
***
Aku langsung menarik selimut untuk menutupi wajahku saat ada yang membuka tirai jendela kamar dimas.
"Bangun maira", ujar suara yang sangat lembut.
Aku langsung membuka selimut yang menutupi wajahkku.
"Mami", ujarku terkejut.
Mami mita tersenyum padaku dan duduk di tepi tempat tidur.
"Bangun, lalu mandi dan bantuin mami siapin sarapan ya", pinta mami dengan suara yang sangat menenangkan.
Mami lalu keluar dari kamar dimas, dan aku langsung menyeret paksa tubuhku untuk turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi.
Begitu aku selesai mandi, aku melihat jam dinding yang terletak di ruang santai di lantai dua, masih menunjukkan pukul 06.30 pagi.
Aku langsung menutup mukaku dengan tanganku dan menariknya ke bawah, lalu melirik ke arah kamar mbak dina.
"Dimas", teriakku di dalam hati.
Aku berusaha pasrah menerima nasib yang sudah kupilih, dan langsung turun ke dapur setelah aku merapikan diri.
"Mami mau bikin sarapan apa", tanyaku pada mami.
"Mami mau bikin nasi goreng aja, rara sukakan", jawab mami padaku.
Aku membalas mami dengan senyumku.
"Dimas belum bangun mi", tanyaku ke mami.
"Belum, semalam nonton bola sama papa sampai larut", jawab mami.
"Memang semalam mami pulang jam berapa" tanyaku.
"Pulang jam sepuluh, tapi pas mami mau temuin rara, rara nya udah tidur, jadi mami cuma liat rara sebentar", jawab mami sambil tersenyum ramah.
"Mami tuh padahal kangen loh sama rara, soalnya udah lama nggak kesini, eh yang dikangenin udah tidur", ujar mami sambil menyiapkan bumbu nasi goreng.
Aku kemudian memeluk mami, seperti biasa aku memeluk ibu.
"Kamu bantuin mami ambil baju kotor diatas ya, sebentar lagi bibi datang, biar di cuci sama bibi", ujar mami.
Aku lalu melepas pelukan untuk mami, kemudian menaiki tangga ke lantai atas untuk mengambil baju kotor di kamar dimas dan di kamar mbak dina.
Saat aku mengambil baju kotor milik dimas di kamar mbak dina, aku langsung membuka tirai jendela kamar mbak dina.
Dimas lalu menggeliat dan menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
Aku kemudian duduk di sisi tempat tidur dan menarik selimut yang menutupi wajah dimas.
__ADS_1
"Satu jam lagi dimas bangun mi", ujar dimas masih dengan matanya yang tertutup.
Aku lalu menekan hidung dimas dengan dua jariku, dimas langsung membuka mulutnya untuk bernafas, dan membuka matanya.
Dimas langsung menarik tanganku, dan membawaku ke pelukannya.
"Sayang, aku masih ngantuk, tolong biarin aku tidur sebentar lagi ya", pinta dimas masih terdengar sangat mengantuk.
Aku mencium pipi dimas tanpa menjawab, dan melepaskan diri dari pelukan dimas, kemudian aku kembali menutup tirai jendela kamar mbak dina.
"Terimakasih sayang", ujar dimas melanjutkan kembali tidurnya.
Aku keluar dari kamar mbak dina dengan membawa baju kotor milik dimas, kemudian kembali ke dapur.
"Dimas nggak dibangunin", tanya mami saat melihatku kembali.
"Udah mi, tapi tidur lagi", jawabku.
Sekitar pukul tujuh pagi, bibi yang bekerja di rumah dimas datang, mami langsung memberi tugas untuk bibi.
Setelah selesai memasak nasi goreng, mami membangunkan papa untuk sarapan.
Dimas masih belum mau bangun meski aku sudah membangunkan dimas dua kali, jadi kami hanya bertiga untuk sarapan bersama.
Dimas baru turun ke dapur hampir pukul sembilan pagi, aku langsung menyiapkan sarapan untuk dimas, tanpa mami minta.
"Maira mau mulai kerja hari ini atau besok", tanya mami saat aku sedang mengambilkan minum untuk dimas.
"Oh yaudah, nanti malam kamu ajak rara ke toko ya, biar mami kenalin sama karyawan yang lainnya", ujar mami hangat.
