
***
Minggu terakhir liburan semester tiga, aku habiskan waktuku untuk belajar memasak dengan ibu.
Karena aku berusaha komitmen untuk belajar masak, aku juga harus bangun jam enam pagi untuk pergi kepasar dengan ibu.
Hari pertama aku semangat, hari kedua masih semangat, dan aku mulai malas di hari ketiga.
Ibu terus menyemangatiku, begitupun dengan ayah.
Ayah terlihat senang karena aku ikut sarapan di pagi hari sebelum ayah berangkat kerja.
Biasanya kalau hari libur kuliah, ayah hanya melihatku di rumah saat malam hari.
Saat hari libur, ibu dan ayah memang membebaskanku untuk bangun sesuka hatiku.
Pagi ini, adalah hari ke limaku belajar masak.
Setelah dari pasar, aku langsung mencuci sayuran dan ikan yang ibu beli, lalu aku menata jajanan pasar yang aku pilih untuk kutaruh di piring.
Begitu ibu kembali ke dapur setelah menaruh cucian di mesin cuci, kami langsung mulai memasak.
Saat makanan sudah siap, ibu memanggil ayah untuk sarapan.
Kak alan yang biasanya sarapan jam sepuluh, juga ikut sarapan pagi ini.
Ayah berangkat kerja sekitar pukul 07.45 pagi, dan kak alan kembali ke kamar setelah ayah berangkat.
Begitu ayah berangkat, ibu memintaku untuk merapihkan meja makan dan mencuci piring kotor.
"Assalamualaikum", ujar sebuah suara yang sangat aku kenal.
Aku langsung menghentikan kegiatanku mencuci piring, kemudian mengeringkan tanganku yang basah, lalu lari ke depan.
"Waalaikumsalam rani", jawabku riang.
"Loh kamu udah bangun ra", tanya rani.
"Udah dong, aku bangun jam enam pagi selama lima hari ini ran", jawabku bercerita dengan penuh semangat ke rani.
"Mau ajak main aku kemana pagi-pagi gini", tanyaku pada rani.
Rani terlihat bingung untuk menjawab.
"Emang rani mainnya cuma sama kamu doang", ujar kak alan yang baru datang ke ruang tamu, dan memukul kepalaku dengan koran milik ayah.
"Kan emang cuma aku di rumah ini sahabat rani", jawabku sambil mengusap kepalaku.
"Tunggu sebentar ya ran, aku siap-siap dulu", ujar kak alan, dan dia kembali masuk ke dalam, meninggalkan aku yang baru ingin membalas ucapannya.
Aku bingung karena kak alan meminta rani menunggu, kemudian aku melihat rani dan meminta jawaban.
"Sekarang aku bukan hanya sahabat kamu ra, tapi juga calon kakak ipar kamu", bisik rani sambil tersenyum bahagia.
Aku langsung membuka mulutku karena terkejut, lalu aku menarik tangan rani ke kamarku.
"Sejak kapan, kok bisa, gimana ceritanya ran", tanyaku pada rani saat kita sudah ada di kamarku.
Aku sangat penasaran, sekaligus antusias karena mendengar kabar dari rani.
Rani kemudian mulai bercerita, rani bilang, kalau dia sudah menyimpan perasaan untuk kak alan sejak dia duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Pertama.
Saat itu menurut rani, aku mengajak rani untuk ke rumah setelah pulang estrakulikuler.
Rani melihat kak alan ada di rumah, dia sedang menonton tv, saat aku dan rani datang.
__ADS_1
Rani langsung suka dengan kak alan yang baru hari itu dia jumpai.
Menurut rani, kak alan sangat manis menggunakan kacamata baca.
"Culun ah kak alan kalau pakai kacamata", ujarku menyela rani.
Rani hanya tersenyum kemudian melanjutkan ceritanya.
Setelah rani melihat kejadian kak alan dan sita seusai konvoi kelulusan, rani memilih untuk menyimpan perasaannya untuk kak alan.
Sampai akhirnya rani diterima di kampus yang sama dengan kak alan.
Rani menyadari kalau perasaannya untuk kak alan masih sangat jelas, dan dia mulai berharap untuk memiliki kak alan.
Saat kak alan dalam masa-masa berat karena hubungannya dengan sita mulai buruk, rani ada di samping kak alan, untuk memberikan kenyamanan dan menghibur kak alan.
Tak jarang juga mereka menghabiskan waktu bersama di kampus.
Entah untuk makan siang, atau ke perpustakaan, saat rani meminta kak alan untuk membantu rani mengerjakan tugas kuliah.
Perhatian dari rani yang secara terus menerus rani berikan untuk kak alan, akhirnya membuat kak alan menyadari perasaan rani untuknya.
"Oh, pantes waktu itu kak alan nanyain kamu", ujarku menyela rani lagi.
"Mau dilanjutin nggak", tanya rani padaku, karena aku menyela ceritanya lagi.
