Namaku Maira

Namaku Maira
- Akhir semester dua-


__ADS_3

****


Benar saja, di hari selasa pagi dimas sudah menungguku di depan gerbang kampus saat aku baru selesai kuliah pagiku.


Aku kira dimas tidak datang karena dia tidak menghubungiku, ternyata dia datang tepat sesuai janji temu kita.


"Udah lama nunggu", tanyaku pada dimas.


"Lima belas menit lah", jawab dimas, sambil menyerahkan helm padaku.


Aku hanya tersenyum dan meminta maaf, karena membuat dimas menunggu.


Dimas langsung memintaku untuk segera naik ke motornya.


Begitu motor dimas melewati perempatan BNI jogja, dimas mengambil arah kiri, dan menghentikan motornya di parkiran pasar buku, di sebelah Taman Pintar.


"Kita disini aja ya, belajar, biar pintar", ujar dimas.


"Dimas mau cari buku", tanyaku pada dimas.


"Bukan, tapi ke sebelahnya", jawab dimas, sambil menunjuk pintu masuk ke arah taman pintar.


Aku hanya tersenyum, dimas lalu membantuku melepaskan helm.


"Kenapa kesini", tanyaku.


"Soalnya aku belum pernah kesini", jawab dimas jujur.


Dimas mengajakku masuk, dan memintaku untuk menunggu di pendopo.


Aku sudah pernah kesini waktu awal tempat ini di buka, sepupuku wina yang minta di antar.


Taman Pintar ini merupakan rekreasi untuk anak sekolah di jogja, selalu ramai di hari sabtu dan minggu.


Di hari sekolah seperti hari ini, selalu sepi, apalagi pagi hari.


Begitu kita masuk area taman pintar, kita bisa melihat pancuran air kecil di tengah halaman, di sebelah kanan ada mini market.


Sebelah kiri ada halaman yang cukup luas, dan di sebelahnya berjejer bangunan dan patung dengan tema tempo doeloe.


Ada pendopo, patung dari jerami dan juga rumah contoh dari kupasan kulit bambu.


Tak lama setelah aku duduk, dimas datang dengan membawa minuman dan gulali yang entah beli di mana.


"Emang ada yang jual gulali", tanyaku pada dimas.


"Ada tadi di dekat pintu masuk", jawab dimas.


Dimas kemudian mengajakku masuk, untuk melihat bagian dalam gedung taman pintar.


Saat kita masuk ke dalam bangunannya, langsung di sambut dengan kisah-kisah sejarah, gambar-gambar masa penjajahan, serta ada proyektor untuk kita bisa melihat bukti video, dan dokumentasi kehidupan di awal kemerdekaan.


Dimas terlihat sangat tertarik dengan miniatur yang terpajang di sepanjang lorong, yang menggambarkan peristiwa kemerdekaan, dan juga setiap cerita sejarah yang tertulis di depan miniatur.


Dimas selalu punya hal untuk dibahas, dan di bicarakan.


Kita terus berjalan, untuk melihat lebih dalam isi bangunan.


Di ujung bangunan, ada pameran fisika, dimas dengan antusias mengajakku untuk ikut serta bermain.


Dua jam berlalu tanpa terasa, ternyata dimas tidak membosankan seperti yang aku kira, cukup nyaman juga pergi dengan dimas.


Dimas menawariku untuk makan di area malioboro, tapi aku menolaknya.

__ADS_1


Dimas kemudian membacakan list tempat makan yang bisa kita jumpai, sepanjang perjalanan dari malioboro ke babarsari.


Setelah tidak ada satupun yang membuatku tertarik, akhirnya dimas memintaku untuk memilih tempat makan.


Aku kemudian memilih tempat makan dibelakang kampus dimas, biar tidak telat masuk kelas.


Dimas mengiyakan, lalu dimas membawa kita kembali untuk makan di seturan.


Di pertigaan seturan ada burger enak, yang masih jadi favoritku.


Begitu kita selesai makan, dimas langsung mengantarku ke kampus.


*


Setuju untuk pergi dengan dimas, juga diiringi dengan masifnya pesan yang dimas kirim setiap hari.


Setelah dari taman pintar, dimas selalu mengirimiku pesan di pagi hari, menelvon di malam hari, tidak cukup sampai situ, aku dan dimas juga sering berbalas tweet di twitter.


Kiki mulai menanyakan intensitas interaksiku di tweet dengan dimas, yang bisa di bilang hampir setiap saat.


Aku menjelaskan pada kiki, kalau kita tidak lebih dari teman.


Setelah seminggu full aku sibuk di kampus, aku merasa berhak untuk bermalas-malasan di rumah di hari sabtu.


Anehnya kak alan ada di rumah, biasanya hari sabtu kak alan entah kemana, tapi hari ini dia di rumah.


"Kak nggak pacaran", tanyaku ke kak alan yang sedang menonton tv, dilengkapi dengan mangkuk besar berisi popcorn di tangannya.


"Lagi sibuk banget orangnya, udah nggak punya waktu buat aku", ujar kak alan mulai curhat.


"Namanya orang kerja pasti sibuklah", jawabku, sambil meminta kak alan untuk bergeser.


