
***
Alarm di handphoneku berbunyi, aku langsung terbangun, kemudian aku menyadari, kalau aku masih menggunakan baju yang sama, seperti yang aku kenakan kemaren, saat aku bekerja.
Makeup juga masih menempel di wajahku, tapi aku tidak punya waktu untuk mengelus lukaku.
Aku hanya bergegas untuk segera mandi, dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Sedih atau kecewa, harus aku telan, meski itu pahit.
Aku masih berharap kalau ini semua mimpi, dan dimas akan kembali padaku.
Begitu aku selesai bersiap, aku melihat kaca yang ada di kamarku, dan mendapati mataku masih sangat bengkak.
Aku menarik nafasku, berusaha untuk menahan tangis, dan memilih untuk langsung turun ke bawah.
Pak lardi, ojek pangkalan yang sudah menjadi langgananku untuk pergi ke kantor setiap pagi, sudah menungguku di pagar kosan.
Aku langsung mengenakan helmku, dan meminta pak lardi untuk segera jalan.
"Mau mampir beli sarapan dulu nggak mbak", tanya pak lardi padaku, sambil dia tetap mengendarai motornya.
"Nggak usah pak, langsung ke kantor aja", jawabku.
Begitu sampai di depan gedung, aku langsung naik ke atas, tanpa mampir untuk melihat pemandangan favoritku di pagi hari.
Masih tiga puluh menit lagi sebelum waktu kerja dimulai, aku masih punya cukup waktu untuk mengompres mataku yang bengkak.
Setelah aku menaruh tas di meja kerjaku, aku berjalan ke pantri, kemudian aku menaruh dua sendok ke dalam gelas air panas, dan kembali ke meja kerjaku.
Setelah lima menit merendam sendok di dalam air panas, aku mengusap sendok yang basah dengan tisu, lalu meletakkannya di kedua mataku.
"Kenapa ra", ujar sebuah suara yang aku kenali.
Suara dari abi, yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Nggak papa", jawabku dengan suara parau.
"Kenapa ra", tanya diah yang juga baru sampai di kantor.
Aku kemudian melepaskan sendok dari mataku, dan menutup mukaku dengan kedua tanganku.
Airmata kembali membanjiri wajahku.
Diah hanya memelukku, lalu memberikan tissue padaku.
Abi kemudian keluar dari ruangan begitu melihatku menangis, dan dia kembali dengan segelas teh di tangannya.
Aku menghapus airmataku dengan tisu yang diah tawarkan, dan menaruh kembali sendok di gelas air panas, kemudian meminum teh yang abi berikan untukku.
Saat ningsih datang, abi menghentikan ningsih untuk menanyakan keadaanku, ketika dia melihat hidung merahku, dan mataku yang bengkak.
Begitu miss alice datang, kita langsung mulai bekerja, dan suasananya kembali hening seperti biasa.
__ADS_1
"Bi, nanti kamu temenin rara ketemu pak muklis ya, untuk tanda tangan kontrak", ujar miss alice pada abi.
"Oke", jawab abi.
Sepanjang hari, setiap kali ada yang bertanya aku kenapa, aku pasti langsung menangis, jadi semua orang lebih memilih untuk diam sampai jam kantor selesai.
Aku dan abi pergi kerumah pak muklis sekitar pukul empat sore.
Setelah pak muklis menandatangani kontrak yang kami bawa, kami langsung pulang setelah berbincang selama satu jam dengan pak muklis dan istrinya.
Aku kemudian meminta abi untuk mengantarku ke tebet, setelah kami menyelesaikan urusan kami dengan pak muklis di kemang.
Sepanjang jalan menuju tebet, aku hanya terdiam, dan abi memilih untuk memutar radio delta fm di mobilnya.
"Ra, aku nggak tau kamu kenapa, tapi aku yakin kamu bisa hadepin kok", ujar abi, saat kita sudah masuk area tebet dalam.
Aku hanya tersenyum pada abi, dan meminta abi untuk berbelok ke kiri, kemudian meminta abi untuk berhenti di depan rumah dengan cat putih, dan pagar hitam.
"Rumah siapa ra", tanya abi, begitu dia menghentikan mobilnya.
"Rumah temen", jawabku pada abi.
Aku mengucapkan terimakasih pada abi karena sudah mengantarku, dan aku langsung turun dari mobil.
