Namaku Maira

Namaku Maira
- Kak alan putus -


__ADS_3

***


Aku menyambut hari minggu dengan bangun di pagi hari, dan merenggangkan badanku di teras, kemudian lari di tempat selama dua menit, dan kembali masuk ke dalam rumah.


Setelah pulang dari rumah nia kemaren, aku langsung membantu ibu untuk menyiapkan makan malam, dan menonton televisi dengan ayah seusai makan malam.


Aku menonton tv dengan ayah sampai pukul sembilan malam dan langsung pamit untuk tidur karena mengantuk.


Baru saja ingin menyalakan televisi untuk menonton kartun minggu pagi, aku teringat, kalau seharian kemaren aku memasang nada sunyi di Blackberryku.


Aku bahkan tidak melihat Blackberryku sejak kemaren.


Aku langsung lari ke kamar dan mengambil Blackberryku dari dalam tas.


Ada sembilan belas missed call dari dimas, dan lima pesan yang menanyakan aku ada dimana.


Aku langsung menelvon dimas, tapi tidak dijawab.


Setelah menelvon dimas selama lima kali dan masih belum dijawab, akhirnya aku meletakkan blackberryku di meja belajar.


Aku langsung kembali ke ruang tengah untuk menonton tv, tapi ibu memanggilku dari dapur, dan memintaku untuk membantu ibu memasak.


"Ibu sama ayah berangkat jam berapa ke rumah uti", tanyaku pada ibu.


"Jam sembilan", jawab ibu santai.


"Ayah dimana bu", tanyaku lagi pada ibu.


"Ada tuh di depan lagi cuci mobil", jawab ibu.


"Kak alan kemana", tanyaku lagi pada ibu.


"Kak alan ada di kamarnya", jawab ibu sambil mencuci sayuran.


"Kak alan lagi fokus sama skripsinya, jadi kamu jangan ganggu ya", pinta ibu padaku.


"Bu, nanti siang rara main sama dimas ya", ujarku meminta ijin pada ibu, dan mengabaikan permintaan ibu.


"Boleh, tapi jangan pulang lewat jam sepuluh malam ya", jawab ibu.


Aku mengiyakan dan mulai melakukan pekerjaanku sesuai arahan ibu.


Sekitar pukul sebelas siang aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke tempat dimas.


Dimas tidak membalas pesanku, atau menjawab telvonku, jadi aku berkesimpulan kalau dimas marah.


Untungnya, aku punya cukup tenaga untuk membujuk dimas.


Ibu dan ayah sudah berangkat kerumah uti, satu-satunya tetua yang masih ada di rumah, hanya kak alan, jadi aku harus pamit ke kak alan terlebih dahulu, sebelum aku jalan.


"Kak aku main dulu ya", pamitku ke kak alan yang sedang sibuk mengetik.


Kak alan hanya menjawab dengan suara malas dari mulutnya.


"Kata ibu boleh pulang malam, jadi aku pulang jam sepuluh ya", ujarku lagi.


"Hmm", ujar kak alan menjawabku dengan kalimat yang sama.


"Kak alan nggak nyamperin sita di surabaya", tanyaku.


"Udah putus", jawab kak alan singkat.


Aku langsung teriak kaget, kemudian mendekat ke kak alan.

__ADS_1


"Kok bisa, kapan", tanyaku, membrondong kak alan dengan pertanyaan.


"Kan katanya mau nikah kalau kak alan udah sarjana", tanyaku lagi.


Kak alan lalu mengalihkan perhatiannya padaku, dan menceritakan kalau dia putus udah sebulan yang lalu.


Saat aku menanyakan alasannya, kak alan hanya menjawab kalau sudah nggak ada rasa lagi.


"Nggak ada rasa gimana maksudnya", tanyaku penasaran.


"Ya hilang gitu", jawab kak alan santai.


Kak alan kemudian bilang kalau dia lelah dengan hubungan jarak jauh, begitupun dengan sita.


Sita juga selalu membantah kak alan untuk tidak terlalu dekat dengan rekan kerja laki-lakinya, dan menurut kak alan, sita tidak menyukai kecemburuan kak alan.


Selama lima bulan terakhir mereka selalu berantem saat bertemu, mereka akhirnya memutuskan untuk menyudahi hubungan, karena sudah lelah dengan satu sama lain.


"Kak alan yakin nggak akan menyesal", tanyaku.


"Aku kan sudah berusaha sebaik mungkin ra, kamu tau sendiri kalau aku sering ke surabaya, sementara sita, hampir tidak pernah ke jogja", jawab kak alan.


"Kak alan nggak coba bertahan, kan kak alan sayang banget sama sita", tanyaku.


"Ya karena udah tidak bisa di pertahankan lagi, buat apa berjuang", jawab kak alan sambil merenggangkan tangannya.


