Namaku Maira

Namaku Maira
- Permintaan Dimas -


__ADS_3

***


Jadwal sidang skripsi dimas di jadwalkan di akhir bulan juni.


Aku sudah menawarkan untuk mendampingi dimas, dan menunggu dimas di depan ruang sidang, tapi dimas menolak, karena dia tidak ingin menjadi semakin gugup.


Jadwal sidang skripsi dimas juga berbarengan dengan jadwal sidang skripsi rumi, jadi kalau mereka berdua lulus, mereka akan wisuda bersama.


"Jangan gugup, tenang aja", ujarku pada dimas sambil merapihkan kerah kemeja putih dimas.


Dimas terlihat cukup nervous, dia berulang kali memejamkan matanya, sambil menghafal dan mengingat materi skripsinya.


"Kamu nggak kuliah", tanya dimas.


"Kan lagi libur sebelum ujian", jawabku pada dimas.


Aku lalu menggenggam tangan dimas yang terasa dingin ditanganku.


Saat aku mengusap-usap tangan dimas, rumi datang, lalu meminta dimas untuk bergegas.


Dimas lalu memelukku dan mencium pipiku.


"Doain aku ya", pinta dimas di pelukanku.


"Iya, pasti", jawabku.


"Ayo nanti telat", ujar rumi lagi.


Dimas langsung memakai sepatunya dan berjalan bersama rumi.


Aku melihat mereka pergi dari lantai dua, kemudian aku masuk ke kamar dimas, setelah mereka keluar dari rumah kos.


"Dimas yang sidang, kenapa aku yang gugup ya", ujarku pada diriku sendiri.


Aku memutuskan untuk menunggu dimas, sambil belajar materi ujian.


Konsentrasi belajarku terpecah karena memikirkan dimas, dan karena cemas kalau hasilnya tidak sesuai harapan dimas.


Aku kemudian menyalakan komputer dimas, dan bermain spider solitaire, karena aku merasa cemas.


Setelah bosan bermain game, aku membuka facebook, dan melihat kumpulan foto di album facebookku, kemudian aku menulis status akan kegelisahanku menunggu dimas sidang skripsi.


*


Sekitar pukul tiga sore dimas pulang, dia terlihat lesu.


Aku lalu mengambil tas dimas, dan menaruhnya di karpet.


Dimas langsung ke kamar mandi begitu dia selesai melepas sepatunya.


Aku menunggu dimas di depan kamar mandi dengan gugup, kemudian melihat ke arah dimas.


Aku berusaha sehati-hati mungkin berbicara dengan dimas.


"Gimana", tanyaku pada dimas.


Dimas lalu melihat ke arahku sambil menahan senyumnya.


"LULUS!!" teriaknya, lalu memelukku.


Aku yang tidak siap dengan teriakan dimas, menjadi kaget.

__ADS_1


Setelah aku sadar, aku langsung memeluk dimas.


"Selamat ya", ujarku pada dimas.


"Kamu bikin kaget aja, kirain nggak lulus soalnya tadi lesu gitu", ujarku menahan airmataku.


"Aku lulus sayang, dengan nilai sempurna", ujar dimas lembut.


Air mata langsung menetes di pipiku, karena lega dari kekhawatiranku selama seharian.


Dimas memelukku dan menenangkanku.


Begitu melepas pelukanku, dimas langsung membereskan buku-buku milikku yang tercecer di karpet dan tempat tidur dimas.


Setelah membereskan buku milikku, dimas mengunci pintu kamarnya dan mengganti pakaiannya.


"Aku mau hadiahku", ujar dimas, saat dia kembali duduk di depanku.


"Dimas mau apa", tanyaku lembut, kemudian aku meraih tangan dimas.


"Pasti diturutin nggak", tanya dimas lagi.


"Pasti, asal aku masih mampu", jawabku.


Dimas lalu berdiri, dan menutup tirai jendela kamarnya, kemudian dia menyalakan lagu di komputernya.


Aku tersenyum saat menyadari apa yang dimas mau.


Sesuai dugaanku, dimas langsung melepas semua pakaiannya, dan menarikku untuk santai di atas tempat tidur.


Aku tidak bisa berhenti tersenyum melihat tingkah dimas.


Dimas lalu melepas kaosku, dan rok panjangku.


"Setelah kamu selesai ujian, kamu harus pulang ke sini", pinta dimas.


"Tapi aku butuh belajar untuk ujian dimas", jawabku pada dimas.


