Namaku Maira

Namaku Maira
- Rasa Cemburu -


__ADS_3

***


Saat aku memasuki kelas untuk ujian mata kuliah terakhir di semester ini, aku melihat bowo sudah di dalam kelas, dan duduk sambil memutar jarinya di rambut miliknya.


Aku langsung menghampiri bowo, karena kebetulan aku dan bowo mendapat nomer kursi ujian di kelas yang sama untuk mata kuliah ini.


"Semangat wo", ujarku saat melewati bowo, untuk duduk di kursi di belakang bowo.


Bowo lalu meletakkan kepalanya di meja.


"Aku kurang belajar untuk digital ekonomi ini", ujar bowo murung.


"Emang kamu dari mana semalam", tanyaku pada bowo.


"Aku kerja shift malam", jawab bowo.


"Cup cup cup", ujarku pada bowo.


"Lagian kenapa nggak cari ganti, atau ijin", tanyaku pada bowo.


"Lupa", jawab bowo.


Kelas lambat laun mulai terisi dengan wajah-wajah murung mahasiswa yang entah siap, atau karena tidak ada pilihan lain untuk mengikuti ujian ini.


Sepuluh menit kemudian pegawas ujian masuk ke kelas.


Pengwas langsung membagikan lembar ujian dan kertas jawaban kosong pada kami.


Aku sedikit terkejut begitu aku melihat kertas ujian, karena soalnya cukup sulit menurutku.


Hanya ada beberapa jawaban yang aku tahu, meski aku sudah belajar semalaman.


Aku cuma bisa berusaha dan berdoa, supaya aku paling tidak mendapat nilai yang memuaskan untuk mata kuliah ini, bukan cukup memuaskan.


Setelah tujuh puluh lima menit berjalan, pegawas mulai menarik lembar jawaban di meja kami.


"Aku kayaknya ngulang deh", ujar bowo saat kami keluar dari kelas.


"Mudah-mudahan aja nggak wo", jawabku.


Aku lalu berpisah tujuan dengan bowo, karena dimas menelvonku, dan mengatakan kalau dia sudah menungguku di depan gerbang kampusku.


Dimas memang semalam menelvonku, mengabari kalau dia sudah di jogja.


Selain itu, dia juga bilang kalau hari ini dia akan menjemputku, lalu mengantarku pulang malamnya.


Hari ini, jadwal ujianku sendiri pukul 10.30 pagi, tapi tadi jam delapan pagi, dimas sudah ada di rumah untuk menjemputku.


Ibu yang sudah cukup lama tidak bertemu dimas, kaget sekaligus senang melihat dimas datang.


"Dimas, apa kabar", ujar ibu pagi tadi saat membuka pintu untuk dimas.


"Baik, rara sudah bangun bu", tanya dimas pada ibu, kemudian mencium tangan ibu.


"Baru bangun, itu masih sarapan di meja makan anaknya", ujar ibu.


Ibu lalu masuk ke dapur dengan menggandeng dimas.


Aku yang duduk di meja makan dengan rambut masih berantakan, protes pada ibu, karena ibu tidak memberi tahu kalau yang datang dimas.


"Dimas udah lulus ya", tanya ibu pada dimas, mengacuhkan protesku.


"Iya udah bu, nilai sidang saya sempurna bu", ujar dimas pamer pada ibu.


"Aduh ibu jadi ikut bangga deh, dimas mau hadiah apa", tanya ibu pada dimas.


"Minta hadiah rara aja bu", jawab dimas.

__ADS_1


Ibu langsung tertawa mendengar ucapan dimas.


"Boleh, nih ambil anaknya belum mandi", jawab ibu sambil mencubit pipiku.


Ibu lalu menawarkan sarapan pada dimas, dan dimas langsung duduk di sampingku.


Setelah sarapan, aku langsung mandi, dan mengambil buku paketku begitu aku selesai mandi.


Aku mulai membaca kembali materi ujian hari ini di sofa ruang tamu.


Dimas memilih untuk bercanda dan mengobrol dengan ibu di dapur.


Aku berangkat dari rumah pukul 09.40 pagi, di antar oleh dimas, dimas juga pamit pada ibu dan mengatakan, kalau dia akan mengantarku pulang jam sepuluh malam.


Ibu mengiyakan dan melambaikan tangan ke arah kami yang mulai menjauh dari rumah.*


"Ra", teriak ayu menyusulku saat aku baru mau turun ke lantai satu.


"Yu", sapaku pada ayu.


"Gimana ujiannya tadi bisa nggak", tanya ayu.


"Lumayanlah", jawabku.


"Kamu pulang ke lampung kapan yu", tanyaku pada ayu.


"Besok ra, udah pesen tiket", jawab ayu.


"Nggak mau main dulu, kemana gitu", tanyaku.


"Nanti aja dari lampung, soalnya adikku bentar lagi lahir, jadi aku langsung di suruh pulang", jawab ayu.