"Kalau kita berusaha sebaik mungkin saat berhubungan dengan orang lain, nantinya nggak akan ada sisa penyesalan di akhir ra", ujar kak alan bijak.


"Kak alan nggak sedih", tanyaku lagi.


"Ya sedih, tapikan kita juga harus memilih untuk mengambil keputusan yang terbaik ra", jawab kak alan.


"Kalau suatu saat nanti sita menyesal dan minta balik gimana", tanyaku pada kak alan.


"Ayah ibu tau", tanyaku lagi.


"Tau, udah deh kamu kalau mau pergi, pergi deh jangan ganggu aku", ujar kak alan, mulai merasa kesal dengan semua pertanyaanku.


"Terus kata ayah gimana", tanyaku lagi mengacuhkan kak alan yang mulai emosi.


"Maira, kulempar keyboard ya lama-lama kamu", ujar kak alan mulai marah.


"Oke deh, jalan ya kak, jangan emosi nanti cepat keriputan", ujarku menggoda kak alan yang mulai menggerutu.


Aku lalu meraih tas tanganku, dan berjalan keluar dari kamar kak alan.


"Jangan malam-malam pulangnya", teriak kak alan dari dalam kamar.


"Iya", teriakku menjawab kak alan.


Ketika aku mendorong motorku keluar pagar, aku melihat kiki di depan rumahnya.


Aku memutuskan untuk mengobrol dengan kiki dulu sebelum berangkat.


"Mau kemana ra", tanya kiki.


"Mau ketemu dimas", jawabku.


"Oh ya, kemaren dimas telvon aku tapi nggak ke angkat", ujar kiki.


Aku tak mengindahkan ucapan kiki dan langsung mengganti topik.


"Kak alan putus sama sita", ujarku mulai bergosip dengan kiki.

__ADS_1


"Serius bukannya mau nikah", tanya kiki.


Aku mengangguk dan kemudian menceritakan penyebab serta alasan mereka putus.


"Wah sayang banget ya, padahal hubungannya udah serius, inget nggak kamu, dulu waktu mereka lulus SMA", ujar kiki padaku.


Memoriku langsung kembali ke masa yang kiki maksud.


Saat itu aku baru duduk di kelas satu SMA, dan sedang bercanda dengan mia, nia, dan rani di depan rumah kiki.


Tak lama kita mendengar suara teriakan dari arah rumahku.


"Sita will you merry me", teriak suara tersebut.


Kita langsung melihat keluar pagar, begitupun dengan kiki yang langsung keluar dari rumah, bukan hanya kita tapi beberapa tetangga juga ikut melihat keluar pagar.


Teriakan tersebut merupakan teriakan kak alan yang sedang berlutut di depan sita.


Mereka masih menggunakan seragam SMA yang penuh coret-coretan, dan mereka baru selesai konvoi kelulusan.


Kak alan meneriakkan hal itu di depan ayah, ayah yang terkejut dengan ucapan kak alan, langsung memukul kepala kak alan dengan koran.


Ayah lalu meminta maaf pada tetangga, karena anaknya sudah membuat kegaduhan.


Kita yang saat itu sedang berkumpul langsung tertawa melihat pertunjukan yang kak alan buat.


Sejak itu, setiap kak alan keluar dari rumah, para tetangga tidak pernah lupa untuk menggoda kak alan.


Begitu juga dengan sahabatku, yang secara langsung melihat moment tersebut.


Aku dan kiki kembali tertawa mengingat kembali moment itu.


"Jomblo dong sekarang kak alan", tanya kiki.


"Iya, tapi katanya mau selesain skripsi dulu", jawabku.


"Yaudah aku jalan ya ki, udah kesiangan ini", ujarku pada kiki.


Aku lalu kembali jalan kerumah, dan membawa motorku ke rumah kos dimas.


Aku tidak melihat motor dimas di parkiran, saat aku sudah sampai di kos dimas.


Aku lalu naik ke lantai dua dan berjalan ke arah kamar dimas.


Aku mengetuk pintu kamar dimas, tapi tidak ada jawaban.


Aku lalu menelvon dimas, dan mendengar bunyi nada telvon dari dalam kamar dimas.


Aku mengetuk pintu kamarnya lagi, tapi masih tidak ada jawaban.


"Lagi keluar orangnya", ujar suara yang datangnya dari sebelah kamar dimas, saat aku mencoba melihat isi kamar dimas dari kaca.


"Kemana ya kalau boleh tau", tanyaku ke suara tersebut dengan sopan.


Tetangga kamar dimas lalu membuka pintu kamarnya.


"Nggak bilang, tadi katanya sih mau keluar sebentar", jawab pria tersebut.


"Oh yaudah deh, makasih ya", ujarku.


Aku lalu turun ke lantai satu dan memutuskan untuk menunggu dimas, di kursi yang letaknya di teras depan rumah kos dimas.


***

__ADS_1


__ADS_2