
***
Gelap masih menjadi teman untukku selama hampir satu jam ini, aku masih enggan untuk menyalakan lampu kamarku.
Aku masih memilih untuk duduk termenung di tempat tidurku.
Aku sangat lelah secara fisik, dan aku juga lelah secara mental.
Belum genap dua bulan, kita harus menerima kalau nia akan pindah ke jakarta.
Sekarang kita juga harus menghadapi hal lain yang sangat membuat kita terguncang.
Setidaknya meski nia jauh, tapi kita masih bisa datang memeluknya saat kita rindu.
Tapi untuk mia, jangankan memeluk seto, untuk melihat rupa seto pun, mia hanya bisa melihatnya melalui foto yang mia miliki.
Kenangan akan seto harus terhenti di usiannya yang masih sangat muda, seto bahkan belum lulus kuliah.
Mia tidak punya kesempatan untuk menua bersama seto, seperti keinginannya semenjak dia remaja.
Seto yang selalu membuat mia riang, seto yang tidak pernah berhenti mencintai mia, seto yang baru dua minggu lalu mengajak kita untuk pergi ke bali setelah kita wisuda, kini hanya tinggal tawa di bingkai fotonya yang bisa kami kenang.
Seminggu sudah, seto pergi dari hidup kita, tapi duka masih belum ingin pergi dari kehidupan keluarga seto dan juga mia.
Siang tadi mbak mona meminta kami untuk pulang, karena sudah seminggu kita di rumah mia, tapi kita masih enggan untuk pergi dari sisi mia.
Kami akhirnya bersedia untuk pulang, setelah kami berjanji, kalau kami akan selalu ada di sisi mia secara bergantian.
Rani, nia, kiki, dan aku harus kembali beraktifitas, dan melanjutkan tugas kami sebagai mahasiswa.
Kami masih harus datang ke kampus untuk menghadiri perkuliahan, kami juga harus kembali menyusun skripsi yang sudah kami tinggalkan selama seminggu terakhir.
Di gelapnya malam, aku memanggil kembali memoriku saat pertama kali mia mengenalkan seto pada kami.
Mia mengenalkan sosok yang sangat istimewa baginya, saat mia berulang tahun yang ke enam belas.
Mereka sudah bersama sejak mereka masih kanak-kanak.
Meski mereka bersekolah di tempat yang berbeda, tapi rumah mia yang berdekatan dengan rumah seto, membuat mereka menjadi tak terpisahkan.
Mia selalu berbinar saat dia menceritakan soal seto pada kami.
Seto sendiri adalah sosok yang selalu terlihat lucu, meski dia tak pernah berusaha membuat lawakan.
Seto juga membuat kita tidak merasa canggung, saat kita di dekatnya.
Dia juga sangat pandai mengambil hati kita, sangat sulit untuk marah pada seto, meski seto sesekali membuat kita sangat kesal.
Seto selalu menjadi paket tak terpisahkan saat kami pergi bersama mia, ketika kita masih SMA.
Aku kembali teringat, saat kami pergi ke pantai glagah bersama.
Kita tidak hanya berlima, tapi ada wawan, seto dan juga dimas.
Kita pergi dengan meminjam mobil milik papa dimas, karena mobilnya cukup untuk membawa kita semua.
Aku bisa mengingat betapa bahagiannya kita saat itu, dimas yang masih penuh cinta, dan selalu menatapku.
Seto yang lucu, yang selalu membuat kami tertawa.
Wawan yang tidak berhenti menggoda kiki, dan juga, nia dan rani yang mengeluh karena merasa seperti obat nyamuk.
Itulah kali terakhir kami liburan bersama seto, kini kita sudah tidak bisa lagi tertawa akan gurauan dari seto.
Kita cuma bisa mengenang dia melalui memori yang kita pernah bagi bersama.
Kenangan di pantai glagah, membuatku menjadi sangat merindukan dimas.
Aku ingin dimas ada disisiku saat ini, aku ingin bersandar dipelukan dimas.
__ADS_1
Aku ingin menangis dan mengenang pertemananku dengan seto di pelukan dimas.