Aku kemudian menutup mulutku dan berjanji untuk mendengar cerita rani sampai selesai.
Rani menunggu kak alan untuk mengakhiri hubungannya dengan sita, dan memastikan kak alan sudah melupakan sita.
Rani kemudian mengungkapkan perasaannya ke kak alan, begitu rani yakin kalau kak alan sudah tidak memikirkan sita lagi.
Kak alan langsung menerima pernyataan rani, dan mengatakan kalau dia juga menyukai rani.
Aku tersenyum mendengar semua cerita rani, dan merasa sangat senang.
"Kok aku bisa nggak tau ya", ujarku pada diriku sendiri.
"Kamu itu memang kurang peka, jadi kamu nggak akan tahu", ujar rani mencibirku.
"Kamu kok nggak bilang kalau suka sama kak alan dari SMA, kalau kamu cerita pasti aku langsung dukung", ujarku pada rani.
"Aku cuma berani cerita ke nia", ujar rani.
"Nia tau", tanyaku kaget.
"Iya nia tau", jawab rani.
"Jahat jahat, aku nggak dikasih tau", rengekku sambil memukul pelan lengan rani.
"Yang lain tau", tanyaku lagi pada rani.
Rani menggeleng, rani mengatakan kalau dia baru berencana untuk cerita ke kita, saat kita kumpul.
"Tapi kamu hari ini bisa-bisanya bangun pagi, kan jadi ke gep", ujar rani cemberut.
"Selamat ya rani", ujarku, lalu memeluk rani.
"Kalau kak alan bikin kamu nangis, kamu harus kasih tau aku, biar aku jambakin rambutnya", ujarku pada rani dengan mimik muka serius.
Rani hanya tertawa, mendengar ucapanku.
"Aduh seneng deh, sahabatku jadi pacar kakakku", ujarku pada rani dengan riang.
"Bukannya kamu suka ya sita jadi pacar kak alan", ujar rani melirikku.
__ADS_1
"Buat aku nih ya ran, siapapun pilihan kak alan pasti aku dukung, apalagi sekarang kak alan pilih kamu, aku dukung lima juta persen", jawabku membujuk rani.
Rani tertawa, lalu memelukku.
"Jadi pas di solo kamu udah jadi pacar kak alan dong", tanyaku pada rani.
"Belum, baru deket, aku jadi pacar kakak kamu baru seminggu", jawab rani.
Aku teriak kegirangan, kak alan lalu masuk ke kamarku dan memarahiku karena berisik.
"Ran tau nggak, waktu kak alan SMP itu dia masih", ujarku berusaha membuka aib kak alan, tapi kak alan langsung menutup mulutku.
"Ran jalan yuk", ujar kak alan tersenyum ke arah rani.
"Pulangnya aku beliin coklat lima batang", ujar kak alan berbisik di telingaku, lalu melepas tangannya dari mulutku, karena mulai kujilati.
"Jorok ah kamu nih", ujar kak alan marah lagi.
"Jadi waktu kak alan SMP ran", ujarku lagi dan kak alan langsung menutup mulutku lagi.
"Udah ya ra, besok rara minta jajan apapun, kakak pasti beliin", ujar kak alan, dengan senyum terpaksa sambil membelai rambutku.
Kak alan langsung menarik tangan rani untuk keluar dari kamarku.
Kemudian aku menelvon nia.
"Iya ra", ujar nia di seberang telvon.
"Kamu lagi apa", tanyaku pada nia.
"Lagi main laptop aja", jawab nia.
"Kenapa", tanya nia lagi ditelvon.
"Kamu dibeliin laptop sama ayah kamu ni", tanyaku pada nia.
"Iya, kan komputerku rusak", jawab nia, santai.
"Ada apa ra", tanya nia, kembali menanyakan alasanku menelvon nia.
"Kamu ada rahasia yang mau di sampein ke aku nggak", tanyaku pada nia.
"Rahasia, rahasia apa", tanya nia balik, dengan nada bingung.
"Rahasia rani", ujarku santai.
Nia terdengar mengubah posisinya.
"Maksudnya gimana sih", tanya nia berusaha menutupi kekagetannya.
"Udah, nggak usah bohong", jawabku pada nia.
"Rani udah cerita semua, kalau dia suka sama kak alan dari SMA, baru aja rani pergi sama kak alan keluar", ujarku panjang lebar ke nia.
"Mereka akhirnya jadian", tanya nia.
"Iya", jawabku teriak dengan girang.
Aku lalu mendengar teriakan nia dari seberang telvon.
"Kapan katanya ra", tanya nia.
"Minggu lalu katanya", jawabku sambil menggigit kukuku yang mulai panjang.
"Pantesan habis kita dari solo, hari seninnya rani dateng minta pendapat", ujar nia.
__ADS_1
Aku dan nia kemudian membuat janji untuk berkumpul di rumah kiki, minggu depan.
***