Namaku Maira

Namaku Maira
- Pacar Baru Kiki -


__ADS_3

***


Sudah tiga hari berlalu, setelah aku membatalkan janji dengan dimas.


Dimas hanya membaca pesanku, dia tidak membalas, tapi dia sangat aktif berinteraksi di group vario versa, group yang aku ikuti atas permintaan kiki.


Ada sedikit rasa bersalah di hatiku untuk dimas, jadi aku memutuskan untuk ikut kumpul di GSP di hari sabtu malam, minggu ini.


Dari hari rabu sampai hari jumat merupakan jadwal paling padat untukku, karena hampir setiap hari ada empat kelas.


Karena hal itulah persoalan tentang dimas tidak terlalu mengusikku.


"Aku nyerah untuk dapetin hati rio", ujar dita disela-sela kita mengerjakan tugas.


"Saingan kamu tuhan dita, kamu nggak akan menang", ujarku ke dita, yang membuat ayu dan bowo terkikik.


"Besok nonton yuk", ajak ayu.


Kita sepakat untuk nonton di hari sabtu jam dua siang.


"Aku bawa anak kosku ya", ujar bowo, dan membuat dita langsung menegakkan kepalanya.


"Rio", tanya dita senang.


"Rian", jawab bowo.


Dita pun kembali meletakkan kepalanya di meja, dan membuat kita tertawa melihat tingkah dari dita.


*


Sabtu pagi, aku mulai dengan pergi sarapan dengan ayah dan kak alan di lembah UGM.


Pukul satu siang aku pergi dengan teman kampusku dan baru sampai rumah sekitar maghrib.


Pukul tujuh malam, aku memghampiri kiki untuk mengajak kiki kumpul di GSP, tapi ternyata kiki tidak ada di rumah.


Aku kemudian mengirimkan pesan, dan menanyakan kiki ada dimana, dan akan ikut kumpul atau tidak.


Kiki hanya menjawab kalau hari ini dia tidak bisa ikut kumpul.


Sebenernya aku juga enggan untuk ke GSP, tapi aku punya beban untuk meminta maaf secara langsung pada dimas.


Setelah makan malam, aku pamit pada ibu dan ayah untuk pergi lagi, karena ini hari sabtu, ibu dan ayah tidak terlalu komplain soal aku yang seharian tidak di rumah.


Begitu sampai di lokasi, ternyata hanya ada rumi, fian, susi dan juga dimas.


Kami langsung memutuskan untuk berangkat, begitu aku sampai.


Agendanya adalah pergi ke jalan magelang untuk makan jamur.


Sebenernya kegiatan di group ini cukup membosankan bagiku, karena tujuannya hanya jalan dan makan.


Aku memutuskan untuk berboncengan dengan rumi, fian dengan susi, dan dimas sendirian.


Saat aku menyapa dimas dan tersenyum, dimas bahkan tidak menatapku, aku jadi bingung dan serba salah.


Sampai di lokasi tempat kita makan, aku berusaha mencari kesempatan untuk berbicara dengan dimas.


"Kamu marah ya", tanyaku pada dimas, saat teman-teman yang lainnya sedang selfie di area tempat makan, dan dimas hanya duduk sendiri.

__ADS_1


"Soal apa", tanya dimas balik.


"Soal aku yang batalin janji untuk makan sama kamu", jawabku berusaha terdengar bersalah.


"Nggak papa kok, mungkin bagi kamu menolak tawaran aku, mengiyakan, lalu membatalkan itu hal yang mudah", jawab dimas datar.


Seharusnya itu membuatku marah, karena dimas sudah asal menilaiku, tapi aku berusaha tenang.


"Dimas, kalau batalin janji ke orang itu mudah untukku, aku nggak akan minta maaf secara langsung ke kamu, awalnya aku nggak mau ikut kegiatan malam ini, tapi aku usahain, karena aku mau minta maaf sama kamu secara langsung", ujarku menjelaskan pada dimas dengan nada selembut mungkin.


"Maaf sudah nilai kamu sembarangan", ujar dimas melihatku dengan mata sayunya.


"Nggak papa kok", jawabku.


"Ya udah dimaafin, tapi aku minta ganti hari", pinta dimas.


"Oke, dimas mau hari apa", ujarku ringan.


"Besok gimana", tanya dimas.


"Jangan hari minggu dimas, hari senin atau selasa gimana", tanyaku, memberi pilihan pada dimas.


"Kalau hari biasa nanti dibatalin lagi", ujar dimas menggerutu.


"Enggak kok, kali ini aku tepatin", ujarku meyakinkan dimas.


