Namaku Maira

Namaku Maira
- Lembaran baru -


__ADS_3

***


Satu tahun enam bulan sudah berlalu, akhirnya aku bisa menerima kenyataan kalau aku sudah tidak bisa memiliki dimas.


Aku merelakan dimas, dan aku juga sudah tidak merasakan rasa sakit di hatiku saat aku mengingat dimas, atau melihat fotonya.


Setiap aku teringat dimas, aku hanya tersenyum dengan kenangan yang kami punya.


Semua sudah berlalu, dan dimas juga terlihat bahagia dengan keluarga barunya.


Aku sesekali masih melihat halaman sosial media dimas, hanya untuk memastikan kalau aku sudah tidak punya perasaan yang dalam lagi untuk dimas.


Perasaanku untuk dimas seperti album hitam putih, hanya untuk di kenang, tanpa ada harapan untuk bisa melewati kembali.


Aku turut berbahagia dengan hidup baru dimas, aku juga berdoa dan berharap semoga dimas selalu bahagia.


Aku memilih untuk sendiri dan tidak terburu-buru mengisi hatiku yang kosong.


Aku memilih untuk mengenal diriku dengan lebih baik, dan mulai kembali memupuk keinginan untuk masa depanku.


Aku hanya akan melibatkan diriku sendiri untuk mulai bermimpi, dan berangan akan apa yang ingin kumiliki.


Aku sedang bertekad untuk belajar bahasa inggris, aku memang masih mencari tempat les yang bagus, tapi abi menyarankanku untuk membuka akun dating online, supaya aku bisa berbincang dengan orang asing.


Menurut abi itu hal yang bagus untuk mulai belajar bahasa inggris.


Abi selalu bilang, yang penting bisa ngomong dulu, baru mikir susunan kalimat atau belajar tata bahasanya.


Abi memintaku untuk meniru bayi saat mereka mulai belajar untuk berbicara.


"Ra, sorry lama, jemput farel dulu soalnya", ujar abi, yang baru datang setelah aku menunggu tiga puluh menit.


Aku memang janjian sama abi untuk bersepeda bersama di sudirman hari minggu pagi ini.


Abi berjanji akan menjemputku di stasiun sudirman, dan kita akan bersepeda bersama mulai dari stasiun sudirman.


"Maaf ya ra, soalnya aku kesiangan", ujar farel padaku.


"It's okay", jawabku pada farel.


Farel, ini adalah kali kesekianku bertemu farel.


Farel adalah sosok yang abi cintai, aku tidak akan menghakimi pilihan abi.


Selama abi bahagia, aku pasti akan selalu mendukung setiap keputusannya.


Aku selalu mengatakan pada farel untuk tidak menyakiti hati abi, dan aku selalu bercanda pada farel, kalau aku akan mengejar farel sampai neraka kalau sampai menyakiti hati abi.


Farel meyakinkanku kalau dia akan mencintai abi dengan benar.

__ADS_1


"Rel, kenalin ini nia sahabatku", ujarku pada farel.


Aku memang mengajak nia untuk ikut sunday morning minggu pagi ini.


Setelah mengenalkan farel pada nia, kita langsung berangkat bersepeda ke arah scbd.


***


Desember 2020


Dimas berusaha menelvonku berulang kali melalui instagram.


Aku kemudian mulai membalas pesan dimas.


Dimas kembali setelah sekian lama, tapi untuk apa, semua sudah berlalu.


Percuma saja jika dimas kembali untuk meminta cintaku.


Semua itu akan sia-sia, karena yang dimas hadapi bukan maira yang masih sembilan belas tahun, tapi maira yang sudah mengakhiri usia dua puluh sembilan tahunnya.


Hatiku juga sudah terisi dengan nama lain, dan aku mencintainya lebih dari saat aku mencintai dimas dahulu.


Dua jam adalah waktu yang cukup untuk aku meladeni penyesalan dimas.


Semua sudah menjadi bagian dari masa lalu, yang tidak perlu aku bawa ke masa depan.


Aku meletakkan handphoneku, dan memilih berjalan ke dapur untuk membuat teh, kemudian menunggu matahari tenggelam.


Om rusman benar, bekerja di kantor kontraktor memberiku peluang untuk membantuku menyelesaikan masalahku.


