
***
Minggu kedua libur pertengahan semester ini, aku mulai bosan.
Aku mulai jenuh, karena tidak ada aktifitas yang bisa membuatku bersemangat.
Aku sudah selesai membaca semua komik yang aku sewa, aku juga bosan dengan siaran televisi.
Aku ingin setiap hari bertemu dimas, karena hariku menjadi sangat menyenangkan saat aku bersama dimas.
Tapi dimas memberiku pengertian, kalau sepulang KKN dia harus menyusun skripsi, karena dia ingin semester depan menjadi semester terakhir dia di kampus.
Akhirnya aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan ibu.
"Bu rara pingin punya adek deh", pintaku pada ibu yang sedang melipat pakaian.
"Kenapa rara mau punya adek", tanya ibu dengan santai dan tetap melanjutkan kegiatannya.
"Ya seru aja, rara kan jadi nggak bosan kalau libur panjang, bisa main sama adek rara, terus, kalau di rumah ada bayi, rumah jadi ramai", ujarku sambil menghayal.
"Kalau kamu sama kakak lagi di rumah, rumah juga ramai", ujar ibu.
"Beda bu, kak alan aja sibuk di kamar terus", ujarku menggerutu.
"Alasan lain rara pengen punya adek apa", tanya ibu, yang terlihat tidak antusias dengan keinginanku.
"Nih, kalau rara pulang kuliah jadi ada yang menyambut rara, ada bayi lucu yang lari ke arah pintu lalu peluk rara", ujarku dengan nada riang.
"Terus kalau adek rara rewel seharian gimana", tanya ibu.
"Ya nanti rara tenangin", ujarku santai.
"Terus yang urus adek dari pagi sampai malam siapa", tanya ibu lagi.
"Kalau libur rara yang urus", jawabku.
"Kalau begitu berarti setiap liburan rara harus di rumah urus adek, dan nggak bisa bebas main lagi", ujar ibu.
Aku kemudian berfikir, dan mengerutkan keningku saat aku membayangkan, aku harus di rumah seharian, menolak ajakan sahabatku untuk main, dan juga menolak untuk menghabiskan waktu dengan dimas.
"Kalau rara pergi kan ada ibu yang urus", ujarku sambil cengengesan.
"Maira denger ibu nih, kalau maira mau punya adek, maira harus komitmen, maira harus korbankan waktu maira untuk main, maira juga harus bantu ibu membuat susu, mencuci pakaian adek, dan juga maira harus siap sedia untuk membantu ibu saat adek rewel, maira siap", tanya ibu ke aku.
"Hehehe", aku meringis mendengar ucapan ibu.
"Punya bayi itu harus siap komitmen ra, harus siap, baik dari segi jiwa dan segi keuangan", ujar ibu menjelaskan.
__ADS_1
"Sama seperti waktu maira bayi dulu, ibu mengorbankan semua waktu ibu dan hanya fokus untuk mengurus rara, mencukupi kebutuhan rara, memberi rara kebahagiaan, dan juga menenangkan rara, saat rara menangis karena tidak nyaman", ujar ibu lagi.
Aku mendengar ucapan ibu dengan seksama, dan menghembuskan nafas dengan keras, aku merasa lelah, meski hanya mendengar ucapan ibu.
"Tapi bayi kan lucu dan menyenangkan bu", ujarku masih berfikir positif.
"Memang, tapikan tidak selalu lucu", ujar ibu dengan bibir manyun.
"Kalau rara pengen punya adek karena mikir saat senengnya aja, lebih baik rara main sama boneka lagi, kayak waktu rara kecil dulu", ujar ibu, yang akhirnya selesai melipat semua pakaian.
Aku langsung cemberut mendengar ucapan ibu yang memintaku untuk bermain boneka lagi.
Ibu lalu beralih menatapku dan meraih tanganku.
"Begitu juga dengan rara, saat rara nanti mau punya bayi, rara juga nggak boleh hanya mikir saat senengnya aja, tapi rara harus siap dengan segala resiko yang dateng bersama dia", ujar ibu mulai menasehatiku.
"Contohnya nih, rara harus siap dan yakin rara bisa menjadi ibu yang baik, rara juga harus yakin kalau keuangan rara dan pasangan rara bisa mencukupi kebutuhan bayi tersebut, rara juga nggak bisa tinggal di lingkungan yang buruk, rara harus bisa menyediakan lingkungan terbaik supaya bayi rara tumbuh dengan sehat dan bahagia", ujar ibu dengan lembut.
