Namaku Maira

Namaku Maira
- Hari Kelulusan Dimas -


__ADS_3

***


Begitu libur semester dimulai, aku dan kak alan sepakat untuk menghabiskan waktu di rumah uti di bulan kedua liburan semester ini, sekaligus menjemput uti untuk menghadiri wisuda kak alan.


Dimas sendiri memutuskan untuk kembali ke solo selama dua minggu, dan akan kembali ke jogja di minggu ketiga.


Semua teman kampusku juga sudah pulang ke kotanya masing-masing.


Begitu juga dengan kiki yang sudah berangkat ke kalimantan, nia yang sudah berangkat ke jakarta, dan mia yang memilih untuk mengajak seto pergi ke rumah neneknya.


Tinggalah rani, yang aku kira bisa menemaniku, tapi ternyata rani di monopoli sepenuhnya oleh kak alan.


"Rara nggak main, liburan ini", tanya nenek, saat aku sedang menonton televisi sambil memakan kripik kentang di ruang keluarga rumah nenek.


"Nggak ada yang bisa di ajak main nek, semuanya pada pulang ke kotanya masing-masing", jawabku.


"Itu, dimas yang katanya pacar rara gimana", tanya nenek lagi.


"Pulang ke solo nek", jawabku.


Nenek tidak bertanya lagi, dan kembali melanjutkan menonton telenovela kesayangannya.


*


Waktu berjalan seperti siput bagiku, meskipun akhirnya dua minggu berlalu, dan dimas juga sudah kembali.


Dimas langsung menelvonku saat dia sudah sampai di kos, dia memintaku untuk membantunya menyiapkan persiapan wisuda, sekaligus membantunya berbenah.


Aku langsung meminta ijin pada ibu, untuk menghabiskan waktu dengan dimas selama seminggu.


"Dimas udah dapat pekerjaan ra", tanya ibu padaku.


"Belum, masih panggilan-panggilan aja bu katanya", jawabku sambil makan kripik kentang yang ada di toples di meja makan.


"Oh ya bu, minggu depan kan dimas wisuda, boleh nggak minggu depannya lagi aku main ke semarang ke rumah dita", pintaku pada ibu.


"Memang mau ada acara apa", tanya ibu.


"Kakaknya dita mau nikah, jadi aku di undang", jawabku pada ibu.


"Kamu aja yang dateng", tanya ibu.


"Iya bu, kan ayu pulang ke rumah di lampung, bowo lagi ikut keluarganya pergi ke bali", jawabku.


"Tapi ayah nggak bisa anter kamu ke semarang, kamu naik bis aja ya", ujar ibu.


"Dimas mau anter bu, sekalian dimas pulang ke solo", ujarku pada ibu.


"Dimas nggak mau daftar kerja di jogja aja ra", tanya ibu.


"Enggak mau katanya, saingannya banyak, jadi dia daftar di solo sama semarang aja", jawabku.


"Sedih dong rara jauh dari dimas", tanya ibu sambil tersenyum.


"Sedih sih, tapi katanya kalau hari libur dimas mau main ke jogja", jawabku tersenyum.


Ibu lalu memelukku dan masuk ke kamarnya untuk istirahat siang.


*


Hari kamis pagi, dimas sudah datang ke rumah untuk menjemputku, dia lalu pamit pada ibu untuk mengajakku jalan.


Dimas kembali membawaku ke villa milik keluarganya.

__ADS_1


"Loh nggak di sewa lagi", tanyaku pada dimas.


"Ini kan musim liburan, pasti ramai turis dari luar kota", tanyaku lagi pada dimas.


"Libur untuk di sewain dulu, soalnya minggu depan mau di pakai nginep untuk acara wisudaku", jawab dimas.


"Kok pak mugi nggak kelihatan", tanyaku pada dimas.


"Pak mugi di kasih libur sama mami buat liburan sama keluarganya", jawab dimas.


"Jadi dimas dong yang sekarang jadi penjaga villa", ujarku.


Dimas hanya tersenyum lalu merangkulku untuk masuk.


Dimas menutup mataku saat kita sudah di dalam villa, lalu menuntunku untuk masuk kedalam.


Begitu dimas melepas penutup mataku, aku melihat ada kue tart di atas meja makan dengan tulisan 'Happy Anniversary', dan lilin berbentuk angka satu.


"Selamat hari jadi sayang, makasih sudah sayang sama aku selama satu tahun ini", ujar dimas sambil memelukku dari belakang.


Aku berbalik dan mencium dimas, karena merasa sangat senang dengan kejutan yang dimas berikan.


"Sama-sama", jawabku, lalu memeluk dimas lagi.


Karena hari masih pagi, dan kita baru aja sarapan pagi di rumahku, kita memutuskan untuk menaruh kembali kue hari jadi kita di dalam kulkas.


Dimas mengajakku menghabiskan pagi di kamar atas, sambil menikmati pemandangan yang ditawarkan oleh kamar tersebut.


"Nanti kenikahan kakaknya dita dimas temenin aku ya", pintaku pada dimas yang masih terus menciumi punggungku.


"Iya", jawab dimas.


"Dimas nggak bosen apa ciumin aku terus", tanyaku pada dimas.


Dimas kehilangan kelembutannya begitu dia mulai menyatukkan dirinya denganku.


