
***
Semalam dimas menelvonku, kita berbicara cukup lama.
Mulai dari topik soal rumi yang baru di tolak cewek, dan aku yang menceritakan pacar baru kiki.
Dimas juga bertanya besok aku berangkat touring dengan siapa, juga selesai touring mau kemana.
Aku mulai terbiasa dengan keberadaan dimas di hari-hariku, meski hanya sebaris kalimat melalui pesan, atau telvon di malam hari, tapi dia tidak pernah absen, kecuali kalau lagi marah.
Hatiku mulai ditumbuhi rasa nyaman, dan rasa terbiasa oleh sosok dimas di hari-hariku, jadi aku mencegah diri supaya tidak membuat dimas marah.
Contoh kecil yang kulakukan, seperti memberi tahu dimas kalau aku akan memasang nada sunyi di Blackberryku, dan tentu saja menjelaskan alasanya.
Aku senang karena dimas sangat pengertian dengan kegiatanku dan alasan-alsanku jika aku tidak membalas pesan dari dimas.
Pagi ini aku sudah siap dan menunggu kiki di ruang tamu, untuk menjemputku berangkat touring bersama.
"Permisi, assalamualaikum", sapa suara dari balik pagar.
"Cari siapa ya mas", tanya ibu yang kebetulan sedang duduk di teras.
"Cari maira tante", jawab suara tersebut.
Aku yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri, karena mendengar semua percakapan ibu dan si tamu.
Aku berjalan menuju pintu, dan senyumku mengembang begitu melihat siapa yang datang.
"Dimas", ujarku, dengan nada senang.
Kulihat dibelakang dimas, ada kiki yang baru datang, dan terlihat bingung.
"Dimas ngapain kamu di sini", tanya kiki saat melihat dimas yang tidak seharusnya ada di depan rumahku.
"Jemput rara", jawabnya singkat.
Kiki kemudian melihatku dengan tatapan bingung.
"Aku juga mau jemput rara", ujar kiki lagi.
"Tapi aku duluan yang dateng", ujar dimas santai.
"Kamu pilih siapa ra", tanya kiki.
Begitu aku mau menjawab, datanglah sosok yang sangat familiar bagiku, meskipun aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung.
"Ki lama banget", ujar sosok tersebut, sambil menyentuh bahu kiki.
"Iya nih ada jailangkung", jawab kiki.
"Siapa yang jailangkung", ujar dimas, sedikit nyolot.
"Kamu datang tak di undang", jawab kiki.
"Itu siapa ki, kok nggak dikenalin", tanyaku sambil tersenyum, menyela pertengkaran kiki dan dimas.
"he hehe wawan", jawab kiki.
"kenalin ra, ini wawan, pacarku", ujar kiki, sambil menggandeng lengan wawan.
Aku langsung berjabat tangan dengan wawan, begitupun dimas, setelah wawan mengulurkan tangannya.
"Wawan mau ikut ra, soalnya aku cerita, kalau ngumpul yang boncenganin aku rumi, jadi dia mau ikut, aku udah bilang ke rumi juga, kalau wawan ikut", ujar kiki menjelaskan.
"Yaudah ki aku bareng dimas aja ya", ujarku.
"Oke deh", jawab kiki sambil tersenyum ke arahku.
__ADS_1
Kiki lalu berjalan keluar pagar sambil menyipitkan mata ke arah dimas.
"Aku ambil tas dulu ya", ujarku, setelah melihat kiki keluar dari pagar rumah.
Dimas hanya membalas dengan anggukan.
Begitu aku berbalik dan hendak masuk, aku sedikit terkejut melihat ibu yang hanya tersenyum dan menatapku.
Aku lupa kalau ibu sejak awal sudah duduk di teras, tapi ibu hanya diam dan menonton tingkah kami.
Aku langsung memperkenalkan dimas pada ibu.
"Oh iya bu, ini dimas, satu geng di vario versa", ujarku pada ibu.
Dimas kemudian memperkenalkan diri dan mencium tangan ibu.
"Panggil kiki", pinta ibu padaku.
Dimas keluar pagar rumah dan memanggil kiki.
"Kenapa ra", tanya kiki, begitu muncul dari balik pagar dengan separuh badannya.
"Nih di cari ibu", jawabku sambil menunjuk ke arah ibu.
Akupun masuk kedalam untuk mengambil tas.
"Kok tante nggak dikenalin sama pacar kamu", ujar ibu ke kiki.
"Oh tante, dari tadi tante disitu, kiki nggak liat tante, maaf, ketutupan rara soalnya", ujar kiki terdengar salah tingkah.
"Aku nggak segendut itu ki, sampai nutupin ibu", jawabku pada kiki saat aku sudah berdiri disamping ibu.
"Bentar ya, kiki panggilin", ujar kiki ke ibu.
Kiki lalu keluar dari pagar dan memanggil wawan.
Setelahnya, kiki langsung pamit karena dia belum pamit ke kakeknya untuk pergi.
"Jangan malam-malam ya ra pulangnya", pinta ibu saat melihatku sudah bersiap pergi.
Aku mengangguk lalu mencium pipi ibu dan pamit, dimas juga pamit dan berjanji tidak akan mengantarku terlalu malam.
