
***
Hari sabtu, dimas menjemputku pukul sepuluh pagi.
Rencana hari ini, aku tidak tahu mau kemana, karena dimas tidak membahasnya di telvon semalam.
Dimas terlihat membawa motornya ke arah kaliurang.
Hawa dingin menembus jaketku saat dimas tetap memacu motornya di kaliurang kilometer lima belas.
Aku langsung memeluk dimas erat.
Dimas berbelok ke kanan setelah kita melewati ladang jagung, ada jalan yang cukup untuk bisa dilewati oleh dua mobil.
Sepanjang jalan terlihat ladang jagung membentang di setiap sisi jalan.
Dimas lalu menghentikan motornya di depan sebuah bangunan berlantai dua.
Aku bahkan tidak melihat ada bangunan sebelumnya, tapi begitu masuk ke area parkir, terlihat bangunan dengan luas kira-kira empat ratus meter, dan terlihat seperti bangunan villa.
"Rumah siapa ini", tanyaku pada dimas saat aku turun dari motor.
"Villa mami sayang", jawab dimas.
"Mami punya villa", tanyaku terkejut pada dimas.
Begitu aku melihat sekeliling, tampak tembok-tembok membentengi villa milik mami.
Temboknya sangat tinggi menurutku, mungkin karena mami ingin privasi penghuninya terjaga.
Villa itu sendiri merupakan bangunan utama, juga ada bangunan pendukung disisi sebelah kanan rumah utama.
"Mas dimas", panggil suara yang berasal dari laki-laki paruh baya yang sedang berjalan dari arah bangunan pendukung.
"Maaf ya, libu-libur malah jadi kesini", ujar bapak tersebut, saat dia sudah di dekat dimas.
"Bapak mau nengok cucu dulu, karena baru lahir, besok bapak udah balik", ujar bapak tersebut.
"Iya pak, hati-hati di jalan ya", ujar dimas ramah.
Si bapak lalu menyerahkan kunci villa pada dimas, dan langsung membawa motor revo miliknya keluar area villa.
"Siapa sayang", tanyaku pada dimas.
"Pak mugi yang jaga villa", jawab dimas.
Dimas lalu mengunci pintu pagar masuk yang tingginya sepinggang dimas, setelah pak mugi sudah tidak terlihat lagi.
"Ayo masuk", ajak dimas.
Begitu aku masuk ke dalam villa, langsung di sambut dengan luasnya ruang keluarga, lalu ada dua kamar di antara lorong yang menembus ke dapur.
Begitu keluar dari lorong, aku bisa melihat taman kecil di bawah tangga menuju lantai dua, kemudian ada meja makan di samping jendela yang menghadap garasi parkir.
Aku kemudian masuk sampai ke dalam dapur, dan ternyata ada pintu menuju keluar dari dapur, yang letaknya di samping tempat cuci piring.
Begitu aku keluar, pemandangan pertama adalah kolam ikan, kemudian ada taman yang terawat dengan baik, dan juga deretan kursi untuk santai.
Aku langsung mengambil kursi untuk duduk di tepi kolam sambil melihat ikan.
"Ra", teriak dimas dari dalam rumah.
"Di belakang", jawabku.
__ADS_1
Dimas lalu menyusulku dan tersenyum begitu melihat aku sangat santai duduk di kursi.
"Ayo ke lantai dua", ajak dimas.
Tangga untuk naik ke lantai dua cukup lebar, dan tidak sempit meski aku dan dimas naik berdampingan.
Di lantai dua, aku hanya melihat lorong yang menuju kamar-kamar.
Dimas lalu mengajakku untuk melihat balkon belakang.
Gunung merapi yang menjulang dengan gagahnya, bisa langsung terlihat saat aku keluar dari pintu balkon.
Udara yang kuhirup juga sangat segar, aku juga bisa melihat hamparan ladang jagung di sekitar villa dengan jelas dari balkon.
Hamparan ladang jagung yang masih hijau, membuat gunung merapi menjadi terlihat seperti halaman belakang villa mami.
"Keren banget", ujarku pada dimas.
Dimas lalu mengajakku untuk pergi ke salah satu kamar yang ada di lantai dua.
Kamar yang dimas pilih, merupakan kamar dengan kaca besar dan dengan pemandangan langsung ke arah balkon belakang.
Aku langsung naik ke tempat tidur, dan melihat pemandangan merapi dari dalam kamar.
"Kok aku nggak pernah di ajak kesini", tanyaku pada dimas.
"Minggu lalu baru selesai sewa soalnya", jawab dimas.
"Pas banget kemaren siang mami telvon, minta aku hari ini ke villa, karena pak mugi mau ada kepentingan", ujar dimas yang sudah duduk di sampingku.