Dimas hanya mengiyakan dan kembali makan.
"Maira, nanti kalau maira di toko, maira jadi karyawan mami, jadi mami tidak bisa istimewakan maira, tapi kalau di rumah, baru maira itu anak gadis kesayangan mami, jadi kalau mami tegur maira di toko, maira jangan tersinggung ya", ujar mami sambil merangkul pundakku.
"Iya mi, maira kan niatnya mau belajar jadi nggak masalah", ujarku riang.
"Pinternya gadis mami yang satu ini", ujar mami sambil meraih daguku.
"Kalau dimas bikin maira nangis, maira harus bilang sama mami, biar dimas mami marahin", ujar mami penuh keibuan sambil melihat ke arah dimas.
"Maira mi yang suka bikin dimas nangis", ujar dimas masih sambil mengunyah makannya.
"Dih kapan", ujarku sambil melihat ke arah dimas.
"Bohong mi", ujarku pada mami membela diri.
Dimas tertawa melihat reaksiku, dan mami juga hanya tersenyum melihat aku dan dimas.
Mami kemudian meninggalkan aku dan dimas di dapur untuk bersiap berangkat kerja.
Begitu mami dan papa berangkat kerja, dimas langsung kembali ke atas untuk tidur.
__ADS_1
Aku memilih untuk menonton kartun di ruang keluarga, sambil menunggu bibi selesai bekerja.
Begitu bibi pulang, aku langsung mengunci pintu dan naik ke atas mencari dimas.
Aku menemukan dimas di kamarnya, bukan di kamar mbak dina.
Aku lalu menjahili dimas yang sedang tidur dengan sangat nyenyak.
"Kenapa nggak bilang kalau di rumah dimas itu, aku harus bangunnya jam enam pagi", tanyaku pada dimas saat akhirnya dimas membuka matanya.
Dimas hanya tersenyum lalu memelukku, aku menekan hidung dimas lagi.
"Kalau bilang, pasti kamu nggak akan mau disini", jawab dimas.
Karena aku juga masih mengantuk, aku langsung menutup tirai kamar dimas, dan bergabung dengan dimas untuk tidur.
Dimas membawaku ke toko sekitar pukul delapan malam, mami lalu mengumpulkan karyawannya dan memperkenalkanku pada mereka.
"Ini maira, dia akan bergabung sama kita selama lima minggu, tolong bantuannya ya", ujar mami pada karyawan mami.
Aku kemudian memperkenalkan diri dan menjabat tangan mereka satu persatu.
Mami lalu mengajakku ke lantai dua, ke kantornya.
Aku dan dimas duduk di sofa ruang kerja mami, sementara mbak dina masih di bawah karena masih ada beberapa pembeli yang datang.
"Ini untuk kamu", ujar mami menyodorkan bungkusan berwarna coklat padaku.
"Apa ini mi", tanyaku pada mami, lalu aku membuka bungkusan coklat tersebut, dan mataku langsung berbinar saat melihat dress hijau tosca yang dulu ingin kubawa pulang.
"Makasih mi, aku suka banget", ujarku kegirangan.
"Iya mami tau, soalnya mami liat kamu di cctv, kamu berdiri lama banget di depan gantungan baju-baju untuk anak muda, terus mami tanya sama intan kasir di lantai dua, kata intan kamu ngobrol sendiri lama banget di depan rak baju, terus pas ke kasir muka kamu sedih", ujar mami padaku.
Aku langsung tersenyum, mengingat tingkahku saat itu.
"Untung pas mami lihat, dress yang kamu suka masih ada, dan belum ada yang beli", ujar mami lagi.
"Kamu kok nggak bilang sama aku kalau mau dua", tanya dimas padaku.
Aku hanya meringis dan tersenyum pada dimas.
"Lain kali kalau ada yang kamu suka, kamu ngomong dong sama aku", ujar dimas protes.
"Iya, kalau ada yang maira suka di toko mami, maira bilang ya, santai aja kalau sama mami, kamu kan udah seperti anak mami", ujar mami, menegurku dengan sangat halus.
Aku hanya tersenyum pada mami, dan mengucapkan terimakasih sekali lagi atas dress yang mami kasih.
**
__ADS_1