Namaku Maira

Namaku Maira
- Masa Pengenalan -


__ADS_3

***


Esoknya rumi dan dimas mengembalikan motor kiki, tapi kami masih tidur, jadi yang menerima tante Rosa, bundanya nia.


Matahari sudah cukup tinggi saat aku membuka mata, begitu aku melihat jam, ternyata sudah pukul sepuluh pagi, aku langsung turun dari tempat tidur.


Aku melihat nia dan kiki masih tidur pulas.


Aku berjalan dengan pelan dari tempat tidur, dan berjinjit ke arah pintu keluar.


Saat aku turun ke lantai satu, tante rosa terlihat sibuk di kebun kecilnya.


Aku tidak ingin mengganggunya jadi aku langsung menuju dapur, untuk mencari makanan.


"Pagi tante", sapaku saat melihat tante rosa berjalan ke arah dapur.


"Sudah bagun anak gadis bunda", ujar tante rosa ramah.


"Pulang jam berapa kalian semalam", tanya tante rosa lagi, sambil menaruh gunting di meja makan.


"he hehe, jam dua tante", jawabku sambil tersenyum lebar.


"Nakal ya pagi-pagi baru pulang", ujarnya sambil mencubit pipiku.


"Om kemana tante", tanyaku.


"Om sudah berangkat ke jakarta tadi pagi", jawab tante rosa yang sudah duduk manis di meja makan.


Akupun jadi kikuk saat tante rosa hanya melihat ke arahku, dengan senyum dan binar di matanya.


"Kenapa tante, kelihatan bahagia gitu", tanyaku, mencoba membuyarkan tatapan tante rosa.


"Jadi yang mana pacar kamu, dari dua cowok yang semalam pergi ke bosche sama kalian", tanya tante rosa, tanpa jeda.


Aku langsung tersedak, lalu tante rosa memintaku untuk pelan-pelan makannya, dan memberiku susu untuk kuminum.


"Temen tante, itu rumi sama dimas, temen kiki juga kok", jawabku saat berhasil mengontrol diriku.


"Pacar juga nggak papa kok", ujar tante rosa menggodaku.


Tante rosa kemudian meninggalkanku sendiri di meja makan, tanpa aku bisa menjelaskan lebih jauh.


Tapi aku membiarkannya, lagi pula tante rosa juga memang suka bercanda, pikirku.


Tante rosa adalah sosok yang sangat hangat, dia selalu ingin tahu hal-hal yang terjadi di kehidupan kita.


Kita disini adalah nia anaknya, dan kita sahabatnya.


Tante rosa juga selalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk aku, kiki, rani dan mia.


Tak jarang tante rosa juga menasehati kami, saat kami melakukan kesalahan, atau sekedar meminta kami untuk menjadi anak yang baik.


Tante rosa dan om rusman selalu menekankan, bahwa teman-teman nia sama berharganya seperti nia buat mereka.


Rumah nia selalu terasa hangat untuk aku pribadi, karena tante rosa memang selalu ramah dan baik pada kita.


Tante rosa adalah wanita di awal empat puluh tahun yang masih sangat cantik dan terawat.


Sementara om rusman, dia selalu mengatakan bahwa dia beruntung, karena tante rosa mau menerimanya.


Mereka juga selalu meminta nia untuk terbuka, nakal tidak masalah asal ada batasannya.


Menurutku, mereka merupakan pasangan yang sangat serasi, karena keduanya sangat berjiwa muda.


Nia merupakan anak tunggal mereka.


Rumah nia memang selalu menjadi tempat menginap kami, saat kami pulang malam.


Mungkin karena tante rosa tidak pernah menghakimi kami, saat kami hanya ingin bersenang-senang, jadi kami selalu nyaman untuk pulang kerumah nia, begitu jam malam kami sudah lewat.


Tentu saja orang tua nia selalu menasehati kami, kalau di jalanan itu sangat berbahaya saat malam hari.


Hampir setiap akhir minggu, om rusman pulang ke jogja untuk menghabiskan waktu dengan nia dan tante rosa.