Pelakunya memang sudah diringkus oleh kepolisian, tapi pihak kepolisian tidak bisa menarik seluruh uang yang mereka curi, karena sudah tersebar di berbagai rekening.


Hampir delapan puluh persen uang tersebut juga sudah ditarik oleh komplotannya.


Perusahaan memang mengembalikan uang yang sudah kucicil, tapi itu hanya sepuluh persen.


Sisanya masih kutanggung sendiri, dan masih belum sepenuhnya lunas, masih butuh dua sampai tiga tahun untuk aku bisa melunasi semuanya.


Sekarang aku tinggal di tangerang selatan, di bintaro tepatnya.


Aku membeli salah satu unit apartement yang ada di tengah wilayah bintaro.


Aku membelinya saat apartement ini baru di bangun, dan sekarang sudah satu tahun aku tinggal disini.


Meski apartment ini belum lunas dan masih harus aku cicil, tapi ini adalah kado untuk diriku sendiri karena sudah berjuang dan tidak menyerah dalam menghadapi hidup.


Usiaku sudah tiga puluh tahun sekarang, aku memang belum menikah.


Bagiku, aku harus siap secara mental dan financial saat aku memutuskan untuk menikah.

__ADS_1


Aku tidak ingin bersusah payah lagi saat aku menikah nanti.


Aku ingin pernikahan yang damai, tanpa khawatir akan tertekan karena beban ekonomi.


Aku ingin punya tabungan yang cukup terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh.


Untungnya calon suamiku satu misi denganku, dia juga ingin pernikahan yang sehat dan penuh cinta.


Aku juga ingin saat aku punya anak nanti, aku ingin anakku tumbuh dengan baik dan mendapatkan kasih sayang secara penuh.


Aku ingin bisa mendukung secara penuh kebutuhan dia, dan mimpi dia.


Aku tidak ingin hanya mengandalkan penghasilan suamiku untuk hidup, tapi aku ingin tetap menjadi mandiri meski aku sudah berstatus sebagai istri.


Kiki dan mia juga sudah menikah, kiki kembali ke jogja dan menikah pria pilihannya, dan itu bukan wawan.


Mia mengikuti suaminya pindah ke semarang.


Nia masih menjalin kasih, dengan pria yang sudah di pacarinya selama satu tahun.


Aku memang punya rencana untuk menikahi kekasihku yang sekarang, hanya saja saat ini belum tepat, aku masih harus menyiapkan semuanya, sebelum aku menyusul untuk tinggal dengannya.


Saat ini kita harus menjalani hubungan jarak jauh.


Dia di switzerland, tapi tak seharipun dia melupakan untuk menelvonku.


Dia selalu menelvonku saat dia bangun dan akan bersiap untuk bekerja.


Dan dia juga selalu meninggalkan pesan untukku yang sudah tertidur, saat dia pulang dari kantornya.


Ayah dan ibu mendukungku jika aku harus mengikutinya, menurut ibu, tugas utama istri memang mendampingi suami.


Ayah sedih karena harus berpisah ribuan kilometer dariku, tapi dia mendukungku.


Butuh waktu satu tahun lebih untuk meyakinkan orang tuaku tentang keputusanku untuk mengikuti calon suamiku.


Semua sahabatku masih berat untuk melepasku pergi jauh, terutama rani, karena dia harus menghadapi rengekan kak alan sendiri.


Aku berjanji akan selalu menelvon mereka, setidaknya satu minggu sekali.


Kak alan protes, tapi dia berjanji, jika nanti aku sudah menikah dan pindah ke switzerland, dia akan mengunjungiku sesekali.


Abi dan farel sudah lebih dulu pergi, mereka memutuskan untuk pindah ke german, dan menetap disana.


Semua sudah bahagia pada tempatnya masing-masing.


Aku menyeruput tehku yang masih panas sambil melihat wilayah bintaro dari lantai delapan belas.


Dimas tidak akan membuatku bimbang dengan semua ucapannya, tapi ucapan dimas membuatku yakin, kalau aku sudah melakukan hal yang tepat.

__ADS_1


Aku memilih untuk bahagia dengan apa yang aku miliki sekarang.


***


__ADS_2