Namaku Maira

Namaku Maira
- Dia kembali -


__ADS_3

***


Aku terbangun dan langsung bertemu dengan tatapan dimas, saat aku membuka mata.


Dimas kemudian mengelus rambutku, dan aku memegang kalung yang dimas kembali lingkarkan dileherku semalam.


Tiga bulan yang lalu, saat aku pergi ke semarang untuk menemui dita, aku meminta bowo mengantarku ke solo sebentar, untuk mampir ke toko mami.


Aku tentu mencari tahu keberadaan dimas terlebih dahulu, melalui akun sosial media milik dimas, sebelum berangkat ke toko mami.


Dimas melalui twitternya, mengatakan bahwa dia sedang ada di kota tua jakarta.


Aku kemudian menyimpulkan, kalau dimas sedang menghabiskan libur akhir tahunnya dengan mila, pacarnya di jakarta.


Dengan perasaan lega karena tidak perlu melihat dimas di toko mami, aku dengan langkah ringan berjalan menuju pintu masuk toko mami.


Sekitar jam sembilan pagi aku tiba di toko mami.


Intan yang menyambutku, kemudian dia memanggil mbak dina yang baru saja menaruh tasnya di kantor mami.


Mbak dina langsung turun dan memelukku, menanyakan kabarku, serta menyanjung rambut pendekku.


Aku tidak ingin berlama-lama, jadi aku hanya menitipkan kotak berisi kalung pemberian dari dimas untuk di kembalikan pada dimas.


Mbak dina memintaku untuk mengembalikan sendiri pada dimas, saat dimas sudah kembali dari jakarta.


Aku menjelaskan pada mbak dina kalau hari ini, hari terakhir liburanku, besok aku harus kembali ke jakarta.


Mbak dina menerimanya, dan memintaku untuk menemui mami sebentar di kantornya.


Aku menyetujui, dan naik ke lantai dua.


Mami terlihat sudah menungguku di kantornya, karena mami langsung memelukku, saat aku masuk ke dalam kantor mami.


Kehangatan yang selalu diberikan oleh keluarga dimas padaku, tidak akan pernah kulupakan sampai kapanpun.


Setelah menjawab semua pertanyaan mami tentang kondisiku, aku kemudian pamit, karena bowo sudah menungguku di parkiran.*


Entah sadar, atau aku berusaha membohongi diriku, dulu ataupun sekarang, aku dengan mudahnya membiarkan dimas membawaku kembali ke pelukannya.


Aku menyadari bahwa yang aku lakukan salah, dimas bukan milikku lagi.


Tapi pagi ini, aku terbangun di samping dimas, dengan semua pakaianku yang tercecer di sekeliling kamar hotel tempat dimas menginap.


Semalam dimas menyentuhku dengan sangat liar, dia berusaha menyampaikan seluruh amarah dan rindunya padaku.


Bukan hanya dimas, tapi aku juga, aku menuangkan semua kerinduan yang aku pendam untuk dimas.


Rasa bersalah sesaat mampir di benakku, tapi aku menyangkalnya.


Sejak awal dimas memang milikku, dan aku tidak mencurinya dari siapapun.


Dimas masih menatapku, kemudian mengelus pipiku.


Dimas seperti membaca apa yang ada di benakku, dia kemudian menciumku dengan hangat dan lembut, untuk menghapus semua keraguanku.


Dimas mulai menyentuhku, dan tak ingin ditolak, jadi dia menyatukan dirinya sekali lagi begitu aku menerima ciumannya.


Setelah selesai dengan dirinya, dimas memelukku dengan nafas terengah.


Aku kemudian meraih handphoneku, dan terkejut, karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Aku langsung turun dari tempat tidur, dan mulai memunguti pakaianku, lalu masuk kedalam kamar mandi.


"Masih jam tujuh", ujar dimas padaku begitu aku keluar dari kamar mandi dengan pakaianku yang sudah kembali menempel.


"Aku harus balik dulu ke kos, aku butuh ganti baju", jawabku sambil menunjuk baju yang sama, yang kukenakan kemaren.


"Aku anter ya", ujar dimas sambil turun dari tempat tidur.


"Nggak usah, aku naik ojek aja", jawabku pada dimas.


"Kenapa, takut pacar kamu marah ya", tanya dimas padaku.


Aku hanya melihat dimas dengan tatapan sinis.


"Itu yang sering kamu post di twitter pacar kamu kan", tanya dimas padaku.


Aku hanya tersenyum sinis, dan memilih untuk diam.


