
***
Waktu mungkin enggan untuk membeku, tapi hubunganku dengan dimas ada di titik beku.
Aku dengan dimas saat ini, seperti kue coklat yang kita buat dengan penuh cinta, tapi ada rasa pahit yang tertinggal.
Kita seperti tanpa sengaja menaruh kue tersebut di kulkas terlalu lama.
Kita tak punya nyali untuk membuangnya, tapi juga enggan untuk memakannya.
Hampir lima bulan berlalu, setelah aku marah pada dimas di teras rumah, tapi hubungan kami, masih belum memiliki titik temu.
Aku ingin memilih untuk mengalah dan menerima dimas seutuhnya, tapi egoku menginginkan dimas untuk lebih berjuang lagi mendapatkan kepercayaanku.
Sayangnya, dimas tidak pernah berusaha untuk membujukku lagi, dia mengacuhkan semuanya.
Pertemuanku dengan dimas yang hanya tiga kali, dalam lima bulan ini, juga terasa asam.
Aku tidak ingin terlalu peduli dengan semua itu, karena aku juga sangat sibuk menyelesaikan skripsiku.
Mengikat kembali hubunganku dengan dimas, bukanlah menjadi prioritasku saat ini.
Seperti hari ini, aku lebih memilih fokus memikirkan skripsiku.
Hari ini merupakan jadwal bimbingan skripsi pertamaku untuk bab terakhir, sebelum akhirnya aku harus mengikuti ujian akhir semester, dua minggu lagi.
Hampir dua jam aku bimbingan skripsi di ruang dosen bersama pak erwin, yang merupakan dosen pembimbing skripsiku.
Pak erwin memintaku untuk merevisi beberapa paragraf.
Setelah aku menandai bagian yang pak erwin minta untuk direvisi, aku mengucapkan terimakasih, dan kemudian keluar dari ruang dosen.
Aku tidak ingin membuang waktu pak erwin dengan basa basi standar, karena aku tahu masih ada beberapa mahasiswa yang antri diluar, untuk bimbingan skripsi dengan pak erwin.
Saat aku keluar dari ruang dosen, aku melihat bowo yang juga sedang antri untuk bimbingan skripsi, hanya saja bowo tidak menunggu giliran menemui pak erwin, tapi dosen lain.
Aku memutuskan untuk mengobrol sebentar dengan bowo di depan ruang dosen.
Aku kemudian mengeluarkan blackberry milikku dari dalam tasku, sembari mendengar cerita bowo tentang dosen pembimbingnya yang lumayan sulit.
Aku memang selalu memasang nada sunyi saat aku sedang di ruang dosen untuk bimbingan skripsi, hal itu kulakukan supaya tidak mengganggu kalau ada telvon masuk.
Aku melihat ada puluhan telvon masuk dari nia, kiki, dan rani, saat aku membuka blackberryku.
Aku lalu menelvon nia, karena dia yang paling banyak menelvonku, ada sekitar dua puluh panggilan tidak terjawab dari nia.
"Kamu darimana di telvon nggak diangkat", ujar nia saat dia menerima panggilan telvon dariku.
Nia terdengar sangat marah padaku.
"Baru bimbingan skripsi ia, ada apa", jawabku pada nia.
"Ke sardjito sekarang, seto kecelakan", ujar nia dengan nada cukup tinggi.
Aku langsung berlari ke arah parkiran, tanpa mengucap sepatah katapun pada bowo.
Aku juga mengabaikan saat bowo memanggil namaku.
Jarak kampusku dengan rumah sakit sardjito cukup jauh, meski masih ada di kabupaten yang sama.
Aku berusaha untuk membawa motorku dengan cepat, karena nia terdengar seperti memburuku.
Begitu aku sampai di rumah sakit sardjito, aku langsung menelvon nia.
Aku baru akan tanya keberadaan seto dimana, tapi nia langsung memberitahu dengan suaranya yang parau, dan memintaku untuk ke ruang operasi.