Kemudian aku meraih blackberryku, dan menghubungi nomer dimas, tapi dimas tidak menjawab telvonku.
Kesunyian malam, serta kesepian, dan kelelahan yang menyelimutiku, membuatku tertidur dalam tangis.
Saat aku membuka mata di pagi hari, aku bisa melihat matahari masuk tanpa sekat ke dalam kamarku.
Aku juga bisa mendengar suara burung meski samar, kemudian aku melihat ibu yang duduk di tepi tempat tidur, sedang mengusap dahiku dengan tatapan matanya yang penuh kehangatan.
"Kok tidurnya masih pakai baju yang sama", tanya ibu padaku dengan lembut.
"Iya, soalnya capek banget, jadi begitu masuk kamar langsung tidur", jawabku pada ibu.
"Mia gimana, udah tenang", tanya ibu sambil memberikan segelas air putih untukku.
"Masih nangis terus bu", jawabku pada ibu, setelah meminum air di dalam gelas yang ibu berikan padaku.
"Kamu mandi dulu ya, habis itu kamu makan, udah jam sembilan soalnya.", ujar ibu.
"Kamu harus jaga kesehatan ra, supaya kamu bisa punya energi untuk menghibur mia", ujar ibu lagi.
Aku tersenyum dan mengiyakan ibu, kemudian aku memeluk ibu dengan erat.
*
Waktu terus bergulir tanpa jeda meski kita berduka.
Selama seminggu, rani akan menghadapi sidang skripsi, sementara aku, aku akan mengikuti ujian akhir semester.
Karena itu, nia dan kiki yang akan bergantian untuk ada di sisi mia.
Setidaknya mia punya sahabatnya di sisi dia, saat dia ingin mengenang seto, atau untuk menangisi kenyataan, kalau seto sudah tidak ada di bumi ini lagi.
Aku dan rani akan menemani mia di minggu setelahnya, karena aku hanya tinggal menyelesaikan skripsiku, sementara rani hanya tinggal menunggu jadwal wisuda.
Aku berusaha menyelesaikan ujian semesterku dengan baik, hanya satu ujian dalam satu minggu, jadi aku langsung bisa menemani mia setelahnya.
Wawan tidak mempercayai kiki, kalau kiki sibuk karena kiki berusaha menyelesaikan skripsinya, sekaligus lebih memilih menghabiskan waktu dengan mia sahabatnya, karena mia sedang berduka.
Permasalahan bermula ketika wawan menelvon kiki, tapi selalu terlewatkan oleh kiki.
Wawan mengira kiki naksir pada cowok lain, jadi sulit dihubungi.
Meski kiki sudah berulang kali menjelaskan kalau dia sibuk dengan skripsinya, wawan tidak pernah percaya.
Aku mendengar cerita kiki hanya bisa menertawakan hal itu.
"Ada ada aja ya masalah dihidup kita", ujar kiki padaku.
Kita lalu memilih menghabiskan es krim kita di depan teras rumah kiki.
"Minggu depan aku aja yang di rumah mia nggak papa, kamu elus tuh egonya wawan biar percaya lagi sama kamu", ujarku pada kiki.
Kiki hanya menertawakan ucapanku.
"Kamu sendiri gimana sama dimas", tanya kiki padaku.
"Entah ki, tapi aku masih mau bertahan", jawabku dengan senyum pahitku.
*
Minggu berubah menjadi bulan, dan waktu tetap enggan untuk memberi kami jeda.
Selama sebulan, kegiatanku hanyalah antara rumah mia, rumahku, dan juga kampus untuk aku bimbingan skripsi.
Pak erwin akhirnya setuju dengan semua bab susunan skripsiku, beliau memintaku untuk langsung mengajukan jadwal untuk sidang skripsi.
Aku sangat senang, akhirnya usahaku sejauh ini membuahkan hasil.
__ADS_1
Mia juga sudah mulai kembali ke aktifitasnya, dia kembali datang ke kampus untuk menyelesaikan skripsinya.
Kami tahu, meski mia mengatakan kalau dia sudah lebih baik, tapi duka akan kehilangan seto masih terlihat sangat jelas dimatanya.
