
***
Begitu sampai kamar, aku langsung mandi, karena aku tidak suka akan bau asap yang menempel di bajuku.
Terik matahari memasuki seluruh ruangan kamar ini, tapi meski begitu udara di villa cukup dingin.
Saat aku berangkat, aku memakai celana jeans selutut, kaos dalam berwarna pink, kemeja putih, dan jaket kuningku.
Aku melepaskan kemejaku setelah mandi dan terpaksa hanya memakai kaos dalam pink milikku.
Udara dingin langsung membuat kulitku bergidik, aku tidak punya pilihan lain, selain menengggelamkan diriku di dalam selimut.
Aku menghabiskan waktu dengan berbalas twitter dengan teman-temanku, dan membalas pesan-pesan di facebook, sambil menunggu dimas.
Aku tertawa sendiri dengan kelucuan teman-temanku SMA di twitter.
Tiga puluh menit setelahnya, dimas baru masuk ke kamar, dimas juga sudah berganti baju, dan berbau segar.
Dimas hanya memakai celana santai, seperti yang biasa dimas pakai saat aku main di kamar kosnya.
"Loh sayang mandi dimana", tanyaku pada dimas.
"Di kamar bawah", jawabnya.
"Tadi perasaan kamu nggak bawa tas deh, kok bisa ganti baju", tanyaku lagi, karena melihat dimas mengenakan kaos yang berbeda dari saat dia berangkat pagi ini.
Dimas menjelaskan, kalau dia dan keluarganya memang punya pakaian ganti yang ditinggal di villa ini, hanya untuk berjaga-jaga jika ada keadaan darurat.
Dimas lalu bergabung denganku di bawah selimut.
"Sejak kapan mami punya villa ini sayang", tanyaku pada dimas.
"Udah lama banget sayang, ada kali sepuluh tahunan", jawab dimas.
"Kok masih kokoh ya", tanyaku.
"Udah dua kali renovasi ini", jawab dimas sambil memelukku.
Dimas kemudian menceritakan, kalau dirinya dan keluarganya sangat jarang memakai villa ini, karena villa ini tidak pernah sepi penyewa.
Mami dimas juga tidak pernah mematok harga yang mahal untuk sewa villanya.
Dengan harga yang terjangkau, dan pemandangan langsung ke arah gunung merapi, menurutku, membuat villa milik mami dimas, memiliki selling point yang sangat bagus.
"Dimas udah selesai skripsinya", tanyaku sambil memeluk dimas lebih erat.
"Laporan sama portonya udah, tinggal sempurnain maket", jawab dimas dengan muka ceria.
"Cepet banget", ujarku.
"Kan ngerjain nyicil dari awal semester", jawab dimas.
__ADS_1
"Libur kuliah emang bisa bimbingan", tanyaku pada dimas.
"Bisa kok, tinggal ke rumah dosen aja pas ada jadwal", jawab dimas santai.
"Yah sedih dong aku, kalau nanti dimas nggak di jogja lagi", ujarku.
"Kan setiap sabtu minggu nanti ketemu", ujar dimas semakin erat memelukku.
"Terus dimas malamnya nginep dimana", tanyaku.
"Kalau villa kosong ya di villa, atau nggak sewa kamar, kan banyak sayang hotel murah", ujar dimas.
Aku lalu menatap dimas dengan tatapan sedih, dimas hanya tersenyum lalu mengecupku.
Dari kecupan kemudian berlanjut menjadi ciuman.
Dari ciuman yang lembut berubah menjadi ciuman penuh hasrat.
Dimas kemudian berpindah ke atas tubuhku, dan melepaskan kaosnya, lalu dia kembali menciumiku setelah menarik selimut untuk menutupi punggungnya.
Setelah menciumku cukup lama, dimas turun dari tempat tidur dan melepaskannya semua benang yang menempel di tubuhnya.
Dimas kembali dan langsung memelukku, tanpa benang yang menempel di tubuhnya, kemudian dia menciumiku penuh hasrat.
Aku bisa merasakan tangan dimas mulai merayap di balik kaosku.
Dimas lalu melepas kaitan braku, kemudian dia menciumi leherku dan meremas payudaraku.
Dimas tak ingin membuang waktu, dia langsung melepas kaos yang menjadi penghalang kulit dimas untuk menyentuhku.
