
***
Berdesakan di kereta setiap jam tujuh pagi dan jam lima sore, merupakan rutinitas baruku sekarang.
Mendapat tempat duduk adalah hal yang mustahil, karena semua orang lelah.
Dan tidak ada perbedaan jenis kelamin saat kita menjadi penumpang kereta listrik jabodetabek, semua equal.
Hanya karena aku wanita, bukan berarti aku punya hak untuk dapat tempat duduk, kecuali kalau aku hamil, atau aku sudah menjadi lansia.
Pria juga punya rasa lelah, mereka juga sama, ingin istirahat sejenak sebelum mulai hari yang belum tentu menyenangkan.
Jarak dari rumah nia ke kantor baruku cukup dekat.
Aku hanya perlu naik kereta dari stasiun tebet ke stasiun pasar minggu, kemudian naik ojek online dengan biaya sepuluh ribu, dan sampailah aku di depan kantor.
Alindra, adalah perusahaan konstruksi yang menjadi tumpuanku saat ini.
Meski alindra tidak berkantor di gedung mewah di deretan scbd, tapi kantornya sangat luas, karena dua bangunan ruko dijadikan satu.
Pegawai yang bekerja memang hanya sepuluh orang, tapi rekanan perusahaan sangat banyak.
Selain ruangan untuk pegawai kantor, ada lima ruang meeting di lantai bawah.
Lantai dua sepenuhnya untuk operasional perusahaan.
Ini adalah minggu ketigaku di perusahaan ini.
Bagian yang di tawarkan padaku adalah admin marketing.
Aku tidak sendiri, ada iqbal yang membantuku dan mengajariku pola kerjanya.
Sejauh ini hanya iqbal yang sering aku ajak untuk berbincang.
Masalah yang menimpaku membuat kepercayaan diriku turun drastis.
Aku yang secara alami merupakan tipe manusia yang susah bergaul, kini dengan beban hutang yang kupunya, membuatku memilih untuk menyendiri dan bertegur sapa secukupnya dengan karyawan kantor yang lain.
Aku selalu makan siang sendiri, dengan bekal yang tante rosa bawakan.
Aku hanya berbicara soal pekerjaan, jika ada salah satu karyawan yang menanyakan soal pribadi padaku, aku langsung menarik diri.
Pak ardi yang membawaku ke perusahaan ini, selain sahabat karib om rusman, beliau adalah direktur utama di kantor kami.
Pak ardi sangat tegas, dia selalu menyampaikan maksudnya dengan jelas tanpa bertele-tele.
Aku sendiri jarang bertemu dengannya, karena dia selalu meeting di luar kantor.
Abi menelvonku semalam, kalau sore ini dia akan menjemputku pulang kerja, rencananya kita hanya akan makan di sekitar pasar minggu.
Abi juga mengatakan, kalau dia akan memperkenalkan orang yang sangat spesial untuknya.
Aku tidak sabar untuk bertemu dengan sosok spesial tersebut, karena abi memang sudah sedikit cerita tentangnya.
"Ra, minggu depan kita mau ikut tender di DKI, tolong siapin data untuk rekanan ya", pinta iqbal padaku begitu aku duduk di meja kerjaku.
"Aku boleh di kasih list data yang harus aku siapin nggak, biar nggak ada yang salah nanti", jawabku pada iqbal.
Iqbal kemudian memberiku catatan dokumen yang harus aku siapkan, dan dia juga memintaku untuk merapikannya dalam bentuk proposal.
"Ra nanti malam linda ngajakin untuk makan malam di nasi bakar dekat stasiun, kamu ikut ya", pinta iqbal.
"Aduh maaf banget, aku udah janjian sama temen duluan", ujarku pada iqbal.
__ADS_1
Iqbal kemudian mengatakan kalau bergaul dengan linda itu penting, karena linda orang keuangan, jadi aku dan iqbal butuh negoisasi dengan baik dengan linda, supaya dana entertainment project tidak terlalu rendah.
"Lain kali aku pasti ikut, soalnya nanti malam lumayan penting", ujarku pada iqbal.
Iqbal mengiyakan dan akan menyampaikan pada linda, dia juga memintaku untuk berjanji supaya aku lebih sering bergaul dengan karyawan yang lain.
*
Abi sudah menunggu di depan kantorku sekitar pukul lima sore.
Dia sendirian, wajahnya terlihat muram, dan dia mengenakan pakaian serba hitam.
"Hai bi", sapaku pada abi saat aku keluar dari kantor.
Abi hanya melambaikan tangannya, dengan senyum terpaksa.
"Kok tumben pakaian hitam semua, dress code kantor", tanyaku pada abi.
Di kantor lamaku, memang sering sekali mengadakan dress code yang harus di ikuti karyawan untuk moment tertentu.
Abi kemudian meraih tanganku, dan aku langsung tercekat mendengar ucapan abi.
"Dito meninggal", ujar abi.
"Sakit", tanyaku pada abi setelah aku bisa mengusai diriku.
Abi hanya menggeleng lemah, dan kulihat airmata mulai turun ke wajahnya.
Pagi ini, abi mendapat kabar dari teman kantor yang satu tim dengan dito, kalau dito bunuh diri.
Dito terjun dari lantai lima belas apartment miliknya, di setiabudi semalam.
Meski perasaan terkejut menyelimutiku, tapi entah kenapa aku bisa mengerti keputusan dito.
