
***
Bulan januari adalah bulan lahirku, tepatnya aku lahir di tanggal dua puluh sembilan januari.
Hari ini aku merayakan ulang tahunku yang kedua puluh.
Terakhir aku merayakan ulang tahun, yaitu ulang tahun di usiaku yang ke tujuh belas.
Pada saat itu aku tidak punya sosok yang spesial, jadi hanya terlewat begitu saja.
Tahun setelahnya, perayaan ulang tahun hanyalah makan malam dengan keluargaku atau traktir makan sahabatku.
Tahun ini aku di ijinkan untuk mengundang dua puluh orang oleh ayah.
Sahabatku dari SMA, sahabatku di kampus, wina sepupuku, rumi, adit, ferdi, susi, fais dan maya dari geng metic, yang akan menjadi tamu undanganku.
Tak ketinggalan, dimas, sosok tamu paling spesial buatku malam ini.
Aku merayakan ulang tahun di salah satu Cafe di Jl. Simanjuntak, tempatnya tidak terlalu ramai, tapi makanannya sangat enak.
Sepupu dan sahabatku datang lima belas menit sebelum acara dimulai, lalu disusul ayu, dita dan bowo.
Setelahnya aku melihat sosok laki-laki manis masuk ke dalam cafe, dia mengenakan kemeja putih lengan pendek, dan celana jeans coklat, serta bunga ditangannya.
Benar, dia dimas kekasihku.
Aku langsung menghampiri dimas, dan mengenalkan dimas pada ayah, kak alan, dan sahabatku.
Teman-teman geng metic baru datang saat acara hampir akan di mulai.
Hanya perayaan sederhana, pemotongan kue ulang tahun, lalu makan bersama sambil satu persatu orang-orang terdekatku maju untuk mengucapkan selamat.
Acara di akhiri dengan berfoto-foto sambil di iringi oleh performance dari band lokal, yang kak alan gemari.
Sepanjang acara, aku melihat kak alan ngobrol dengan rani dan memilih duduk di samping rani.
Nia datang dengan tante rosa, kiki dengan wawan dan tentu saja mia dengan pacarnya.
Dimas terlihat mengobrol santai dengan ayah, saat aku sibuk bercanda dan menyapa temanku.
Acara selesai pukul sepuluh malam, ayah mengijinkanku untuk diantar pulang oleh dimas.
"Kamu cantik banget hari ini", ujar dimas padaku.
Semua tamu sudah pulang, tinggal aku dan dimas yang masih duduk di cafe.
"Hari ini aja cantiknya", tanyaku menggoda dimas.
"Tiap hari cantik, tapi hari ini semakin cantik", jawab dimas.
Kemesraan kami di potong oleh pegawai yang bekerja di cafe, dia menginformasikan kalau cafe sudah mau tutup.
Aku kemudian mengucapkan permohonan maaf dan berterima kasih karena sudah membantu hari ini.
"Aku udah ijin ayah untuk kenalin kamu ke keluargaku", ujar dimas saat kami berjalan ke arah parkiran.
Aku langsung menatap dimas dengan tatapan terkejut.
"Terus apa kata ayah", tanyaku penasaran.
"Boleh", jawab dimas singkat
"Serius, kirain bakal nggak di ijinin sama ayah", ujarku.
Dimas hanya tersenyum dan meraih tanganku.
__ADS_1
*
Keesokan harinya aku bangun cukup siang, kak alan yang membangunkanku, karena aku diminta ibu, untuk membantu ibu bersih-bersih rumah.
"Kak alan aja, tolong", jawabku dengan mata masih tertutup.
"Aku mau nyuci mobil, lagi pula dari tadi pagi aku udah bantuin ibu nyuci baju banyak banget", ujar kak alan.
Kak alan tetap memaksaku untuk bangun dan menggendongku sampai ke kursi di ruang makan.
Aku lalu mengambil makanan di meja dan memasukkan ke mulutku supaya aku terbangun.
"Kita bersih-bersih rumah dulu, habis itu bersih-bersih di rumah nenek", ujar ibu, saat masuk ke dapur.
"Nanti malam ayah sama ibu mau ke kulonprogo, kamu di rumah aja sama kak alan", ujar ibu lagi.
Aku tidak menjawab ibu karena mataku masih setengah terbuka.
"Kamu ke solo dua hari aja ya", ujar ibu lagi.
"Kan liburnya tiga hari bu", protesku.
"Dua hari satu malam", jawab ibu tegas, kemudian melihat ke arahku.
Aku tidak ingin membantah, dan kembali memasukkan jajanan pasar ke mulutku.
Aku dan ibu membersihkan setiap sudut rumah, yang biasanya tidak di bersihkan pada hari biasa.
Ayah juga ikut membantu karena kebetulan ayah juga libur.
Selesai mengelap semua piring, ibu menelvonku dan memintaku untuk segera ke rumah nenek.