Aku melihat nia, kiki dan rani sedang memeluk mia, mereka semua menangis, saat aku sampai di depan ruang operasi.
__ADS_1
Mia sendiri hanya menatap ke arah tembok dengan tatapan kosong, mia tidak menangis, tapi dia terlihat seperti shock berat.
Di ujung ruangan, di depan pintu ruang operasi, aku juga melihat seorang ibu yang sedang duduk tersimpuh, di depan dua orang dokter yang menggunakan pakaian operasi.
Ibu tersebut terlihat ditenangkan oleh seorang pria paruh baya, yang kemudian aku mengenali mereka, mereka merupakan orang tua seto.
Aku berjalan menghampiri mia, dan langsung berlutut di depan mia.
Kiki dan rani yang masih menangis, juga langsung memelukku.
"Mia", ujarku pada mia, saat aku sudah di depan mia.
Mia hanya diam dan tidak menjawabku.
Aku lalu melihat ke arah nia, nia hanya menggelengkan kepala.
Aku langsung menumpahkan seluruh airmataku, dan memeluk mia.
Seto di tabrak oleh sebuah mobil yang mengebut, saat seto hendak berangkat ke kampus pagi ini.
Kecelakaan terjadi sekitar sepuluh menit sebelum seto sampai di gerbang kampus.
Jalanan memang sepi, sehingga banyak motor dan mobil yang mengebut.
Pengendara yang kebetulan lewat, dan menyaksikan kecelakan yang seto alami, langsung menghubungi ambulan untuk membawa seto ke rumah sakit terdekat.
Setelahnya, polisi menghubungi mia, yang merupakan orang terakhir yang seto telvon.
Mendengar kabar kekasihnya kecelakaan, mia tidak punya waktu untuk terkejut, dia langsung menghubungi orang tua seto.
Mia yang sedang ada di kampusnya untuk bimbingan skripsi, meminta orang tua seto untuk segera menyusul mia ke rumah sakit sardjito, tempat ambulan membawa seto setelah kecelakan.
Setelah dua jam dilakukan operasi, seto tidak bisa di selamatkan, dan di nyatakan meninggal lima menit sebelum aku sampai di rumah sakit.
Nyawa seto melayang akibat kecelakaan tersebut, hanya saja, pengendara mobil yang menabrak seto memilih untuk melarikan diri.
Dia kemudian membantu keluarga seto, untuk mengurus biaya rumah sakit, dan mengurus proses pemulangan seto ke rumah duka.
Aku menelvon kak alan yang masih di kantornya, kak alan panik, saat mendengarku menangis, sambil meminta kak alan untuk segera ke rumah sakit sardjito.
Kak alan langsung mematikan telvonnya, setelah memintaku untuk menunggu dia datang.
Aku bahkan belum sempat menjelaskan apa yang terjadi.
Kak alan mengira kalau hal buruk terjadi padaku, dan dia merasa lega saat melihatku baik-baik saja.
"Kamu nih, nakut-nakutin kakak aja", ujar kak alan sambil memelukku.
"Kamu kenapa", tanya kak alan.
"Seto meninggal kak", jawabku masih sambil menangis dipelukan kak alan.
"Seto pacar mia", tanya kak alan.
Aku lalu mengangguk, kemudian kak alan menenangkanku, dan menanyakan keberadaan seto.
Kak alan yang sudah ijin dari kantornya, akhirnya memutuskan untuk membantu keluarga seto, mengurus kepulangan seto.
Seto baru bisa dibawa pulang sekitar pukul lima sore.
Kak alan membawa aku, mia, nia, rani dan kiki di mobilnya.
Kak alan menyetir, dengan mengikuti dari belakang mobil ambulan yang membawa seto menuju rumah duka.
Saat mobil kaak alan memasuki wilayah rumah seto, aku melihat bendera kuning sudah terpasang.
Warga juga sudah berkerumun di depan rumah seto.
__ADS_1
Kak alan memilih untuk memarkirkan mobilnya tidak jauh dari rumah seto.