"Rani udah punya pacar belum ra", tanya kak alan, saat aku sudah duduk disamping kak alan.


"Belum, kenapa", tanyaku, dengan tetap makan popcorn milik kak alan, dan menonton tv.


Aku hanya memukul pundaknya, lalu meminta kak alan untuk setia.


Sisa hari sabtu, aku habiskan dengan merawat diriku, luluran dan maskeran, sesuai anjuran ibu.


Karena semua anaknya ada di rumah di hari sabtu, ayah mengajak kami untuk makan malam dan pergi ke mall.


Aku sengaja memasang nada sunyi di Blackberryku, karena ibu selalu protes kalau aku dan kak alan lebih memilih main handphone, dibanding berbincang dengan ayah dan ibu.


Sekitar pukul sepuluh malam, kita akhirnya sampai rumah, setelah aku mendapat kaos baru dan kak alan mendapat jam tangan baru dari ayah.


Begitu sampai kamar aku melihat Blackberryku, ada sepuluh pesan reguler, dan lima panggilan tidak terjawab.


Kelimanya merupakan panggilan dari dimas, pesannya, tiga dari dimas, sisanya dari ayu yang menanyakan besok jadi enggaknya cari buku di gejayan.


Aku membalas pesan ayu kalau jadi, dan janjian jam sepuluh pagi, aku jemput ayu di kosnya, lalu menelvon dimas, tapi tidak di jawab.


*


Minggu berganti, bulan berlalu, tidak terasa sudah masuk akhir semester, masa-masa paling banyak tugas dan masa untuk belajar buat ujian.


Aku begitu larut dengan belajarku dan tentu saja dengan masa santaiku.


Hampir tiga minggu aku absen dari setor muka di GSP.


Kiki pun demikian, tapi sesekali dia masih hadir tanpa aku, kadang dia ajak wawan untuk dia kenalkan ke teman-teman di GSP.


Hubunganku dengan dimas masih di batas abu-abu, komunikasi kami lancar, hanya saja setiap aku tidak membalas telvonnya, dia mendiamkanku selama beberapa hari.

__ADS_1


Aku ingin marah dan tidak peduli dengan sikap dimas, tapi selalu timbul rasa bersalah, begitulah kira-kira situasiku dengan dimas.


Sebenernya kalau dipikir-pikir, cukup melelahkan, harus selalu membujuk dimas setiap dia marah, tapi saat dimas mulai melunak dan bercanda lagi, disitulah aku mulai terjebak dipusaran yang dimas ciptakan untukku.


Aku mengakhiri semester dengan senang.


Meski liburnya sangat panjang, tapi aku sudah punya banyak kegiatan yang membuat libur semester ini tidak membosankan.


Aku akan ikut touring ke borobudur, dengan geng metic begitu ujian selesai, dan liburan di mulai.


Pergi ke semarang dengan dita, ayu dan bowo.


Berangkat ke Bali dengan sahabatku, sesuai rencana kami, dua bulan yang lalu.


Sisa liburanku, aku akan gunakan untuk pergi ke rumah uti.


**


"Libur telah tiba, hore hore", terdengar dita yang sedang menyanyi, setelah menyelesaikan ujiannya.


"Hore hore", disaut oleh bowo.


"Ra jadi ke semarang kan kali ini, seminggu", tanya dita.


"Jadi dong, tapi kita berangkat sendiri ya, kak alan nggak bisa anter soalnya", jawabku.


"Naik bis aja kali ya", ujar ayu.


"Naik motor aja", ujar bowo.


"Capek wo", ujar ayu.


Setelah perdebatan pro dan kontra antara naik motor atau bis, kita memutuskan untuk naik bis.


Lega sekali rasanya, meski lelah tapi aku senang sudah menyelesaikan tahun pertama di kampus, dan semangat untuk masuk ke tahun kedua.


"Daftar panitia ospek nggak kalian", tanya bowo saat kita berjalan ke arah parkiran.


Aku dan ayu serentak menggeleng, sementara dita lain cerita.


"Aku iya dong", jawab dita.


"Capek loh dit, kamu jam 5.30 pagi udah harus di kampus, jam tujuh malam baru bisa pulang", ujar ayu pada dita.


"Nggak masalah, kan cuma seminggu", jawab dita.


"Alasanya", tanyaku.


"Mau lihat mahasiswa baru yang lucu-lucu", ujarnya sambil cekikikan.


Aku dan ayu hanya memutar bola mata kami, karena sudah tahu maksud dan tujuan dita.


Begitu sampai di rumah, aku melihat kak alan sedang mencuci mobil.


"Rajin amat" tanyaku ke kak alan, dan dia hanya melihatku, tanpa berniat menjawab ejekanku, serta lebih memilih mencuci mobilnya.


Aku kemudian memarkirkan motorku di garasi, lalu masuk ke dalam rumah.


"Kak alan rajin amat bu, nyuci mobil", tanyaku ketika melihat ibu di dapur.


"Iya mau ke surabaya katanya dua minggu", ujar ibu.


Aku hanya membulatkan mulutku, lalu memeluk ibu dari belakang, dan minta supaya uang liburanku ditambah.

__ADS_1


Ibu hanya tertawa lalu mencubit pipiku.


***


__ADS_2