Saat aku keluar dari rumah untuk ke rumah nenek, aku melihat kak alan masih mengelap motor milikku.
Otakku langsung berfikir jahil, dengan iseng, aku menarik celana kak alan sampai mata kaki, dan langsung berlari keluar rumah.
"Maira, awas ya kamu kalau pulang, udah kugendong juga tadi pagi", teriak kak alan dari balik pagar.
Aku hanya tertawa mendengar ocehan kak alan, dan kembali berjalan kerumah nenek.
Aku melihat pintu ruang tamu rumah kiki terbuka saat aku mau masuk ke rumah nenek.
Akupun memutuskan untuk mampir terlebih dahulu.
"Assalamualaikum", sapaku.
Dan dijawab oleh kakek yang sedang membaca koran.
Aku lalu mencium tangan kakek dan menanyakan kiki, ternyata Kiki tidak di rumah, kiki lagi ada acara di kampus, begitu ujar kakek.
Aku langsung pamit untuk pergi ke rumah nenek.
"Bukannya langsung masuk ke rumah malah main dulu", ujar ibu dari depan pintu rumah nenek.
"Kiki nggak di rumah bu", ujarku pada ibu dengan manyun.
"Udah kebelakang sana bantuin cuci seprei", ujar ibu sedikit marah.
Aku berjalan dengan malas, kemudian ibu mencubit lenganku.
"Eh cucu nenek udah dateng", ujar nenek dari arah dapur, kemudian menghampiriku dan mencium pipiku.
"Maaf ya semalam nenek nggak dateng, pas banget sama jadwal nenek arisan soalnya", ujar nenek.
Aku memasang wajah cemberut, kemudian nenek mencubit pipiku.
__ADS_1
"Sebagai gantinya, maira mau kado apa dari nenek sama kakek", ujar nenek yang aku sambut dengan senyuman.
"Apa ya", jawabku mikir.
"Rara pikir-pikir dulu deh nek", ujarku.
"Yaudah nanti kasih tau nenek ya kalau maira sudah selesai mikir", ujar nenek.
Aku menyandera diri di rumah nenek sampai hampir pukul delapan malam.
Aku tidak langsung pulang ke rumah, setelah bersih-bersih dan lebih memilih bermanja-manjaan dengan nenek.
Aku bersantai di rumah nenek, menemani nenek menonton sinetron favorit nenek, dan makan snack favoritku.
"Ra, udah jam berapa ini, malah masih disini", ujar suara dari arah ruang tamu yang ternyata suara kak alan.
Kak alan kemudian masuk ke ruang tengah dan melihatku dengan tatapan sebal saat aku menjawab ucapannya.
"Emang kenapa, kan kata ibu hari ini suruh jaga rumah", jawabku santai.
"Ayah sama ibu udah mau berangkat", ujar kak alan.
"Kan ayah sama ibu yang pergi, aku nggak ikut", jawabku santai, sambil makan kripik kentang favoritku.
"Ih bandel ya, ibu cariin kamu tuh", ujar kak alan sambil menarik telingaku.
Aku langsung berdiri dan mengusap telingaku, kemudian menatap kak alan dengan tatapan sebal.
Kak alan duduk menggantikan posisiku di samping nenek, lalu memakan jajananku.
Aku langsung melempar bantal kursi ke arah kak alan dan berlari keluar dari rumah nenek.
"Ibu cari rara", tanyaku saat aku sampai di rumah, dan melihat ibu sudah rapi.
"Kamu ini, kan udah ibu bilang tadi, habis maghrib langsung pulang, ini udah jam berapa", ujar ibu sambil mengomel.
"Sini ikut ibu", ujar ibu.
Akupun mengikuti ibu yang menuju dapur.
"Ini manisan besok kamu bawa ya, oleh-oleh buat orang tua dimas", ujar ibu sambil menunjuk kardus kecil di atas meja.
"Ini aja", tanyaku.
Ibu hanya melirikku, dan menarik nafas untuk mulai mengomel lagi.
"Oke deh" jawabku sigap.
"Ibu ayo, nanti kita kemalaman", ujar ayah dari arah ruang tamu.
"Yaudah ibu berangkat dulu ya, besok hati-hati di jalan, salam buat orang tua dimas dari ibu", ujar ibu.
Ibu kemudian memelukku dan mencium kedua pipiku.
Aku mengantarkan ibu keluar, memeluk wina, berpamitan dengan ayah, dan langsung menutup pagar saat mobil ayah sudah jalan.
Aku lalu masuk ke kamarku dan melihat Blackberryku.
Akupun berbalas tweet dengan dimas dan teman-temaku.
Tak lama dimas menelvonku, dia bilang, dia akan menjemputku jam delapan pagi.
Meskipun protes pada dimas, kalau jam delapan pagi itu kepagian, tapi dimas tidak bergeming dan tetap memintaku untuk bangun pagi.
***
__ADS_1