Jadi sering kali kita lebih memilih untuk bertemu di rumah nia, kalau mau mengerjakan tugas sekolah, atau sekedar main di akhir minggu.*


Tante rosa turun dari lantai dua bersama nia dan kiki yang masih mengantuk, mereka kemudian langsung sarapan denganku.


"Ra BB mu dari tadi bunyi terus nih", ujar kiki sambil menyerahkan Blackberryku.

__ADS_1


Nama kak alan tertera menelvonku beberapa kali.


Begitu ku telvon balik, ternyata kak alan cuma minta di belikan kue di tempat langganannya.


"Ki balik jam berapa kita", tanyaku saat aku kembali ke meja makan, setelah menelvon kak alan.


"Sorean aja ya", jawab kiki.


"Nanti mampir ke Amanda ya", pintaku.


"Titipan kak alan ya", tanya nia.


Aku mengangguk dan kembali melanjutkan sarapanku.


*


Setelah sabtu malam kemaren, dimas sering memberiku pesan, hanya pesan singkat.


Terkadang langsung aku balas, tapi seringnya aku melupakan karena kesibukanku di kampus.


Jadwal kuliah hari ini pukul tujuh pagi, setelah kelas selesai, ayu dan dita memilih untuk bergabung denganku di perpusatakaan, untuk mengerjakan tugas.


Begitu aku melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, aku membereskan buku-bukuku dan bersiap untuk pulang.


"Aku pulang dulu ya say", pamitku ke ayu dan dita.


"Udah selesai memang", tanya ayu.


"Udah, nih mau liat", jawabku, sambil menyerahkan kertas tugasku ke ayu.


Ayu hanya menggeleng, akupun memasukkan buku, serta kertas yang berserakkan milikku ke dalam tas, lalu beranjak, dan meninggalkan perpustakaan.


"Maira", ujar suara dibelakangku saat aku turun dari tangga perpustakaan.


"Oh, hai", sapaku.


Ternyata dimas, tapi kenapa dimas ada di kampusku.


Aku tidak ingin terlalu penasaran, jadi aku abaikan, mungkin dia ada keperluan.


"Habis nugas", tanya dimas.


Dimas hanya tersenyum dan menjelaskan, kalau dia baru saja kelar urusan dengan temannya di kampus ini, untuk membahas kegiatan mahasiswa pecinta alam atau lebih singkatnya mapala.


"Kamu aktif di mapala", tanyaku agak terkejut.


"Aktif sih enggak, tapi aku bagian dari Mapala UPB", jawabnya.


"Oh, yaudah aku jalan ya", pamitku pada dimas.


"Loh nggak ada kelas lagi", tanya dimas.


"Ada sih nanti jam tiga sore, tapi mau pulang dulu", jawabku.


"Oh gitu ya, mau ke ambarukmo nggak", ajak dimas tanpa basa basi.


"Nggak ah, mau ngapain", jawabku.


"Nonton gitu", ujar dimas.


Aku hanya membalas dengan tersenyum, dan pamit untuk jalan ke arah parkiran, tapi ternyata dimas mengikutiku dari belakang.


"Kalau gitu nanti sore makan malam sama aku gimana", ujar dimas lagi, dan dia sudah berdiri di depanku, menghalangi jalanku.


"Atau kita ngopi", pinta dimas.


"Aku nggak suka ngopi dimas, lagi pula mau makan dimana coba", jawabku tanpa antusias.


"Makannya tawaran orang jangan di tolak terus", ujarnya.


"Aku nggak boleh pulang terlalu malam kalau hari biasa", ujarku.


"Jam malamnya sampai jam berapa", tanya dimas.


"Jam sembilan malam harus udah di rumah", jawabku.


"Oke deh", ujar dimas, lalu dia menghilang dari pandanganku.


Begitu sampai rumah, aku memutuskan untuk main sosial media.

__ADS_1


Lebih seringnya sih aku berbalas tweet dengan sahabat-sahabatku.


Sering sekali kita saling berbalas joke garing tapi berakhir lucu.


Sampai tak terasa aku ketiduran dengan Blackberry masih ditanganku, maklum harus bangun pukul enam pagi hari ini, karena kelas di mulai pukul tujuh pagi.