Kita lalu melihat ke arah mia yang masih menatap dengan tatapan kosong, kemudian kita membantu mia keluar dari mobil kak alan.
Keluarga seto yang lainnya, terlihat sudah menunggu seto di depan rumah.
Tangis mereka langsung pecah saat peti jenazah seto di keluarkan dari dalam mobil ambulan.
Melihat semua yang terjadi di depan rumah seto, kami berempat kembali menangis, tapi mia masih menatap dengan tatapan kosong.
Aku merasakan ada yang menepuk pundakku setelah lima menit berdiri melihat tangis keluarga seto, dan ketika aku berbalik, ternyata mbak mona, kakak perempuan mia yang menepuk pundakku.
"Ra bawa mia pulang kerumah aja", ujar mbak mona.
Aku yang kebetulan menggandeng lengan mia, langsung menuntun mia masuk ke dalam rumahnya.
Rumah mia letaknya persis di sebelah rumah seto.
Kita membawa mia ke kamarnya, dan tidak meninggalkan mia sedetik pun. Kita berusaha untuk menawarkan mia minum, tapi mia bahkan tidak menjawab kami.
Ayah, ibu, dan kakek kiki datang malamnya untuk melayat, begitupun dengan tante rosa, dan orang tua rani.
Mereka membawakan kami baju ganti, dan meminta kami untuk menginap di rumah mia, dan mendampingi mia.
Kak alan langsung pulang malamnya, karena dia masih harus mengurus motor yang kami tinggalkan di parkiran rumah sakit sardjito.
Kita berempat bergantian duduk di samping mia, dan memberikan perhatian penuh untuk mia.
"Ran, seto kemana ya", tanya mia sekitar jam sebelas malam pada rani, rani memang kebetulan duduk di samping mia.
Aku dan kiki langsung kembali berurai air mata mendengar pertanyaan mia.
"Ra, ki, kalian kenapa menangis", ujar mia pada kami.
Mia akhirnya melihat kami, setelah seharian hanya menatap lurus dengan tatapan kosong.
"Mia mau ketemu seto", tanya nia lembut pada mia.
"Iya, soalnya ini udah malam, tapi kok seto belum pulang ya", ujar mia dengan ekspresi bingung.
Nia lalu menuntun mia kerumah seto, kita bertiga mengikuti mereka dari belakang sambil mengusap airmata kami yang enggan untuk berhenti.
Saat kita memasuki rumah seto, di ruang tamu keluarga seto masih terlihat ramai.
Kita bisa melihat peti jenazah seto di ruang tamu, terbungkus kain berwarna hijau, dengan tulisan ayat kursi, dan bunga yang terjuntai di beberapa sisi.
Kami juga mendengar lantunan surat yasin, yang dibacakan oleh mereka yang ada di ruang tamu rumah seto.
Begitu melihat mia masuk kedalam rumah, ibu mia yang sedang membaca surat yasin, langsung berhenti.
Ibu mia kemudian berdiri, dan memeluk mia.
"Mia, seto udah tenang disana, mia yang ikhlas ya", ujar ibu mia lembut.
Mia yang melihat kertas yang bertuliskan nama seto, serta foto seto, di depan peti jenazah, langsung pecah tangisnya.
Kami langsung memeluk mia, mia menangis dengan teriakan sangat pilu.
Setelah seharian terdiam karena peristiwa yang membuatnya sangat terkejut, akhirnya mia menumpahkan seluruh kesedihannya.
Kita bisa mendengar tangisan rasa sakit di hati mia, karena mia kehilangan orang yang paling berharga di hidupnya.
Hatiku terasa sangat sakit saat mendengar tangisan pilu mia, aku hanya bisa menangis di samping mia, saat mia mengambil foto seto dan memeluknya.
Aku tidak pernah membayangkan, mia yang selalu ceria, dan selalu membuat kami tertawa, akan menangis dengan sangat pilu malam ini.
***
__ADS_1