
***
Aku menghabiskan dua puluh satu hari di rumah uti, bermain di pantai dan mengasuh bintang.
Bintang sedang di tahap sangat menggemaskan.
Kak alan meminta om raka supaya bintang tinggal di rumah uti selama kita liburan.
Setiap aku bangun di pagi hari, bintang sudah ada di tangan kak alan.
Hampir setiap pagi kak alan mengajak bintang bermain di kebun belakang rumah.
Sorenya baru aku yang mendapat jatah untuk bermain dengan bintang.
Nenek meminta kak alan untuk segera menikah, supaya punya bayi sendiri, dan tidak memonopoli bayi orang lain.
Tante wulan tidak setuju dengan pendapat uti, kalau kak alan menikah sebelum mendapat pekerjaan.
*
Meski terasa berat untuk pulang kerumah dan meninggalkan bintang, tapi mau bagaimana, satu minggu lagi perkuliahan sudah mulai.
Dengan berat hati aku dan kak alan berpamitan pulang.
Bintang yang hampir setiap hari denganku dan kak alan, menangis saat mobil kami mulai jalan menjauh dari rumah uti.
Aku bisa menatap bintang yang menangis dari kaca spion mobil.
Begitu aku melihat kak alan yang sedang menyetir, kak alan terlihat sedang mengusap airmata yang ada di sudut matanya.
Aku kemudian mengejek kak alan yang cengeng, dia hanya menggerutu dan memintaku untuk menyalakan lagu.
Begitu aku sampai di depan rumah, aku melihat kiki sedang menyapu halaman rumahnya.
Aku langsung turun dari mobil begitu kak alan menghentikan mobilnya, dan berlari ke arah kiki.
Kemudian aku memeluk kiki dan mengatakan, kalau komplek jadi sepi karena tidak ada kiki.
"Aku mau cerita sesuatu", ujarku pada kiki.
"Hah apaan", tanya kiki penasaran.
"Aku mandi dulu habis itu balik, oke", ujarku, lalu berlari kembali ke rumah.
"Apaan sih", teriak kiki, berlari menyusulku.
Kiki dengan penuh kesabaran karena penasaran, memilih untuk menunggu di kamarku.
Begitu aku masuk ke kamar setelah mandi, kiki langsung memaksaku untuk duduk dan cerita.
Aku lalu mengambil Blackberryku dan memutarkan voice note untuk kiki.
Voice note tersebut berbunyi, "I love you maira, selamat tidur, mimpi indah ya sayang".
Kiki langsung menarik lenganku sambil membelalakan matanya.
"Dimas", tanya kiki.
Aku mengangguk, kiki langsung berteriak girang, dan tak lama kiki menutup mulutnya, karena kak alan protes dari luar kamar.
"Dari kapan", tanya kiki lagi, dengan matanya yang masih terbuka lebar.
"Habis dari bali", jawabku.
Kiki kaget mendengar jawabanku, dan hampir berteriak lagi.
Dengan sigap aku menutup mulut kiki.
"Kok baru cerita, kenapa nggak bilang di telvon", tanya kiki.
"Kalau di telvon nggak bisa lihat ekspresi kamu, jadi nggak puas", jawabku tersenyum.
Kiki hanya merangkul pundakku, lalu memberiku selamat.
Aku dan kiki sepakat untuk memberitahu yang lain besok sore, karena kita memang ada rencana kumpul di rumah kiki sore hari.
Aku lalu menanyakan soal wawan pada kiki, kiki hanya menjawab kalau sekarang sudah lebih tenang, dan hubungannya dengan wawan kembali harmonis.
"Kamu pacaran udah cukup lama kan ki sama wawan, udah sampai sejauh mana", tanyaku penasaran.
"Hmm mm, kissing, sentuh-sentuhan", ujar kiki sambil mencoba mengingat-ingat.
"Sentuhan gimana", tanyaku penasaran.
"Kasih tau nggak ya", ujar kiki mencoba membuatku penasaran.
Aku berhasil membujuk kiki untuk menceritakan gaya berpacarannya dengan wawan.