Begitu sampai di GSP, aku sangat terkejut, melihat banyaknya motor yang sudah terparkir.
Sangat ramai, dan ternyata semua anggota sudah berkumpul.
Aku langsung turun dari motor, membuka helm dan menyerahkan ke dimas.
Kemudian aku berjalan ke arah kiki dan wawan yang ternyata sudah sampai lebih dulu.
Biar aku tambahkan sedikit cerita yang kudapat dari rumi mengenai perkumpulan ini.
Geng ini sudah berdiri dari tahun 2000, sudah sepuluh tahun, di tahun ini.
Anggotanya adalah mahasiswa yang masih aktif dikampus, begitu ada anggota yang lulus kuliah, maka secara otomatis sudah tidak menjadi bagian dari perkumpulan ini.
Perkumpulan ini awal mulanya, hanyalah untuk mahasiswa UGM dan UNY.
Dua universitas terbesar di jogja, tapi mereka memutuskan untuk mengubah peraturan tersebut.
Semua mahasiswa dari kampus manapun boleh bergabung, asal punya motor vario.
Mereka juga hanya buka keanggotaan ketika ada mahasiswa yang lulus.
Anggota yang terdaftar maksimal dua puluh motor, tidak boleh lebih lagi.
Rumi adalah pemimpin yang mengkoordinasi jalannya perkumpulan ini, jadi rumi pulalah yang bisa menentukan siapa yang boleh gabung.
__ADS_1
Aku langsung menyapa beberapa yang aku kenal, dan berkenalan dengan yang hampir tidak pernah kulihat.
Begitu rumi melihat semuanya sudah hadir, rumi meminta kami berkumpul, dan kita berangkat setelah doa bersama.
Di perjalanan dimas sesekali melihatku, melalui kaca spion motornya.
Dia menanyakan, apakah dia terlalu cepat membawa motornya atau tidak.
Karena aku suka kecepatan, jadi aku bilang cukup ke dimas, meski dimas hanya jalan dengan kecepatan 50 km/jam.
"Kok kamu nggak bilang mau jemput aku", tanyaku pada dimas.
Saat berkendara motor, supaya dimas yang aku ajak bicara bisa mendengar ucapanku, aku harus mencondongkan tubuhku di dekat wajah dimas.
"Biar kejutan", jawab dimas dari balik helmnya.
"Suka atau kecewa", tanya dimas.
"Suka kok, makasih ya", jawabku.
Dimas hanya tersenyum, tentu saja aku bisa melihat senyum dimas dari kaca spion.
Sampai di borobudur, rumi mempersilahkan semua anggota untuk berkeliling di area candi borobudur terlebih dahulu, dan berkumpul di taman selatan dalam dua jam.
Aku dan kiki langsung pergi berkeliling, sementara dimas dan wawan bergabung dan berbincang dengan anggota lainnya.
Susi dan maya bergabung dengan kami, begitu mereka melihat kami.
Pertama kali aku ke candi borobudur saat aku berumur dua tahun, aku tidak begitu ingat, tapi ada banyak foto-foto yang menjadi buktinya.
Candi borobudur sangat terkenal dan masuk ke dalam tujuh warisan dunia.
Menurut gosip yang beredar, ada pihak-pihak nakal yang suka menjual kepala budha setiap bulannya, jadi tidak usah heran, kalau banyak patung budha yang tanpa kepala, tapi itu cuma gosip, dan belum tentu itu benar.
Dua jam berkeliling ternyata cukup melelahkan, kita kemudian berjalan ke tempat yang rumi sampaikan untuk berkumpul dengan yang lain
Setelah semua sudah berkumpul, rumi membuka acara, meminta satu persatu anggota untuk memperkenalkan diri di depan, dan kita juga harus menginformasikan mau makan apa, setelah kita memperkenalkan diri.
Setelah satu persatu maju, akhirnya keputusan yang diambil adalah, kita makan jagung bakar di alun-alun, lalu makan bakso wonogiri saat arah jalan pulang.
Akhir hari ini ditutup dengan dimas yang mengantarku pulang dan singgah di rumahku sebentar, untuk ngobrol denganku di teras rumah.
"Ayah sama ibu kemana", tanya dimas.
"Udah tidur mungkin, besok mau kerumah uti di kulon progo", jawabku pada dimas.
"Dimas besok mau langsung pulang ke solo", tanyaku pada dimas.
"Aku ke solo hari rabu ra", jawab dimas yang sudah mulai menatapku.
"Kamu besok kemana ra", tanya dimas.
"Besok mau kesemarang sama temen-temen kampus", jawabku.
Saat aku melihat ke arah dimas, dimas masih menatapku, dia masih dengan posisi yang sama, menopang dagunya dengan kedua tangannya.
Aku merasa selama sepuluh menit terakhir, dimas tidak berhenti menatapku, hal itu membuatku jadi salah tingkah dan membuat hatiku berdebar kencang.
"Yaudah aku balik dulu ya ra", ujar dimas sambil meraih helmnya yang ada di lantai.
Aku bernafas lega, karena akhirnya lepas dari tatapan dimas.
"Jangan lupa besok kalau mau jalan kabarin", ujar dimas sambil mengusap kepalaku.
Aku hanya mengangguk lalu mengantar dimas sampai depan pagar.
***
__ADS_1