"Gimana rasanya punya adek yu", tanyaku pada ayu.


"Senenglah", ujar ayu riang.


"Kamu mau kemana", tanya ayu.


"Mau main sama dimas", jawabku.


"Cieee, masih langgeng ya", goda ayu, dan aku hany tersenyum.


"Ya udah aku duluan ya", ujar ayu lagi, saat kita harus berpisah arah.


"Iya, besok ati-ati di jalan ya yu", ujarku ke ayu.


Ayu menunjukkan jempol tangannya, kemudian berjalan ke arah parkiran.


Begitu aku melihat gerbang depan kampus, aku lari karena dimas sudah di depan, dan dia duduk di atas motor dengan tangan di pinggangnya saat melihatku.


"Lama amat", tanya dimas, saat aku sudah berdiri di samping motornya.


"Kan ujiannya di gedung tiga", jawabku.


Dimas lalu menyerahkan helm padaku dan memintaku untuk segera naik.


Dimas langsung membawa motornya menuju rumah kosnya.


"Mau makan dulu nggak", tanya dimas, saat dimas selesai memarkirkan motornya.


"Boleh", jawabku.


Dimas menggandeng tanganku berjalan ke arah rumah makan, yang letaknya tidak jauh dari rumah kos dimas, dan dimas juga sering makan di rumah makan tersebut.


"Eh dimas, mau makan disini atau bungkus", sapa ibu-ibu paruh baya yang menyambut kami, saat kami masuk ke rumah makan.


"Makan disini bu", jawab dimas sambil tersenyum.

__ADS_1


Ibu pemilik rumah makan kemudian membantu kami, mengambilkan makanan yang kami tunjuk, lalu kami mencari meja yang masih kosong, di rumah makan yang mulai ramai ini.


Saat aku hampir selesai makan, ada gadis cantik dengan wajah seperti boneka keluar dari arah dapur.


"Itu siapa", tanyaku pada dimas.


Dimas lalu melihat ke arah yang aku tunjuk.


"Oh itu dila anak bungsu si ibu, seumuran sama kamu juga", jawab dimas, dan melanjutkan makannya kembali.


"Pantesan rumah makannya selalu ramai kalau aku lewat", ujarku.


"Tapi kok aku nggak pernah lihat ya, kalau kita lagi makan disini", tanyaku pada dimas.


"Mungkin pas dia lagi ada kelas, dan juga kamu kan seringnya minta makanan di bungkus, kamu kadang nggak mau kalau makan ditempat yang ramai", jawab dimas sambil mengambil tissu.


"Cantik banget, kamu nggak naksir", tanyaku dengan nada cemburu ke dimas.


Dimas hanya tersenyum dan tidak menjawabku, dia memilih untuk menyelesaikan makanannya.


Begitu kami selesai makan, aku langsung membayar makanan kami, lalu pergi meninggalkan dimas, yang masih belum usai dengan senyum anehnya.


"Ra tunggu dong", pinta dimas menyusulku yang jalan dengan cepat.


"Ra aku sering makan di situ, selain karena memang masakan si ibu yang enak, tapi juga karena dekat dari kos, bukan karena anak cantik si ibu", ujar dimas menjelaskan sambil tersenyum.


"Jadi dia cantik", tanyaku dengan marah, dan memilih untuk terus berjalan.


Dimas tidak menjawab dan memilih untuk diam sambil mengikutiku dari belakang.


Begitu sampai lantai dua kos dimas, aku langsung membuka pintu kamar dimas, dan menutupnya tanpa menunggu dimas masuk.


Dimas yang jalan di belakangku hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun.


Aku langsung menaruh tasku dan membuka blazerku setelah selesai dari kamar mandi.


"Ra lihat aku", pinta dimas.


Aku hanya diam tak menjawab ketika dimas mengajakku berbicara.


Aku lebih memilih untuk bermain dengan blackberryku.


Karena aku tidak menjawab dimas, dimas mulai menciumku dengan penuh hasrat.


"Aku nggak suka dan nggak naksir sama anak si ibu, oke", ujar dimas dengan tegas, setelah melepaskan ciumannya.


"Yang aku suka itu kamu", ujar dimas, lalu menciumku lagi.


"Yakin", tanyaku pada dimas menyelidik.


"Yakin", ujar dimas lalu meraih tanganku dan menempelkan di dadannya.


Dimas kemudian menciumku lagi, dan itu membuatku lebih tenang.


"Awas ya, kalau sampai dimas naksir cewek lain", ujarku dengan nada cemburu.


"Iya", ujar dimas dengan menahan senyumnya.


Dimas lalu memelukku, dan dia mulai memenuhi hasratnya padaku.


"Baru kali ini kamu cemburu", ujar dimas menggodaku.


"Siapa yang cemburu", tanyaku dengan nada tinggi.


Dimas hanya tertawa, kemudian dia kembali membenamkan dirinya di tubuhku.


***

__ADS_1


__ADS_2