__ADS_1
"Petting", bisik kiki di telingaku.
Aku cukup kaget mendengarnya, lalu merasa lega karena apa yang aku dan dimas lakukan, ternyata sangat umum.
"Serius ki", ujarku terkejut.
"Kamu nggak takut", tanyaku ke kiki.
"Kan aku udah dewasa ra, yang penting aku tau batasannya", ujar kiki sambil mengelus rambutku.
"Kamu gimana", tanya kiki.
"Baru kissing sih", jawabku berbohong.
Meski kiki sahabatku, dan dia cukup terbuka denganku, tapi kalau untuk urusan yang terlalu dalam, aku lebih memilih untuk menyimpannya sendiri.
*
Esok sorenya, begitu semua sahabatku sudah berkumpul, aku menyalakan voice note suara dimas lagi.
Mereka yang awalnya sedang santai duduk melingkar, sambil makan kacang methe, langsung teriak heboh.
Aku menjelaskan ke mereka, kalau aku dan dimas baru jalan satu bulan.
Aku juga berjanji untuk mengenalkan dimas pada mereka di acara ulang tahunku yang ke dua puluh, yang tinggal sebentar lagi.
Minggu lalu, ayah dan ibu mengatakan kalau mereka ingin merayakan ulang tahunku yang kedua puluh.
Aku langsung membuat rencana untuk mengenalkan dimas pada sahabatku dan keluargaku di hari ulang tahunku nanti.
*
Tinggal tiga hari kuliah dimulai, mahasiswa dari luar daerah juga sudah kembali.
Rumah kos yang selama sebulan lebih sepi, kini mulai ramai dengan hiruk pikuk penghuninya.
Persiapanku untuk semester baru sudah selesai, termasuk mengisi form kredit semester.
Semester ketiga ini, jadwal yang aku pilih cukup banyak, bahkan hari sabtu juga ada kelas di pagi hari.
Aku akan satu kelas dengan ayu, dita dan bowo lagi, karena kita memang janjian saat mengisi kredit semester bersama.
Buatku lebih mudah untuk menjalani hari di kampus dengan teman-teman yang membuatku nyaman, dan tidak terlalu dramatic.
Malam hari saat aku sedang santai, dimas menelvon kalau dia baru dateng dari solo, dan memintaku untuk menemuinya besok.
"Enggak kok, kan solo nggak jauh", jawab dimas ditelvon.
"Besok paling cuma bisa sebentar aja ketemu dimas, nggak papa kan", ujarku.
"Memang besok mau kemana", tanya dimas.
"Mau anter nenek sama kakek checkup, paling baru selesai jam lima sore", jawabku menjelaskan.
"Yaudah, aku tunggu jam lima ya", ujar dimas.
Aku mengiyakan lalu menutup telvon dari dimas.
**
Hari minggu pukul sembilan pagi aku sudah di rumah sakit bersama kakek dan nenek.
Kak alan hanya mengantar kami sampai depan rumah sakit, lalu pergi, karena ada keperluan.
Dia berjanji akan langsung menjemput kami, kalau kakek dan nenek sudah selesai medical checkup.
Setelah dua jam menunggu, akhirnya hasil dari checkup yang kakek dan nenek lalui selama tiga jam keluar.
Dokter mengatakan kalau hasilnya sangat bagus, yang menandakan kakek dan nenek sangat sehat.
Kita langsung pulang, karena kak alan mengabari, kalau dia baru bisa sampai rumah sakit sekitar satu jam lagi.
Kakek enggan untuk menunggu kak alan, dan memintaku untuk memesan taksi.
Begitu sampai rumah, rumah kosong, karena ayah dan ibu pergi.
Begitupun dengan kak alan yang masih belum pulang, jadi aku kembali ke rumah nenek untuk pamit pergi.
Saat aku sampai di rumah kos dimas, dimas sudah menungguku di depan pintu masuk.
Dia memakai kaos abu-abu dan celana putih pendek.
