Namaku Maira

Namaku Maira
- Date Pertama -


__ADS_3

***


Ini adalah kali ketigaku mengunjungi bali, pertama kali aku ke bali, saat ayah mengajakku dan kak alan di liburan sekolah kami dulu, ketika aku masih kelas lima sekolah dasar.


Kedua kalinya saat pihak sekolah mengadakan karya wisata ke bali, saat aku duduk di kelas dua SMA.


Kali ketiga ini, aku pergi dengan sahabat-sahabatku yang aku sayangi.


Aku berangkat ke bali, tepat tiga hari setelah aku pulang dari semarang.


Meski kembali ke bali sangat menyenangkan, tapi ada satu rasa yang kurang.


Aku mengharapkan sosok dimas ada bersamaku di bali.


Selama lima hari di bali, kami mengunjungi patung GWK yang belum lama buka, kemudian kita menonton pertunjukkan tari bali di tanah lot.


Sisanya, kita menghabiskan waktu di pantai, yang dekat dengan hotel tempat kami menginap.


Selama di bali kiki tak berhenti bercerita soal wawan.


Kiki menceritakan hobby wawan, sikap wawan yang sering membuat kiki tertawa, dan banyak hal lainnya tentang wawan.


Kiki sempat menyinggung soal dimas, tapi aku hanya mengatakan bahwa kita biasa aja, tidak ada yang spesial.


Aku ingin menceritakan perasaanku untuk dimas pada sahabatku, tapi aku sendiri belum yakin dengan hubungan yang kumiliki dengan dimas.


Aku tidak mau merasa terlalu percaya diri kalau dimas menyukaiku.


Mungkin kebaikan yang dimas berikan padaku, karena memang dimas adalah orang yang baik secara alami, dan tidak ada maksud lain.


Tante rosa ikut pergi dengan kami, dia bilang ingin mendampingi kami, dan menjaga kami.


Kami tahu, kalau alasan sebenernya adalah, karena dia tidak mau tinggal sendiri di rumah tanpa nia.


Kami kembali ke jogja sore hari, di hari terakhir kami di bali, setelah kami membeli oleh-oleh di toko krisna.


*


Dua hari sudah aku di rumah setelah pulang dari bali, dan aku masih memilih untuk santai di rumah.


"Ibu aku kerumah uti seminggu lagi ya, tunggu kak alan pulang", pintaku pada ibu saat makan malam.


"Boleh", jawab ibu sambil mengunyah makan malamnya.


"Emang mau kemana dulu", tanya ayah.


"Di rumah dulu yah, sama paling main sama temen kampus", jawabku.


"Emang nggak pada mudik", tanya ayah.


"Kan nggak semua temen rara orang luar kota yah", ujarku menjelaskan pada ayah.


Setelah makan malam aku langsung masuk ke kamar, dan menolak untuk menonton tv bersama ayah dan ibu.


Baru semenit aku merebahkan diriku di tempat tidur, dan baru saja ingin membuka sosial mediaku, dimas menelvonku.


"Kok nggak di bales chat aku ra", ujar dimas diujung telvon.


"Habis makan malam", jawabku.


"Besok mau di jemput jam berapa", tanya dimas.


"Terserah dimas", jawabku.


"Mau kemana kita", tanyaku.


"Kamu ikut aja ya", pinta dimas.


Dimas ingin merahasiakan tujuan mengajakku pergi besok, dan memilih untuk menanyakan kembali kegiatanku di bali.


Baru sebentar aku menceritakan kegiatanku di bali, aku mulai mengantuk, kemudian aku pamit untuk tidur pada dimas.


Paginya, dimas menjemputku dengan mobil ayahnya, setelah dimas menyapa ibu, dimas menungguku, lalu meminta ijin untuk mengajak aku pergi.


Dimas mengajak aku ke mall malioboro untuk makan siang, dan bermain di time zone setelahnya.


Sekitar pukul empat sore, dimas mengajakku keluar dari malioboro, kemudian dimas membawa mobilnya ke arah parangtritis.


Kita sampai di parangtritis tepat saat matahari terbenam.


