menciumku dengan lembut, lalu perlahan melepas semua pakaianku.
Dimas membawaku di pelukannya ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Dimas lalu menaruhku di bathtub yang ada di dalam kamar mandi.
Air hangat, dan wewangian yang ada di dalam bathtub menenangkanku.
Dimas kemudian ikut masuk kedalam bathtub bersamaku.
Dimas dengan sangat lembut menyentuhku, dia berusaha membuatku nyaman dan tenang.
"Kapan kamu siapin air hangatnya", tanyaku pada dimas.
Dimas tidak menjawab, dan memilih untuk membasuh tubuhku, dan sesekali menciumi leherku.
Setelahnya, dimas membawaku ketempat tidur lalu menyelimutiku.
"Udah ya marahnya, aku takut kalau kamu marah", ujar dimas padaku.
Aku hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.
Dimas kemudian ikut masuk ke dalam selimut, dan memelukku.
"Perasaanku masih sama untuk kamu ra, kamu masih cinta di hatiku, belum tergantikan oleh siapapun", ujar dimas sambil memelukku.
"Tapi kamu pilih yang lain", ujarku pada dimas.
"Aku tidak berharap kamu maafin kebodohanku, aku cuma berharap kamu berhenti marah ra, aku tau, aku melakukan kesalahan, tapi bisa nggak sih ra, sekali ini aja, kamu terima aku lagi", pinta dimas.
Aku tidak menjawab, aku tahu tanpa ucapan itu, aku sudah dengan sepenuh hati menjadi milik dimas.
Dimas kemudian menceritakan, kalau dia sudah berencana menemuiku dari tiga bulan yang lalu, yang artinya, tak lama setelah aku datang ke solo, tapi dia selalu kehilangan keberaniannya, jadi dia selalu berfikir ulang.
Sampai akhirnya, dimas mulai melihatku sering memposting kebersamaanku dengan arman di sosial media.
Dimas berfikir, aku sudah melupakan dimas, dan dimas baru berani menemuiku untuk memberikan kembali kalung yang dimas berikan, sebagai kenang-kenangan.
Dimas tidak berencana meminta cintaku kembali, dia hanya ingin datang untuk pertemanan.
Dimas sadar, kalau dia tidak butuh pertemanan denganku saat melihatku.
Perasaannya semakin jelas saat aku memberikan perhatian pada dimas, ucap dimas padaku.
"Jadi aku salah lagi", tanyaku pada dimas.
"Iya, kenapa kamu tawarin aku makan, harusnya kamu lari", ujar dimas padaku.
Aku tertawa mendengar ucapan dimas.
Dimas kemudian menciumku dan memelukku semakin erat.
"Kalau kamu masih cinta sama aku, kenapa kamu pacarin perempuan lain", tanyaku pada dimas.
"Karena aku patah hati, aku butuh orang untuk menguatkanku", jawab dimas.
"Kenapa kamu nggak pernah cari aku", tanyaku lagi pada dimas.
"Aku takut, aku takut kalau kamu sudah berubah", jawab dimas.
"Kenapa kamu selalu takut sama aku", tanyaku menggoda dimas.
"Aku juga bingung, aku seperti kerupuk yang basah setiap kamu marah", jawab dimas sambil tertawa.
"Aku sekarang marah, aku mau pulang", ujarku pada dimas sambil menahan tawa.
"Pulang kemana, rumah kamu disini", ujar dimas sambil meraihku kepelukannya lagi.
Canda dan tawa kembali dimas berikan padaku, keraguanku hilang, aku merasa menjadi perempuan yang sangat dicintai oleh dimas saat ini.
Persoalan tentang mila langsung lenyap dari benakku.
"Aku bahagia banget kamu ada di pelukanku saat ini ra", ujar dimas.
__ADS_1
"Aku juga", jawabku.
Dimas kemudian meraih handphoneku dari saku celananya, lalu dia menghubungi seseorang dari handphoneku, yang ternyata mami mita.
Dimas mengatakan pada mami untuk tidak perlu khawatir karena pergi tanpa pamit, dimas juga menjelaskan kalau dia meninggalkan handphonenya di rumah.
"Pinjem handphone maira mi", ujar dimas saat menelvon mami.
"Iya, iya dimas tahu", ujar dimas.
Dimas kemudian memberikan telvonnya padaku.
"Ra", ujar mami di telvon.
Aku kemudian turun dari tempat tidur dan menjauh dari dimas.
"Iya mi", jawabku pada mami.
"Kamu apa kabar", tanya mami lembut.
"Baik, mami sehat", ujarku pada mami.
"Maafin dimas ya ra, kamu pasti kaget dimas tiba-tiba datengin kamu", ujar mami padaku.
"Iya mi nggak papa", jawabku.
"Yaudah kamu sampaikan ke dimas, kalau udah selesai urusannya suruh dimas segera pulang", ujar mami.
"Kamu jaga kesehatan ya ra, kalau pulang ke jogja jangan lupa mampir ke toko mami ya", pinta mami padaku.
"Iya mi", jawabku.
Mami menutup telvonnya setelah mengatakan kalau mami mau istirahat.
"Kamu kenapa nggak bawa handphone", tanyaku pada dimas, setelah aku meletakkan handphoneku di meja, dan kembali kedekat dimas.
"Karena aku rencananya pagi ini pulang", jawab dimas.
"Emang kapan kamu sampai jakarta", tanyaku pada dimas.
"Kemaren siang", jawab dimas singkat.
"Terus kamu sorenya langsung nunggu aku", tanyaku lagi.
Dimas hanya mengangguk, aku kemudian memeluk dimas, dan merasa bersalah karena sudah membuat dimas menungguku cukup lama.
"Kenapa nggak di paketin aja", tanyaku.
"Kan kamu tahu alamatku di jogja", ujarku menambahi.
"Kalau kamu mikir gitu, kenapa kamu balikin sejak awal", tanya dimas balik.
Aku kemudian berusaha melepaskan kalung yang dimas lingkarkan di leherku, dimas langsung menghentikanku.
"Masih mau dibahas", tanyaku pada dimas.
"Enggak", jawab dimas dengan muka sedih.
"Aku cuma kesel aja", ujar dimas lagi.
Dimas meminta dan memohon padaku, untuk aku berhenti dan berusaha mengembalikan kalung itu ke dia.
*
Aku menghabiskan akhir mingguku bersama dimas, dimas baru mengembalikan handphone milikku setelah dia akan pulang ke solo.
Dimas berjanji akan mengabariku saat dia sampai, dan dimas juga berjanji akan mengunjungiku di jakarta setiap dua minggu sekali.
Aku pulang ke kos dengan perasaan di atas awan setelah mengantar dimas ke bandara.
__ADS_1
***