"Bukan", tanya dimas lagi.


"Bukan, tapi kalau kamu datangnya satu bulan lagi, mungkin dia udah jadi pacarku", jawabku, sambil mengambil sepatuku, dan duduk di sofa.

__ADS_1


Dimas mendekat, dan memelukku, lalu menciumku lagi.


"Aku datang tepat waktu", ujar dimas tersenyum setelah melepas ciumannya.


Aku hanya bisa tersenyum kecut, karena ingat bahwa dimas sudah memiliki mila.


"Aku jemput kamu pulang kerja ya", pinta dimas, yang masih duduk berlutut di depanku.


"Enggak usah", jawabku tegas, sambil mengenakan sepatu flatku.


"Kenapa sih, kamu nggak mau aku dilihat sama temen-temen kamu", ujar dimas menggerutu.


"Iya", jawabku singkat.


Kemudian aku berdiri, dan berjalan ke arah pintu, tapi dimas langsung memblokir pintu dengan badannya.


"Aku nggak peduli, pokoknya aku nanti jam enam sore udah di depan kantor kamu", ujar dimas.


"Aku pulang jam tujuh", jawabku.


"Bohong, kamu cuma mau hindarin aku kan", tanya dimas padaku dengan nada tinggi.


"Kamu disini, pacar kamu tau", tanyaku balik pada dimas dengan tegas.


Dimas tidak menjawab, dan hanya menggeser tubuhnya untuk memberiku jalan.


Dimas langsung memelukku, saat aku akan membuka pintu.


Aku meminta dimas untuk melepaskan pelukannya, tapi dimas malah semakin erat memelukku.


"Aku udah telat dimas", ujarku pada dimas.


Dimas akhirnya melepaskan pelukannya, dan membiarkanku berjalan keluar dari kamar.


Aku telat sepuluh menit sampai ke kantor, bahkan miss alice juga sudah datang.


Setelah meminta maaf karena sudah telat, aku langsung duduk dan mulai bekerja di mejaku.


"Darimana, tumben telat", tanya abi padaku sambil berbisik.


"Kesiangan", jawabku singkat.


Aku langsung menengggelamkan diriku dengan tugasku dikantor.


Aku juga mengerjakan apa yang miss alice minta saat evaluasi kemaren malam.


Arman sudah menunggu kami di depan grand lucky.


Begitu kami sudah di dekat arman dan menyapanya, dia langsung berjalan di sampingku untuk makan siang bersama.


"Semalam kemana, kok telvonku nggak diangkat", tanya arman padaku.


Aku langsung mengeluarkan handphone dari dompetku dan melihat isinya.


"Sorry man, semalam soalnya temen kuliahku dari jogja dateng, terus kita ngobrol sampai malam banget", jawabku berbohong pada arman.


Setelah melihat handphoneku, ternyata arman meninggalkan pesan untukku, dan menelvonku sebanyak tiga kali.


"Sampai kos langsung tidur", ujarku, menambah kebohonganku pada arman.


Arman mempercayai alasanku, dan kita melanjutkan berjalan untuk makan siang.


"Temen kuliah kamu yang dateng cewek apa cowok ra", tanya ningsih padaku, saat kita dalam langkah kembali kekantor setelah makan siang.


"Cowok", jawab abi cepat.


"Emang kamu liat bi", tanyaku dengan penasaran karena cepatnya abi menjawab.


"Liatlah, emang kamu lupa kalau lampu di lobby terang banget kalau malam", ujar abi.


"Bener juga sih", jawabku menyerah pada ucapan abi.


Kita kembali ke kantor dengan perut kenyang, dan aku yang mulai merasa mengantuk saat melihat meja kerjaku.


"Ngopi dulu ra", ujar lexi padaku.


Aku kemudian menepuk pundak lexi dan berjalan ke arah pantry.


Lexi memang perlahan sudah mulai terlihat seperti manusia pada mestinya, bukan lagi makhluk menyebalkan yang selalu mengoreksi kami dengan sombongnya.


Setelah meneguk kopiku, aku langsung kembali fokus dengan pekerjaanku.


"Bi besok pakai mobil kamu aja ya", ujar lexi pada abi.

__ADS_1


"Mobil sendir-sendiri aja, males aku pulangnya nganterin kamu ke kemang dulu", jawab abi pada lexi.


"Yaelah, nanti aku pulangnya naik taksi deh, mobilku masih dibengkel soalnya", ujar lexi, menjawab keberatan abi.