"Ra bangun", ujar ibu yang sudah ada di tepi tempat tidurku, dan berusaha membangunkanku.


"Makan dulu, udah jam dua siang nih", ujar ibu.


"Masih ngantuk bu", jawabku, dengan mata yang masih terpejam.


"Ayo makan dulu, nanti telat kuliahnya", ujar ibu lagi.


Dengan mata yang masih berat, akhirnya aku bangun, dan ibu merangkulku menuju dapur.


Sambil makan aku melihat ada pesan dari ayu, ayu bilang kalau tadi ada pengumuman kuliah ekonomi digital jam tiga sore kosong.


"Bu kuliah kosong, habis ini boleh tidur lagi nggak", tanyaku ke ibu yang sedang membaca majalah di ruang tengah.


"Jangan dong ra, masa tidur terus", jawab ibu dengan nada keberatan.


"Bantu ibu aja ya bersih-bersih di rumah nenek", ujar ibu.


"Mbak imah kemana bu", tanyaku lagi.


Mbak imah itu asisten rumah tangga nenek, sudah sangat lama dia bekerja di rumah nenek, mungkin sudah dari aku di sekolah dasar, mbak imah sudah bekerja di rumah nenek.


"Ya mbak imah ada, tapikan kalau semakin banyak yang bantu semakin cepat selesainya", ujar ibu.


Akupun mengiyakan permintaan ibu, dan menyelesaikan makan siangku.


Aku membantu ibu merapikan rumah nenek sampai pukul lima sore.


Setelah semua selesai, aku ingat kalau aku meninggalkan Blackberryku dirumah.


"Bu rara ambil hp dulu ya di rumah", ujarku, karena tanpa sengaja aku meninggalkan Blackberry milikku dirumah.


"Langsung balik ya", teriak ibu saat aku keluar dari rumah nenek.


Saat aku keluar dari rumah nenek, aku melihat ayu dan bowo berdiri di depan pagar rumahku.


"Loh kok nggak ngabarin", ujarku sambil berjalan ke arah mereka.


"Kamu itu aku telvonin bolak balik nggak di angkat", ujar ayu dengan wajah terlihat kesal.


"Ada apa emang, kan jam kuliah kosong", jawabku dengan santai.


"Bu merlin tadi jam tiga sore telvon ke bowo, kalau dia ada waktu jam enam sore untuk di wawancarai", ujar ayu menjelaskan, meski masih dengan nada sedikit kesal.


"Oh, yang tugas ekonomi perkotaan ya", tanyaku dengan terkejut.


"Yaudah aku siap-siap dulu deh", ujarku lagi ke ayu dan bowo.


"Kalian masuk aja", pintaku pada ayu dan bowo.


Ayu dan bowo pun mengikutiku dari belakang.


Dengan tergesa-gesa aku langsung berganti pakaian, dan menelvon rumah nenek, untuk pamit karena harus mengerjakan tugas dadakan.


Ayu berboncengan dengan bowo, aku membawa motor sendiri.


Karena jarak rumah bu marlin agak jauh, jadi kami sedikit ngebut.


Rumah bu merlin ada di dekat pasar godean, perjalanan kurang lebih 45 menit dari rumahku, dengan kecepatan 50 sampai 60 km/jam.


Sesampainya di rumah bu merlin, dita sudah disana, dia berjaga-jaga kalau kita telat, jadi dia datang duluan.


Bu merlin adalah pakar ekonomi yang sering wara-wiri di koran lokal di jogja.


Kami ada tugas untuk bikin makalah soal permasalahan ekonomi di wilayah jogja, jadi kami butuh untuk wawancara ahlinya.


Cukup sulit untuk mendapat jadwal wawancara dari bu merlin, jadi ketika ada kesempatan, harus langsung kita ambil.


Menurut dita, katanya bu merlin baru bisa di wawancara tiga puluh menit lagi.


Kita pun menunggu di ruang tamu rumah bu merlin, setelah dipersilahkan untuk masuk.


Aku teringat bahwa aku punya janji dengan dimas, aku langsung mengirim pesan ke dimas, kalau aku meminta maaf, karena terpaksa membatalkan janji dengannya.

__ADS_1


***


__ADS_2