"Kamu hari selasa kuliah pagi selesai jam berapa", tanya dimas.


"Sekitar jam sembilan", jawabku.


"Yaudah aku jemput kamu di depan gerbang jam sembilan ya", ujar dimas yang terdengar mulai lunak dan ramah lagi padaku.


Sekitar pukul sepuluh malam kita memutuskan untuk pulang.


Aku memilih untuk berkendara sendiri, tapi rumi dan dimas memaksa untuk mengawalku sampai depan rumah, dengan senang hati aku menyetujui.


*


Minggu sore aku memutuskan untuk menghabiskan waktu di rumah kiki. Mia dan rani ternyata sudah di rumah kiki.


Kita hanya membaca komik, membaca majalah, atau hanya sekedar berbagi cerita saat kita kumpul.


"Aku jadian sama wawan", bisik kiki padaku.


Aku langsung menutup buku komik yang kubaca, dan bangun untuk duduk, lalu teriak girang.


"Kenapa", tanya rani kaget.


"Kiki punya pacar", ujarku senang.


Rani langsung turun dari tempat tidur dan menanyakan kebenarannya pada kiki.


Aku dan rani heran karena mia terlihat santai dan tidak antusias


"Aku udah tau", kata mia datar.


Aku dan rani langsung melihat ke arah mia karena penasaran.


"Kok bisa", tanyaku pada mia.

__ADS_1


"Kan perginya sama aku", jawab mia.


Saat aku melihat kiki, dan kiki terlihat senang, aku dan rani tidak mempermasalahkan siapa yang tahu lebih dulu, kami kemudian memeluk kiki, dan mengucapkan selamat pada kiki.


Rani langsung menelvon nia, dan di jawab oleh nia di dering kedua.


"Ya ran", ujar nia di telvon.


"Mau tau nggak", ujar rani.


"Tau apaan", tanya nia.


"Kiki punya pacar sekarang", ujar rani riang.


"Hah serius", teriak nia kaget.


Rani kemudian menjelaskan pada nia, kalau kabar tersebut bukan hoax, lalu mengirimkan foto wawan dan kiki, yang ada di Blackberry milik mia.


"Kalian pokoknya minggu depan harus ke rumah, aku mau tau detailnya, aku tutup dulu ya ran, mau anter ayah ke bandara soalnya", ujar nia, kemudian menutup telvon.


"Gimana kejadiannya", tanya rani setelah meletakkan handphonenya.


"Jadi", ujar mia, berusaha mengambil perhatianku dan rani.


"Bukan kamu mia", teriakku dan rani bersamaan.


"Jadi", ujar kiki membuat aku dan rani semakin penasaran.


Kiki melihat rasa penasaran di muka kami, lalu dia tertawa.


Setelah selesai dengan tawanya, dan mendengar rani yang terus merajuk, kiki menjelaskan, bahwa dia dan wawan dekat sudah lama, dia adalah kakak pembina ospek.


Setelah ospek selesai, mereka memutuskan berteman dan mengenal satu sama lain.


Hari sabtu kemaren wawan mengajak kiki untuk kepantai.


Saat aku bertanya kenapa tidak mengajakku, kiki menjawab bahwa jumat malam dia sudah tanya ke aku hari sabtu aku kemana, dan menurut kiki, aku bilang pada kiki kalau aku pergi nonton dengan teman kampusku.


Kiki kemudian mengajak mia, mia datang bersama seto, jadilah mereka berempat pergi ke pantai glagah.


Di pantai glagah wawan meminta kiki untuk jadi pacarnya.


Setelah mendengar cerita kiki, aku dan rani langsung menatap satu sama lain, lalu aku memeluk rani,


"Romantis baget yah, kita kapan ra", ujar rani padaku.


"Kapan-kapan", saut mia.


Aku dan rani hanya melirik ke arah mia yang sedang menjulurkan lidahnya ke kita.


"Tapi aku seneng ki, akhirnya kamu ketemu sama orang yang bisa kamu percaya dan layak kamu perjuangkan", ujarku riang pada kiki, sambil memegang tangan kiki.


"Aku happy buat kamu juga ki", ujar rani.


"Ah kalian ini, jadi terharu kan", ujar kiki, kiki lalu memelukku dan rani.


Kita menghabiskan malam dengan mendengar cerita kiki soal wawan, dan aku yang memilih untuk menyimpan soal perasaanku untuk dimas dari mereka, karena menurutku, aku dan dimas, mungkin belum tentu punya kesempatan seperti kiki dan wawan.


***

__ADS_1


__ADS_2