
***
Kantor yang akan menjadi tujuanku setiap pagi, letaknya di Jl. Jendral Sudirman.
Salah satu gedung di JL. Jendral Sudirman dengan tinggi dua puluh dua lantai, akan menjadi tujuanku setiap pagi.
Kantor yang aku tempati, ada di lantai delapan belas lot dua.
Pemandangan dari jendela ruangan kantorku adalah gedung sebelah, jadi aku tidak punya kesempatan untuk melihat seluruh jakarta dari balik jendela kantorku.
Setelah menjalani masa training selama dua minggu, hanya ada tiga yang bertahan untuk tetap bekerja di kantor ini, aku, diah, dan kinan.
Diah perempuan berusia dua puluh sembilan tahun, dan sudah berkeluarga.
Dia tinggalnya di bogor, jadi setiap pagi dia harus berangkat pukul 5.30 pagi dari rumahnya.
Aku dan diah ditempatkan di satu tim dengan ningsih dan abi, supervisor kita adalah miss alice.
Miss alice merupakan warga keturunan cina yang berasal dari Malaysia.
Aku cukup kesulitan mengikuti tempo kerja yang miss alice berikan.
Dia mau segala sesuatunya cepat dan akurat.
Aku tidak punya kesempatan untuk mengeluh, jadi sebaik mungkin, aku berusaha untuk belajar dengan cepat.
Saat ini, tim dari miss alice, memegang account investor sebanyak lima orang, dengan nominal investasi sekitar tujuh milyar.
Tugasku adalah memberikan report pada investor mengenai pergerakan pasar, serta memberikan analisis dari setiap berita yang aku baca setiap pagi.
Ningsih bertugas untuk memberikan report pada abi, lalu diteruskan pada miss alice.
Setiap hari, sekitar pukul lima sore, miss alice mengadakan evaluasi. Biasanya kita baru keluar kantor sekitar pukul enam sore, tapi tak jarang pukul tujuh malam sampai delapan malam, kita baru keluar dari kantor.
Aku berangkat setiap pagi, sekitar pukul tujuh pagi dari rumah nia, dan baru sampai kembali ke rumah nia, hampir pukul sembilan malam, karena aku selalu terjebak macet selama satu jam lebih.
Setiap pagi, aku bangun sebelum jam enam pagi, kemudian bersiap secara singkat, dan langsung mengejar angkutan umum supaya aku tidak terlambat sampai kantor.
Nia sendiri bangun lebih pagi dari aku, karena dia bekerja di area jakarta pusat, tepatnya di harmony.
Nia pergi setiap pagi di antar oleh ayahnya ke halte busway terdekat, dia lebih memilih meninggalkan mobilnya di rumah, karena dia merasa trauma saat membawa mobil untuk berangkat ke kantor.
Kemacetan di jakarta, membuat nia selalu kehilangan kesabaran, saat nia membawa mobilnya ke kantor.
*
Dua bulan di jakarta, aku hampir menyerah karena tidak sanggup dengan ritme yang harus aku jalani setiap hari.
Gaji yang kuterima juga selalu habis tak bersisa.
__ADS_1
Mahalnya biaya makan siang yang kukeluarkan, serta liburan di akhir minggu yang selalu aku dan nia lakukan, membuat kantongku tetap tipis, meski aku bekerja dari jam delapan pagi sampai jam tujuh malam setiap harinya.
Belum lagi potongan yang harus aku terima karena terlambat sampai ke kantor.
Aku kelelahan, akhirnya aku mengumpulkan tante rosa, nia dan om rusman saat hari libur.
Aku menyampaikan pada mereka, bahwa aku mengambil keputusan untuk tinggal di rumah kos yang tidak terlalu jauh dari sudirman.
Semuanya tidak menyetujui, tapi aku memberikan pengertian pada mereka, dan meminta mereka untuk melihat mata panda yang mulai menghiasi wajahku.
Seminggu setelahnya, nia dan keluarganya mengajakku untuk melihat kos di sekitar senopati.
Harga yang umumnya di tawarkan oleh rumah kos di area senopati yang kami datangi, membuat kantongku menangis.
Tapi aku memutuskan untuk memilih salah satu dari kamar kos yang ditawarkan.
Jarak dari rumah kos di senopati yang aku pilih, hanya cukup naik ojek selama sepuluh menit untuk tiba di depan kantorku.
Tante rosa dengan berat hati mengijinkanku tinggal sendiri, karena dia juga kasihan melihatku pulang malam setiap harinya, belum lagi ketika tante rosa harus melihatku mengejar angkutan umum setiap pagi.
Meski harga yang ditawarkan oleh pemilik kos hampir dua kali lipat, dari kos yang ada di jogja dengan fasilitas yang sama.
