Namaku Maira

Namaku Maira
- Arman pergi -


__ADS_3

***


Cutiku selama empat hari di jogja berjalan seperti kilat.


Di hari senin seluruh keluargaku datang melihat rasya.


Setengah mati aku membujuk dimas untuk menungguku di hotel.


Dimas akhirnya setuju, tapi dimas mengatakan, jika jam waktu kunjung sudah selesai dan aku belum muncul di depannya, dimas akan langsung ke kamar rawat rani untuk mencariku.


Dan aku lupa diri saat melihat rasya, rasya membuatku enggan untuk meninggalkannya.


Aku ingin selalu ada saat rasya membuka mata, saat rasya menangis dan saat rasya tertidur.


Semua keluargaku juga pulang begitu jam kunjung selesai, termasuk uti.


Ayah hanya cuti setengah hari, jadi kak alan yang mengantar uti dan yang lainnya pulang ke rumah kami untuk istirahat.


Tinggalah aku yang menemani rani dan rasya keponakanku.


Aku kaget saat melihat dimas masuk ke kamar rawat rani.


Sekitar pukul dua siang, dimas datang dengan membawa sebuket bunga dan langsung mengucapkan selamat pada rani.


Aku langsung ingat kalau aku janji untuk menemui dimas saat makan siang.


Rani langsung melihatku dengan tatapan bingung.


"Aku boleh gendong juga nggak ran", tanya dimas yang membuat rani berhenti bertanya padaku melalui tatapannya.


"Boleh", jawab rani ramah.


Dimas kemudian mengambil rasya dari lenganku.


Aku mengabaikan rani, yang ingin aku untuk menjawab kebingungannya.


Aku hanya mendekat ke dimas, dan melihat rasya yang ada di lengan dimas.


"Kalian udah makan", tanya dimas padaku dan rani.


"Aku udah, rara belum", jawab rani.


Rasya kemudian menangis, dan dimas langsung memberikannya pada rani.


"Dia benci kamu", ujarku pada dimas sambil tertawa kecil.


Dimas hanya tersenyum, dan mengusap rambutku.


"Assalamualaikum", sapa suara yang baru masuk ke kamar.


Begitu kita melihat arah pintu, ternyata ibunya rani.


Ibu rani langsung memintaku untuk makan siang, dan bergantian jaga.


Dimas kemudian mengajakku untuk keluar.


"Kamu duluan, nanti aku nyusul", ujarku pada dimas.


Begitu dimas keluar dari kamar, aku langsung duduk di sisi ranjang, kemudian menggenggam tangan rani dan memohon.


"Tolong jangan kasih tau siapapun", pintaku pada rani dengan tatapan memohon.


"Terutama kak alan", ujarku pada rani.


"Kamu tau kan ra kalau ini nggak bener", ujar rani padaku.


"Iya aku tau", jawabku.


"Yaudah, aku percaya sama kamu untuk selesain masalah kamu, aku akan rahasian, tapi hanya satu bulan", ujar rani padaku.


Aku mengiyakan rani, kemudian aku pamit pada ibu rani, dan langsung keluar dari kamar.

__ADS_1


Dimas masih menungguku di depan kamar saat aku keluar.


"Loh nggak turun dulu", tanyaku pada dimas yang masih berdiri menempel pada tembok di depan kamar rani.


Dimas hanya tersenyum lalu meraih tanganku.


Sorenya, aku ijin pada ibu untuk menginap di hotel dekat rumah sakit, alasanya, karena rumah penuh dengan saudara yang datang.


Selain itu, supaya aku lebih deket untuk bolak balik kerumah sakit.


Aku juga beralasan, meski aku cuti aku juga harus tetap mengerjakan beberapa laporan dari kantor.


Semua yang kukatakan tidak sepenuhnya bohong, tapi alasan utamanya, tentu saja karena aku ingin bersama dimas.


Andai saja hubunganku dengan dimas masih sama seperti saat aku kuliah dulu, pasti aku dengan bangga membawa dimas bertemu keluargaku.


*


Hari selasanya, saat aku ke rumah sakit, rani menanyakan dimas, aku berbohong pada rani, kalau dimas sudah pulang ke solo di senin malam.


Aku juga berbohong kalau aku akan berangkat ke jakarta hari rabu pagi.


Rabu pagi, rani dan bayinya juga sudah di ijinkan untuk pulang, jadi tidak ada yang mempermasalahkan kalau aku absen.


Kecuali kak alan, dia memintaku untuk mengambil cuti lagi selama seminggu.


Kalau kak alan tahu, aku menghabiskan waktu dengan dimas di hari rabu, dari pagi sampai malam, dia pasti akan langsung murka.


Rabu malam dimas langsung mengantarku ke bandara, dia memintaku untuk langsung menelvonnya begitu aku sampai kos.


Dimas juga memintaku untuk cuti di akhir bulan depan, supaya kita bisa liburan bersama.


Sekarang aku sudah kembali tenggelam di meja kerjaku.


"Ra kata arman makasih oleh-olehnya", ujar abi berbisik padaku.


"Iya arman juga semalam udah bilang", jawabku.


"Siapa yang mau nonton", tanya lexi yang ikut berbisik.


"Kita mau nonton Anabel, mau ikut nggak", ujarku pada lexi masih dengan berbisik.


Lexi tidak menjawab dan kembali ke komputernya.