"Kalau rara masih suka main, dan hanya mikirin diri rara sendiri, maka sebaiknya rara menunda untuk punya bayi", ujar ibu.
"Kan nggak adil buat adek bayi, kalau harus lahir saat rara belum dewasa, yang ada adek bayinya nanti malah jadi sedih udah di lahirin", ujar ibu sambil mengusap pipiku.
"Jadi kapan ya bu rara bisa siap punya bayi sendiri", tanyaku pada ibu.
"Nanti saat rara sudah menikah dengan pria yang baik dan rara cintai, dan yang lebih utama tanggung jawab pada rara", ujar ibu.
"Amin, ibu doain yang terbaik untuk rara", ujar ibu sambil tersenyum.
Aku lalu membantu ibu untuk meletakkan baju di lemari kamar kak alan dan kamarku.
*
Akhirnya hari jumat datang, dimas akan menjemputku pukul tujuh malam dan kita langsung berangkat ke solo.
Tiga hari yang lalu, mami mita sudah meminta ijin pada ibu, untuk aku menginap di rumah dimas selama dua malam.
Setelah berdiskusi dengan ayah, ibu mengijinkan aku untuk main di rumah dimas sampai hari minggu.
"Kamu beruntung ra, maminya dimas sayang sama kamu", ujar ibu saat memberitahuku, kalau ayah memperbolehkan aku untuk menginap di rumah dimas sampai hari minggu.
"Kamu harus jaga hati dimas, jangan kamu sakiti, karena maminya udah percaya sama kamu", ujar ibu sambil membelai rambutku.
Aku membalas ibu dengan anggukan dan senyuman pada ibu.
Ibu menawarkan dimas untuk makan malam dulu di rumah, sebelum berangkat ke solo.
Dimas dengan senang hati mengikuti ibu keruang makan.
__ADS_1
Selesai makan, seperti biasa, saat kita mau jalan, ibu menitipkan bingkisan untuk orang tua dimas.
Kami lalu pamit untuk berangkat karena khawatir kemalaman.
Dimas berusaha untuk tidak membawa motornya dengan cepat, karena cuaca sangat dingin, dan meskipun aku sudah memakai jaket tebal, tapi udara dingin di malam hari masih sangat menusuk.
Hampir pukul sepuluh malam saat kami tiba di rumah dimas.
Aku langsung turun dari motor dengan menggigil, lalu membuka pagar rumah dimas, supaya motor dimas bisa masuk.
Tak lama saat aku kembali menutup pagar, mami mita keluar dari rumah.
"Anak gadis mami udah dateng", ujar mami dengan riang, lalu menghampiriku dan memelukku.
"Ayo masuk, mami bikinin teh hangat", ujar mami.
Mami kemudian memeluk pundakku dan mengusap lenganku, saat kami masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk ke rumah, papa seno terlihat keluar dari kamar.
"Maira, akhirnya datang juga", ujar papa seno menyambutku dengan suara baritonya, lalu memelukku.
"Papa sehat", tanyaku pada papa seno, sambil mencium tangannya.
"Tentu sehat dong", ujar papa seno.
Aku lalu duduk di ruang tamu, dan tak lama dimas masuk ke rumah, membawa tas ranselnya, juga bingkisan dari ibu.
"Anak papa", ujar papa seno begitu melihat dimas masuk ke rumah, lalu papa seno merentangkan tangannya untuk memeluk dimas.
"Rara mau tidur di kamar dimas atau di kamar mbak dina", tanya mami mita yang baru datang sambil membawa empat cangkir teh hangat.
"Rara biar tidur di kamar dimas aja mi", ujar dimas pada mami mita.
"Kebeneran, mami belum sempet pasang seprei di kamar dina, tadi pagi lupa mau minta tolong bibi, nanti kamu pasang sendiri ya le", ujar mami mita ke dimas.
Kami mengobrol sebentar di ruang tamu, mami menanyakan mengenai kuliahku, serta memintaku untuk ikut mami ke toko besok pagi.
Papa seno lalu masuk ke kamar, setelah meminum teh sebentar, karena mau menonton bola.
Dimas juga sudah naik ke lantai dua, aku masih di dapur, membantu mami mencuci cangkir kotor bekas kami minum teh.
Meski mami memintaku untuk membiarkan aja, tapi aku memaksa untuk tetap mencuci cangkir-cangkir tersebut.
Aku lalu naik ke atas setelah mengucapkan selamat tidur ke mami.
Saat aku masuk kamar, dimas sedang mengganti kaosnya, begitu dimas selesai, dimas langsung menciumku dan pamit untuk istirahat di kamar mbak dina.
__ADS_1
***