Aku kembali merasakan setiap sentuhan jemari dimas dan bibir dimas yang sering aku rindukan.
Dimas kembali duduk di atas tubuhku dengan tumpuan lututnya.
Dia lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku dan mulai menciumi bibirku, aku langsung terkejut saat jemari dimas ternyata sudah ada di celah antara kakiku, jemari dia masuk kedalam celah tersebut dan berdansa.
Dimas mulai menuruni tubuhku dan mengecup setiap sudut yang dimas lewati.
Dimas kemudian memainkan lidahnya di celah kakiku.
Dimas kembali mencium bibirku setelah melihat reaksi yang aku berikan karena permainanya.
Aku melepaskan ciuman dimas dan merintih, saat dimas mulai memainkan jarinya lagi.
Dimas hanya menatapku dengan kobaran api di di matanya.
Setelah rintihanku semakin keras, dimas menyatukan tubuhnya denganku.
Rasa tidak nyaman yang pernah kurasakan dulu, kembali menyeruak, tapi itu hanya sesaat, setelahnya aku bisa merasakan bunga-bunga bermekaran menggelitiki perutku.
Aku dan dimas tenggelam dalam penyatuan yang dimas kenalkan padaku, tanpa aku merasakan sakit saat dimas ada di dalamku.
__ADS_1
Aku memeluk dimas erat saat aku merasakan bunga yang menggelitiki perutku, membawaku terbang di antara awan-awan.
Dimas terjatuh di atas tubuhku dengan nafas beratnya, saat kupu-kupu milik dimas terlepas.
Setelah dimas kembali pada dirinya sendiri, dia berpindah ke sampingku dan memelukku, kemudian menciumi pipiku.
Dimas lalu melepas plastik putih yang menyelimuti dirinya, dan membuangnya ke tempat sampah di samping tempat tidur.
"Kapan dimas pakai itu, kok aku nggak lihat", tanyaku pada dimas.
Dimas tertawa kecil lalu mencium pipiku, dan memelukku lagi.
Aku lalu melihat ke balik selimut, dan menyadari bahwa seluruh pakaianku sudah terlepas.
Aku mengernyit ke arah dimas, dan dia kembali mencium pipiku.
"Kok aku nggak sadar ya", gumamku pada diri sendiri.
"Itu tandanya kamu masuk ke perangkapku", ujar dimas menggodaku.
Aku lalu memukul dada dimas dengan tangan kecilku, dimas hanya tertawa.
"Emang dimas selalu bawa itu", tanyaku pada dimas.
"Sayang mau hamil", tanya dimas balik.
"Enggak", jawabku sambil mendorong tubuh dimas dariku.
"Karena itu, aku selalu bawa untuk berjaga-jaga, aku tau kamu belum siap untuk melangkah sejauh itu, aku juga tahu kamu masih punya cita-cita yang ingin kamu raih", ujar dimas menjelaskan.
Aku lalu menarik dimas untuk mendekat kembali, dan mencium pipinya.
"Kalau sayang siap hamil, aku siap tanggung jawab kok", ujar dimas menggodaku.
"Nggak siap", ujarku dengan manja.
"Tapi dimas sejak kapan punya itu", tanyaku pada dimas sambil menunjuk ke arah tempat sampah.
"Sejak aku mulai sentuh kamu, sejak itu aku mulai punya untuk berjaga-jaga", jawab dimas.
Dimas lalu meraih celana pendeknya, dan mengeluarkan tiga bungkusan plastik kecil dari saku celannya.
"Emang punya berapa", tanyaku pada dimas.
"Punya lima, tapi yang satu udah di pakai di semarang dulu", jawab dimas santai.
"Terus itu selalu dimas bawa kemana-mana", tanyaku.
"Ya nggak kemana-mana juga, yang pasti saat aku lagi ngabisin waktu sama kamu, aku langsung taruh di saku celana, supaya mudah di jangkau", jawabnya, lalu dia tertawa melihat ekspresi yang kuberikan.
Dimas kemudian memelukku dan membuat janji kalau aku akan menjadi satu-satunya di hati dimas.
__ADS_1
Dia juga berjanji akan menjagaku dan bertanggung jawab atasku, saat kita sudah siap untuk melangkah ke arah yang lebih jauh.
***