Aku dengan hati teguh memilih kamar kos tersebut.
Nia dan keluarganya juga membantuku untuk pindahan.
Tante rosa hanya memintaku untuk selalu datang kerumah di setiap akhir minggu, dan om rusman meminta penjaga kos untuk menghubunginya jika lewat jam sepuluh malam aku masih belum pulang.
*
Meski aku berangkat pukul setengah delapan pagi, tapi aku selalu tiba di kantor sebelum pukul delapan.
Aku juga bisa sampai di kos setelah seharian bekerja, sebelum pukul delapan malam.
Biasanya begitu aku tiba di kos dari kantor, aku langsung menelvon ibu atau kak alan, yang selalu khawatir sejak aku mulai tinggal sendiri.
Aku sudah mulai bisa merasakan nyamannya tinggal di jakarta semenjak tinggal sendiri.
Meski begitu, keuanganku juga masih sama, selalu habis tak bersisa setiap akhir bulan, kadang malah suka kurang.
Kesedihan karena aku masih belum bisa menabung, terhibur dengan pemandangan pagi yang sudah menjadi favoritku, saat aku sampai di depan gedung kantor setiap pagi.
Aku bisa melihat deretan mobil lamborghini masuk ke parkiran gedung sebelah.
Suara mesin dari lamborghini tersebut, selalu tak pernah gagal membuat dadaku berdegup.
Setiap paginya aku selalu meluangkan waktu untuk melihat deretan mobil-mobil tersebut masuk ke parkiran gedung sebelah, baru kemudian aku naik ke lantai delapan belas menggunakan lift.
Pagi yang damai dan santai, adalah hal yang tidak bisa aku miliki saat aku tinggal di rumah nia, karena aku selalu berlari mengejar waktu setiap pagi.
__ADS_1
Aku sadar betul, dengan gaji yang kudapat, aku tidak mungkin bisa memiliki mobil tersebut.
Tapi aku hanya ingin punya mimpi, bahwa mungkin, suatu saat nanti, entah kapan, aku bisa memiliki salah satu mobil mewah tersebut.
Jakarta membuatku menjadi penuh mimpi.
Aku bahkan mulai bermimpi, bagaimana rasanya tinggal di salah satu unit apartment yang ada di seberang kantorku.
Aku kemudian memilih untuk lebih banyak bergaul dengan miss alice.
Aku mencoba untuk mendapatkan ilmu lebih, yang bisa aku gali dari miss alice.
Hanya saja pergaulanku dengan miss alice, membuatku jadi mendambakan kemewahan.
Aku berubah dari gadis tenang dari jogja, menjadi gadis yang penuh ambisi.
Aku juga langsung menandatangani kontrak kerja selama satu tahun, setelah masa percobaan tiga bulanku selesai.
Keputusanku membuat hubunganku dengan dimas memburuk.
Dimas marah karena aku mengingkari janjiku untuk pulang setelah tiga bulan.
Aku hanya diam, dan menerima semua amarah dimas.
Ambisi yang sudah terpatri dibenakku, membuatku tak mendengarkan satu katapun yang dimas ucapkan.
Aku juga memberitahu keluargaku, kalau aku memilih untuk melanjutkan bekerja di jakarta.
Kak alan marah, ibu juga sedih, tapi ayah berusaha mendukungku.
Pergaulan yang kumilik dengan orang kantorku, membuatku membiarkan hubunganku dengan dimas semakin memburuk.
Dimas mulai jarang menghubungiku.
Semua itu di perparah dengan hilangnya blackberry milikku.
Pagi itu aku berangkat ke kantor dari rumah nia, dan memilih untuk menggunakan kereta.
Ketika aku hendak ke Alfamart yang ada di lantai dua stasiun sudirman, ada salah satu penumpang yang memberitahuku kalau tasku robek.
Aku kemudian melihat tasku, dan aku terkejut melihat seluruh isi tasku sudah hilang tanpa aku sadari.
Karena aku tidak punya cukup waktu untuk pergi ke graphari, untuk mengurus nomer ponselku, aku kemudian mengganti nomer ponselku, bersamaan saat aku membeli handphone baru.
Semenjak hari itu, aku kehilangan komunikasiku dengan dimas.
Selain itu, aku juga mulai jarang ke rumah nia, dan memilih untuk menghabiskan waktu liburku dengan pergi bersama teman-teman kantorku.
Aku terbuai dengan kemewahan yang jakarta tawarkan, meski begitu, aku tidak membiarkan jakarta mengambil dimas dari hatiku.
__ADS_1
Cintaku masih utuh, dan terbungkus dengan rapi di hatiku untuk dimas.
***