Hubunganku dengan arman bisa aku jelaskan sebagai hubungan pertemanan pada saat ini, kita dekat, tapi tidak seintens dulu.


Minggu nanti memang rencananya kita mau nonton, hanya aku, abi dan arman.


*


Hari sabtu malam saat dimas menelvon, aku tidak mengatakan pada dimas, kalau aku akan pergi nonton dengan arman dan abi.


Aku hanya bilang kalau aku akan pergi nonton dengan teman kantorku, ningsih dan abi.


Aku tidak sepenuhnya berbohong, aku hanya mengganti nama arman menjadi ningsih.


Minggu sekitar jam sepuluh pagi, abi dan arman menjemputku di depan kos, kemudian abi membawa mobilnya ke plaza Blok M.


Sebenernya ada banyak pilihan bioskop di mall di sekitar sudirman, tapi untuk soal harga, blok M masih lebih bagus, dengan kualitas studio yang hampir sama.


Abi menurunkan aku dan arman di depan lobby plaza, kemudian kita langsung naik ke atas untuk membeli tiket.


Arman memintaku untuk membeli snack dan dia yang akan membeli tiket.


Begitu arman sudah keluar dari loket, dia memintaku untuk bergegas, karena filmnya mulai sepuluh menit lagi.


Saat aku menanyakan abi, arman tidak menjawab.


Begitu kita duduk di dalam studio, aku menelvon abi, tapi tidak di jawab oleh abi, kemudian aku meninggalkan pesan kalau film sudah mau dimulai.


Selama dua jam lebih aku di dalam studio, telingaku sedikit berdengung saat aku keluar.

__ADS_1


Aku menyalahkan sound system dari studio, sekaligus teriakan dari penonton lain yang satu studio denganku, meski aku juga ikut menyumbang teriakan tersebut.


Arman mengajakku untuk makan siang setelah kita keluar dari studio.


Saat aku menanyakan abi sambil menunggu pesanan kami datang, arman akhirnya mengaku, kalau dia hanya ingin menonton denganku, dia tahu kalau aku akan menolak, jadi arman meminta bantuan abi.


"Aku berangkat ke zurich minggu depan ra", ujar arman saat aku hanya diam tidak menjawab penjelasan arman.


"Swiss", tanyaku pada arman.


"Iya", jawab arman singkat.


Bersamaan dengan jawaban arman, pesanan kami datang.


Arman langsung memintaku untuk makan dan menghentikan obrolan kami.


Ada rasa sedih yang terbersit saat mengetahui kalau arman akan pergi jauh.


"Sampai kapan", tanyaku pada arman begitu aku selesai makan.


"Aku akan kuliah di sana, setelahnya mungkin aku akan menetap", ujar arman.


"Arman tidak akan kembali", gumamku dalam hati.


"Ini memang rencanaku dari tahun lalu, aku sudah mendaftar untuk beasiswa dari enam bulan lalu, dan dua minggu lalu aku diterima, jadi minggu depan aku harus berangkat untuk mengurus semuanya", ujar arman menjelaskan.


Aku menghalau kesedihan yang terlintas dibenakku, kemudian tersenyum dan memberi selamat pada arman.


Aku mendukung keputusan arman sebagai teman yang baik.


Aku tidak berhak untuk merasa sedih dengan kepergian arman, jadi aku memilih untuk bahagia dengan masa depan pilihannya.


Arman memintaku untuk tidak menolak ajakannya untuk pergi selama dia masih di jakarta.


Setelah setuju untuk tidak menolak ajakan arman, arman langsung berterimakasih padaku sambil mengusap tanganku.


*


Arman akan berangkat ke swiss di hari kamis, dengan penerbangan pagi.


Arman tidak memintaku untuk mengantarnya ke bandara, karena dia tahu, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.


Arman juga mengatakan kalau dia punya alasan sendiri untuk tidak memintaku mengantarnya ke bandara, tapi arman tidak mau mengatakannya padaku.


Rabu malam setelah kami makan malam dan jalan malam sebentar, arman mengantarku pulang ke kos.


Arman pamit dengan memelukku dan mencium pipiku.


Kemudian arman pergi setelah memintaku untuk tidak melupakannya.


Aku tersenyum saat melihat arman pergi, sekaligus merasakan ruang hampa di hatiku.


Ketika aku melihat layar handphoneku saat aku sudah di kamar, aku melihat dimas menelvonku sebanyak sepuluh kali.


Aku memilih untuk membersihkan diriku terlebih dulu, dan baru menelvon dimas setelahnya.


Dimas langsung marah saat dia menjawab telvon.


Dimas marah karena aku tidak menjawab telvon darinya, juga karena jam sembilan aku belum sampai kos.


Aku berbohong pada dimas, kalau ningsih teman kantorku mengajak kami untuk karaoke.


Dimas kemudian bilang, kalau dia akan ke jakarta hari jumat sekitar pukul sebelas malam, jadi dia memintaku untuk tidak menjemputnya di bandara.


Dimas memintaku untuk menunggunya di kamar hotel yang sudah dia pesan atas namaku.


Dimas juga mengatakan kalau dia akan mematikan handphonenya sampai hari jumat, karena harus menyelesaikan deadline pekerjaan dari klien.


Dimas menutup telvon setelah aku mengatakan kalau aku mengerti dan tidak akan marah.


***

__ADS_1


__ADS_2