"Kamu belajar disini, aku bantu kamu belajar", ujar dimas menjawabku.


"Ibu pasti marah kalau aku pulang malam terus selama ujian", ujarku memberi alasan ke dimas.


Dimas lalu berfikir, kemudian di melepaskan pelukannya untukku.


"Dimas, aku nggak mau kena marah ibu", ujarku sambil menarik dimas untuk memelukku lagi.


"Kamu ujian berapa minggu", tanya dimas.


"Dua minggu full, habis itu libur panjang dua bulan", jawabku riang.


Aku menarik wajah dimas untuk menatapku.


"Coba dimas pikirin lagi hadiah dimas, yang nggak perlu sampai aku kena marah ibu", ujarku pada dimas.


"Yaudah, aku akan pulang ke solo selama dua minggu, aku ijinin kamu untuk jadi mahasiswi yang baik supaya hasil ujiannya bagus, gimana", ujar dimas.


"Lalu", tanyaku pada dimas.


"Lalu aku akan pulang balik ke kos, sehari sebelum kamu selesain ujian terakhir kamu, terus begitu ujian kamu selesai, kamu harus langsung pulang ke kosku, deal", ujar dimas.


"Oke", jawabku.

__ADS_1


"Itu baru hadiah pertama, hadiah yang kedua aku pikir dulu", ujar dimas sambil merapatkan pelukannya.


"Emang rencananya mau minta berapa hadiah", tanyaku.


"Hmmmm, kita lihat nanti", jawab dimas dengan tatapan culas.


"Sekarang, aku cuma mau lepasin, ini dan ini", ujar dimas sambil menunjuk ke arah pakaian dalamku.


Sepanjang sore, aku membiarkan dimas menyentuhku sesuai kemauannya


Aku bahkan menuruti dimas saat dia ingin mencoba posisi baru.


Aku tidak membantah keinginan dimas satu katapun.


Aku membiarkan diriku menikmati sentuhan yang dimas tawarkan.


Dimas tidak pernah hanya memikirkan dirinya sendiri, dia selalu berusaha untuk membuatku merasakan apa yang dia rasakan.


Sampai akhirnya dimas kelelahan di sampingku, tapi anehnya aku tidak lelah sama sekali, meski dimas sudah membolak balikkan badanku berulang kali.


"Oh noo", ujar dimas saat melihatku sedang menatapnya dengan mata yang berbinar.


"Kenapa", tanyaku tersenyum.


Dimas lalu menggigit bibirnya, dan menciumku.


"Butuh berapa jam sampai akhirnya kamu tumbang", tanya dimas padaku.


"Entah", jawabku singkat.


Dimas lalu memintaku untuk memeluknya.


"Nyaman banget ada pelukan kamu sayang", ujar dimas.


Aku merekatkan pelukanku untuk dimas.


"Hadiah untuk dimas yang udah berusaha dengan baik", ujarku lembut.


"Hadiah untuk dimas yang udah sebulan nggak di sentuh maira", ujar dimas sambil tertawa, kemudian dia mencium pipiku.


"Hadiah untuk maira yang udah dengan sabar cuma liat punggung dimas selama tiga bulan", ujarku menggoda dimas.


Dimas kembali tertawa, kemudian dia tertidur di pelukanku.


Aku memeluk dimas yang tertidur cukup lama, karena aku tidak mengantuk, aku memutuskan untuk kembali belajar.


Aku lalu memakai bajuku, dan duduk di samping dimas yang tertidur.


Aku berusaha untuk membaca lagi materi mata kuliah untuk ujian minggu depan.


Aku hanya menyalakan lampu belajar dimas, untungnya aku masih bisa melihat jelas tulisan-tulisan di buku paket dan di catatanku.


Aku memilih mematikan lampu utama supaya dimas bisa tidur dengan nyenyak.


Dimas sesekali terbangun dan melihatku, lalu tidur kembali, sampai tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan dimas masih tidur dengan pulasnya.


Aku ingin membangunkan dimas untuk pamit pulang, tapi aku tidak sampai hati mengganggu dimas yang tertidur sangat pulas.


Aku memilih untuk membiarkan dimas tidur dan berusaha sepelan mungkin untuk membereskan barang-barangku.


Aku tidak ingin membuat suara yang bisa membangunkan dimas.

__ADS_1


Aku hanya pamit pulang dengan mencium pipi dimas, dan memastikan dimas terselimuti dengan benar, kemudian aku berjalan keluar kamar dan menutup pintu kamar dimas dengan sangat pelan.


***


__ADS_2