Lima milyar kerugian yang harus dito tanggung.
Dito memang memutuskan untuk tinggal di kantor, sama seperti yang lainnya, sambil menunggu kabar baik.
Hanya saja, kabar yang semua orang tunggu, tidak kunjung berhembus.
Aku tidak membenarkan apa yang dito lakukan.
Aku hanya bisa mengerti, karena aku pernah ada di posisi yang sama, menyerah dengan hidupku setelah peristiwa itu.
Aku beruntung karena ada abi yang mendampingiku, tapi mungkin dito melalui itu semua sendiri.
Aku sendiri sadar, umumnya, orang pasti akan langsung menjauh, begitu mereka mengetahui kalau kita punya beban hutang yang sangat banyak.
Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, karena setiap orang pasti memilih untuk menyelamatkan diri mereka terlebih dahulu.
Aku hanya pergi bersama abi ke rumah duka di bogor, kita pergi dengan motor milik abi.
Dito memang asli bogor, orang tuanya juga masih tinggal di bogor, tapi setelah dua tahun bekerja di kantor yang sama dengan aku dan abi, dito bisa membeli unit apartement di setiabudi untuk dia tinggali.
Dito memang di anggap sebagai bintang di kantor kami, karena dia selalu berhasil meyakinkan investor untuk bergabung.
Meski dito punya penghasilan yang banyak, tapi dia sangat rendah hati, dia juga sering menawarkan untuk membayar makan siang kami.
Dito berbeda tim dengan aku dan abi, tapi kita sering bercanda di pantry setiap pagi atau setelah makan siang.
Aku hanya bisa tersenyum sinis saat abi mengatakan, kalau hanya kita berdua yang akan datang ke rumah duka.
Bahkan anggota tim dito, tidak ada yang datang, dengan alasan tidak sanggup.
__ADS_1
Menurut abi, pihak perusahaan juga sudah mengirimkan karangan bunga, tapi abi mendengar kabar, kalau karangan bunga tersebut langsung di bakar oleh keluarga dito.
Ketika kami sampai di rumah duka, jerit tangis masih terdengar dari luar rumah.
Dito juga sudah dimakamkan siang ini, kami hanya bisa melihat foto dito, dan mengenang dito.
Aku dan abi tidak berani mengatakan ke keluarga dito, kalau kita mengenal dito, karena kami bekerja di perusahaan yang sama.
Kami hanya menyampaikan, kalau kita mengenal dito karena sering makan siang di tempat yang sama.
Kami khawatir kalau keluarga dito mengetahui kita bekerja di kantor yang sama, mereka akan bertambah sedih, karena kita memilih untuk bertahan, sementara dito memilih untuk menyerah.
Kami hanya sebentar, hanya menyampaikan duka cita dan mendoakan dito.
Kami memilih untuk makan di warung tongseng yang terletak di pinggir jalan setelah pulang dari rumah duka.
Baik aku atau abi memilih untuk diam, dan menyelami pikiran dan hati kita masing-masing.
Aku kemudian terkenang tawa dito saat kita mengikuti outing di bogor.
Dito adalah sumber informasi gosip bagi aku dan abi, sekaligus orang yang selalu menyampaikan lelucon saat kita bertemu di pantry.
Tawa renyah dito saat kita berkumpul, hanya tinggal kenangan yang aku bisa ingat dengan senyum pahit malam ini.
Dito jelas mengambil keputusan yang salah.
Meski dito pergi, masalah yang harus dia tanggung tidak lantas pergi bersama dia, tapi masalah itu turun dan menjadi beban keluarga dito.
Rasa menyesal kemudian muncul, karena aku terlalu sibuk menyelamatkan diriku sendiri, tanpa tahu orang yang sering berbagi tawa denganku, jatuh dalam depresi yang membuatnya memilih untuk pergi.
*
Dua minggu terlewati setelah kepergian dito, pertemuanku dengan abi masih jadi agenda kami mengenang dito.
Minggu ini juga sudah mulai masuk minggu akhir tahun.
Minggu terakhir sebelum akhirnya libur panjang natal dan tahun baru.
"Bali yuk ra", ajak nia padaku saat kita bersantai di balkon lantai dua.
Aku memang terbiasa menghabiskan malam di hari minggu dengan duduk di balkon sambil memandang gelapnya langit jakarta.
Seringnya aku sendiri, kadang nia atau tante rosa menemani, tapi hanya sebentar karena tidak tahan dengan gigitan nyamuk.
"Jogja aja aku ia", jawabku pada nia.
"Berangkat kapan", tanya nia lagi.
"Dua hari lagi paling", jawabku pada nia.
Nia tidak bertanya lagi, dan pamit masuk ke dalam rumah, karena sudah jam sepuluh malam, dan dia mau menonton drama korea favoritnya.
Aku yang tinggal sendiri di balkon, memilih untuk melihat sosial mediaku.
Sudah sangat lama rasanya tidak membuka sosial media dan mengetahui kabar teman-temanku.
Kesibukan di kantor baru, serta duka akan kepergian dito, membuatku sibuk dan mengabaikan aktifitas sosial mediaku selama sebulan terakhir.
Halaman sosial mediaku masih di penuhi dengan kabar pernikahan, atau kabar kelahiran anak pertama dari teman-teman kuliahku.
Baru satu detik aku tertawa karena melihat video ulang tahun dita, hatiku langsung tenggelam begitu melihat postingan setelahnya.
***
__ADS_1