Kemudian aku menekan bel rumah nia, sambil melihat mobil abi yang berjalan ke arah tikungan di sebelah kantor pos.
"Cari siapa", tanya bi minah dari dalam rumah.
Bi minah keluar dari pintu garasi, dan membukakan pintu pagar depan untukku.
"Nia udah pulang bi", tanyaku pada bi minah.
"Udah, bapak juga udah", jawab bibi, sambil menggandengku untuk masuk ke dalam rumah.
"Siapa bi", tanya tante rosa dengan suara lembut, saat bibi masuk ke dapur.
"Tante", teriakku pada tante rosa sambil merentangkan tanganku untuk memeluk tante rosa.
"Maira", ujar tante rosa terkejut.
"Ya ampun, kok nggak bilang mau datang", ujar tante rosa sambil menerima pelukanku.
"Nakal ya kamu, udah dua minggu nggak pulang kerumah", ujar tante rosa lagi, sambil mencubit lenganku, setelah dia melepaskan pelukannya
Aku hanya meringis, kemudian mencium pipi tante rosa.
Aku langsung pamit menemui nia di kamarnya.
"Loh ra, baru dateng, di anter siapa", ujar om rusman saat melihatku di ujung tangga.
Aku lalu menghampiri om rusman, kemudian mencium tangannya.
"Iya om, baru aja, di anter temen, tapi dia langsung pulang", jawabku.
__ADS_1
"Ra, mau di pesenin makan apa", teriak tante rosa dari bawah.
"Apa aja tante", jawabku ke tante rosa dari lantai dua.
Kemudian aku mendengar pintu kamar nia terbuka, dan nia kaget melihatku sudah di depan pintu kamarnya.
Nia memarahiku karena kaget, tapi dia langsung memelukku, dan kembali mengomel karena sudah dua minggu aku tidak datang kerumahnya.
Setelah aku mandi dan berganti baju, dengan meminjam baju nia, tante rosa menelvon nia, meminta kami turun kebawah untuk makan malam.
"Ra, jadi pulang ke jogja minggu depan", tanya tante rosa padaku, saat kami makan malam.
"Jadi tante, udah pesen tiket juga", jawabku pada tante rosa.
"Kamu ikut ya ni, ke jogja, rani sama mia juga kangen sama kamu", pintaku pada nia.
"Nggak bisa aku, liburku cuma pas tanggal merah aja", jawab nia.
"Tante, tante nggak pingin pulang ke jogja", tanyaku pada tante rosa.
Tante rosa hanya tersenyum, dan mengatakan kalau dia akan mampir ke jogja nanti, saat libur panjang lebaran.
Setelah selesai makan malam, aku memilih untuk tidur di kamar nia, karena aku masih enggan sendiri.
"Dimas punya pacar baru ni", ujarku pada nia, setelah dia mematikan lampu tidur di kamarnya.
"Aku tau", jawab nia.
Aku kemudian bangun dari tempat tidur, kaget karena nia sudah tahu.
Nia lalu mengatakan, kalau dia sudah tahu dari minggu lalu, rani dan kiki juga, semua sahabatku sudah tahu kalau dimas punya pacar baru.
Saat nia menelvonku, sekaligus rani, mia dan kiki melalui skype, untuk menanyakan keadaanku, menurut nia, aku terlihat biasa aja, dan ceria-ceria aja, jadi mereka memutuskan untuk tidak membahasnya.
"Aku baru tau semalam", jawabku pada nia dengan rasa pahit di ujung lidahku.
"Sorry ya ra", ujar nia.
Aku kembali berbaring, dan menghiasi wajahku dengan airmata.
Kenyataan bahwa aku baru mengetahuinya setelah hampir dua minggu, membuatku merasa putus harapan.
Nia hanya menepuk-nepuk pundakku tanpa mengatakan apapun.
Mungkin nia sadar, kata apapun hanya akan membuat tangisku semakin deras, jadi dia hanya menepuk pundakku, dan menenangkanku.
Entah sampai kapan aku akhirnya bisa menerima, kalau impian yang aku harapkan untuk bisa kujalani bersama dimas, sudah berakhir.
Aku belum pernah mencintai orang lain sebesar ini.
Aku tidak tahu butuh waktu berapa lama, sampai akhirnya aku sepenuhnya bisa merelakan dimas dari hidupku.
***
__ADS_1