Minggu ini, aku sudah tiga hari menginap di rumah mia, ibu menelvonku pagi ini, dan memintaku untuk pulang.
Aku kemudian pamit pada orang tua mia, dan mengatakan ke mia kalau rani siangnya akan datang.
Mia mengantarku sampai depan pintu, dan memintaku untuk berhati-hati di jalan.
Saat aku sampai di rumah, aku melihat mobil kak alan ada di depan rumah di siang hari.
Kemudian aku ingat kalau hari ini adalah hari libur, jadi wajar kalau kak alan di rumah.
"Tumben kak di rumah, nggak main sama rani", tanyaku pada kak alan, saat aku membawa motorku masuk ke garasi, dan melihat kak alan sedang duduk santai di teras rumah.
"Kayak kamu nggak tau aja", jawab kak alan sinis.
"Emang nggak tau", jawabku sambil menjulurkan lidah.
"Kamu tuh ya, sama kayak rani, kamu udah tiga hari nggak pulang, terus rani juga, lebih milih ke rumah mia dibanding pergi sama aku", ujar kak alan mengikutiku masuk ke dalam rumah sambil marah-marah.
"Kasian deh", ujarku lagi sambil mengejek kak alan
"Kamu nih ya", ujar kak alan, bersiap melempar koran yang ada ditangannya ke arahku.
"Udah udah, apaan sih yang diributin", ujar ibu saat aku berlindung dibalik badan ibu.
"Itu tuh, anak yang ibu manjain, Kalau dikasih tau pasti di jawab terus", ujar kak alan.
"Nih alan minum es teh dulu, biar berhenti marah-marahnya", ujar ibu sambil mengulurkan sebotol teh pucuk pada kak alan.
"Kan mia lagi berduka, jadi wajar dong kita temenin mia", jawabku ke kak alan.
"Ini udah lewat sebulan, tapi kalian masih aja ngumpul disana", ujar kak alan, dengan nada tinggi.
"Kasih tau tuh temen kamu, masih niat nggak sih nikah sama aku, kok susah banget diajak ketemu event organizer, kan dia tau waktunya kurang dari dua bulan", ujar kak alan mulai nyerocos tanpa henti.
"Eitss kalau itu bilang aja sendiri ke orangnya", ujarku ke kak alan, kemudian aku lari masuk ke kamar sambil tertawa.
Tak lama ibu masuk ke kamar, saat aku mulai membuka laptopku.
"Kenapa bu", tanyaku pada ibu yang hanya berdiri di depan pintu.
"Maira lagi apa", tanya ibu.
"Mau belajar buat sidang skripsi minggu depan", jawabku pada ibu.
Ibu lalu berjalan ke arahku, dan duduk di sisi tempat tidur.
"Dimas semalam datang", ujar ibu sambil meraih tanganku.
"Dimas minta tolong ke ibu untuk hubungi kamu, tapi kamu nggak angkat telvon semalam", ujar ibu dengan nada lembut.
"Semalam bantuin mia susun skripsi soalnya bu", jawabku.
"Pas ibu kasih tau kalau kamu ke rumah mia, dan ngabarin kalau mia habis berduka, dimas langsung kelihatan kaget dan sedih sayang", ujar ibu berbicara dengan pelan.
"Hubungan kamu sama dimas baik-baik aja kan", tanya ibu padaku.
"Iya bu", jawabku berbohong.
Aku tidak ingin membuat ibu khawatir, dan juga, aku tidak tahu bagaimana menjelaskan ke ibu, kalau aku sendiri bingung dengan hubunganku dengan dimas.
"Rara juga udah berusaha telvon dimas kok, tapi nggak di angkat sama dimas, mungkin dimas sibuk", ujarku berbohong lagi pada ibu.
"Yaudah, kamu telvon dimas ya nanti, dia pasti tunggu telvon dari kamu", ujar ibu dengan suara kasihnya.
Ibu lalu keluar dari kamarku, dan aku tidak berminat untuk menelvon dimas, jadi aku lebih memilih untuk kembali membuka slide-slide yang akan aku presentasikan untuk sidang skripsi minggu depan.
__ADS_1
***