Aku memilih untuk melihat matahari terbenam dari dalam mobil, dan dimas juga memilih untuk menemaniku di mobil.


"Ra kamu seneng nggak pergi sama aku hari ini", ujar dimas membuka pembicaraan.


"Seneng dimas, makasih ya", jawabku, sambil tersenyum ke arah dimas.


"Kalau kamu suka kangen nggak sama aku", tanya dimas tiba-tiba.


"Menurut kamu hubungan kita ini apa ya", tanya dimas lagi.


Aku langsung melihat ke arah dimas, dan menatapnya, begitupun dengan dimas menatapku dengan cukup dalam.


Aku merasa dimas sedang melihat jiwaku, dan mempelajarinya.


"Ra, kamu mau jadi pacarku", tanya dimas sambil menatapku, kemudian meraih tanganku.


Aku hanya tersenyum, lalu aku mengangguk, aku merasa lega karena akhirnya dimas memintaku untuk menjadi miliknya.


Dimas langsung mencium bibirku, saat aku mengiyakan keinginannya.


Aku langsung terlarut dengan ciuman yang dimas berikan.

__ADS_1


Ciuman dimas sangat lembut dan bibirnya sangat hangat, dan dia mencium keningku setelahnya.


"Makasih", ujar dimas sambil membelai pipiku.


Aku hanya melihatnya dan tersenyum, dan dimas menciumku lagi.


Dimas masih terus menatapku, meski dia sudah menyelesaikan ciumannya.


Aku bisa merasakan kehangatan di tatapan dimas, dan juga kasihnya yang terpancar di matanya.


"Dimas", panggilku.


"hmm", ujar dimas menjawabku sambil menyentuh daguku.


"Kenapa", tanya dimas sambil menatapku dengan hangat.


"Cuma pingin manggil nama kamu aja", jawabku tersenyum.


Dimas lalu mengusap pipiku kemudian menciumnya.


Tangan dimas terasa hangat di tanganku, dan bibir dimas sangat lembut menyentuh wajahku.


Aku tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa, karena aku hanya ingin menikmati moment yang membuat hatiku berdebar tanpa henti.


"Mau jalan-jalan di pinggir pantai nggak", ajak dimas, yang masih belum melepaskan tatapannya dariku.


Aku setuju, lalu kita keluar dari mobil, untuk merasakan angin yang pantai parangtritis hembuskan.


Dimas memegang tanganku saat kita ke arah bibir pantai,


Hari sudah mulai gelap, dan matahari sepenuhnya sudah turun.


Kita memutuskan untuk duduk di pinggir pantai, sambil mendengar deburan ombak pantai.


Dimas kemudian merangkul bahuku, dan merapatkan dirinya padaku.


"Dimas sudah sejak kapan suka sama aku", tanyaku pada dimas.


"Kalau tertarik dari awal ketemu, kalau suka mulai saat aku lihat kamu di depan perpustakaan kampus kamu ra", jawab dimas.


"Emang apa yang bikin dimas suka sama aku", tanyaku lagi pada dimas.


"Hmm entahlah, aku juga bingung jawabnya, yang pasti kamu selalu ada di pikiranku, dan setiap kamu senyum, aku langsung pingin milikin kamu", jawab dimas, tersenyum sambil melihat gelapnya pantai.


Tidak banyak hal yang bisa aku tanyakan, karena dimas membuatku kehilangan kendali atas diriku sendiri.


Meski ini adalah hari pertama kami, tapi dimas tanpa segan menciumi bibirku berulang kali.


"Pulang yuk, aku nggak mau antar kamu terlalu malam", ujar dimas, begitu waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Di perjalanan kita menuju mobil, dimas tidak melepas genggamannya dari tanganku, dan mencium tanganku sesekali.


Mobil dimas sampai di depan rumahku, tepat pukul sepuluh malam.


"Nggak mau pelukan dulu", pinta dimas.


"Ini di depan rumah, nggak enak kalau ada yang lihat", jawabku.


Dimas langsung melepaskan tanganku, dengan tatapan tidak puas.