Abi hanya mengiyakan lexi dengan jempol tangannya.


Mereka memang rencananya besok akan kontrak dengan salah satu investor kenalan lexi, saat lexi masih kuliah.


Setelah lexi dan abi mengakhiri percakapan, suasana kembali hening, sampai jam kerja usai.


Aku langsung merenggangkan lenganku saat waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.


Setelahnya, aku mengikuti ningsih berjalan ke ruang meeting.


Topik yang akan dibahas adalah hasil transaksi hari ini, dan kesiapan lexi dan abi untuk meeting besok.


Miss alice menawarkan untuk makan di kopitiam setelah meeting, tapi abi dan ningsih tidak bisa, jadi di batalkan.


Setelah semua pembahasan sudah aku koreksi ulang dan kusampaikan pada semuanya, miss alice mengakhiri meeting, dan meminta kami untuk bersenang-senang di akhir minggu.


"Kamu di jemput arman ra", tanya ningsih padaku, saat kita sudah kembali ke ruangan untuk bersiap pulang.


"Arman hari ini katanya ada makan-makan sama temennya, jadi nggak bisa jemput", jawabku ke ningsih.


"Tumben, biasanya udah kayak kucing nunggu susu pagi hari", ujar ningsih.


Aku dan abi hanya tersenyum geli mendengar pribahasa yang ningsih sampaikan.


Setelah merapikan meja, dan menyimpan semua berkas di loker, aku kemudian menekan jariku untuk absen pulang.


Begitu aku membuka pintu keluar, karin resepsionis kantor, mengatakan ada tamu untukku, dan menungguku di ruang tunggu tamu.


Karena aku tidak ada janji dengan siapapun, jadi aku fikir hanya orang dari asuransi.


Ternyata yang menungguku adalah dimas.


"Ngapain kamu disini", tanyaku saat aku melihat dimas, begitu aku membuka ruang tunggu yang letaknya di belakang meja resepsionis.


"Jemput kamu", jawab dimas singkat.


"Siapa ra", tanya ningsih padaku dari belakang.


"Temen kuliahku yang dari jogja", jawabku ke ningsih.


Aku kemudian memperkenalkan dimas ke abi, ningsih dan lexi, yang kebetulan sudah ada di belakangku.


Kita keluar dari kantor bersama, dimas mencoba meraih tanganku di lift, tapi aku menepisnya.


Kita semua turun di lantai dasar, kecuali abi, yang lanjut menuju basement dua tempat mobilnya terparkir.


Lexi langsung naik ke taksi begitu kita sampai di lobby luar, dan ningsih juga berlari ke arah angkutan umum yang kebetulan lewat depan gedung kantor, saat kita sampai lobby.


"Kan aku udah bilang nggak usah di jemput", ujarku pada dimas begitu semua teman kantorku sudah tak terlihat mata.


Dimas tidak menjawab, dia hanya memintaku untuk masuk ke taksi yang berhenti di depan kami.


"Tujuannya kemana mas", tanya supir taksi pada dimas, begitu kita sudah di dalam taksi.


"Century pak", jawab dimas singkat.


"Cuma deket loh mas", ujar supir taksi ke dimas.


"Yaudah bapak muterin gelora bung karno dulu, baru kemudian berhenti di century", ujar dimas.


Bapak supir taksi kemudian menyetujui kemauan dimas, dan langsung membawa mobilnya jalan, karena antrian taksi sudah menunggu di belakang.


"Kita bisa jalan kaki ke century", ujarku pada dimas.


"Kamu fikir aku nggak tau rencana kamu", ujar dimas padaku.


"Rencana apa", tanyaku pada dimas.


"Aku tau kamu pasti mau hindarin aku, dan kamu pasti mikir kalau semalam itu cuma sesaat", jawab dimas.


Aku hanya diam saja, karena dimas mengetahui rencanaku.


Aku tahu kalau aku tidak bisa menolak dimas, jadi aku memang tidak berencana menemui dimas setelah pulang dari kantor, dan hanya ingin menghabiskan waktu di kos.


Siapa sangka dimas menungguku di ruang tunggu kantor.


Aku berencana menghindari dimas, jika dimas menungguku di lobby gedung.


Aku bisa keluar lewat parkiran dan meminta abi untuk mengantarku sampai jalan dalam senopati, dan tinggal jalan kaki menuju kos.

__ADS_1


Rencanaku gagal, karena sekarang, aku duduk di samping dimas, di dalam taksi yang mulai mengelilingi gelora bung karno.


***


__ADS_2