"Jadi aku langsung ajak kamu hari ini", ujar dimas sambil tersenyum ke arahku.
"Emang di villa ini ada berapa kamar", tanyaku pada dimas.
"Masing-masing ada kamar mandi dalam, jadi tidak perlu repot keluar", ujar dimas lagi.
"Mau nginep nggak", tanya dimas.
"Mau, tapi pasti nggak di ijinin sama ibu", jawabku.
"Yaudah aku nanti anter kamu pulang, lalu besok pagi aku jemput lagi ya", ujar dimas.
Aku lalu mengiyakan tawaran dimas, dan meminta dimas untuk memelukku.
"Kalau mau makan gimana, sini kan jauh dari tempat makan", tanyaku pada dimas.
"Kulkas udah di isi kok sama pak mugi, kemaren aku pesen untuk di belanjain", jawab dimas.
"Kan sayang katanya udah hampir seminggu ini belajar masak, jadi aku mau dong dimasakkin", pinta dimas dengan manja.
Aku lalu mencium dimas karena gemas.
Kita menghabiskan sisa pagi sambil berpelukan, dan melihat pemandangan merapi, yang membuatku merasa seperti bernafas di awan.
Aku tersenyum begitu memikirkan kalau aku akan sering ke villa ini bersama dimas.
"Ada yang lucu", tanya dimas saat dia melihatku tersenyum.
Aku menggelengkan kepalaku, dan mencium pipi dimas.
"Aku bahagia", jawabku pada dimas.
Dimas lalu mencium bibirku dengan mesra.
__ADS_1
Kita memilih untuk kembali menatap merapi sambil berpelukan.
"Udah hampir jam dua belas nih", ujar dimas sambil melihat jam di tangannya.
"Kita makan siang awal aja ya", pinta dimas padaku.
Kita lalu turun ke lantai satu, dan langsung menuju ke dapur.
Begitu aku membuka kulkas, kulihat ada satu pax telur, berisi dua belas butir.
Dua kaleng kornet sapi, dua kaleng sardines, satu pax sosis rasa sapi, dan juga ada dua ikat sayuran sawi hijau di rak bawah.
Aku hanya tersenyum melihat stock makanan yang pak mugi belikan.
Aku ingat perkataan dita, kalau sardines dan telor adalah makanan basic anak kos.
"Jadi menunya apa chef", tanya dimas padaku.
"Gimana kalau siang ini kita makan sardine sama telor ceplok", ujarku pada dimas.
"Malamnya baru makan kornet", ujarku menambahi.
"Oke", jawab dimas.
Aku lalu meminta dimas untuk membantuku mencuci sayuran.
Saat aku membuka lemari kabinet yang menggantung di dinding, aku melihat tumpukan piring dan gelas, lalu aku membuka pintu satunya.
Ada peralatan makan lainnya, dan juga satu nampan berisi, teh, gula dan kopi instan.
Aku kemudian membuka lemari kabinet yang menempel dengan lantai, dan aku menemukan bumbu dasar untuk memasak.
Meski aku baru belajar masak, tapi aku selalu membantu ibu di dapur, jadi aku lumayan cekatan.
Aku mulai dengan mencuci beras, lalu memasak nasi di ricecooker yang memang sudah tersedia.
Setelahnya aku mulai memotong-motong sosis dan menggorengnya.
Seusai mencuci sayuran, dimas langsung aku minta untuk membuka kaleng sardine.
Saat aku memotong bawang, daun bawang dan cabai, dimas memelukku dari belakang.
Kemudian aku beralih menggoreng telur, setelah aku selesai membereskan bumbu.
Selama proses masak, dimas hanya mengikutiku dari belakang, dan melihatku memasak.
Selanjutnya tinggal proses memasak sardines.
Sardines kumasukkan setelah bumbu yang kusiapkan dan kutumis berbau harum, kemudian aku masukkan sosis yang sudah kugoreng sebagai penambah rasa.
Setelah aku membumbui dengan garam dan gula, aku meminta dimas untuk mencicipinya.
Saat di rasa pas untuk selera lidah dimas, kita tinggal menunggu sampai sardines matang, kemudian memindahkan sardines ke mangkuk.
Tahap akhir, aku memasukkan sawi yang sudah kupotong-potong ke dalam wajan bekas memasak sardines.
Aku hanya menambahi air, lalu menunggu sampai daun sawinya layu.
Setelah semua selesai, dimas membawanya ke meja makan, dan memintaku untuk istirahat.
Tak lama nasi masak, kemudian kita makan siang bersama, sambil aku mendengar pujian dimas akan masakanku, yang menurutku sangat sederhana dan mudah.
Dimas memintaku untuk istirahat di atas setelah makan siang, dan memintaku untuk membiarkan dia membersihkan kekacauan di dapur.
__ADS_1
***