Aku baru masuk ke rumah saat mobil dimas mulai berbelok di pertigaan, dan sudah tak terlihat mataku lagi.


Aku langsung tersenyum dan memegang pipiku, sampai aku masuk ke dalam kamarku, lalu aku menutup pintu kamarku dengan perlahan.


Hatiku terus berdebar, tanganku dingin, dan wajahku pun terasa panas.


Aku merasakan hatiku melayang, karena rasa ciuman dimas di bibirku masih belum hilang, dan perlakuan dimas yang menurutku sangat manis, membuatku ingin menghabiskan malam bersama dimas.


Ada sedikit rasa yang belum aku tahu sebelumnya, yaitu rasa ingin menghabiskan seluruh hari dengan dimas, dan hanya ingin ada di pelukan dimas, serta ingin dimas saat ini, hanya untukku.


Setelah aku mengganti baju, aku melihat dimas menelvonku.


Dia mengatakan bahwa dia sudah sampai di kos, dan dia juga bilang bahwa dia sudah rindu denganku lagi, dan dia ingin cepat tidur, supaya besok bisa langsung bertemu denganku.


Semua perkataan dimas, berhasil mengukir senyum abadi di bibirku.


Aku bahkan tidak tahu harus menjawab dimas bagaimana, saat dimas mengucapkan "I love you maira".


Dimas membuat senyum enggan untuk meninggalkan wajahku.


Aku sangat senang malam ini, dan ingin malam segera berganti.


Aku ingin segera bertemu dimas, dan merasakan ciuman dimas lagi.


Aku tertidur dengan senyum yang masih terukir di bibirku.


**


Esok harinya, begitu bangun, aku langsung mencari ibu, untuk bercerita, kalau semalam aku dan dimas resmi menjadi sepasang kekasih.


Ibu memelukku, dan menasehatiku untuk tahu batas-batas dalam berpacaran, dan menjaga diri dengan baik.


Aku mengangguk, dan mendengar semua ucapan ibu, ibu terlihat senang, lalu tersenyum padaku.


Siang harinya, dimas datang kerumah dan pamit pada ibu untuk mengajakku jalan.


"Rara nya di jaga ya dimas", pinta ibu dengan ramah pada dimas.


"Baik bu", jawab dimas.


Kita langsung jalan, setelah ibu mengijinkan kami untuk pergi.

__ADS_1


Siang ini, dimas membawaku ke taman wisata kaliurang.


Udara di kaliurang lumayan dingin, meski matahari terlihat terik.


Melihatku yang terus mengusap lenganku, membuat dimas langsung memberikan jaketnya padaku, kemudian memelukku.


Kita berjalan-jalan di sekitar hutan wisata, lalu makan siomay yang sudah menjadi langgananku dari SMA.


Setelah dirasa cukup melihat sekitar, serta dimas yang sudah memberiku banyak ciuman di gardu pandang, dimas mengajakku untuk turun, karena hari sudah mulai gelap.


Kita sampai di pertigaan gejayan sekitar pukul tujuh malam, dan dimas mengajakku untuk melihat rumah kos yang dia tempati, karena masih ada waktu sebelum jam malamku habis.


Rumah kos yang dimas tempati, lokasinya di seturan, tidak terlalu jauh dari kampusnya, bahkan lebih dekat dengan kampusku.


Bangunan rumah kos dimas, hampir sama seperti bangunan rumah kosan bowo.


Rumah dua lantai dengan deretan kamar di lantai dua, dan parkiran di lantai dasar yang dikelilingi oleh kamar-kamar.


Rumah kos yang di huni dimas, masih terlihat sepi, karena penghuninya adalah mahasiswa luar jogja, dan mereka masih belum kembali dari libur panjang semester.


Letak kamar dimas, ada di ujung lorong di lantai dua, begitu kita naik dari tangga ke lantai dua, kita belok kanan dan melewati lima kamar kos lainnya, sebelum sampai di kamar dimas, di paling ujung.


Dimas memintaku untuk masuk ke kamarnya, dan begitu aku masuk, aku langsung melihat suasana nyaman di kamar kos yang dimas tempati.