Kulitnya yang bersih, membuat dia terlihat sangat gagah.
"Sini aku parkirin", ujar dimas, menawarkan diri, dan mencegatku untuk masuk ke parkiran.
Aku membuka helm dan menyerahkan motorku ke dimas, lalu aku berjalan masuk.
__ADS_1
Rumi sedang berdiri di samping tangga, saat aku masuk kedalam rumah kos.
Rumi kemudian menyapaku, dengan senyum lebarnya.
"Gimana rasanya jadi pacar dimas", tanya rumi menggodaku.
"Bosen nggak", tanya rumi lagi.
Aku hanya tertawa dengan ucapan rumi, dan tidak menjawabnya.
Dimas yang sudah berdiri disampingku, langsung menutup mulut rumi dengan tangannya, dan menggandengku untuk naik ke lantai dua.
Dimas langsung menutup pintu dan memelukku, begitu kita sudah didalam kamarnya.
"Kangen sekali sama kamu", ujar dimas sambil memelukku.
Aku menanyakan pada dimas, soal rumi yang sudah mengetahui hubungannya denganku.
Dimas hanya menjawab, rumi tahu dari group kampusnya.
Kata dimas, ada teman kampus dimas yang melihat dimas memelukku di kaliurang, dia kemudian mengambil foto kami, lalu menyebar fotonya di group.
Dimas langsung menarikku untuk duduk di pangkuannya, setelah aku membersihkan diri.
Dimas mulai memelukku dan menciumiku.
"Dimas bohong, katanya kalau nggak ketemu tiga minggu kangen, tapi enggak tuh, dimas nggak samperin aku di rumah uti", ujarku pada dimas sambil tersenyum menggoda dimas.
"Aku bantu mami di toko sayang", jawab dimas.
"Maunya sih sama kamu terus, tapikan nggak bisa", ujar dimas yang masih memelukku.
"Gimana rasanya nggak ketemu aku tiga minggu", tanya dimas.
"Hmmmm biasa aja", jawabku sambil tertawa.
"Kangenlah pasti", ujarku menambahi saat melihat dimas cemberut.
"Apa yang paling dikangenin", tanya dimas lagi.
"Pelukan dimas", jawabku sambil menyandarkan kepalaku di bahu dimas.
Dimas langsung mengeratkan pelukannya.
"Kalau dimas, apa yang paling dikangenin", tanyaku pada dimas.
"Semuanya", ujar dimas.
"Dih serakah", jawabku.
Dimas hanya terkekeh, kemudian mencium pipiku.
"Sekarang boleh serakah juga nggak", tanya dimas lembut.
"Boleh", jawabku.
Dimas mengangkat daguku, lalu mencium bibirku dengan memainkan lidahnya.
"Boleh lebih serakah lagi nggak", pintanya lagi.
"Seberapa banyak dimas mau untuk serakah", tanyaku menggoda dimas, meski wajahku sudah mulai panas.
"Sebanyak yang kamu mau", jawab dimas.
"Aku mau yang dimas mau", ujarku, kemudian mencium pipi dimas.
Dimas langsung mencium bibirku, dan mulai mengecup leherku.
Tangan dimas dengan sigap membuka kancing kemejaku untuk mendapat akses penuh ke payudaraku.
Kemudian dimas membelainya, dan memainkan putingku.
Dimas membawaku ke tempat tidur, untuk membuatku lebih nyaman.
Lalu dimas kembali mencium leherku, dan turun hampir menyentuh payudaraku.
Dimas berhenti sebelum menyentuh payudaraku, dan kembali mencium bibirku.
Dimas berpindah tidur disampingku, dan menarikku untuk lebih dekat dengannya.
Dimas meraih tanganku untuk menyentuh miliknya yang sudah sangat keras.
Aku membelainya karena penasaran, dan dimas langsung merintih.
Suara rintihan yang dimas keluarkan, ternyata membuatku lebih bersemangat untuk membelainya.
Aku lalu mencium dimas dan membiarkan tanganku menjelajahi tubuh keras milik dimas.
__ADS_1
***