"Nggak bosen, dan nggak akan pernah bosan", jawab dimas sambil menciumi payudaraku.


Penyatuan yang dimas lakukan, kembali memenuhi ruangan ini dengan rintihan dan teriakan lirih dari kami berdua.


Begitu selesai, dimas langsung berpindah ke sampingku, dia terlihat lelah setelah sepagian menyentuhku tanpa henti.


Dia duduk saat dia bisa kembali bernafas dengan normal, dan membuka laci di samping tempat tidurnya, kemudian mengambil sebuah kotak dengan pita di atasnya.


Dimas memintaku untuk duduk, dan membuka kotak ditangannya, kemudian mengambil isi di dalamnya, yang ternyata sebuah kalung berwarna silver dengan permata kecil yang menggantung ditengahnya.


Dimas langsung melingkarkan kalung tersebut dileherku, dan mengecup leherku.


Aku tersenyum melihat kalung yang dimas berikan untukku.


"Ini adalah tanda kalau kamu seutuhnya milikku", ujar dimas.


Dimas lalu mencium pipiku, dan aku membalas dengan mencium bibir dimas dengan mesra, sambil menyentuh kalung yang dimas berikan.


"Terimakasih sayang", ujarku, lalu mengecup pipi dimas.


Aku tak ingin kalah, aku meraih tas tangan milikku yang aku letakkan di dekat tempat tidur, lalu meraih bungkus kado kecil yang memang sudah kusiapkan selama seminggu ini.


"Jam tangan untuk dimas, supaya dimas tidak telat nemuin aku", ujarku pada dimas, saat aku memakaikan jam tersebut di pergelangan tangan dimas.


Dimas lalu mengecupku dan memelukku.


"Kapan belinya", tanya dimas padaku.

__ADS_1


"Minggu lalu sama kak alan", jawabku.


"Makasih sayang", ujar dimas.


Hari sudah hampir sore saat kami turun ke dapur karena mulai merasa lapar.


Kali ini aku tidak memasak, dimas sudah membeli makanan siap saji di perjalanan kami ke villa ini.


Kami juga makan kue tart perayaan hari jadi kami, sebagai penutup makan siang.


Dimas tidak berhenti bercanda, dan bercerita sepanjang makan siang.


Hatiku terasa hangat setiap aku mendengar tawa dimas, dan menatap dimas yang terlihat sangat bahagia.


*


Hari-hari selanjutnya, aku membantu dimas mengemas barang-barang miliknya yang ada di kos untuk di pindahkan ke solo, dan mendampingi dimas untuk menjalani persiapan wisuda.


Hingga akhirnya sampailah hari upacara wisuda dimas datang.


Hanya ada dua undangan yang bisa masuk ke ruang upacara wisuda, mami mita dan papa seno yang akan menyaksikan prosesi wisuda dimas.


Aku, mbak dina dan keluarganya, menunggu di villa dan akan turun saat upacara kelulusan selesai.


Setelah hampir setahun hanya mengenal rania dan arya dari cerita dan foto-foto yang di tunjukkan dimas padaku, akhirnya aku bisa bertemu mereka.


Mereka seperti pada umumnya anak-anak, sangat lucu dan menggemaskan.


Arya selalu mengikuti rania kemanapun.


Mereka yang awalnya bersikap malu setiap melihatku, akhirnya mendekat untuk bermain denganku di kolam ikan di bagian belakang villa.


Setelah dua jam menunggu di villa, mas zaki mengajak kami untuk turun ke kampus dimas, karena upacara wisuda dimas sebentar lagi selesai.


Hari ini aku mengenakan dress yang aku beli di toko mami, dan juga tidak lupa membawa seikat bunga untuk dimas.


Kami menunggu dimas di depan aula.


Begitu pintu aula ruang upacara wisuda di buka, setelah menunggu dan melihat wajah-wajah bahagia yang keluar dari pintu aula, akhirnya wajah dimas dan mami terlihat keluar dari aula.


Aku sangat bangga dan terharu melihat dimas tersenyum lebar, dengan busana wisuda dan toga yang menempel dikepalanya.


Aku langsung berlari ke arah dimas dan memeluk dimas.


Wajah bangga dan bahagia terpajang di setiap sudut di sekitar aula, begitupun dengan keluarga dimas yang terlihat begitu bangga pada dimas.


Setelah berfoto di depan kampus, papa seno mengajak kami untuk makan siang di sebuah restaurant untuk merayakan kelulusan dimas.


Mami tidak berhenti mengucapkan rasa bangganya pada dimas.


Keluarga dimas memutuskan untuk kembali ke solo malam harinya, dan meninggalkan dimas yang memilih untuk tinggal.


Dimas mengundang teman kampus terdekatnya di hari kedua, untuk merayakan kelulusannya dengan barbeque di villa.


Dimas juga mengundang keluargaku untuk menginap semalam di villa milik maminya.


Ibu dan rani sama sepertiku, terpesona dengan pemandangan dari balkon belakang villa.


Ayah kemudian meminta ibu menelvon mami dimas, untuk menyewa villa miliknya, dan merayakan wisuda kak alan di villa ini.


Begitu semua perayaan wisuda usai, dimas kembali ke solo, dan membawa serta semua kenangan yang dia punya dan meninggalkan jogja.


***

__ADS_1


__ADS_2