Kamarnya juga dilengkapi dengan kamar mandi di dalam kamar.


Ada jendela yang cukup besar di sebelah pintu, dan terlihat gelap dari luar.


Kalau ingin mengetahui siapa yang ada di dalam kamar, kita perlu menempelkan wajah kita di jendela.


Dimas sangat rapi, kasur tidurnya dari springbed yang tergeletak di lantai, dengan bantal dan selimut yang tertata rapi.


Ada rak buku yang bisa aku jumpai begitu aku masuk ke dalam kamar, dan karpet kecil di tengah ruangan.


Dimas meletakkan komputernya di atas meja kecil di bawah jendela, bersebelahan dengan dispenser.


Di depan kamar mandi, ada lemari pakaian yang tertutup rapi, dan dihiasi dengan kaca di setiap pintunya.


"Ini tahun ke empat ya, sebentar lagi lulus dong", tanyaku pada dimas.


Dimas yang sedang duduk di kasur hanya mengangguk sambil tersenyum.


Begitu aku selesai melihat kamar dimas, dimas berdiri dan menutup pintu kamarnya.


"Buka aja, nggak enak kalau anak kos yang lain lihat", ujarku pada dimas.


"Disini kos bebas ra, penghuninya pada cuek, yang jaga juga nggak tinggal 24 jam disini, dia kesini kalau pagi aja", ujar dimas menjelaskan.


Dimas tetap menutup pintu kamarnya dan kembali duduk di tempat tidur.


Aku tidak ingin membantah dimas, dan memilih untuk duduk di karpet.


Dimas memberiku air putih dan memintaku untuk duduk di dekatnya.


Dimas kemudian menyalakan komputernya, dan memutar film.


Aku yang awalnya duduk bersandar di tempat tidur, mulai merebahkan diri, dan bersandar di tangan dimas.


Dimas membuatku merasa sangat nyaman, dimas lalu memelukku, dan menghujaniku dengan ciuman.


Ac kamar kos dimas yanh sangat dingin, membuatku menarik selimut untuk menutupi kakiku yang mulai kedinginan.


Dimas kemudian menarik selimut untuk menutupiku, dan menarikku untuk lebih dekat kepelukannya.


Aku suka kehangatan tubuh dimas, saat dia memelukku.


Dimas yang awalnya hanya meciumku dengan lembut, berubah menciumku dengan sangat bergairah.


Dimas memainkan lidahnya, dan menggigit bibirku sesekali.


Tangan dimas juga selalu mengusap leherku saat dia menciumku.


Aku merasa seperti lilin yang meleleh saat dimas menciumku.


Dimas dengan wajahnya yang memerah, meminta ijin untuk menciumi leherku.


Aku mengabulkan permintaan dimas, tanpa tahu rasa yang akan timbul setelahnya.


Dimas membuka gairah yang selama ini aku tidak kenal, aku bahkan tidak bisa berpikir lagi, dan aku tersesat di rasa yang dimas kenalkan.


Ciuman dimas yang tanpa henti, akhirnya membuatku haus, aku kemudian duduk dan mengambil minumanku.


Aku melihat jam di atas jendela kamar dimas, sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Dimas", ujarku lembut.


"Iya kenapa", jawab dimas, sambil meraih tanganku.


"Udah jam sembilan", ujarku.


"Aku anter kamu pulang tiga puluh menit lagi ya", pinta dimas dengan suara sangat lembut.


Aku tidak bisa menolak permintaan dimas, dan mengiyakan keinginan dimas dengan mudahnya.


Selama tiga puluh menit yang dimas minta, dimas memelukku, dan terus menciumku tanpa henti.


Aku tidak bisa menyalahkan diriku karena hanyut dipelukan yang dimas berikan.


Intensitas dimas menciumku membuatku ingin lebih, yang aku sendiri masih asing dengan perasaan itu.


Sebelum jalan untuk pulang, dimas menciumku cukup lama, dan mengecup leherku beberapa kali.

__ADS_1


Dia mengatakan kalau dia tidak bisa menciumku di depan rumah, jadi dia ingin menyelesaikan di kamar kosnya.


***


__ADS_2